Dunia maya tiba-tiba digegerkan dengan satu orang anak kecil yang namanya tiba-tiba viral. Seorang anak laki-laki kelas 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang disebut-sebut ngehits banget dikalangan remaja Indonesia saat ini. Namanya Bowo. Yap, entah mengapa nama Bowo ini tiba-tiba mencuat dan jadi buah bibir banyak orang. Bowo jadi fanomena baru di pertengahan 2018 ini.

Usut punya usut, mengapa sampai Bowo begitu terkenal tersebut karena aksi dirinya dalam Aplikasi Tik Tok. Yap, aplikasi yang benar-benar tengah hits di masyarakat itu yang bikin Bowo setenar sekarang. Nah, aksi Bowo dalam Tik Tok banyak menuai pujian, sampai-sampai dirinya mempunyai banyak penggemar. Entah ide siapa. Tiba-tiba Bowo menggelar meet and greet dengan para penggemarnya yang kepalang jatuh cinta terhadap aksi dan ketampanannya. Meski harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit. Para ABG ini dengan senang hati mengeluarkannya demi bertemu sang pujaan hati.

Pilihan Editor:

 

Cerita berlanjut dan pro kontra terjadi. Mereka yang kontra terhadap Bowo menganggap aksinya sudah keterlaluan. Meminta uang untuk pengemarnya supaya bisa ketemu dinilai melampaui batas. Bowo pun dibully sana sini. Yap, sebelum beranjak jauh, kita mesti tetap mengetahui kalau Bowo tetaplah anak kecil. Usianya masih 13 tahun. Usia dimana dia masih mencari kematangan untuk dirinya sendiri. Masalahnya, para penggemarnya pun berusia sama atau bahkan lebih kecil dan berlawan jenis. Pertanyaanya anak sekecil itu, sudah punya fans lawan jenis, dielu-elukan tampan oleh fansnya dan tanpa ada rasa malu-malu khas anak kecil. Mereka berlomba-lomba merebut hatinya Bowo.

Entah apakah mungkin anak berusia belasan tahun, SMP sudah bisa disebut dewasa dan lumrah bertindak seperti itu? Hmm, agaknya terlalu jauh jika kita menulis tentang itu. Tapi, sepertinya memang ada yang salah dengan anak-anak di Indonesia hari ini.

Begini, dulu anak-anak kelahiran 80an dan 90an itu sepertinya sangat tabu jika berbicara mengenai lawan jenis. Boro-boro pacaran. Digosipin suka sama lawan jenis saja, anak-anak jaman dulu bisa kesel setengah mati. Tapi sekarang, mereka dengan suka cita mengumumkan kepada dunia lewat (medsos) kalau mereka memiliki hubungan spesial. Bisa jadi penyebabnya adalah arus informasi yang begitu deras tanpa bisa di filter. Parahnya lagi, media yang semakin terbuka itu tidak memberi ruang khusus bagi anak-anak. Sebagai contoh, kita sekarang sudah kesulitan sekali mendengar lagu anak. Atau mungkin penyanyi cilik pun sekarang menyanyikan lagu-lagu yang belum pas untuknya.

Dulu, nama-nama seperti Sherina Munaf, Trio Kwek-Kwek, Chikita Meidy, sampai Tina Toon menjadi penyanyi cilik yang dikagumi banyak orang. Terutama anak-anak. Yap, mereka menjadikan nama-nama tadi sebagai benchmark mereka. Mereka mengidolai dengan tanpa berlebihan dan bahkan bercita-cita menjadi sesukses sang idola. Menjadi penyanyi.

lagu anak dan film musikal
Film Musikal Petualangan Sherina (Sumber: idntimes)

Lagu-lagu yang dinyanyikan mereka juga begitu sederhana dan sesuai banget sama anak-anak. Coba baca lirik lagunya Joshua yang ‘diobok-obok’ Lagu itu sekedar menceritakan anak kecil yang main air. Sudah. Tidak ada kata-kata “Aku cinta padamu” “tetaplah bersamaku” atau kata-kata gombalan lain yang teramat kurang pantas untuk dinyanyikan anak-anak kecil.

Menukil dari laman detik.com, Prita salah seorang music director disebuah radio swasta kenamaan beranggapan kalau pergeseran tersebut terjadi lantaran masifnya lagu-lagu dewasa dan merajai berbagai media yang mudah diakses anak-anak. Seperti halnya TV, Radio atau mungkin gawai seperti yang sekarang sudah dengan mudah mereka akses.

“Kalau untuk di Indonesia sendiri, penyebab utama hilangnya lagu anak menurut saya disebabkan oleh begitu banyaknya lagu hits dewasa yang bisa dengan mudah diakses di media digital maupun radio dan tv,” Ujar Prita seperti dikutip dalam artikel berjudul ‘Ini Penyebab Lagu Anak Sulit Ngehits di Indonesia’ dalam laman detik.com.

Yap, jadi segala kemudahan yang dirasakan oleh orang tua ternyata bisa menjadi bumerang bagi si anak. Apalagi mereka yang memiliki kuasa untuk menentukan konten di berbagai Media, seakan tidak pernah sampai hati untuk menyisipkan konten-konten anak.

Lagu Anak Sedekade Terakhir

lagu anak malu sama kucing
Lagu anak malu sama kucing (sumber: Youtube/HITS Record)

Kalau lagu anak itu berarti sebuah lagu yang dinyanyikan anak kecil. Itu bertarti lagu dalam sedekade terakhir sebetulnya ada banyak lagu anak yang muncul di belantika musik tanah air. Masalahnya, gaungnya tidak terlalu kencang seperti lagu-lagu dewasa. Seperti halnya lagu odong-odong. Lagu keluaran tahun 2011 yang dibuat oleh Kak Nunuk itu tidak seterkenal lagu DJ Aiysah yang dikenal anak-anak jaman sekarang. Atau lagu Malu Sama Kucing punyanya Romaria yang juga tidak setenar Goyang Nasi Padang. Artinya sebetulnya produktivitas lagu anak itu tidak betul-betul berhenti. Masih ada hanya kurang perhatian.

Apalagi beberapa anak kecil juga justru menyanyikan lagu-lagu berlirik cinta. Seperti halnya beberapa boy band cilik yang sempat tenar beberapa tahun lalu. Mereka dengan gaya kedewasaanya menyanyikan lagu percintaan. Dan fans mereka pun berumur sebaya atau bahkan lebih kecil dari mereka.

Yap pada intinya, anak Indonesia sekarang benar-benar butuh perhatian maha ekstra. Mereka tidak bisa dibiarkan dewasa sebelum waktunya. Orang tua punya peran paling utama untuk mewujudkan itu. Dan juga butuh kesadaran dari beberapa pihak terutama media untuk memberi ruang ekstra bagi eksistensi program anak terutama lagu-lagu anak. Dengan begitu, setidaknya anak-anak juga punya pilihan hiburan yang sesuai dengan umurnya. Begitu juga Bowo, dia akan jauh lebih baik jika memosisikan sikapnya sesuai dengan usianya. Anak Indonesia harus lebih di perhatikan. Dan Lagu anak Indonesia mesti kembali berjaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.