in

Tentang Minat Baca dan Hal-hal yang Masih Jarang Kita Pikirkan

Minat baca di negeri ini menjadi salah satu hal meresahkan, bagaimana menyikapinya?

Ada sebuah ‘pemandangan’ yang menyenangkan, setiap kali saya berkunjung ke toko buku Gramedia di Jl. Slamet Riyadi Solo, khususnya saat akhir pekan. Beberapa orang tua membawa anak-anak kecilnya yang aktif. Mereka berjalan di sekitar rak buku anak-anak, lalu memilihkan bacaan yang cocok.

Sesekali anaknya protes “Nggak mau yang itu, Bunda. Ini aja, yang banyak gambarnya. Kayaknya seru!” Alhasil si anak dibiarkan memilih buku yang ia suka. Barangkali orang tuanya cukup bijak, untuk tidak membatasi pilihan anaknya, yang penting punya minat membaca dulu. Asalkan buku bacaannya tidak bermuatan negatif, boleh-boleh saja. Tidak masalah tentang gambarnya. Barangkali begitu. Saya ‘kan belum punya anak cuma nebak. Saya yang masih single ini jadi terbayang beberapa tahun lagi, apakah anak saya juga suka membaca sejak kecil seperti anak-anak ceria yang saya lihat di toko buku itu?

Ah sudah-sudah, kok malah jadi berkhayal ya? Mari kita lanjutkan. :p

minat baca , anak
Mulai menumbuhkan minat baca anak-anak

Ngomong-ngomong, aktivitas membeli buku bacaan—selain buku sekolah, itu adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya belasan tahun lalu. Alasan paling logisnya adalah tentu saja karena tempat tinggal saya jauh dari toko buku, belum ada perpustakaan, juga belum ada teknologi yang memudahkan akses bacaan melalui gawai seperti saat ini.

Kembali ke toko buku. Begitu berhenti mengamati sosok ibu dan anak tadi, saya langsung berjalan menuju ke rak buku-buku motivasi/psikologi populer, tempat ‘anak saya’ dititipkan. Itu lho, anak saya yang terbuat dari kertas! Kamu tahu ‘kan kalau karya adalah anak jiwa? Ehe. Saya mau cek buku terbaru saya yang dicetak oleh sebuah penerbit di Yogyakarta.

Beberapa saat menghitung, “lumayan lah, stoknya tinggal beberapa. Artinya ada yang beli,” kata saya dalam hati. “Eh tapi orang yang beli buku itu, beneran dibaca nggak ya?” tanya saya kemudian, kepada diri sendiri.

Seketika saya teringat obrolan ringan dengan seorang teman yang kemudian membuat saya sedikit berpikir untuk mencari jawaban yang tepat.

“Kenapa kamu jadi penulis, padahal tinggal di negara yang minat bacanya masih rendah?” tanya teman saya itu “bukannya itu seperti menjual sesuatu yang target marketnya masih sedikit?” lanjutnya. Mendengar pertanyaannya yang terdengar mengandung pesimisme, saya jawab santai saja. “Ya emang rezekiNya di sini. Lagian aku senang mengerjakannya kok, tidak seperti bekerja, tapi menikmati hobi yang dibayar. Bisa jadi, itu pekerjaan paling indah di dunia…” Lalu dia diam.

Beberapa kali ngobrol soal membaca, menulis, dan hal-hal terkait literasi, saya jadi ingat cerita teman lainnya, yang dari situ seolah memberi penjelasan bahwa: masih ada harapan tentang minat baca di negeri ini.

Ini tentang seseorang seumuran saya yang tahun lalu selesai menempuh studi S2 di sebuah negeri di Asia Timur, di salah satu kampus terbaik di Asia dan dunia. Prestasinya, sudahlah tak usah diragukan lagi. Tapi bukan soal itu yang ingin saya ceritakan. Mari kita flashback ke 14 tahun lalu. Tahun 2005, dia diterima di SMP terbaik di kabupatennya, “jadi satu-satunya putra desa yang masuk sekolah tersebut,” katanya. Ngomong-ngomong, di tahun 2005 juga, saya pun diterima di SMP (yang katanya) terbaik di kabupaten saya, juga satu-satunya anak desa saya yang berhasil masuk ke sekolah favorit itu. Hehe, bukan itu sih yang penting, tapi tentang sesuatu yang dilakukan teman saya saat itu, yang mungkin orang lain tidak kepikiran sama sekali di umur yang sama.

Saya sangat mengapresiasi sekali, soalnya tidak banyak anak kecil yang punya gagasan seperti dia. Tentang apa itu? Melalui WhatsApp, dia bilang begini “SMP kelas 1 bermimpi membuat perpustakaan? Aku juga bingung kenapa dulu punya inisiatif kaya gitu,” katanya mengenang perpustakaan desa yang dindingnya dari bambu dan diberi nama PUSTABA (Pusat Taman Bacaan).

“Dari SD kelas 4 aku sudah pakai mesin ketik. Buatin soal dan rangkuman buat belajar kelompok. Dulu nggak ada HP. Selalu mainnya ke perpus itu. Benar-benar tempat belajar. Kalau ada yang nggak berangkat belajar, yang lain pasti inisiatif manggil temannya buat datang.”

“(Bukunya dari mana?) Aku beli sendiri bukunya dari Jogja. Banyak uang tabunganku juga aku pakai buat nambah koleksi. Ada juga koleksi CD pelajaran, CD-CD yang bermanfaat… Dari buku-buku pelajaran, kisah 25 nabi, kisah-kisah teladan, dll, sampai komik pun ada. Duh itu pada lomba-lomba baca lho anak-anaknya.”

“(Kenapa punya inisiatif begitu) Dulu aku cuma ngerasa seneng aja, ternyata nggak perlu menunggu jadi mahasiswa atau orang dewasa dulu, biar bisa berbagi, ngajak teman-teman belajar bareng dan suka membaca buku ke perpustakaan.”

Dari situ saya belajar sesuatu, menumbuhkan minat baca dan minat belajar pada umumnya, ternyata kuncinya ada pada diri sendiri. Pada sesuatu yang kita senangi, entah hobi atau passion, yang kemudian menjadi panggilan jiwa untuk melakukan gerakan kebaikan bersama-sama.

Selain itu, ada hal lain yang saya pelajari. Lebih dari tentang cerita keberhasilan mencapai hal-hal hebat, bisa jadi, pencapaian hari ini adalah bentuk balasan dariNya atas hal-hal baik yang dahulu kita lakukan dengan ikhlas. Dan sekali lagi, tidak perlu jadi orang besar dulu untuk bisa melakukan sesuatu yang punya tujuan mulia, seperti contohnya menumbuhkan minat baca pada masyarakat.

Oh iya, barangkali sahabat Ublik penasaran, orang baik dan pintar yang saya ceritakan barusan namanya Hardika DH, awal tahun ini, dia menerbitkan buku pertamanya “Yakin Mau Kuliah di Luar Negeri?” bersama saya sebagai co-writernya. *eh, kok malah promosi?

Sebelum membahas bagaimana cara meningkatkan minat baca, alangkah baiknya kita pahami kembali makna literasi yang sering dipersempit hanya tentang membaca dan menulis saja. Belum lagi soal hal lain yang dipandang hanya dari permukaan. Perpustakaan dipandang sebagai bangunan semata yang dihias kalau ada lomba. Buku dipandang sebagai bundel kertas, dan toko buku malah lebih banyak menjual alat-alat musik dan alat olah raga. Satu lagi, kampanye gemar membaca dan acara-acara literasi masih terasa seremonial saja, yang kata penyair A.S. Laksana, masih terlihat seperti perayaan tujuh belas Agustus. Literasi memang tidak memiliki definisi yang saklek. Entah mengapa, kutipan dari Gol A Gong, Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia, ini cukup mewakili: “literasi adalah daya juang untuk mengubah kualitas hidup menjadi lebih baik dengan membaca dan menulis,”

Jadi Mengapa Membaca Itu Penting?

Bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Ketika butuh informasi atau hiburan, membuka internet dirasa lebih efektif daripada membuka buku yang terkesan kurang praktis karena membolak-balik halaman dalam waktu yang relatif lebih lama, tidak seperti internet yang tinggal mengetik kata kuncinya saja. Di tengah tren video satu menit untuk membagikan informasi singkat, membaca tentunya lebih membutuhkan usaha dan niat yang lebih besar. Kemudian di banyak situasi kita jumpai orang yang skeptis seperti ini “kalau tanpa punya hobi baca saja sudah bisa hidup dengan baik, mengapa harus membaca?”

Membahas minat baca di Indonesia, entah mengapa kita seolah diajak untuk prihatin, peduli dan nyinyir dalam waktu bersamaan. Apa lagi kalau bukan karena data soal minat baca anak bangsa yang begitu rendah, khususnya pada bacaan panjang yang butuh konsentrasi untuk memahaminya, bukan membaca konten receh di media sosial.

Data yang cukup terkenal dan dibahas berulang kali adalah yang bersumber dari penelitian Program for International Student Assessment (PISA), rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 dan peringkat literasi ‘World’s Most Literate Nations’ yang dirilis pada bulan Maret 2016, dari Central Connecticut State University (CCSU) berdasarkan indikator: libraries, newspapers, education inputs, education outputs, dan computer availability. Silakan cek di web-nya, kalau sedang selow atau ya paling tidak, ini juga buat nge-cek seberapa jauh sih minat baca kamu? *hehe. Jadi, hasilnya bagaimana? Menurut PISA, Indonesia ranking 62 dari 70 negara, sedangkan CCSU menunjukkan Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia ‘unggul’ atas satu negara, Botswana.

minat baca , finlandia
Finlandia, negara yang masyarakatnya paling banyak membaca

Menumbuhkan Motivasi Membaca, Mulai dari Mana?

Barangkali banyak yang berharap dengan data itu, jadi muncul urgensi di pikiran kita. Daripada nonton TV atau main HP, mending membaca. Bahwa membaca itu (ternyata) kebutuhan, sebagaimana kita butuh makanan, air, dan udara. Alhasil banyak konten kreatif dibuat untuk memberitahu khalayak betapa bermanfaatnya membaca, bahwa pada titik tertentu, minat baca bisa menentukan daya saing bangsa di antara bangsa lain. Buat orang yang sudah suka membaca, konten tentang ‘manfaat membaca’ mungkin tidak begitu penting lagi. Karena manfaatnya sudah bisa dirasakan sendiri, tanpa harus dijelaskan lagi.

Tak sedikit channel YouTube edukatif yang berusaha menyebarkan ‘virus’ membaca dan akun-akun Instagram yang bernuansa literasi, mulai dari akun peresensi buku, media alternatif, perpustakaan desa, komunitas baca, dan masih banyak lagi. Yang tidak ketinggalan adalah akun jualan buku! Apapun itu, kita perlu mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan orang-orang, untuk mengajak orang lebih sadar dengan aktivitas intelektual yang satu ini. Bahwa membaca, khususnya buku, akan memberi manfaat yang tak terduga, salah satunya melatih diri berproses dalam kehidupan ini.

Bukankah proses menyelesaikan bacaan itu butuh waktu? Kita pun bisa melihat dari sisi lain, untuk menjadi orang yang menghargai orang lain, misal dari sisi penulisnya yang ingin menyampaikan pesan positif ke pembaca. Tentu penulisnya sudah berpikir sedemikian rupa. Nah, dengan membaca tulisannya berarti mengapresiasi kerja kerasnya.

Sampai pada saatnya, orang yang sebelumnya tidak suka membaca buku, berubah jadi suka. Kemudian meyakini bahwa sebuah tulisan yang baik itu akan memiliki kekuatan untuk mengubah diri kita selamanya. Orang yang tadinya menganggap pembaca buku itu adalah individu yang eksklusif, jadi berubah pikiran bahwa ternyata melalui wawasan dari bacaan lah, seseorang bisa punya banyak teman, karena dia nyambung diajak bicara soal berbagai topik.

Sebentar, mungkin kamu cukup kritis dan ingin bertanya “memangnya dengan motivasi seperti itu, orang-orang lantas jadi tertarik?” Kita berharap iya, sayangnya tidak seperti itu cara motivasi bekerja. Motivasi eksternal yang begitu kuat, memang bisa berpengaruh, meski jangka pendek. Tapi, ternyata kuncinya adalah menumbuhkan minat dari diri sendiri.

Minat Baca yang Muncul karena Ingin Mengembangkan Passion

Banyak alasan untuk prihatin karena generasi kita yang kurang suka membaca buku, tapi masih banyak juga yang tetap melakukan suatu gerakan literasi dengan konsep yang menyenangkan. Sambil merawat optimisme bahwa minat baca itu sebenarnya bisa tumbuh seiring dengan minat seseorang terhadap sesuatu.

Misalnya saja, seseorang yang bukan pecinta buku, tapi dia tertarik bidang fashion dan gaya hidup—misalnya, maka dia akan suka rela mencari informasi yang mendukung minatnya itu dari berbagai media, salah satunya dari buku. Meskipun buku bukan satu-satunya sumber informasi yang bisa dinikmati hasilnya secara instan, orang yang punya passion itu akan memperoleh wawasan baru yang mengembangkan dirinya.

Baiklah, sampai di sini kita mengakui bahwa geliat literasi di sekitar kita masih hidup dengan caranya. Sedikit masa bodoh dengan data dari lembaga-lembaga dunia itu, masih banyak orang yang bergerak di jalan sunyi, yang belum terekam media. Mereka orang-orang yang ikhlas, menebarkan virus baca, bercita-cita mencerdaskan bangsa. Mereka membaca dan menulis, membantu orang melihat dunia dengan perspektif berbeda. Jadi menurutmu, bagaimana caranya meningkatkan minat baca?

3 Comments

Leave a Reply
  1. Kalo aku untuk meningkatkan minat baca, dengan mulai membaca sesuai dengan genre buku yang aku suka. Baru perlahan mencoba genre yang lain.
    Membuat bedah buku atau diskusi buku dengan teman juga membuat keingininan membaca lebih meningkat.

  2. Aku sih awalnya cuma baca-baca buku pelajaran dan non-fiksi, terus nyoba follow ignya penerbit-penerbit, akhirnya minat bacaku meningkat menjadi banyak genre,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

8 cara mengatur pola belajar

8 Cara Mengatur Pola Belajar Yang Efisien

menguasai suatu bidang dalam 10.000 jam

Apakah Benar Bisa Menguasai Suatu Bidang Dalam 10.000 Jam?