in

6 Tips Menulis yang Jarang Disampaikan Orang, Sudah Pernah Coba?

Tips menulis memang banyak sekali, mana yang paling berhasil buatmu?

Tips menulis yang jarang disampaikan

Ublik.id – Tentang tips menulis, pernahkah teman-teman perhatikan bahwa hampir di setiap sharing tentang menulis, di situ pasti ada pertanyaan yang mirip-mirip. Misalnya seperti ini; “Dapat idenya dari mana sih?”, “Bagi tips dong kak gimana cara menulis yang bagus?”, “Dulu awalnya gimana kok bisa banyak menang lomba?” dan seterusnya.

Atau pertanyaan berikutnya; “Gimana ya biar konsisten? soalnya aku sering nyoba nulis dan gak selesai…”, “Kamu gimana sih bisa produktif gitu?”, “Kemarin udah ikut kelas menulis, tapi kok ngerasa kurang dapet ilmunya, mahal pula, kamu ada rekomendasi gak?”

Berikut ini adalah beberapa tips menulis yang dirangkum oleh redaksi Ublik berdasarkan pengalaman dan juga penuturan beberapa sahabat.⁣Di tengah menjamurnya tips tentang menulis, mungkin ini adalah ide tambahan yang bisa kamu gunakan.

Lakukan dengan Rasa Senang

tips menulis , senang hati
Lakukan dengan senang hati (Sumber gambar: Pixabay )

Tips menulis di sini tidak terpaku ke jenis-jenis karya tulis, entah itu ilmiah atau populer, fiksi atau non-fiksi, tapi lebih ke proses kreatifnya. Bicara soal proses kreatif pun, jangan dipikir terlalu dalam ya. Ini juga tidak sesulit yang dibayangkan. Sebab salah satu ‘prasyarat’ menjadi kreatif tak lain adalah perasaan senang, seolah-olah sedang bermain. Ketika kita ada dalam mode bermain, tentu tidak takut membuat kesalahan, apalagi menghakimi diri kalau karya yang dihasilkan dirasa kurang menarik.

Tulis Apa pun yang Kita Pikirkan, Apakah Hanya Itu?

“Konon, tidak ada bakat alami untuk menulis. Yang dibutuhkan adalah banyak waktu untuk menulis apa pun yang kita pikirkan. Menulis juga berarti kebebasan, untuk mengekspresikan diri dan untuk berbagi saja. Bukan untuk bayaran, melainkan untuk kesenangan.”

Bagaimana menurutmu pendapat tersebut? Ya, memang sangat menyenangkan kalau kita bebas menyampaikan apa pun yang ingin kita sampaikan, sekaligus tak perlu mikir “pekerjaan kita dihargai berapa” alias sudah lakukan saja! Tapi apakah kenyataannya bisa seperti itu? Ya tentu bisa, kalau tulisan kita untuk diri sendiri dan tidak terkait dengan pihak lain. Tapi kalau tulisan kita sudah jadi pekerjaan, contohnya pekerjaan copywriter, mestinya ada mindset yang sedikit berubah.

Ingatlah bahwa sebagian besar orang itu punya waktu terbatas, mereka cenderung peduli dengan urusan sendiri, dan tidak ingin buang waktu untuk sesuatu yang tak ada manfaatnya. Jadi mereka membaca tulisan kita karena memang dirasa bahwa tulisan kita ada manfaat, untuk diri mereka, bukan penulisnya. Ini memang cukup menantang buat penulis maupun pekerja kreatif lainnya, bagaimana bisa menyampaikan hal yang kita suka atau yakini, tapi juga tetap bisa diterima oleh orang lain.

Penulis adalah ‘Pencuri yang Santun’

Iya, kamu tidak salah baca. Ada saatnya kita butuh skill menjadi pencuri! Tepatnya pencuri ide yang santun. Apa maksudnya? Kalau kamu pernah membaca ‘Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Told You About Being Creative’ yang ditulis oleh Austin Kleon mungkin akan segera paham.

Diakui atau tidak, apa yang kita sampaikan melalui tulisan itu adalah pengaruh ide orang lain juga yang kita serap, lalu diolah dalam kepala kita masing-masing. Ada saat tertentu juga bahwa kita terinspirasi oleh seseorang, tapi orang tersebut tidak menyadarinya bahwa dia memberi inspirasi dengan apa yang dilakukan atau dikatakannya. Di situlah kita sebenarnya sedang ‘mencuri’ idenya tanpa harus jadi peniru, sebab sebelum menuliskannya kita mengolahnya terlebih dahulu.

Menjadi Pembelajar Otodidak yang Baik

Masih tentang mempelajari ide orang lain, penulis itu pada dasarnya juga pembelajar otodidak yang baik. Membaca karya orang lain, itulah caranya untuk belajar secara mandiri. Meskipun memiliki mentor dalam hal kepenulisan, tapi tetap saja ujungnya tetap kembali ke diri sendiri.

Katanlah misal kamu punya penulis favorit yang kamu suka gaya berceritanya. Bagaimana cara ‘berguru’ dengannya tanpa harus bertemu langsung? Pelajari juga proses perjalanannya sampai bisa menghasilkan karya yang seperti sekarang. Coba cari blognya, lihat sudah berapa tahun dia menulis di blognya itu. Katakanlah sekarang 2019, coba baca 3 tulisan terbarunya. Bagaimana menurutmu? Bandingkan dengan tulisannya beberapa tahun lalu? Apakah tulisan mereka berubah? Semakin runut? Lebih ‘halus’ penyampaiannya? Lebih mudah dicerna? Lebih menarik? Pelajari dengan antusias.

Bercita-cita Atau Tidak, Kadang Itu Tak Jadi Soal

Karena menulis tidak terpaku dengan disiplin ilmu tertentu, jadi mungkin kita bertanya-tanya mengapa penulis yang terkenal justru bukan lulusan dari jurusan Sastra? Lalu apa yang membuat orang bisa menjadi pencerita yang baik? Konon ini tidak terlepas dari pengalaman, dan tulisan adalah salah satu bentuk ekspresi atau kesan pribadi dari pengalaman itu.

Tanpa punya cita-cita serius untuk benar-benar jadi penulis profesional pun, ketika seseorang pernah mengalami sesuatu yang sangat berkesan dalam hidupnya, seperti; berhasil membangun bisnis dari nol, bepergian ke negara atau kota yang namanya susah ucapkan, jatuh cinta pada waktu yang tidak tepat, pengalaman bertahan hidup dari bencana, keberanian memutuskan nikah muda, atau apapun pengalaman emosional yang banyak hikmahnya di situ, maka akan ada kesan mendalam dan membekas dalam benaknya.

tips menulis , pengalaman
Apa yang terlintas di benakmu saat menulis pengalaman? (Sumber gambar: Pixabay)

Barangkali karena inilah mengapa seseorang yang bukan penulis atau yang awalnya tidak bergerak di bidang literasi, tapi ketika ia menerbitkan buku pertamanya justru jadi best seller. Karena ia menyampaikan cerita yang benar-benar dialami, dan tentu saja menulisnya dengan sepenuh hati. Mungkin kamu pernah begitu? Tiba-tiba lancar bercerita hanya karena mengenang sesuatu yang pernah dialami.

Saat kamu mengekspresikan dengan tulisan, perhatikan perasaanmu. Apa kesan yang kamu dapat? Gambar apa yang muncul berulang kali di benakmu? Saatnya kita menjadi sadar bahwa penulis paling cemerlang lebih banyak melakukan ‘hal-hal nyata’ dan bukan hanya mengetikkan kata-kata sebagaimana pabrik memproduksi barang-barang yang akan dijual. Mereka bepergian, mengamati sekitar, jalan jalan, berteman, berbicara dengan orang asing, mencoba hal-hal yang memancing rasa takut, termasuk juga menjalankan hal normal sehari-hari. Tak berlebihan kalau kita sebut karya adalah anak jiwa.

Ya memang tidak harus menunggu untuk menulis sampai kamu memiliki sejuta pengalaman. Tetapi carilah pengalaman itu sambil menulis sepanjang jalan. Jangan terjebak dalam perangkap penulis untuk bekerja untuk keabadian. Mari kita realistis sejenak. Bukankah menghasilkan tulisan juga perlawanan dengan diri sendiri, dengan rasa malas, dengan rasa takut kalau tidak ada yang baca, juga perlawanan dengan halaman kosong di depan kita.

Menambah keterampilan dalam menulis, seperti dalam disiplin apa pun, adalah kombinasi dari kerja keras dan peluang yang bagus. Tidak ada ‘gen bakat ajaib’ yang membuat kita menjadi—misalnya—Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi yang mendunia itu.

Apa yang Menjadi Motivasimu?

Sebenarnya motivasi ini mestinya sudah kita selesaikan sejak awal. Tapi tidak mengapa kita letakkan di mana saja, sebab memang poin inilah yang menjadi penggeraknya. Menulis itu, sebagaimana aktivitas lain seperti memasak atau menata ulang rumah, tidak untuk membuktikan diri sebagai orang yang memiliki kelebihan tertentu, atau ingin menginspirasi, apalagi menggurui. Nah, kalau ternyata orang yang membaca merasa mendapatkan sesuatu dari yang kamu tuliskan, syukurlah, itu artinya memang ada nilai plus dalam karyamu.

Yang pasti, tidak ada batasan profesi untuk bisa menulis dengan kreativitas. Yang membedakan hanyalah niat, jam terbang, lingkungan yang mendukung, kemauan untuk membaca, dan motivasi yang kuat: kenapa kita harus melakukannya. Jadi, apakah kamu yang yang punya hobi menulis sudah menemukan motivasi yang kuat?⁣⁣

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Persiapan usia 30 tahun

Yang Perlu Kamu Persiapkan Agar Tidak Menyesal di Usia 30 Tahun

Tempat wisata alam kahyangan di wonogiri , wonogiri

Kahyangan, Tempat Wisata Alam Bernuansa Spiritual di Selatan Wonogiri