in

Tentang Sejarah dan Wujud Cinta terhadap Masa Depan: Belajar dari Ardian Nur Rizki

Kita harus berhenti belajar sejarah, dan memulai babak anyar: belajar dari sejarah

Salah satu aktivitas yang dilakukan Beni sebagai guru Sekolah Indonesia Johor Bahru, Malaysia. (Sumber gambar: instagram.com/ardianurizki/)

Terdapat segudang manfaat belajar sejarah. Selain bisa melihat dunia dari berbagai sudut pandang, menstimulasi kita untuk berpikir kritis, pun menjadi inspirasi pembuatan sebuah karya.

Erat kaitannya dengan sosok supel dan ramah ini. Kecintaannya pada sejarah sudah terpatri di hati. Menjembatani semangat dan minatnya untuk setiap pencapaian yang diraih.

Ardian Nur Rizki, atau yang akrab disapa dengan nama Beni adalah pribadi inspiratif yang memiliki segudang prestasi. Selain berkecimpung di dunia pendidikan, pria kelahiran 1 Desember 1992 ini aktif di bidang jurnalistik. Tak terhitung lagi berapa banyak karya yang terbit di media massa. Buku pertamanya yang berjudul ‘Pustaka Sepak Bola Surakarta’ berhasil melambungkan namanya. Ia juga tergabung dalam Solo Societeit, komunitas sejarah dan budaya yang eksistensinya tidak perlu diragukan lagi.

ardian , sejarah
Foto: Ardian Nur Rizki (Sumber: instagram.com/ardianurizki/)

Di tahun 2015, lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret ini turut serta dalam program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Setahun lamanya mengabdikan diri sebagai pendidik di SMA Negeri Pulau Pura, Pulau Pura, Alor membuatnya semakin termotivasi untuk menunaikan cita-citanya sejak kecil sebagai penggiat pendidikan.

Setelah menyelesaikan kuliah PPG (Pendidikan Profesi Guru) di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2017, Beni mengikuti program SILN (Sekolah Indonesia di Luar Negeri). Tak jauh beda dengan SM-3T, melalui program SILN, ia mengabdikan diri sebagai pendidik.

( Baca jugaLutvi: “Jadi Guru di Pedalaman Harus Multitalenta” )

Di tengah kesibukannya sebagai guru di Sekolah Indonesia Johor Bahru, Malaysia, alumni SMA N 1 Surakarta ini menyempatkan diri untuk berbagi cerita via WhatsApp kepada redaksi ublik.id.

Apa yang memotivasi kamu untuk ikut program-program pendidikan seperti SM-3T dan SILN?

Sejak kecil, selain menjadi pesepak bola, saya bercita-cita menjadi guru. Sadar bahwa skill saya terlalu cupu untuk menjadi atlet, saya akhirnya menahbiskan guru sebagai destinasi luhur dalam hidup. Jadi, mengikuti program SM-3T & SILN merupakan penuaian cita-cita yang tercanang sejak belia. Dan, akan terus saya ikhtiarkan hingga nafas ini purna.

Bagi saya, jadi guru itu laksana candu. Menyaksikan besarnya tekad siswa dalam mengais ilmu & pengetahuan. Memandang sorot mata siswa yang tercerahkan. Melihat anggukan mantap tanda terpahamkan. Adalah panorama mahaindah, yang membuat degup dan denyut hidup saya terus bergairah.

Lalu, apakah perbedaan antara SM-3T dan SILN?

Bedanya kalau SM-3T mendidik di pelosok negeri, sedangkan SILN mendidik di luar negeri. Hehehe… Pada intinya sama, sih. Keduanya merupakan wujud hadirnya negara dalam upaya penunaian janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

sejarah , ardian
Salah satu aktivitas yang dilakukan Beni sebagai guru Sekolah Indonesia Johor Bahru, Malaysia. (Sumber gambar: instagram.com/ardianurizki/)

Siapa sosok yang menginspirasi kamu?

Paulo Freire, Ivan Illich, Rabindranath Tagore, Ki Hadjar Dewantara, Muhammad, Isa Almasih, Siddharta Gautama, Cak Nun, Gud Dur, Gus Mus, Tifani Lalangpuling, Zakarias Hinamalua, Senangpati Datemoli. Banyak…

By the way, tiga nama yang saya sebut terakhir adalah nama murid saya di Alor. Kepada mereka saya banyak berguru.

Oh, ya? Mengapa mereka menginspirasi kamu?

Sebenarnya bukan cuma tiga, melainkan hampir semua, atau bahkan semuanya. Selalu ada mutiara ilham yang dibawa masing-masing murid dengan segala keunikannya. Entah keterampilannya, bakat, kelucuan, keluguan, kegigihan, ketekunan, keuletan, atau bahkan kenakalan.

Semua-mua menginspirasi saya. Mewarnai hari-hari saya. Menjadi sumber energi bagi hidup saya. Terdegar berlebihan, memang. Namun percayalah, bagi saya, menyaksikan tumbuh kembang dan polah mereka saban hari adalah kebahagiaan sejati. Mereka sumber inspirasi hakiki.

( Baca juga Tentang Peran Guru di Era Digital: Akankah Tergantikan oleh Mesin? )

Selain mengajar, kamu juga aktif menulis. Apa yang membuat kamu gemar menulis?

Sadar bahwa seratus tahun lagi raga ini akan teronggok dan membusuk di bawah batu nisan. Maka, kiranya perlu untuk mengabadikan setiap aspirasi dan pemikiran dalam tulisan.
Kalau kata Pram, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Sudah berapa banyak tulisan yang kamu hasilkan? Tentang apa?

Duh, saya nggak pernah mengalkulasi kuantitas tulisan. Lebih fokus pada kulitas, sih. Hehehe…
Kalau di media massa ya berkisar tentang pendidikan dan olahraga, khususnya sepak bola. Kalau di akun sosmed ya bahas percintaan, rindu, kopi dan senja dong. Hahaha…

Mengapa memilih judul “Pustaka Sepak Bola Surakarta” untuk buku pertama kamu?

Ya karena kontennya tentang sejarah dan gairah sepak bola Surakarta, khususnya PERSIS (Persatuan Sepak Bola Indonesia Surakarta). Saya berharap karya picisan ini bisa menjadi mode penyadaran bagi para supporter agar kuasa memaknai sepak bola sebagaimana muruah dan khitahnya, yakni: pemersatu bangsa.

( Baca juga : Dilema Buku Bajakan di Indonesia dan Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan? )

buku ardian , sejarah
Ketika buku ‘Pustaka Sepak Bola Surakarta’ terbit. (Sumber gambar: instagram.com/ardianurizki/)

Bagaimana cara membagi waktu antara menulis dan mengajar?

Setelah selesai mengajar, saya selalu menyempatkan diri untuk berdiskusi dan membaca. Membaca itu jangan hanya dimaknai sebagai kegiatan mengkhatamkan buku semata, melainkan juga termasuk membaca keadaan, membaca lingkungan, dan membaca fenomena sosial.

Jadi, waktu untuk menulis tidak melulu tentang berapa lama kita duduk di hadapan laptop, melainkan juga waktu dalam mengobservasi, kontemplasi, pertekuran, dan pertautan pikiran. Justru hal inilah yang lebih menyita waktu.

Intinya, agar dapat terus menulis, kita mesti arif dalam mengelola waktu. Kita mesti banyak meluangkan waktu untuk ‘membaca’. Sekali lagi membaca dalam artian luas, ya…

Ngomong-ngomong, kamu juga aktif dalam komunitas Solo Societeit. Apa itu Solo Societeit?

Solo Societeit merupakan komunitas sejarah dan budaya yang bertujuan untuk mendiseminasi keagungan kultur dan nilai-nilai luhur sejarah Surakarta. Solo Societeit juga acap memfasilitasi komunikasi budaya antara masyarakat dan pemerintah, pengusaha, maupun elemen kemasyarakatan lainnya. Kegiatannya berupa riset sejarah, jelajah sejarah, diskusi, seminar, dan workshop budaya.

sejarah , solo societeit
Beni dan kawan-kawan dari komunitas Solo Societeit. (Sumber gambar: instagram.com/ardianurizki/)

Sejak kapan bergabung dengan Solo Societeit?

Sejak awal berdirinya, 6 Mei 2018.

Apa peran kamu di Solo Societeit?

Awalnya saya berperan sebagai Koordinator Divisi Riset. Namun, karena sekarang tengah bekerja di luar Solo, saya tidak lagi dapat banyak berkontribusi dalam riset. Saat ini saya didapuk sebagai Wakil Ketua Solo Societeit.

Kalau diamati, mulai dari jurusan kuliah, konten buku, sampai komunitas yang kamu ikuti, semua berkaitan dengan sejarah. Seberapa besar kecintaan kamu pada sejarah?

Cintaku pada masa depan terwujud dalam besarnya ikhtiarku menekuri masa silam.

Saya baru hidup di dunia berkisar seperempat abad. Pengalaman saya tentu belum pepat dan komplet-komplet amat. Namun dengan membaca, memfilsafati, dan menekuri sejarah, pengalaman dan kewaskitaan kita bisa melampaui bilangan usia.

Sosok saya tentu tidak bisa dijadikan contoh paripurna. Namun, kita bisa melihat bagaimana Bung Karno, Tan Malaka, Syahrir, dan Hatta. Pada masanya, mereka adalah pemuda-pemuda yang memiliki kebijaksanaan dan kewaskitaan yang melampaui usianya.

Apa pasal? Karena mereka membaca sejarah. Mereka mafhum gerak zaman dan arah.

Wah, penting juga ya belajar sejarah! Adakah pesan yang ingin kamu sampaikan untuk generasi milenial?

Sejarah sama sekali tidak penting jika kita memaknainya sebatas rentetan tanggal dan tokoh dalam perang. Sejarah menjadi penting jika kita menggunakannya sebagai kompas kehidupan.
Kita harus berhenti belajar sejarah. Dan memulai babak anyar: belajar dari sejarah. Kita mesti berhenti merapal hafalan nirfaedah. Saatnya memetik dan menyamai hikmah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

menguasai suatu bidang dalam 10.000 jam

Apakah Benar Bisa Menguasai Suatu Bidang Dalam 10.000 Jam?

rumah sakit , tentang mama

[Ruang Fiksi] Tentang Mama