in

Wajah Masa Kini Kota Jakarta, Modern dan Berkelas

Jakarta dulu bukanlah Jakarta yang sekarang. Dua dekade lebih Jakarta telah melewati masa krisis moneter di tahun 1998. Gejolak politik dalam negeri yang mengakibatkan penjarahan semakin diperparah dengan melemahnya harga rupiah terhadap dollar akibat krisis di Amerika. Begitulah sepenggal kisah pahit perekonomian Jakarta dulu.

Setelah 23 tahun krisis berlalu, modernisasi berkembang. Paling signifikan terlihat di bidang teknologi dan informasi yang mempengaruhi hampir semua sektor kehidupan di Jakarta sekarang, seperti di bidang ekonomi, transportasi, hingga gaya hidup.

Di tahun 2021, siapa yang tidak tahu Jakarta? Kota metropolitan sebagai pusat perekonomian serta pemerintahan dengan penduduk terpadat di seluruh Indonesia, beginilah wajah masa kini Jakarta.

Wajah Masa Kini Kota Jakarta, Modern dan Berkelas
Kota Jakarta. Sumber: Pixabay

Fenomena Cashless di Hampir Semua Transaksi

Jakarta sekarang telah memasuki era cashless. Selama 1 dekade belakangan, industri teknologi telah berkembang pesat di dunia yang pada akhirnya diaplikasikan pada sektor perekonomian. Pengembangan sistem kode matrik pada barcode yang memunculkan QR (Quick Response) barcode diaplikasikan pada sistem pembayaran online yang terenskripsi aman untuk customers.

Maka dari itu, customers tidak perlu mengeluarkan uang yang tersimpan dalam bentuk digitalnya ke dalam bentuk cash melainkan mengirimkan uang tersebut secara digital. Memunculkan istilah cashless. Hal ini diyakini bisa mengurangi tingkat kerugian akibat membawa cash dalam jumlah besar, karena customers hanya memerlukan satu kartu kecil untuk menyimpan uang dalam jumlah besar.

Hampir semua transaksi jual-beli di kota Jakarta sekarang bisa dilakukan tanpa uang cash. Bisa dilihat di setiap toko, halte, stasiun bahkan warteg sekalipun sudah mengadopsi metode cashless. Produk dompet digital dan uang digital kini marak dikembangkan oleh setiap lembaga keuangan dan bisnis teknologi. Kini hanya dibutuhkan smartphone yang terafiliasi dengan jaringan daring seperti m-mobile atau kartu pembayaran digital seperti e-money, semuanya bisa langsung dibeli. Bayangkan apabila digitalisasi dalam perbankan belum ada seperti Jakarta dulu, kamu harus membawa tumpukan uang 100juta dalam tas hanya untuk membeli sebuah benda, terdengar merepotkan bukan?

Transportasi Terintegrasi

Selain kecanggihan teknologi, kota metropolitan lekat dengan moda transportasi yang modern dan terintegrasi. Sistem yang menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya melalui moda transportasi yang nyaman, aman, modern dan ekonomis. Seperti negara maju pada umumnya, moda transportasi kini juga sudah dibalut dengan modernisasi. Kereta api bertenaga listrik seperti MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit) dan sistem Halte Bus dengan e-ticketing menjadi penanda sebuah kota dikatakan modern.

Jakarta sekarang memiliki 13 stasiun MRT, 5 stasiun LRT, dan melayani lebih dari 100 rute. Angka ini tentu masih jauh dibandingkan dengan penduduk Jakarta sekarang yang mencapai angka 10 juta jiwa. Bandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura yang memiliki 154 stasiun MRT, 42 stasiun LRT dan lebih dari 300 rute busway dengan penduduk yang hanya 6 juta jiwa. Dari segi transportasi, Jakarta sekarang mungkin sedang dalam tahap mengembangkan sistem transportasi modernnya, butuh effort lebih bagi Jakarta menuju wajah modern dari sisi transportasi terintegrasi.

Gaya Hidup Masa Kini

Modernisasi yang masuk dan diadopsi dalam berbagai sisi kehidupan di Jakarta sekarang ternyata juga membawa beberapa budaya yang mengiringinya. Contohnya sistem teknologi yang memudahkan pembelian jual-beli secara online membuat konsumen tidak perlu repot berkunjung ke lokasi toko untuk membeli barang. Akibatnya, banyak masyarakat lebih lama menghabiskan waktu menatap layar gadget ketimbang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Tidak langsung kebiasaan ini membuat konsumen cenderung tidak sepadat dulu berada dalam mall, tapi dilain sisi banyak pasar dan mall di Jakarta sekarang terancam ditutup.

Kemudahan dalam sistem belanja membuat daftar keinginan lebih mudah terpenuhi, tidak jarang jika hal ini berlangsung tanpa kontrol keuangan, membuat tingkat konsumerisme menjadi tinggi. Hal ini menjadi keuntungan karena membuat perputaran uang semakin cepat, tapi dilain sisi semakin menjauhkan beberapa orang dari kata sederhana dalam menjalani hidup.

Pengaruh sosial media juga berdampak pada gaya hidup masyarakat metropolitan saat ini. Tiada hari tanpa berita sosial terkini. Semua trend terlihat menarik untuk ditiru dan apapun yang menjadi trend bisa dicoba. Semua bisa didapatkan dalam gadget saat ini. Menjadikan sosial media beserta gadget untuk sebagian orang tidak hanya kebutuhan sekunder, tetapi sudah jadi kebutuhan primer.

Jakarta = Modern?

Fenomena cashless yang semua bisa dibayarkan melalui kode atau barcode, sistem transportasi terintegrasi yang memudahkan mobilitas masyarakat dan gaya hidup dengan online setiap hari menjadi penanda modernitas telah teraplikasi di Jakarta sekarang ini. Tapi apakah modernitas hanya ditunjukkan dari pencapaian seberapa jauh teknologi dan informasi telah diaplikasikan dalam suatu wilayah? Terlepas dari segala aplikasi modernitas di berbagai sektor kehidupan bermasyarakat, perlu diingat bahwa semua itu hanyalah media. Manusia sebagai subjek yang sesungguhnya juga perlu di modern kan tanpa menghilangkan sisi-sisi manusiawinya.

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

pekerja kreatif

Ternyata Begini Suka Duka Menjadi Pekerja Kreatif

Bingung Habis Lulus Kuliah Mau Ngapain? Coba Simak Beberapa Tips Berikut Ini.