in ,

Mana yang Lebih Baik: Tinggal di Desa Atau di Kota?

Tidak sulit ditemui fenomena pada orang-orang yang tinggal di desa, bahwa anak-anak seusai sekolah mestinya ya merantau ke kota. Kuliah, bekerja, membangun pertemanan, memperjuangkan cita-cita. Bahkan sebagian anak sudah mulai ‘dikirim’ ke kota sejak usia sekolah SMP atau SMA. Umumnya orangtua akan bangga menceritakan anaknya yang berhasil membangun kehidupan di kota.

Tapi ternyata ada satu sisi yang sedikit terabaikan. Kalau semua pergi ke kota, lalu siapa yang akan membangun desa? Padahal desa juga bisa menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian, tempat berlangsungnya interaksi sosial, tempat berkarya, dan tidak hanya sebagai tempat rehat atau sebagai tujuan mudik di hari raya.

Ilustrasi pinggir kota (Sumber: Pixabay)

Baca Juga: Tradisi Mudik di Indonesia dalam Perspektif Budaya

Dengan potensi alamnya, tidak sedikit desa yang kemudian mati suri karena sepi dari geliat aktivitas ekonomi. Bukankah kelak di saat kota-kota besar penuh masalah yang membuat hidup jadi tidak nyaman, solusinya ada pada kehidupan desa? Yang terjadi kemudian banyak desa yang berlomba-lomba mengejar modernitas, untuk ‘menjadi kota’. Anak-anak mudanya pun membangun citra sedemikian rupa sebagaimana yang terlihat di televisi ibukota. Ternyata yang seperti itu bukanlah cara pandang yang tepat.

Pemandangan sawah (Sumber: Pixabay)

Pilihan untuk Tinggal di Desa

Di saat banyak orang membeli kenyamanan dengan menyewa bangunan di sebuah kota perantauan, tidak sedikit orang-orang yang tinggal di desa. Mereka memilih tinggal di desa dengan beragam alasan, mulai dari pekerjaannya yang tersedia di desa, kewajiban mengurus keluarga, dan juga ingin membangun perekonomian desanya. Atau bahkan untuk alasan gaya hidup ketika seseorang pindah dari kota ke desa seolah menjadi tren tersendiri. Sebagaimana kita tahu, kota besar yang penuh sesak akan memicu tekanan pada diri.

Seiring dengan sudah masuknya akses internet di desa, orang yang tinggal di desa tidak akan takut tertinggal informasi atau khawatir tidak bisa terhubung dengan teman-teman yang terpisah jarak. Tentunya ini akan menguntungkan buat para pekerja jarak jauh dengan sistem freelance yang tidak harus ngantor setiap hari.

Bagaimana Realitas Hidup Desa vs Kota?

Desa dipandang sebagai tempat yang berisi kelompok petani yang kerap mengembangkan tradisi kecil (little tradition), sedangkan kota adalah masyarakat yang berada di pusat kebudayaan yang cenderung mengembangkan peradaban dalam tradisi besar (great tradition). Demikianlah yang diungkapkan antropolog Robert Redfield (Rahardjo, 2011).

Jika tradisi besar di kota dianggap ditularkan oleh policy maker, pemikir, pujangga, dan ahli agama dengan kesadaran penuh untuk dipraktikkan, maka tradisi kecil yang berada di kampung-kampung dianggap sebagai sesuatu yang liar dan tak ditumbuhkan dari tradisi berpikir reflektif, melainkan sekadar berkembang secara alamiah. Dahulu, di desa tak mengenal alat untuk mengabadikan dalam bentuk tulisan, hanya diturunkan secara lisan atau dan berakhir menjadi dongengan (folklore).

Terlepas dari anggapan yang bertolak belakang antara desa dan kota, kita juga bisa menjumpai realitas bahwa di tiap-tiap desa itu ada sudut pandang, abstraksi, nilai-nilai ‘seperangkat pengetahuan’ tentang kehidupan atau yang biasa diwakili oleh kearifan lokal (local wisdom)

Lingkungan yang terasa lebih menyenangkan, udara segar, tetangga yang ramah dan peduli, bebas dari papan iklan di pinggir jalan, dekat hamparan sawah hijau memanjakan mata, bebas dari kemacetan, suara hewan-hewan kecil seperti jangkrik dan katak, lalu kunang-kunang yang berkelap-kelip di malam hari adalah keistimewaan yang tidak mudah didapatkan di kota. Belum lagi, biaya hidup di desa relatif lebih murah dibanding di kota. Bukankah itu menyenangkan?

Hutan (Sumber: Pixabay)

Ya, sekilas itu menyenangkan. Tapi tunggu dulu…

Seperti segala sesuatu, tinggal di desa juga memiliki dua sisi. Sebuah gambaran umum bahwa tinggal di desa menawarkan suasana hidup yang nyaman dan lingkungan menyenangkan, kenyataannya tidak selalu sejalan dengan ekspektasi. Kecuali kalau memang desa tersebut adalah desa terindah di dunia seperti ini.

Baca juga: Nagari Pariangan, Desa Di Indonesia Terindah Sedunia

Satu lagi, kehidupan desa dipandang masih belum sepenuhnya terjamah modernisasi. Satu sisi memang ini terkesan positif karena unsur alaminya yang terjaga. Tapi, bagaimana kalau keadaan belum terjamah modernisasi seperti itu justru menghambat aktivitas sehari-hari?

Ayam peliharaan di desa (Sumber: Pixabay)

Meskipun tenang dan nyaman, tapi tinggal di desa juga ada tantangannya. Fasilitas umum  seperti bank, ATM, SPBU, stasiun, bandara, apalagi mal dan bioskop memang tidak mudah ditemui seperti saat di kota. Bagaimana ketika kita buru-buru harus berangkat untuk perjalanan jauh? Misalnya untuk ke bandara, kita perlu menempuh perjalanan cukup jauh dan waktu yang tidak sebentar.

Satu lagi kemungkinan yang perlu dipertimbangkan saat memilih tinggal di desa, yaitu tentang ketersediaan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Tidak selalu ada jaminan bahwa wajah desa adalah seperti yang dibayangkan banyak orang tentang kampung halaman di masa kecil dulu. Kalau memang ingin tinggal di desa, pastikan bahwa gambaran-gambaran menyenangkan di desa itu benar tersedia di desa tersebut. Memang di desa mudah mendapatkan bahan makanan yang lebih alami, dengan catatan kalau sedang musimnya.

Apakah kamu tahu tentang hari pasaran?  Banyak pasar di desa-desa identik dengan hari pasaran yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing. Ada beberapa jenis pasar di desa yang ramai hanya pada hari pasaran tertentu. Ya, tidak setiap hari. Padahal kebutuhan ada setiap hari. Jadi, untuk belanja ke pasar tradisional di desa umumnya perlu menyesuaikan dengan hari pasaran tersebut.

Jadi, antara tinggal di desa dan di kota, mana yang lebih baik? Bukan berarti menjauhi perkotaan atau asal membandingan antara keduanya demi kenyamanan, lebih dari itu, kita sadar bahwa jiwa kita juga butuh tantangan. Bukankah orang tidak hanya butuh keadaan nyaman, melainkan juga ‘kebutuhan’ untuk berkompetisi dan keuar dari zona nyaman? Pada akhirnya tinggal di manapun adalah pilihan yang kita sesuaikan dengan kondisi masing-masing. Sambil membekali diri dengan cakrawala berpikir yang luas, tinggal di kota bisa memberi banyak peluang, begitu juga dengan di desa.

 

(Sumber gambar utama: Ublik.id/restia)

Beginilah Suara Hati Seorang Fresh Graduate yang Jarang Terdengar

Ternyata Seperti Inilah Penjelasan Ilmiah saat Seseorang Jatuh Cinta