in

‘Umi’ Nita Purnawati: Inspirasi Berjuang dalam Keterbatasan

Beliau yang akrab kami panggil “Umi” mempunyai nama legkap Nita Purnawati. Lahir tanggal  19 Mei 1962 di  Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya, anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Ibu Rumaenah dan Bapak Salim Apria. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, semangat untuk menimba ilmu masih sangat tinggi. Hal itu bukan karena tuntutan pekerjaan saja melainkan adanya keinginan  untuk bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang dengan ilmu dan wawasan yang didapatkannya.

Masa Kecil Umi

Masa kecilnya tidaklah seindah anak-anak lainnya. Ada banyak cerita pahit dan sedih yang dialaminya. Di usianya yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD), ia sudah tidak lagi merasakan kebahagiaan keluarga secara utuh dikarenakan perceraian orangtua yang memaksa harus berpisah dari ibu, ayah, kakak dan juga adik-adiknya. Umi kecil dirawat oleh adik kakek dari ibu.

Meski berada dalam kondisi seperti itu, Umi tidak tumbuh menjadi anak yang broken home, tapi justru tumbuh menjadi anak yang sangat disiplin, tanggung jawab dan pekerja keras. Sebuah sikap positif yang dipelajarinya dari sang nenek. Kedisiplinan, tanggung jawab dan kerja keras yang menjadi ciri khas sekaligus karakternya terus terbawa hingga dewasa dan menjadi pegangan dalam menjalani hidup sampai saat ini.

( Baca juga: 9 Cara Mengatur Keuangan Pribadi Anak Kost )

Sejak duduk di bangku SD prestasinya sangat baik dan selalu mendapat peringkat pertama. Meski harus sudah bekerja di usia yang sangat belia sebagai pembungkus garam, berjualan agar-agar ke sekolah, tidak membuat prestasinya menjadi menurun.

Sejak dahulu setiap ditanya perihal cita-cita, Nita Purnawati kecil selalu mengatakan ingin terbang naik pesawat terbang dan menjadi psikolog. Namun karena dorongan nenek bernama Hj. Uhen Ruhansih yang waktu itu bekerja sebagai Kepala Sekolah Dasar Gunung Pereng 3, beliau berubah haluan untuk menjadi seorang guru. Seperti ingin membuktikan pada nenek dan kakeknya, harapan untuk jadi seorang guru ini Umi wujudkan dengan melanjukan pendidikan menengah ke sebuah sekolah kejuruan, yaitu Sekolah Pendidikan Guru (SPG), itupun dengan beasiswa yang didapatkan atas prestasinya selama di Sekolah Dasar SD dan SMP.

Masa Sekolah, Kuliah, dan Pekerjaan

Setelah menamatkan SPG, Umi langsung mengajar di SD Mandalawangi Cikatomas mulai tahun 1982 sampai dengan tahun 1989. Pada tahun 1989 Umi dimutasi ke SD Dadaha. Selama menjadi seorang pengajar, Umi melanjutkan pendidikan D-II di Universitas Terbuka Bandung tahun 1998. Seiring berjalannya waktu tuntutan pada tenaga pengajar semakin tinggi sehingga mengharuskan untuk menempuh pendidikan sarjana, dalam memenuhi tuntutan tersebut beliau memutuskan untuk mengambil pendidikan sarjana di Universitas Pendidikan Indonesia Kota Tasikmalaya. Dengan semangat belajar, wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai dunia pendidikan lebih dikuasai. Di usia 43 tahun Umi lulus Sarjana (S1) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikmalaya dengan mendapatkan predikat cummlaude.

Selama menjadi seorang guru banyak prestasi yang didapatkannya, antara lain :

  1. Guru kreatif dalam pembelajaran pada tahun 2007
  2. Guru berprestasi tingkat Kota Tasikmalaya pada tahun 2009
  3. Pengelola perpustakaan tingkat Kota Tasikmalaya pada tahun 2010

Berjuang Melawan Penyakit

Umi menikah di usia 19 tahun dengan laki-laki bernama Suwarno Paton. Dari pernikahannya dikaruniai 4 orang anak yang diberi nama Restiwani Santika, Daniar Rona Parwati, Rengga Trihadi Utama, dan Rai Nurul Fatimah.

Di usia 2 tahun anaknya yang kedua divonis kanker darah (Embrional Sarcoma). Selang beberapa bulan, Allah lebih sayang pada anaknya hingga kemudian dipanggil keharibaan-Nya. Sepeninggal anaknya yang kedua Umi merasa sangat terpukul dan mengalami depresi. Karena depresi yang tak kunjung mereda Umi memutuskan untuk konsultasi ke dokter dan disarankan untuk sementara mengkonsumsi obat penenang.

Tanpa sadar efek yang diakibatkan dari mengkonsumsi obat tersebut adalah ketagihan yang berujung pada kesehatan ginjal dan jantung yang menurun. Suatu hari Umi diajak seorang teman untuk menghadiri pengenalan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) di mana dalam acara pengenalan tersebut dibahas sekilas tentang faktor penyebab sakit fisik, dan itu semua bermula dari kondisi hati dan ketenangan jiwa. Umi berusaha mempraktikkan hasil traning yang diikutinya, pelan-pelan ketergantungan obat penenang mulai berangsur berkurang dan akhirnya ditinggalkan. Keberhasilan Umi mempraktikkan hasil training juga mengantarkan Umi pada kesembuhan penyakit ginjal dan jantung yang dideritanya.

( Baca jugaBelajar dari Ismawati dan Impian Seorang Guru Ngaji )

Nita Purnawati (Sumber: dok. pribadi)

Pensiun Dini

Pada tahun 2011 Umi mengalami suatu keadaan yang membuat umi merasa jenuh dengan segala kegiatan yang dilakukan selama ini. Bisnis yang dijalankan beberapa tahun belakangan, yang kemudian Umi tinggalkan menjadi titik balik dalam kehidupannya Pada tahun yang sama Umi melaksanakan ibadah haji. Sepulang dari ibadah haji, keinginan untuk mengambil pensiun dini sebagai guru semakin kuat, dan tekanan pekerjaan membuatnya semakin merasa tidak nyaman.

Pada tahun 2014 beliau mulai aktif di bidang asuransi dan bergabung dengan salah satu perusahaan asuransi terbasar di Indonesia. Puncaknya pada tahun 2015 Umi memutuskan untuk pensiun dini dari pekerjaannya sebagai seorang guru.

Tepat dua bulan setelah pensiun dini, Umi dipertemukan dengan seorang artis yang memerankan sosok Jun. Perkenalan dengan H. Sahrul Gunawan, SE, M.Si berawal dari seorang sahabat bernama Bapak Budi Nurdian, SE. MM yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Pengembangan Travel Umroh dan Haji. Pertemuan tersebut menjadi awal bergabungnya Umi dengan manajemen Travel Umroh tersebut. Atas dukungan kantor pusat dan dua orang sahabat bernama Ibu Yuyun Djuariah dan Ibu Wawat Herawati akhirnya Umi mendirikan Kantor Mitra Tasikmalaya.

Motivasi yang membuat Umi bersikeras untuk menjalankan bisnis ini adalah bisa Haji Plus untuk almarhumah ibunya, berangkat haji dan umroh bersama keluarga. Memberangkatkan para tahfidz Al-Quran untuk menunaikan ibadah umroh pun menjadi salah satu faktor penyemangat bagi Umi. Hingga menjadi donatur tetap para tahfidz dan membangun Rumah jompo yang representatif.

Robbi zidni ’ilman war zuqni fahmaa, ‘’Ya Rabb, tambahkanlah ilmu bagiku, dan berilah aku kefahaman’’. Setiap aku ucapkan doa tersebut terasa ada yang menusuk sanubari, karena Umi sadar bahwa dirinya itu miskin, miskin ilmu, miskin pemahaman, miskin amal dan membuat sadar bahwa masih harus banyak belajar.

( Baca jugaAgar Kita Bisa Ibadah Umroh di Usia Muda, Ini Tipsnya )

Nita Purnawati (Sumber: dok. pribadi)

Ucapan adalah Doa

“Hati-hati dengan ucapan, karena ucapan bisa jadi doa. Ketika kita berkata baik, malaikat mengaminkan, demikian juga dengan ucapan jelek akan berbalik pada diri kira sendiri.’’

Salah satu pengalaman nyata yang pernah dialaminya. Tahun 2011 lalu tepatnya di Padang Arafah ketika melaksanakan ibadah haji. Dari sekian banyak yang dipanjatkan, dalam hati sempat terbersit punya pemintaan di sisa usia, ingin menjadi pelayan tamu Allah, bisa melayani banyak jamaah perjalanan haji dan umroh.

Subhanallah, di tahun 2015 Allah mengabulkan apa yang pernah terucap, bisa melayani banyak orang untuk mewujudkan impian-impian mereka beribadah ke Baitullah. Dalam perjalanannya memang tidak mudah untuk mengajak orang lain untuk mendaftar perjalan ke Baitullah. Tekad dan keyakinannya adalah bahwa mengajak orang lain untuk bisa mewujudkan impian haji dan umroh ke Baitullah adalah ibadah. Insya Allah akan menjadi amal kebaikan dan yakin pahala langit dan bumi serta seluruh isinya.

“Jika seseorang karena lisan kita mampu mengerjakan kebaikan, bukan hanya sekedar meteri yang kita dapatkan, tapi berlipat ganda pahala dan keberkahan rezeki Allah berikan.” 

Hati-hati dengan apa yang kita ucapkan, karena itu bisa jadi doa. Kalimat itu menjadi salah satu motivasi Umi untuk selalu berfikir positif terhadap segala hal.

Quote by Nita Purnawati

Pengalaman adalah guru yang terbaik, Allah menguji kita sesuai dengan kemampuan kita. Ketika kita mendapatkan ujian, pasti itu yang terbaik dan pasti ada hikmahnya, bisa jadi dari ujian itu Allah telah mempersiapkan yang lebih indah di luar dugaan kita.

Sumber belajar tidak hanya dari buku, melainkan orang-orang terdekat pun bisa jadi guru kita. Manfaatkanlah waktu luang hanya untul hal-hal yang bermanfaat, karena manusia paling rugi adalah dia yang menyia-nyiakan waktu. Harus kita ingat bahwa waktu yang telah berlalu tidak bisa kita kembalikan lagi. Jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur, karena dengan syukur akan selalu bertambah nikmat yang kita dapat dan rasakan. Aamiin.

Comments

Leave a Reply
  1. Masya Allah, Bravo buat Umi Nita. Seorang wanita pejuang yang mampu mengatasi masalah apapun dan punya cita-cita menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi manusia lainnya, sesuai Sabda Rasulullah SAW : “Khoirun naas anfa’uhum linnaas”. Itulah prinsip hidup seorang Muslim/Muslimah. Tapi jangan sampai seperti Lilin, kita bermanfaat bagi orang lain tapi badan kita terbakar. Na’udzubillah min dzalik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Lagu “Jangan” Antarkan Marion Jola Raih Penghargaan di MAMA 2018

Rahasia di Balik Akun Gosip Lambe Turah yang Jarang Diketahui Orang