in

Yang Perlu Kita Pahami Agar Broken Home Tak Lepas Kendali

Bahwa tidak semua anak broken home seperti yang digambarkan

Sebenarnya anak broken home tidak selalu berasal dari keluarga yang kedua orang tuanya bercerai saja, melainkan saat fungsi keluarga yang sudah tidak berjalan baik. Kemudian berkembanglah stigma masyarakat tentang anak-anak nakal dengan kedua orang tua yang masih memilih beristirahat sendiri-sendiri. Bahkan, seringkali ada orang yang menyalahkan keadaan atau menilai tanpa tahu kondisi sebenarnya, “oh iya karena broken home” ungkapan seperti ini misalnya. Pernahkah sebelumnya mencoba untuk bertanya keadaan mereka?

Saat berkaca dari sudut pandang lain, anak-anak tersebut ingin mengekspresikan diri menunjukkan keberadaan, keinginan untuk diakui, dihargai dan disayangi seperti individu lain. Kenyataan berbanding terbalik ketika sebagian dari manusia merespon negatif keberadaan mereka. Melawan stigma tersebut memang tak semudah mengatakan, melainkan perlu perjuangan dan pengorbanan. Salah satu cara untuk mengubah stereotip masyarakat dengan menjadi bagian manusia yang memberi bukti bahwa tidak semua broken home memiliki arah yang negatif. Pertanyaan selanjutnya apakah yang harus dilakukan agar broken home tak lepas kendali?

Pilihan editor;

Tentukan Standar Kesuksesan, Agar Kamu Tak Hidup Menggunakan Standar Hidup Orang Lain
5 Tips Agar Kita Dapat Menerima Diri Sendiri, Agar Hidup Lebih Bahagia
Boleh Melamun Asal Tetap Produktif, Coba Tips Ini!

1. Penerimaan Diri

Sebagaimana banyak kasus yang terjadi, kadang kenakalan timbul karena kurang mengenal diri sendiri. Banyak pertanyaan dalam diri yang tidak mampu untuk diceritakan atau sekadar mencari jawaban di lingkungan sekitar. Mengingat tak ada yang diajak untuk komunikasi hati ke hati untuk menasihati tanpa menghakimi. Sedihkah dalam keadaan ini? Pasti. Kesedihan yang menumpuk masih bisa untuk ditimbun dengan senyuman, tetapi dalam diri terdapat banyak sekali kebingungan untuk menata arah dan tujuan.

Pada kondisi terpuruk tersebut, tak jarang seseorang memilih menyalahkan keadaan. Saat ada di dalam fase ini, hal terkecil pun terasa salah. Mata yang dulu mampu memandang keindahan, rasanya sekarang semuanya menjadi salah dan memunculkan perasaan “masa bodo”. Siapa pun yang sedang mengalami keadaan ini, seperti ditempatkan dalam dua pilihan: berjuang untuk menjadi baik atau mengikuti stigma yang tercipta di masyarakat.

Setiap orang memiliki keyakinan untuk menjadi baik, apa pun alasannya. Sebelum memilih, coba ambil nafas panjang dan menenenangkan diri. Sesekali tanya pada diri “inikah yang aku inginkan?”, “apakah benar jalan yang kuambil?” “apakah ini mampu mengubah hidupku menjadi lebih baik nantinya?”. Tidak apa-apa sambil menangis, memilih jalan menempuh kehidupan yang terbaik nantinya. Melihat keadaan yang terjadi saja sudah menyakitkan, tetapi menyalahkan keadaan tidak menyelesaikan semua masalah bukan?

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memperbesar penerimaan keadaan diri. Mencoba meyakinkan bahwa keadaan yang terjadi adalah keadaan yang terbaik dan Tuhan punya rencana indah di balik semua hal yang terjadi. Lalu, masih tebersit keraguan melangkah saat kehilangan kasih sayang dari dua figur sebagai pondasi kekuatan untuk bergerak dalam kebaikan? Kenyataannya, tetap bisa mendapatkan semua itu namun dengan cara sedikit berbeda. Tak ada orang tua yang tak menyayangi anak-anaknya, melainkan rasa sayang mereka diungkapkan sedikit berbeda dari biasanya. Bukankah ini perlakuan yang lebih spesial dari yang lain?

Sektor, Jari Jari, Kemarahan, Pemisahan, Tidak Termasuk

2. Menyalurkan Emosi dengan Benar

Saat ujian menghampiri namun usia yang kadang belum cukup, itu seperti memaksa untuk memahami keadaan. Saat dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, tentu banyak respon gugup karena tidak siap. Ketidaksiapan ini yang membuat perasaan takut, hilang kepercayaan dan kekuatan diri serta memicu emosi. Saat emosi itu muncul, alangkah baiknya berjabat tangan dengannya terlebih dahulu. Duduk untuk atur nafas, kenali emosi baik atau emosi yang buruk.

Saat emosi buruk menghampiri dan memberikan dampak pada orang lain, apa yang harus dilakukan? Sebaiknya saat tersebut sudah memiliki amunisi yang cukup untuk menghadapinya. Barangkali orang yang gemar menulis akan membawa buku dan pena kemana pun pergi. Jadi, saat emosi itu muncul, kita sudah mampu menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Apakah ini mampu mengurangi beban emosi? Sejauh ini, menulis ekspresif mampu membuat hati lebih lega. Kalau saat ini sedang marah, coba menulis apa saja penyebab marah itu, kenapa, dan bagaimana mengatasinya? Kalau ada yang meluapkan menjadi tangisan, selama memungkinkan tidak apa-apa. Jangan lupa ‘cari sandaran yang kuat’ ya, seperti tembok misalnya. hehe… bercanda yak!

3. Memiliki Sosok Panutan

Menjadi sosok dewasa sebelum waktunya dan tidak memiliki role model sebagai penutan untuk pembentukan karakter ke depan merupakan tantangan tersendiri. Sejak inilah, mungkin banyak sekali hal yang dilakukan untuk mencari “sosok pengganti”. Sosok ini akan bisa berganti seiring berjalannya waktu, namun tak dapat dimungkiri dalam hati kecil tetap tersimpan nama ayah dan ibu sebagai manusia yang paling dirindukan sekaligus menjadi kedua malaikat yang tidak tergantikan. Bahkan, diam-diam saat mencari sosok panutan ini, akhirnya akan menemukan salah satu karakter ayah atau ibu di dalam karakter mereka. Barangkali, ini adalah sinyal dalam diri bahwa seberapa pun jarak dan waktu mampu memisahkan, hati tetap memiliki keterikatan dengan mereka sampai kapanpun, begitu pun sebaliknya.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang pantas menjadi sosok panutan? Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memilih sosok panutan ini sebagai pembentukan karakter diri kedepan. Sosok tersebut mampu memberi memotivasi, mengayomi, dan memberikan contoh untuk melakukan banyak hal positif. Biasanya, orang yang menjadi panutan tidak jauh-jauh dari lingkungan yang sering diajak berinteraksi. Kakak, nenek, atau orang-orang yang berada di sekeliling kita misalnya. Coba amati begitu banyak cinta yang mereka persembahkan tanpa mengharapkan imbalan apa pun kepada kita. Bukankah semua itu cukup menjelaskan semua?.

4. Memiliki Motivasi Berjuang Hidup

Pernah merasakan posisi berada di titik terendah dalam hidup? Saat ujian  datang dan diri tidak siap untuk menghadapi misalnya. Posisi tersebut menguras banyak sekali tenaga dan pikiran. Sebenarnya, setelah ditarik garis ke belakang, dalam hati kecil tersimpan banyak kekuatan untuk menghadapi permasalahan yang menghampiri. Melihat kedua figur tak ada di sekitar, sebagai seorang anak harus berusaha untuk memastikan adik-adiknya tetap baik-baik saja tak kekurangan kasih sayang misalnya. Berjuang dalam hal tersebut bukanlah perkara mudah, tapi perlu motivasi yang kuat untuk menjalani hal-hal tersebut. Di luar kadang memang terlihat kuat dan baik-baik saja, namun siapa yang tahu dalam hati sebenarnya menahan banyak sekali kecemasan yang tidak diungkapkan, kekawatiran akan peran yang disampaikan kurang maksimal dan masih banyak lagi. Melihat kembali ke belakang, motivasi untuk terus berjuang hidup berada dalam kekutan hati mengalahkan hal lain yang membuatnya rapuh. Bukankah ini membuat individu tersebut tumbuh?

Anak, Wajah, Sedikit, Anak Laki Laki

5. Mengubah Luka Menjadi Kebaikan Cinta

Mampu untuk bangkit menatap dunia, ada hal lain yang sering menghantui yaitu luka. Luka menyapa tanpa tahu permisi, datang membawa banyak sekali ketakutan. Ketakutan ini menjadi mengerikan saat membayangkan banyak sekali luka yang membekas dalam hati yang lain. Mengerikan bukan saat melihat adik yang seharusnya bahagia, ternyata harus terluka? Sebagai seorang yang sudah berdamai dan menerima keadaan diri sendiri, tugas yang diemban adalah mampu untuk mencegah terjadinya ‘korban’ selanjutnya. Iya, menyudahi segala kesedihan dalam diri, meyakini bahwa semua berhak bahagia. Bagaimanakah caranya? Bangkit dari kesedihan dan menggunakan seluruh kekuatan diri untuk mengayuh dayung ke tempat yang terbaik. Sejauh ini, saat sudah dipercaya untuk mengubah luka-luka yang didapatkan masa lalu menjadi kebaikan cinta untuk sesama bukankah termasuk orang pilihan untuk melakukan hal besar tersebut?.

6. Bergerak dalam Hal Positif

Sebelum memberi kewajiban diri untuk mengajak bergerak ke hal positif pada orang lain, perlu bertanya kepada diri dan mematangkan konsep. Pada akhirnya akan keluar pertanyaan apakah sudah selesai dengan keadaan diri sendiri? Setelah selesai dalam urusan pribadi dan telah siap untuk berjuang memberikan hal positif bagi sekitar, hal positif apakah yang bisa diberikan untuk sekitar? Menjadi teman yang baik untuk adik-adik, mendengarkan di kala mereka membutuhkan telinga, membersamai mengerjakan pekerjaan rumah misalnya. Sekilas mungkin ini akan menjadi hal yang kecil, namun di lain sisi akan memiliki hal-hal baik lainnya. Sesaat mungkin terlihat biasa, namun siapa sangka kalau hal tersebut salah satu cara untuk memastikan mereka tetap baik-baik saja tanpa kehilangan sosok yang mereka rindukan.

7. Menjadi Agen Perubahan yang Baik

Kenapa harus menjadi agen perubahan yang baik? Kali pertama, kedua, dan ketiga barangkali telinga sudah biasa untuk mendengar cemooh tentang keberadaan anak-anak broken home yang masih dipandang negatif. Tetapi pernahkah bertanya seperti apa perjuangan anak-anak tersebut sebelumnya dan kenapa mereka menjadi seperti ini, lalu apakah yang perlu dilakukan sebagai saudara? Lama-lama sering mendengar hal negatif akan memberikan rasa jengah dan berusaha membantah tetapi membantah saja rasanya tak cukup karena mengeluarkan energi hanya untuk satu cemooh sedang berlangsung.

Lalu bagaimana cara melawan stigma negatif tersebut? Menjadi pribadi yang positif dan membuktikan bahwa tidak semua anak broken home seperti yang digambarkan. Masih banyak yang mampu bertahan dengan segudang motivasi, mendapatkan prestasi dan memberikan manfaat bagi sekitar. Memberikan sebagian harta kepada orang-orang yang membutuhkan, membantu sekitar, mengamalkan ilmu yang didapat misalnya. Menjadikan sebagai aksi nyata, turut ikut serta membuktikan bahwa anak broken home jauh lebih kuat dari keadaan yang membersamainya.

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

kerja , pabrik

Kerja di Pabrik Setelah Lulus SMA? Ketahui Hal Ini Dulu!

8 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Kuliah Lintas Jurusan