in

World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia

Globalisasi dalam beberapa sendi kehidupan manusia seperti bidang; ekonomi, politik, sosial, dan budaya tampaknya sangat berpengaruh pada kualitas pendidikan. Masih dalam suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, Ublik akan memberikan beberapa opini tentang wacana daya saing dan pemeringkatan lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dan dunia. Adapun lembaga-lembaga yang melansir data pemeringkatan kampus seperti; Webometrics, 4icu, THE (Times Higher Education), QS (Quacquarelli Symonds), SJTU (Shanghai Jiao Tong University), dan sebagainya membuat banyak kampus di negeri ini maupun di dunia berlomba-lomba.

Orientasi tentang Daya Saing

Sebelum membahas daya saing, agaknya kita dapat melihat suatu tren bahwa pemeringkatan itu konon masih seputar gengsi masing-masing kampus di mata masyarakat. Untuk yang pernah atau sedang kuliah, coba tengok di kampus masing-masing. Karena pemeringkatan oleh beberapa lembaga itu, imbasnya sangat terlihat. Penataan di banyak bidang diharapkan agar kampus bisa masuk dalam jajaran kampus-kampus terbaik Asia maupun dunia. Demi obsesi tersebut, sebagaimana banyak kampus besar di dunia, hampir semua aktivitasnya dilakukan untuk memenuhi prasyarat agar masuk dalam peringkat atas menurut beberapa lembaga di atas.

Pilihan Editor:

 

Orientasi tentang daya saing ini kemudian memengaruhi kinerja tiap-tiap civitas akademik di mana tujuannya ialah menjadi kampus yang dapat bersaing dengan kampus-kampus bonafit, sekaligus dapat menghasilkan lulusan yang juga dapat bersaing di dunia internasional sejajar dengan lulusan dari negara-negara maju.

Apa Manfaat bagi Masyarakat?

World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia
Hongkong University (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Terlepas dari ramainya lembaga-lembaga membicarakan pemeringkatan dan hal normatif yang diamanahkan oleh pemerintah, secara bersamaan perlu dipahami dahulu: rakyat dan bangsa Indonesia secara umum mendapat keuntungan apa, kalau kampus-kampus kita diakui kualitasnya oleh QS, THE, Webometric, SJTU dan lainnya itu? Mungkin sebagian besar di antara kita akan bangga dengan posisi tersebut, karena bangsa kita pada umumnya jadi lebih eksis di dunia internasional. Lantas bukankah tolak ukur yang diperjuangkan hingga sebuah universitas layak masuk di jajaran pemeringkatan belum begitu pasti? Mungkin sebab itulah Edi Subkhan pada tahun 2010 memaparkan hal tersebut dalam makalahnya yang berjudul “Mempertanyakan Orientasi World Class University”. Pada intinya, dalam banyak forum intelektual, pemeringkatan itu belum memiliki definisi yang jelas.

Mempertanyakan Daya Saing

Kampus-kampus di Indonesia gencar meningkatkan kapasitasnya dalam banyak aspek. Mulai dari akreditasi kampus, publikasi ilmiah, kualitas layanan dan birokrasinya, serta ada yang jauh lebih penting di balik hal-hal terkait popularitas itu, yakni sumber daya para mahasiswa itu sendiri, yang dipersiapkan menjadi lulusan yang kelak siap membangun masyarakat. Untuk kampus yang memiliki posisi yang bagus dalam pemeringkatan, sebaiknya menjadi sebuah capaian yang tidak berhenti sebagai reputasi. Amatlah ironis ketika pemeringkatan internasional justru akan membuat kampus ini jadi ‘menara gading’ di mana para intelektualnya mengembangkan pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan itu sendiri, yang sibuk dengan ‘dunianya sendiri’.

World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia
Perpustakaan adalah salah satu fasilitas penting di Universitas (Via: PIxabay)

Dalam pandangan saya yang notabene baru setahun lalu diwisuda, saya dulu sering mempertanyakan tentang ‘kegaduhan’ yang terjadi dari proses pemeringkatan tersebut. Pada kenyataannya, orang-orang gencar menggemborkan misi menuju world class university, tapi di ranah fundamental sendiri belum terselesaikan betul. Contohnya kondisi perkuliahan. Sebagian kuliah dari dosen adalah slide.ppt yang sama dari tahun ke tahun, serta iklim akademik yang kadang lesu. Jika boleh agak skeptis, daya saing seperti apa yang disiapkan melalui proses pendidikan semacam itu? Belum lagi jika bicara atmosfer keilmuan kini di mana pemerintah memiliki wadah yang justru membuat mahasiswa ‘ambigu’. Misalnya beberapa program pemerintah yang mengakomodasi karya mahasiswa dan memberikan dana, lalu mahasiswa terforsir ke sana untuk mendapat dana itu.

Jadi, dalam kaitannnya dengan wacana daya saing, apakah yang jadi orientasi kita adalah kompetisi-kompetisi pragmatis? Barangkali saya merupakan satu dari sekian banyak generasi yang mencari  titik temu antara ‘kehausan’ pada pengetahuan dan idealisme, lalu secara bersamaan dihadapkan pada kebutuhan kampus untuk secepat mungkin mengikuti standar globalisasi yang kita tidak bisa melawannya. Namun bukan berarti terseret arus itu. Untuk go international, bukankah kita harus terlebih dahulu kuat di visi dan misi yang sejak awal dibangun, baru kemudian memperkuat segala aspek terkait standar daya saing Asia bahkan dunia.

Berkaca pada pemaparan Handry Satriago, CEO GE Indonesia di selasar.com, dalam dunia global saat ini, organisasi atau negara yang mampu hasilkan ‘value’ akan jadi pemenang (dibanding yang hanya menghasilkan komoditas). Untuk bisa menghasilkan ‘value’ diperlukan lebih dari sekadar kerja keras, butuh kreativitas dan inovasi. Kita bersama-sama membentuk manusia yang beradab dan lebih dari sekadar bertaraf internasional di luarnya saja. Bahkan ada saatnya kita serius membicarakan daya saing, harapannya itu bukan sebatas reputasi yang dijadikan ‘bahan jualan’ para pemimpin universitas.

Lebih dari Pemeringkatan

World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia
Fasilitas laboratorium di Universitas (Sumber: research.fkg.ui.ac.id)

Dalam kancah global yang saling terkait dan tergantung, institusi pendidikan tinggi di Indonesia sangat perlu untuk mencetak para manusia terdidik dan terlatih dengan wawasan international yang baik, bukan orang-orang yang berorientasi pragmatis, yang terjebak dalam pandangan yang terbatas, bahkan persaingan semu antar kalangan sendiri. Kembali membahas pemeringkatan, secara tidak langsung, universitas yang mengejar predikat berdasarkan standar lembaga-lembaga di atas, konon mereka jadi pihak yang telah (secara tidak langsung) menyediakan dirinya untuk didikte orientasinya oleh pihak lain. Padahal ada banyak pihak yang melakukan pemeringkatan universitas di seluruh dunia dengan berpijak pada kualifikasi dan metodologi yang berbeda-beda.

Terlepas dari ramainya lembaga-lembaga membicarakan pemeringkatan, agaknya perlu dipahami dahulu kata-kata dari Ir. Soekarno dalam kuliah umum di Universitas Padjajaran, Bandung, tahun 1958 berikut: “…Universitas adalah tempat untuk memahirkan diri kita, bukan saja di lapangan technical and managerial know how, tetapi juga di lapangan mental, di lapangan cita-cita, di lapangan ideologi, di lapangan pikiran..” Posisi perguruan tinggi bagi pengembangan keilmuan sangat penting. Namun lembaga pendidikan sekarang seperti arena yang tidak bebas nilai kepentingan.  Akademisi idealnya dapat membangun teori, pengetahuan, dan terlibat perubahan sosial. Para pendidik tidak hanya eksklusif di kelas saja melainkan harus bisa melangkah keluar dan terbuka pada masyarakat.

Sebenarnya kebanggaan atas posisi kampus di pemeringkatan dunia tersebut bukanlah kebanggaan yang patut terlalu dirayakan. Kebanggaan substansial mestinya dilihat dari bukti nyata berupa kontribusi nyata kampus pada rakyat dan negara Indonesia. Bukan kampus yang terjebak obsesi pemeringkatan global. Pada intinya, lebih dari soal reputasi kampus, daya saing itu penting, tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana perguruan tinggi itu bermanfaat bagi negara dan masyarakat.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

baju batik pria nelson mandela

Dear Cowok, Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Bangga Pakai Baju Batik Warisan Budaya Indonesia

Bukan Alat Doraemon, 5 Buku ini Bakal Membawamu Menjelajah Waktu