in

Untuk Penulis Pemula: Sebaiknya Memilih Idealis atau Mengikuti Selera Pasar?

Dalam berkarya, lebih baik mana: menjadi idealis atau mengikuti selera pasar? Mungkin itu adalah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh pekerja kreatif di manapun, misalnya musisi, desainer, YouTuber, dan juga termasuk penulis. Meskipun bisa saja pertanyaan itu berlaku di bidang lain juga. Kali ini kita fokus kepada penulis, khususnya penulis pemula: pilih idealis atau mengikuti selera pasar?

Mengikuti kata hati untuk bebas dalam berkarya atau menuruti keinginan orang-orang yang menjadi target pasar, memang menjadi dilema tersendiri. Anggaplah dirimu memiliki minat khusus pada dunia tulis menulis, apapun bidangnya. Lalu kamu punya keinginan agar karya-karyamu dipublikasikan sehingga mampu menjangkau pembaca yang lebih luas. Bukan hanya orang-orang terdekat saja. Apakah kamu akan menulis sesuatu yang dibutuhkan orang lain? Seperti pola pikir bisnis yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan orang.

Pilihan Editor;

Tentu kita tidak perlu mendefinisikan secara saklek siapa itu penulis pemula dan yang non-pemula. Barangkali yang menjadi pembeda adalah faktor ‘nama besar’ alias reputasi sosok penulis yang bersangkutan. Tapi, bukankah nama besar itu sebanding dengan kualitas karya yang dihasilkan seiring bertambahnya jam terbang? Baiklah, mari kita mulai.

Kalau kita melihat judul film dengan rating tertinggi di situs IMDB selama bertahun-tahun, yakni Shawshank Redemption (1994), maka kita akan menemukan fakta menarik di sana. Fakta menarik itu datang dari sosok penulisnya. Ya, film tersebut adalah adaptasi dari novel Stephen King. Dalam bukunya yang lain yaitu On Writing, Stephen King pernah ditanyai apakah dirinya menulis untuk mendapatkan uang? Jawabnya tentu saja tidak. Tapi, ia mengaku bahwa bayaran pertama dari karya cerpen pertamanya diperoleh dari ibunya sendiri yang membeli karyanya itu. *Sweet sekali ya ibunya?

Story books (Pixabay)

Lain lagi bagi Andrea Hirata. Penulis tanah air di balik novel fenomenal Laskar Pelangi itu mengungkapkan bahwa menulis untuk royalti memang tidak salah, tapi ada yang lebih berharga dari uang. Menurutnya, dengan menulis, seseorang bisa riset, refleksi diri, terapi, dsb.

Kebiasaan Menulis Berangkat dari Hobi

sesuatu yang dilakukan karena memang dia suka melakukannya, tentu tidak akan mempersoalkan perihal keuntungan, selera pasar, kebutuhan orang lain, apapun namanya. Ketika seseorang menulis karena hobi, sangat kecil kemungkinan bahwa dia memikirkan imbalan materi dari hobinya itu. Tentu saja, karena hobi tidak sama dengan kerja. Bahkan, ketika ia harus membayar (untuk hobinya) itu tidak masalah. Nothing to lose.

Lain halnya saat ia tahu bahwa hobinya itu bermanfaat bagi orang lain dan menghasilkan keuntungan finansial. Tentu ia akan berpikir bagaimana caranya supaya manfaat dan keuntungan itu bertambah, secara bersamaan dirinya juga bahagia ketika melakukannya. Pada titik itulah kita juga akan mempelajari bagaimana pasar bekerja.

Saat Kita Mulai Mengkomersilkan Tulisan

Tidak sedikit orang yang mengaku bahwa idealismenya lebih sulit dipertahankan kalau sudah masuk ke dunia kerja profesional. Dalam hal ini, ketika menulis sudah memasuki ranah industri, pasti tidak sama lagi dengan saat menulis hanya sebagai hobi. Ada pihak-pihak yang mengatur agar tulisan kita dibuat sedemikian rupa, meskipun kadang tidak sesuai dengan kata hati. Teman-teman blogger pasti paham. Ketika menulis dengan judul yang bombastis demi kepentingan jumlah views. :p

Sementara itu, di penerbitan beda lagi. Yang awalnya kita menulis untuk mencurahkan isi hati apa adanya tanpa filter, sepertinya itu tidak berlaku lagi ketika kita ingin mempublikasikan tulisan tersebut menjadi buku. Bukan berarti kita tidak boleh menonjolkan sisi personal, justru karya yang laris adalah karya yang jujur. Nah, masalahnya adalah bagaimana kita mengemas tulisan tersebut, yang meskipun itu cerita personal tapi jadi layak dibaca orang. Ini kembali ke daya kreativitas masing-masing orang untuk menyampaikan esensi dari tulisannya. Kemampuan bercerita (storytelling) yang baik bisa mengatasi hal ini.

Memenuhi Selera Pasar Boleh Saja, Asalkan…

Mengikuti kata hati atau selera pasar itu bukan soal benar-salah karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Jika melihat karya-karya besar di dunia, polanya hampir sama. Karya yang berkualitas pasti akan dikenang lama, dan yang sekadar mengikuti tren tanpa penjiwaan dalam proses berkaryanya , tinggal tunggu waktu saja. Padahal tren terus berubah.

Poin berikutnya adalah soal orisinalitas karya. Tidak hanya jurnal ilmiah saja yang menuntut orisinalitas. Tulisan fiksi pun demikian. Pernah kamu perhatikan sinetron kejar tayang yang dialognya tidak karuan, acara hiburan nirmakna karena scriptnya asal jiplak,  atau konten-konten di internet yang berpotensi plagiat bahkan hoax? Apapun itu, jangan sampai plagiat karena ini bisa menjadi semacam biggest crime dalam berkarya.

Pada akhirnya kita perlu menerima saran klise ini: berpikirlah dengan kreatif dan jadilah dirimu sendiri. Mengapa demikian? Nothing new under the sun, barangkali quote itu benar adanya. Banyak topik yang sama dibahas oleh jutaan orang dan jutaan kali di muka bumi. Misalnya cerita romance dengan segala liku-likunya. Tapi mengapa ada satu karya yang begitu terkenal, di saat yang lain tenggelam begitu saja? Topik boleh sama, yang beda adalah bagaimana caranya bercerita.

Penulis yang kemampuannya secara teknis boleh diacungi jempol itu banyak—terlepas dari soal selera, tapi yang bisa memberi kesan atau mengubah hidup orang banyak untuk lebih baik itu tentu tidak semuanya. Seringkali pembaca tidak begitu peduli pada bagaimana teknik menulis atau sekeras apa si penulis berusaha, asalkan sesuatu yang dibacanya itu  memiliki value dan memberi manfaat bagi yang sedang membaca tersebut.

Urusan menyampaikan value juga tergantung seberapa dalam penulisnya menjiwai karyanya. Kemudian kita akan selalu dihadapkan pada satu prinsip ini: Sesuatu yang dari hati akan sampai ke hati. Tak heran mengapa seringkali di toko buku, kita jumpai karya yang bertengger di deretan best seller adalah karya yang terkesan tidak serius bahkan membahas hal yang sangat umum, bernada curhat personal, dan relatif sepele.

Tapi, sekali lagi, itu adalah karya yang laku keras di pasaran. Tidak menutup kemungkinan ada orang yang berkomentar: “ah, kalau begini saja aku juga bisa”. Eits nanti dulu, di balik karya yang terlihat sepele itu, kita tak pernah tahu pengalaman apa yang dialami penulis sehingga mereka bisa mengekspresikan dirinya dengan jujur lewat karya itu. Jauh dari kesan menggurui, justru orang penasaran ingin tahu bagaimana ia berproses dan mengatasi pergulatan besar dengan dirinya sendiri.

Ilustrasi Melamun (Pixabay)

Menjadi idealis atau mengikuti selera pasar adalah pilihan masing-masing orang, dan pilihan itu bisa berubah seiring dengan kematangan dirinya dalam menghasilkan karya. Saat sudah memiliki personal branding yang kuat alias sudah cukup terkenal dengan genre tertentu, tentunya ia sudah memiliki pasar sendiri.

Untuk bisa memenuhi selera pasar tanpa mengurangi esensi dari tulisan tentu tidak mudah, begitu juga dengan menulis dengan idealis, baik tema maupun gaya, tanpa kehilangan pembaca setia. Kuncinya ada pada jam terbang untuk terus bereksplorasi sampai menemukan yang benar-benar sesuai dengan diri kita. Berkarya dalam bentuk apapun itu, ekspresikan dengan jujur, lakukan dengan totalitas, keyakinan, dan sepenuh hati. Bagaimana menurutmu?

Dilema Buku Bajakan di Indonesia dan Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?

7 Hal Seru Ini Pasti Dimengerti oleh Anak Pramuka. No 6 Bikin Baper!