in

Tendi Nugraha, Potret Anak Muda Pejuang Seni dan Budaya

Tendi: “Jadilah pelaku sekaligus pewaris kebudayaan yang arif dan bijak.”

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional yang Tendi gemari.

Sahabat Ublik, salah satu kekayaan Indonesia yang dikenal hingga mancanegara adalah seni dan budayanya. Tak sedikit pula seni dan budaya Indonesia yang tercatat oleh UNESCO. Tentu saja hal ini membuat kita sebagai warga negara Indonesia bangga.

Sama halnya dengan Tendi Nugraha, pemuda kelahiran Ciamis, 2 Februari 1994 yang aktif di bidang seni, budaya, dan pariwisata Indonesia. Selain aktif berorganisasi sejak duduk di bangku SMP, Tendi juga gemar terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya, seperti Gelar Aksi Karakter Siswa Indonesia di Bandung Jawa Barat, Muhibah Seni dan Peluncuran Buku di Batam, Kepulauan Riau, dan Tim Kesenian Grand Prix Marching Band Indonesia 2016 di Jakarta.

Kecintaannya terhadap seni tradisional terutama seni musik angklung bahkan membawanya ke beberapa negara. Seni musik tradisional yang telah mendapat pengakuan resmi dari UNESCO sebagai bagian dari World Heritage pada 19 Januari 2011 itu telah membawa Tendi menjadi perwakilan Wonderful Indonesia sebagai delegasi kesenian NATAS Holiday, delegasi kesenian – NATAS Travel Fair, delegasi kesenian Sales Mission di Singapura dan delegasi kesenian Tourism Expo Japan di Tokyo, Jepang. Selain itu, Tendi juga berkesempatan untuk tampil di acara Indonesian Culture Night di Bahrain.

tendi nugraha , budaya
Salah satu penampilan Tendi Nugraha

Sederet prestasi yang disandang Tendi bisa menjadi contoh bagi generasi milenial dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan di masa kini. Untuk mengenal lebih dekat, simak wawancara tim redaksi Ublik bersama dengan pemuda lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta (UST) tersebut.

Hallo Tendi, sibuk apa sekarang?

Hallo, sekarang aku sedang bekerja di Sumenep, Madura, garap festival.

Seperti yang kita tahu, kamu memiliki segudang prestasi di bidang seni, budaya dan pariwisata, Keren!

Hehe, ah sedikit. Masih pengen nyari kesempatan lagi.

Gerakan apa yang sudah kamu lakukan di bidang seni?

Pertama, Sanggar Seni Simpay, sanggar di bawah naungan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa (KPM) “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta. Sanggar ini bertujuan untuk mengembangkan dan membina potensi seni mahasiswa Ciamis di Jogja. Sanggar ini lebih mengeksplorasi kesenian Sunda, khususnya angklung.

Kedua, Sanggar Pamong, disahkan sebagai UKM tahun 2014 di UST. Sedangkan aktivitasnya sudah dimulai sejak tahun 2012 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sanggar ini memiliki tujuan untuk mewadahi keragaman dari berbagai latar belakang mahasiswa UST, menjadi tempat silaturahmi dan berbagi informasi tentang kebudayaan masing-masing. Selain itu, menjadi tempat belajar mahasiswa dalam bidang kesenian, sehingga setelah lulus, mereka mempunyai keahlian dalam kesenian juga.

Baca juga;

7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur
Tentang Sejarah dan Wujud Cinta terhadap Masa Depan: Belajar dari Ardian Nur Rizki
Skill yang Harus Dimiliki dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Sekarang di Sanggar Pamong sudah ada berbagai rumpun atau bidang seni, seperti rumpun angklung, rumpun tari, rumpun teater dan rumpun etnik. Sampai saat ini masih terus berkembang.
Ketiga, Nonoman Galuh. Lebih pada ruang generasi muda Ciamis yang memiliki keresahan terhadap daerah, khususnya kebudayaan. Dari sini banyak bermunculan ide dan gagasan. Nonoman Galuh lebih ke pergerakan, nggak ke musik alay. Kemarin kita sempat menggiatkan edukasi tentang aksara Sunda. Karena banyak yang belum tahu kalau aksara Sunda di Jawa Barat itu berdasar pada prasasti yang ada di Ciamis.

tendi nugraha , budaya
Nonoman Galuh, salah satu gerakan yang digagas oleh Tendi Nugraha.

Keempat, Pesona Galuh. Pesona Galuh merupakan ruang pariwisata, karena saya yakin bahwa Ciamis pun memiliki potensi pariwisata yang dapat dikembangkan baik berbasis komunitas maupun oleh pemerintah. Sekarang Pesona Galuh sudah memiliki 150 anggota di grup sebagai ruang untuk share informasi pariwisata di Ciamis. Kurang lebih itu secara singkatnya, hehe…

Wah, sangat menginspirasi, ya. Lalu, apa sih tujuan kamu membentuk organisasi, pergerakan, ruang pariwisata, sanggar, dll?

Istilahnya aku pengen membuka pintu. Karena yang terjadi saat ini, aku melihat di daerahku sendiri, banyak generasi muda yang memiliki potensi tapi tidak ada ruang untuk menyalurkannya. Nonoman Galuh selain berkegiatan dalam bidang budaya, kita juga membahas isu-isu kedaerahan. Pesona Galuh pun ketika muncul di sosial media mendapat respon bagus dari anak muda. Dari situ muncul potensi-potensi pariwisata baru dan kita coba sampaikan ke dinas pariwisata. Sanggar Pamong pun sama, banyak potensi kesenian di UST, tapi mereka kebingungan untuk menyalurkan potensinya. Aku cuma bikin wadah buat mereka untuk berekspresi.

Sejak kapan kamu menyukai seni dan budaya?

Sejak SD kelas 2, waktu itu aku mulai belajar alat musik tradisioanal Kendang Sunda ketika ada acara kenaikan kelas. Sejak itu, aku selalu main kendang saat kenaikan atau perpisahan di sekolah, sampai aku SMA kelas 11, rutin di setiap tahunnya.

Apakah ada darah seni dari keluarga? Kalau ya, dari siapa?

Ada, dari ayah sama ibu. Ayah adalah seorang pemimpin grup seni kliningan atau gamelan yang biasa manggung di acara hajatan atau nikahan. Sempat perform di Jawa Barat sampai wilayah perbatasan Jawa Tengah. Kalau ibu, waktu masih sekolah, beliau biasa menari dan selalu menjadi perwakilan saat lomba.

Hingga saat ini, keluarga masih tetap berkesenian. Tapi sekarang mah lebih ke kesenian Gondang, salah satu seni menumbuk padi di lingkungan masyarakat Sunda.

Paling suka seni (bidang) apa?

Paling suka di seni musik, khususnya seni musik tradisional. Karena aku merasa bahwa musik nusantara sangatlah kaya dengan bebunyian yang khas.

tendi nugraha , budaya
Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional yang Tendi gemari.

Prestasi apa yang paling mengesankan di hidupmu?

Bisa berangkat ke luar negeri dengan membawa alat musik khas dari daerah sendiri, yakni angklung. Pentas dan memperkenalkannya di beberapa negara, riuh tepuk tangan serta sambutan hangat masyarakat asing ketika perform itu merupakan kebahagiaan yang tiada bandingannya.

Siapa yang menjadi inspirasimu?

Asep Sunandar Sunarya, seorang dalang yang fenomenal dan melegenda. Di setiap pementasan wayangnya banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik.

Apa pesan yang ingin kamu sampaikan kepada generasi milenial?

Buat kawan-kawan, jangan pernah gengsi terhadap kebudayaan kita sendiri. Dari manapun kamu berasal, mau Sunda, Jawa, Kalimantan, Bali, Papua, Minang dan lain sebagainya, jadilah pelaku sekaligus pewaris kebudayaan yang arif dan bijak. Agar senantiasa keragaman budaya Indonesia tetap menjadi pemersatu negeri ini. Bangsa ini kuat karena budaya, jangan kalah apalagi tergerus oleh kebudayaan asing.

Pesan yang disampaikan Tendi untuk generasi milenial menjadi akhir wawancara redaksi Ublik dengan pemuda yang mempunyai kegemaran bersepeda dan mendaki gunung tersebut. Nah, kalau begitu, sudah sepantasnya kita sebagai generasi muda memiliki kewajiban untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan cara menjaga kekayaan negeri ini, terutama di bidang seni, budaya dan pariwisata. Semoga langkah-langkah kecil yang dilakukan Tendi dalam melestarikan seni dan budaya bisa menginspirasi kalian semua ya, sahabat Ublik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

jeruji besi , penjara

[Ruang Fiksi] Orang-orang di Balik Jeruji Besi

mahasiswa , aktivis

[Ruang Fiksi] Pergolakan Hati Seorang Aktivis