in

[Ruang Fiksi] Tentang Perempuan Muda dan Hidup yang Diimpikan

Perempuan muda itu berjalan santai sambil membawa kopi di tangan kiri

Seorang perempuan muda sedang berjalan santai sambil membawa kopi di tangan kiri sedangkan ponsel di tangan kanannya. Sesekali ia akan tertawa ketika melihat sesuatu yang lucu. Lalu saat melihat sesuatu yang menginspirasi ia akan berkata, “Hidup ya hidup saja, nikmati, jalani. Semuanya akan indah pada waktunya jika memang sudah ditakdirkan begitu.”

Lalu ia akan melangkah pulang ke rumah dengan kaki seringan kapas. Namun entah bagaimana, entah sejak kapan, setiap sore ketika pulang. Ia selalu melihat wanita tua sedang membawa sekarung botol bekas, sambil tertatih-tatih dan sesekali memungut satu dua botol yang jatuh.

“Malang nasibmu, Nek. Tapi nggak apa-apa. Surga katanya penuh kenikmatan, kalau Nenek bisa melewati hari-hari berat yang sudah ditakdirkan pada Nenek, maka Nenek akan masuk surga dan berbahagia,” katanya dengan wajah penuh simpati pada wanita tua itu. Namun wanita itu menggeleng-geleng dan berlalu begitu saja dari hadapan perempuan muda itu.

Si perempuan muda yang tersinggung kemudian marah. “Pantas saja diberi hidup susah. Bebal dan tidak menerima kritikan.”

Hari demi hari dilewati perempuan muda ini dengan santai dan penuh penghayatan. Karena katanya, yang paling penting dari segala hal adalah berbahagia dengan proses yang dilewati. Lalu suatu hari, saat baru saja sampai di rumah, ia menemukan Ibunya sedang bersedih, karena tidak punya uang sedangkan bahan makanan sudah habis. Perempuan itu berkata “Ibu tidak perlu sedih, yang sudah ditakdirkan pada kita ya tinggal kita lewati saja. Semuanya akan baik pada waktunya.”

Sang Ibu dengan wajah yang basah air mata bertanya lirih, “Kapan kamu kerja, Nak?” tanyanya takut-takut karena sadar bahwa dirinya sebagai orang tua tak pernah memberikan sesuatu yang layak. Namun kini mengharapkan anaknya untuk bekerja memenuhi perut mereka? Dia merasa tidak tahu diri.

“Bu, aku sedang menginvestasikan waktuku untuk hobi yang kusukai, kelak ketika waktunya sudah tiba. Aku yakin hobi ini akan dibayar dan itu bisa mencukupi kebutuhan perut kita. Kita tidak perlu merisaukan hidup Bu, karena ya memang begini takdir yang dijatahkan untuk kita. Kita hanya perlu melaluinya dengan baik.”

Sang Ibu hanya bisa terdiam dan menyimpan segala kesah di dalam hati. Entah apa saja yang anak itu lakukan selama ini. Sebagai orang tua yang membiayai anaknya seorang diri, ia tak pernah ada di samping anaknya saat sedang ada di fase tumbuh kembang.

Sekarang, ia melihat anaknya benar-benar menikmati hidup dan menganggap segala yang terjadi pada mereka adalah takdir yang memang harus dinikmati saja.

Keesokan harinya si perempuan muda ini bertemu lagi dengan wanita tua yang beberapa hari lalu mengabaikannya. Si perempuan tak menghiraukan wanita tua itu. Hanya melihat saja dari kejauhan sembari berdoa. “Berikan aku takdir yang baik ya Rabb. Setidaknya izinkan aku berbahagia di masa tua nanti.”

Begitu terus berulang-ulang doa yang ia panjatkan ketika bertemu dengan wanita tua pembawa botol bekas. Lalu saat ia menceritakan pada sang Ibu, “Bu, Aku melihat nenek-nenek sedang berusaha keras tapi sayangnya hidupnya begitu-begitu saja. Itu pertanda bahwa jatah takdir nenek itu di dunia memang berupa kesusahan. Ibu jangan lupa berdoa agar kita diberi jatah takdir yang lebih baik ya.” Sang Ibu mengangguk dengan raut wajah masam dan bibir yang kelu untuk memberitahu.

Pernah sang Ibu berkata, “Nak, apa kamu tidak pernah berpikir dari sisi yang lain. Misalnya kalau bukan takdir yang membuat hidup seseorang berkecukupan atau kekurangan? Melainkan karena usaha.”

Sang anak dengan tegas menggeleng. “Ibu jangan seperti itu, kalau seperti itu Ibu hanya akan membebani hati Ibu sendiri. Nikmati yang sudah disuguhkan kita di dunia, Bu. Aku sering melihat temanku berusaha mati-matian siang malam tapi nyatanya ia masih saja susah. Bahkan ia terlihat murung terus, penuh tekanan, dan stres.”

Sang Ibu hanya bisa menekan kuat-kuat hatinya yang sudah tidak tahu harus berkata apa. Selain bekerja siang malam untuk kebutuhan hidup mereka. Sang perempuan muda ini tidak pernah tahu kalau Ibunya sudah bekerja sekeras itu demi membuatnya tidak pening dengan kebutuhan hidup, karena yang ia tahu semesta telah mencukupkan makanan mereka. Demi membuat perempuan muda itu bisa tetap menikmati hidup yang katanya harus dinikmati dan ditunggu saja kapan takdir memberi kebahagiaan yang berlimpah.

Lalu keesokan harinya ketika sang perempuan muda ini sedang berjalan dan tiba-tiba hujan turun. Ia masuk dan berteduh ke dalam kafe. Baginya, hujan adalah rezeki yang luar biasa dan harus dinikmati. Maka perempuan itu menikmatinya sambil meminum kopi di kafe sembari melihat tetetsan-tetesan air hujan yang membasahi jalanan dan mengenai semua tanaman.

“Bunga-bunga itu sedang mendapat takdir baik. Bumi sedang mendapat jatah rezeki. Ah betapa indahnya hidup ini jika dinikmati,” pikir perempuan muda itu.

Namun tiba-tiba di depan sana, wanita tua yang sering ia lihat sedang menyeberang jalan dengan buru-buru. Seluruh tubuh wanita itu dibasahi air hujan, yang mungkin saja basah karena banjir keringat belum kering. Namun sayangnya dengan berlari justru botol-botol yang dibawanya berjatuhan ke jalanan. Membuat wajah wanita itu memejam sedih.

Perempuan muda ini terus memperhatikan. Sampai wanita itu memunguti botol bekas dengan tangan bergetar-getar. Lalu perlahan berjalan ke samping kafe, mungkin saja berteduh di sana. Tak mungkin masuk ke dalam kafe yang nyaman dan bersih ini.

Terbersit lagi di hati perempuan itu. “Terkadang memang ada orang yang diberi hidup susah seperti itu. Semoga aku bukan yang punya takdir seperti itu.” Ia memanjatkan doa karena percaya bahwa bersama hujan yang turun dan airnya yang akan menguap, doa juga ikut menguap lalu melangit dan sampai di sisi Pemilik Alam Semesta.

Ketika hujan sudah reda, perempuan muda itu keluar dari kafe sembari menghirup udara bersih karena telah diguyur hujan selama dua jam. Namun mata perempuan muda ini memicing melihat sang wanita tua sedang memeluk dirinya sendiri di pojokan kafe dekat pohon yang rimbun, sehingga tidak ada satu pun orang yang tahu jika tidak melihatnya dengan saksama.

Perempuan itu hendak berlalu, namun dipanggil wanita tua itu.

“Hei anak muda. Kenapa kamu mengira semuanya karena takdir?” tanya wanita tua sembari tersenyum sinis.

“Karena Pemilik Skenario telah menggariskan takdirnya bahkan sejak kita belum lahir dan bumi ini belum ada.” Wanita tua itu terbahak sampai mengeluarkan batuk.

“Kau ini sungguh perempuan yang pintar.” Sang perempuan tersenyum bangga karena dipuji. “Namun sayangnya, kamu hanya membaca apa yang tersirat, tidak mencoba memahami yang tersurat.” Wajah perempuan muda itu seketika masam, dinasihati oleh wanita tua yang bahkan mungkin tidak berpendidikan.

“Kamu hanya pintar di permukaan. Sedangkan semesta ini jauh lebih dalam dan luas dari apa yang kamu baca.”

“Terserah Nenek mau berkata apa, saya menghormati setiap perbedaan sudut pandang manusia.” Lagi, wanita tua itu terbahak.

perempuan muda , buku

“Nak, sudut pandang boleh berbeda, namun ada satu yang pasti. Apa kau pikir aku hidup di dunia kesusahan seperti ini karena takdir? Bukan!” Sang perempuan sedikit penasaran meski lebih banyak rasa marah karena harga dirinya yang dijatuhkan. “Aku dulu sepertimu, menikmati hidup karena berpikir masa muda adalah waktunya bersenang-senang. Namun aku lupa bahwa semesta terkadang punya kejutan, belum sempat aku mandiri dan masih bersenang-senang, kemudian musibah datang. Aku belum bisa berpijak dengan benar di bumi dengan kakiku sendiri, sehingga bukannya keluar dari masalah aku justru semakin membuat masalah itu menjadi besar.”

Wanita tua berlalu dengan kaki tertatih karena keram menyerang sekujur tubuh tuanya. Ia berlalu sembari mengingat masa mudanya yang kelam. Berharap meski masa mudanya kelam, ia masih mendapat satu tiket keberuntungan dari semesta. Yaitu masuk surga. Tiket inilah satu-satunya yang bisa ia harapkan karena telah menghanguskan tiket lain yang bahkan sebelum dipakai di masa muda sudah hangus tak berguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

toxic positivity

Mengenal Toxic Positivity, Niat Baik yang Berbahaya

Hentikan Kebiasaan Ini, untuk Memiliki Hidup yang Lebih Baik