in ,

Wiro Sableng 2018 dan Kebaruan Narasi Film Laga Indonesia

[su_heading]Kalau kalian jengah nonton film silat yang kebanyakan drama, coba deh nonton Wiro Sableng yang terbaru ini.[/su_heading] Sudahkah sahabat Ublik di sini menonton Film Wiro Sableng yang rilis sejak tanggal 30 Agustus 2018 silam? Kalau belum, jangan ragu untuk segera ke bioskop dan menonton film ini. Meskipun pola produksi karya yang semacam ‘reborn’ seperti ini bisa membuat beberapa audiens harap-harap cemas, tapi tidak ada salahnya untuk ikut mengapresiasi karya anak bangsa dengan cara menontonnya.

Baca Juga: Tak Cuma Wiro Sableng, 6 Superhero Indonesia ini Nggak Kalah Jago dari Superhero Hollywood

Terlepas dari perbandingan dengan Wiro Sableng era 2000-an, tulisan ini saya buat justru untuk melihat tentang gambaran dan narasi positif yang patut diapresiasi dalam film ini. Apa sajakah itu?

Mari kita simak bersama opini subjektif saya, yang cukup positif terhadap film ini:

1.Porsi Representasi Perempuan yang Dinarasikan dengan Pas

Kalau kita lihat selama ini, tayangan film kolosal lebih sering dipenuhi oleh laki-laki yang berperan sebagai pahlawan. Perempuan hanya duduk di singgasana sebagai permaisuri yang tidak banyak berdaya ketika kondisi sedang chaos. Kalau pun ada tokoh perempuan yang memiliki kekuatan, tokohnya selalu digambarkan sebagai pihak antagonis dengan narasi sebagai monster atau nenek lampir yang menyeramkan.

Tetapi tidak pada film Wiro Sableng ini. Meskipun saya sempat skeptis pada gambaran permaisuri dari Kamandaka dan Ibu Wiro Sableng (Suci) yang seolah memapankan pola lama yang sudah ada tentang perempuan, tapi ada banyak hal lain yang menepis rasa skeptis saya itu. Kehadiran Sinto Gendeng, Anggini, Rara Murni, dan Bidadari di dalam film ini memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh. Pun ketiganya tidak perlu didudukkan sangat maskulin seperti gambaran Lara Croft dalam Film Tomb Rider atau Marlina dalam Film Marlina: Sang Pembunuh dalam 4 Babak. Porsi mereka dalam Film Wiro Sableng ini menurut saya pas, nggak berlebihan dan tidak terlalu dipaksakan. Ya meskipun saya menyayangkan pada akhirnya Rara Anggini harus dimatikan karakternya. (eh, mohon maaf kelepasan spoiler hehe)

Baca Juga: Belajar Mencegah Bullying dari Film Musikal Langit Biru

Anggini, Wiro Sableng, Bujang Gila Tapak Sakti (Sumber: Lifelike Pictures)

2.Kehadiran Wirapati dan Gambaran Androgini yang Mencuri Perhatian

Dalam film ini, kalian pasti menemukan sosok pendekar dengan rambut tergerai indah, berwajah cerah lagi mulus yang cukup mencuri perhatian. Ia adalah Pendekar Pemetik Bunga, alias Wirapati. Tokoh ini diperankan oleh Hananta Rue, seorang aktor yang mungkin belum banyak dikenal tapi sesungguhnya sudah cukup lama terjun di dunia perfilman. Dikutip dari portal idn.times, ia sudah beberapa kali membintangi film bergenre action semacam Wiro Sableng ini. Terlebih kepiawaiannya dalam bela diri yang ciamik, membuat ia bisa melakoni peran sebagai Wirapati dengan mulus dan menarik.

Yang menjadi perhatian saya adalah gambaran fisik Hanata Rue yang secara identitas bergender laki-laki, tetapi memiliki visual wajah yang cantik sekaligus ganteng. Dalam beragam kajian, sosok semacam ini familiar disebut sebagai androgini. Dikonfirmasi melalui akun Instagram pribadinya, Hanata Rue sebenarnya tidak pernah memplokamirkan diri, atau paling tidak mencitrakan dirinya sebagai seorang androgini. Tetapi pada sebuah foto yang diunggahnya, dimana wajahnya sengaja menggunakan make up, ia sendiri juga kagum dengan kecantikan wajahnya.

Nah, jarang-jarang kan kita nemu pendekar pintar silat yang wajahnya bisa cantik dan ganteng sekaligus?

Hanata Rue sebagai Pendekar Pemetik bunga (Sumber: Lifelike Pictures)

3.Memudarnya Stereotipe Negatif pada Manusia Bertubuh Gemuk

Tokoh bertubuh gemuk seringnya diceritakan sebagai figuran. Belum lagi stereotipe yang dilekatkan pada tokoh bertubuh gemuk pasti tidak lepas dari sifat rakus saat makan, tidak lincah, tidak punya keahlian khusus, pemalas, dan sifat-sifat negatif lainnya. Tetapi di film ini, stereotipe yang saya sebutkan tadi mulai memudar sedikit demi sedikit. Hal itu nampak dari tokoh Bujang Gila Tapak Sakti.

Bujang Gila Tapak Sakti (Sumber: Lifelike Pictures)

Saya hanya bilang pudar lho ya. Bukan hilang sama sekali atau justru direkonstruksi. Mengapa? Karena memang ada bebearapa bagian yang menurut saya masih problematis dalam menggambarkan pendekar ini sebagai representasi lelaki bertubuh gemuk. Detilnya seperti apa? Silakan nonton sendiri. Hehehe.

4.Selipan Isu Politik yang Halus dan Santun

Nonton film laga memang tidak bisa lepas dari muatan politis yang melingkupinya. Pun demikian yang ada dalam film Wiro Sableng ini. Bagaimana cara Wiro sesekali terlihat nyinyir, pilihan permasalahan yang diangkat, juga bentuk kerjasama antara Wiro Sableng dan Kamandaka, dalam kacamata subjektif saya cukup merepresentasikan kondisi politik Indonesia hari ini.

Asiknya, bagi saya, semua muatan politik tersebut dikisahkan secara halus. Tidak terasa menyentak-nyentak, tapi cukup membuat saya sendiri manggut-manggut dan sesekali berkata, “Oh, oke”. Lumayanlah buat generasi milenial yang lagi hype ngomongin isu politik dan berantem di media sosial. Nonton film ini barangkali bisa lebih adem dan nggak keburu emosional.

5.Tidak Didominasi dengan Drama Percintaan

Ini nih yang paling penting. Nggak kayak film legenda dan laga mainstream lainnya. Film ini menurut saya minim drama. Ya walaupun tetap ada beberapa corak percintaan yang mendalangi, tapi semuanya tidak menjadi isu sentral yang dibesar-besarkan. Jadi saya sebagai penonton seakan disuguhi film silat yang diberi bumbu drama. Bukan sebaliknya seperti kebanyakan film dan tayangan yang sudah-sudah.

Salah satu scene (Sumber: Lifelike Pictures)

Nah, itu tadi perspektif saya secara pribadi setelah menonton film Wiro Sableng 2018. Saya cukup senang ketika sineas dalam negeri makin keren dan segar hasil karyanya. Sehingga, saya tidak merasa terlalu rugi untuk menonton film dalam negeri meskipun tiga bulan lagi juga sudah akan tayang di televisi.

Jadi sekarang, pergilah ke bioskop dan tontonlah. Nggak ada ruginya juga kan untuk apresiasi karya anak bangsa? Barangkali dengan tindakan kecil nan sederhana dari nonton film ini, rupiah bisa bisa segera menguat. #Eh…

fashion item pria

6 Fashion Item yang Wajib Dimiliki Pria Masa Kini

Evi Lestari: “Kuliah di Negeri Panda Membuat Saya Membuka Mata”