in

‘Terapi Belanja’ yang Perlu Kamu Tahu agar Tidak Menguras Dompet

Pernahkah kamu membeli sesuatu yang tidak kamu butuhkan untuk sekadar membuat perasaanmu bahagia? Atau membeli lebih banyak barang ketika suasana hatimu sedang buruk? Jika pernah, maka secara tidak sadar kamu sedang melakukan retail therapy atau terapi belanja, sebuah aktivitas belanja yang bertujuan untuk meningkatkan suasana hati seseorang yang sedang terpuruk.

Dalam sebuah studi yang dilakukan TNS Global, disebutkan bahwa sebanyak 52 persen orang Amerika melakukan terapi belanja untuk mengubah suasana hati mereka yang buruk. Penelitian lainnya yang dilakukan Selin Atalay dan Margaret Meloy dari Pennsylvania State University menemukan fakta bahwa 62 persen pembeli berbelanja sesuatu untuk menyemangati diri mereka sendiri, sementara 28 persen lainnya berbelanja sebagai bentuk perayaan. Namun benarkah terapi belanja bisa mengubah suasana hati seseorang menjadi lebih baik?

( Baca juga: 9 Cara Mengatur Keuangan Pribadi Anak Kost )

Terapi belanja, seberapa efektif?

Ilustrasi wanita belanja (Sumber: Pixabay)

Elizabeth Dunn bersama dua profesor lainnya dari University of British Columbia  mempublikasikan sebuah paper berjudul “If Money Doesn’t Make You Happy Then You Probably Aren’t Spending It Right”. Terapi belanja memiliki logika yang serupa. Jika belanja tidak membuat suasana hatimu lebih baik, atau bahkan membuat suasana hatimu memburuk, maka kamu mungkin tidak melakukannya dengan benar.

Scott Rick, profesor marketing dari University of Michigan yang fokus meneliti tentang penyebab emosi dan konsekuensi dari keputusan finansial mengatakan bahwa orang yang sedih atau kecewa berpikir bahwa mereka hidup di lingkungan yang berada di luar kontrol mereka. Dan salah satu cara memperbaikinya adalah dengan membuat pilihan tentang apa yang ingin dibeli. Dalam studinya, Rick menemukan fakta bahwa terapi belanja tidak bisa melawan, namun mampu meredakan depresi ringan.

Selain itu, belanja juga bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan. Dalam studi lain juga disebutkan bahwa 57 persen perempuan merasa lebih sehat setelah berbelanja. Hal tersebut terjadi lantaran berbelanja memicu seseorang berjalan kaki lebih lama, terutama jika mereka pergi bersama orang lain. Sebagaimana penelitian yang dilakukan terhadap 4500 wanita di Britania Raya menyebutkan bahwa mereka yang berbelanja bersama teman berjalan kaki lebih lama dibandingkan mereka yang berbelanja seorang diri.

Ilustrasi belanja sendiri (Sumber: Pixabay)

Namun sebagaimana terapi kesehatan lainnya, terapi belanja juga memiliki prosedur serta dosis tertentu yang relatif berbeda antara satu orang dengan orang lain. Jika kamu merasa bersalah, menyesal, malu, atau semakin stres setelah berbelanja, itu artinya ada yang tidak tepat saat kamu melakukan berbelanja. Penyebab kegagalan yang paling umum adalah kehilangan kontrol saat berbelanja dan bertindak serampangan dengan menghamburkan uang secara ekstrim.

( Baca jugaGenerasi Milenial Rentan Gangguan Kesehatan Mental, Fakta atau Mitos? )

Untuk mencegah tindakan serampangan saat belanja, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan.

Belanja Barang yang Sudah Kamu Rencanakan

Ketika kamu ingin berbelanja, batasi pengeluaranmu dengan cara membeli barang yang sudah direncanakan sebelumnya. Jika perlu, catat barang-barang yang hendak kamu beli beserta anggaran maksimum untuk masing-masing barang, lalu urutkan berdasarkan prioritas.

Batasi Nominal Uang Cash dan Penggunaan Kartu Kredit

Untuk mencegah pengeluaran membengkak, batasi nominal uang cash yang dibawa di dompet sesuai yang dianggarkan. Dilansir Forbes, sebuah survey mengungkapkan bahwa sebanyak 7 persen orang yang melakukan aktivitas belanja secara impulsif untuk mengurangi stres telah menghabiskan 1000 dolar dalam sekali pembelian, dengan 53 persen di antaranya menggunakan kartu kredit dalam melakukan transaksinya. Jika kamu gampang tergoda dengan kartu kredit, batasi penggunaannya dengan cara meninggalkannya di rumah ketika suasana hatimu buruk.

Window Shopping

Untuk memperoleh manfaat terapi belanja, sebenarnya kamu tidak harus selalu mengeluarkan uang. Window shopping saja. Cukup berjalan kaki sambil melihat-lihat pakaian di sebuah toko saja sudah bisa membuat suasana hati seseorang membaik.

Itulah hal-hal yang bisa kamu lakukan agar tidak serampangan saat belanja. Atau dengan kata lain, agar terapi belanja lebih efektif. Berikutnya ada sebuah fakta yang perlu kamu tahu.

Ilustrasi wanita belanja 2 (Sumber: Pixabay)

Pasien Terapi Belanja Didominasi Wanita dan Milenial

Sebuah penelitian tentang demografi pembelian kompulsif menunjukkan bahwa terapi belanja sebagian besar dilakukan oleh kaum wanita dan mereka yang berusia muda, khususnya generasi milenial. Credit Carma menyebutkan 68 persen milenial memiliki masalah dengan stres, lebih tinggi dibandingkan generasi X sebesar 53 persen dan 26 persen di era Baby Boomers.

Apa yang membuat wanita dan kaum milenial paling banyak melakukan terapi belanja?

Tekanan Hidup

Dilansir situs Popbela.com, American Psychological Association menyebutkan bahwa generasi milenial mengalami lebih banyak tekanan namun kurang bisa menghadapinya dibandingkan generasi sebelumnya. Permasalahan uang, penampilan, karir, masa depan serta identitas diri seiring berkembangnya media sosial menjadi penyebab utamanya. Terapi belanja menjadi salah satu cara untuk beristirahat sejenak dari berbagai tekanan hidup tersebut.

Transisi Diri

Saat harus mengambil langkah baru untuk perubahan besar dalam hidup, baik itu tempat bekerja, tujuan hidup atau cita-cita, maupun pasangan hidup, banyak milenial merasa takut hal buruk terjadi setelah mengambil keputusan tersebut. Terapi belanja bisa membuat milenial lebih siap menghadapi transisi hidup tersebut. Misalnya, membeli baju baru untuk tempat kerja baru atau membeli selimut baru untuk pasangan hidup baru.

Interaksi Sosial

Dewasa ini, milenial lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain media sosial. Namun meskipun memiliki banyak teman di media sosial, sebanyak 85 persen di antaranya merasa kesepian. Dilansir Okezone.com, sebuah survey terhadap 1000 orang berusia 18 hingga 25 tahun menyatakan bahwa 56 persen pesertanya menderita banyak masalah lantaran tak memiliki teman bercerita. Terapi belanja bisa membuat milenial berinteraksi dengan banyak orang, baik pembeli lain maupun penjual.

Itulah ulasan singkat mengenai terapi belanja. Jika terapi ini bekerja untuk kamu, lakukan, nikmati, tapi jangan berlebihan agar tidak menimbulkan penyesalan di masa mendatang.

Salju Abadi di Puncak Jayawijaya, Akankah Tinggal Kenangan?

Salut! Pemuda Lulusan SMP Ini Merakit Vespa Tank yang Laku di Eropa