in

Yakin Mau Lembur? Perhatikan 5 Hal Ini Terlebih Dahulu

Lembur kerja di kota besar sudah jadi hal biasa, apa kamu juga begitu?

Yakin mau lembur?

Jika kita mengamati hiruk-pikuk dunia kerja di sekitar kita, kita pasti akan menemui banyak sekali fenomena para pegawai yang bekerja overtime alias lembur. Terutama bagi mereka yang bekerja di perusahaan yang tidak terikat dengan jam kerja bergilir (shift), alih-alih bekerja efektif selama 8 jam, kebanyakan justru melewatkan waktu semalaman berada di kantor.

Bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, berada di kantor hingga melewati jam kerja normal seperti sudah menjadi santapan sehari-hari. Tidak jarang pula yang sampai menggunakan waktu akhir pekan mereka untuk menyelesaikan tugas atau target kerja. Beberapa alasan yang muncul rata-rata karena beban kerja yang tidak terselesaikan hanya dengan 8 kali 5 hari kerja, atau hanya karena alasan mencari kesibukan semata. Untuk alasan yang kedua, biasanya dipilih oleh mereka yang masih tinggal sendiri dan jauh dari keluarga.

Di antara berbagai alasan lembur yang sengaja dipilih oleh para pegawai, ada pula fenomena negatif yang muncul dari kebiasaan lembur ini, yaitu mereka yang sampai rela jatuh sakit hanya karena mengejar performa baik bagi perusahaan. Mereka yang gila kerja dan prestasi, pasti hanya akan memikirkan performa tinggi tanpa peduli dengan kesehatan diri. Padahal, di beberapa perusahaan di Indonesia, masih banyak perusahaan yang tidak mengkalkulasikan tambahan waktu kerja pegawai dengan tambahan penghasilan mereka.

Pada tulisan kali ini, saya akan mengajak sahabat Ublik berdamai dengan diri sendiri, terutama bagi pegawai yang masih mencintai lembur sebagai satu-satunya pilihan agar menjadi pegawai terbaik.

1.Tetapkan Satu Tujuan Lembur yang Bermanfaat

Para ‘penunggu kantor’ kadang-kadang hanya memikirkan cara untuk menyelesaikan target-target kerja selama satu bulan, supaya tercapai dan selesai tepat waktu. Hal ini biasanya terjadi karena ada beban target bulanan yang demikian tinggi dari perusahaan, yang juga dibarengi dengan reward and punishment atas pencapaian target tersebut. Akibatnya, pegawai akan berpikir sedemikian rupa untuk mengejar reward dari kantor. Kadang itu membuat mereka tidak lagi peduli dengan jam kerja wajar pegawai yang sesuai dengan peraturan dan kebutuhan kesehatan badan, yaitu 40 jam selama satu pekan.

Memang tidak salah jika orientasi kita hanya pada penghargaan kinerja, namun alangkah baiknya jika penghargaan tersebut dapat menunjang karir kita ke depan, atau tujuan-tujuan lain yang benar-benar bermanfaat bagi kita.

Contoh, jika kantor meminta kita untuk mengejar target tertentu bulan ini dengan sebuah reward beasiswa sekolah master, atau tabungan ibadah umroh atau haji, maka bekerja lembur adalah sebuah target penting yang menjadi sangat layak untuk dikejar habis-habisan.

Namun jika reward yang ada hanyalah piagam dan tepuk tangan, bahkan tidak ada kepastian kenaikan gaji atau promosi jabatan, untuk apa menyiksa diri sendiri hingga jatuh sakit hanya karena alasan loyalitas semata?

lembur , reward
Lembur? Jadi kita ini mengejar apa?

2.Pastikan Perusahaan Mencatat Kehadiran Overtime Pegawai

Tidak sedikit pegawai yang tiba-tiba melempar curhat kepada teman atau bahkan di media sosial, karena merasa kerja kerasnya hingga larut malam tidak pernah dihargai. Dalam hal ini, sebenarnya kesalahan bukan mutlak ada pada perusahaan. Namun bisa saja memang pegawai itu yang mengharap penghargaan dari kantor, sementara dirinya tidak pernah menyadari bahwa perusahaan tidak pernah peduli pada jam kerja tambahan yang dipakai karyawan.

Mengapa demikian? Tentu saja sebuah perusahaan juga memiliki profesionalitasnya masing-masing. Dalam hal ini, kemungkinan besar perusahaan tidak mau mengambil atau menanggung resiko yang terjadi kepada kantor atau pegawainya jika sudah melewati jam kerja. Contohnya, banyak debt collector yang melakukan penagihan sampai mengalami perkelahian atau kecelakaan, namun tetap tidak mendapat support kantor karena dilakukan di luar jam kerja.

Banyak sekali perusahaan yang seperti itu bukan? Lalu mengapa kita sendiri juga yang menyakiti perasaan hati dengan sandiwara kerja?

3.Diskusikan Beban Target

Rata-rata alasan yang muncul dari mereka yang biasa lembur adalah beban target yang fenomenal. Sahabat Ublik, jika kita diterima di sebuah perusahaan dengan gaji tertentu, Saya pastikan perusahaan tersebut bukan memberikan penilaian dari kekuatan fisik semata. Akan tetapi justru ada nilai tambah lain seperti latar belakang pendidikan, idealisme, kemampuan analitis, dan hal lain yang membuat potensi soft skill kita lebih tinggi dibandingkan sekadar ijazah kelulusan.

Sadari kemampuan ini, dan gunakan dengan baik untuk bernegosiasi dengan bijak jika memang kita merasa target kerja yang diberikan terlalu tinggi. Perusahaan hanya akan memikirkan kebutuhan yang menguntungkan mereka, maka kita sendiri lah yang harus memikirkan keuntungan yang sama bagi diri kita sendiri, dengan cara melakukan pengaturan manajemen waktu yang tepat, sehingga meraih target kerja tidak harus dengan mengorbankan kesehatan fisik dan mental kita.

4.Pelajari Ketentuan Jaminan Kesehatan oleh Perusahaan

Sebelum semua akibat buruk menimpa diri sendiri, terutama masalah kesehatan, pastikan dulu kita akan mendapat kompensasi yang setimpal dari kantor. Beberapa kantor menerapkan jaminan kesehatan pegawai dengan menggandeng perusahaan asuransi tertentu. Namun, tetap harus menjadi perhatian bagi pegawai untuk mempelajari sejauh mana jaminan asuransi itu bisa kita dapatkan, dan juga kemudahan-kemudahan akses dan pencairannya.

Bukan tidak mungkin asuransi korporasi hanya akan mengganti pengobatan rawat jalan, atau rawat inap untuk penyakit ringan. Padahal, dengan ritme kerja lembur yang semakin rutin kita lakukan, bukan tidak mungkin organ-organ di dalam tubuh kita akan mengalami penurunan fungsi, yang mengakibatkan kita mengalami gangguan kesehatan yang serius.

lembur , istirahat
Jangan lupa istirahat ya…

5.Penuhi Hak Kesehatan Tubuh

Jangan egois dengan badan sendiri. Merawat kesehatan tubuh adalah juga salah satu bentuk syukur kita kepada Sang Pencipta. Oleh karenanya, sebagaimana kita memenuhi hak kantor untuk mendapatkan portofolio yang baik, penuhi juga hak badan ini dengan nutrisi yang seimbang, istirahat yang cukup, kebugaran dan kebutuhan istirahat yang harus sesuai dengan kondisi fisik dan usia kita masing-masing.

Sahabat Ublik, setinggi apapun kewajiban kita sebagai pegawai, bekerja lembur tetaplah tidak bisa menggugurkan kewajiban lain yang lebih penting, yaitu menjaga kesehatan fisik dan mental diri sendiri. Sejauh apa perusahaan akan memberikan perhatian jika kita sakit, maka antisipasi kita untuk menjaga kesehatan haruslah lebih tinggi lagi dari reward atau asuransi manapun.

Jadi, masih tetap mau lembur?

Ditulis oleh Rahma Roshadi

hanya guru ngaji biasa yang sesekali nulis buku atau artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

memerah

[Ruang Fiksi] Sedekah Bumi Memerah

Cara Mengatur Pola Pikir agar Hidup Lebih Bahagia

Cara Mengatur Pola Pikir agar Hidup Lebih Bahagia