stop covid-19
in

Tenaga Medis di Tengah Pandemi: Perjalanan Tulus Berkorban Nyawa

Menjadi tenaga medis adalah sebuah panggilan nurani…

Garda terdepan. Itulah sebentuk frasa yang disematkan kepada tenaga medis di era pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease-19). Setidaknya itu sudah berlaku sejak awal bulan Maret lalu. Tepatnya, sejak tanggal 2 Maret 2020 secara resmi pemerintah RI menyatakan bahwa bumi pertiwi sudah termasuk sebagai zona merah COVID-19.

Perhatian masif pun tertuju pada tenaga medis. Selama ini, mereka selalu memasang badan menghadapi segala wabah dan menerima dengan tangan terbuka pasien-pasien yang memerlukan pertolongan. Sebenarnya, mereka adalah ‘garda terbelakang’, yang menangani pasien yang sudah terlanjur terinfeksi. Ibarat berperang, masyarakatlah yang bertindak sebagai garda terdepan karena mereka yang berhadapan langsung dengan virus yang siap memasuki tubuh mereka.

Hari demi hari terus berganti, bulan demi bulan pun terlewati. Tak terasa, bulan ini sudah menginjak bulan ke-3 virus Corona mendiami bumi pertiwi. Tiga bulan sudah tenaga kesehatan berjibaku merawat pasien-pasien yang datang silih berganti. Sungguh, mereka pun pasti tidak ingin masyarakat mendengar sedikitpun keluhan mereka atas apa yang mereka hadapi.

Menjadi Tenaga Medis: Sebuah Panggilan Nurani

Menjadi seorang tenaga medis adalah sebuah panggilan nurani. Bahkan sangat jauh sebelum virus Wuhan ini muncul, ketika mereka memutuskan menuntut ilmu di dunia medis. Sumpah dan janji profesi yang mereka ucapkan sebelum turun dan membaktikan diri untuk masyarakat menjadi bukti sakral. Sumpah tersebut diikrarkan atas nama Tuhan Yang Maha Esa. Pada hari di mana sumpah tersebut diambil, disaksikan oleh orang tua atau orang terkasih, mereka mengambil sebuah tugas besar di pundak untuk mengabdi demi kesehatan penduduk negeri.

Tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter, perawat, bidan, analis laboratorium, dan tenaga kesehatan lainnya saat ini masih terus berjuang melawan COVID-19. Baik itu tenaga kesehatan di unit primer sampai tersier. Di unit pelayanan primer seperti Puskesmas, skrining terhadap pendatang dari zona merah terus dilakukan untuk selanjutnya dilakukan tindakan lanjutan seperti pemantauan maupun rujukan bagi mereka yang dicurigai posItif COVID-19. Anjuran untuk tidak pulang kampung seolah hanya menjadi tagar klasik yang sangat mudah ditembus. Tak lama setelah kebijakan bekerja dari rumah dan perusahaan melakukan PHK besar-besaran, gelombang mudik terus terjadi. Ribuan orang ramai-ramai meninggalkan ibu kota negara dan beberapa kota besar yang selama ini menjadi tempat perantauan.

Pilihan Editor;

Psikologi: Perlukah Aku Berterima Kasih Padaku?
Setelah COVID-19 Berakhir, Bisakah Kamu Tetap Work From Home?
Saat yang Lain Menikmati Liburan, Inilah Orang-orang yang Tetap Bekerja di Hari Raya

Hal yang lebih kompleks dan dilematis terjadi di unit pelayanan yang lebih tinggi. Tenaga medis melakukan tindakan perawatan dengan berbagai alat medis berpegang pada standar penangangan pasien COVID-19. Semua tindakan perawatan tadi berlaku bagi pasien dalam pengawasan (PDP) baik yang hasil test swab-nya positif maupun yang belum keluar hasil. Bangsal-bangsal banyak yang diubah menjadi bangsal khusus COVID-19. Instalasi Gawat Darurat ramai didatangi pasien dengan keluhan sakit tenggorokan, batuk, demam, hingga sesak napas. Gedung wisma atlet pun diubah menjadi Rumah Sakit Darurat COVID-19 dan membuka rekrutmen tenaga medis besar-besaran untuk menjalankannya. Dalam waktu singkat, RSDC Wisma Atlet Jakarta sudah dipenuhi oleh pasien positif maupun PDP COVID-19.

Menjadi Tenaga Medis: Sebuah Panggilan Nurani

Perjalanan Tulus Berkorban Nyawa

Beban kerja tenaga kesehatan semakin bertambah dari hari ke hari. Jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia dilaporkan terus meningkat dalam hitungan ratusan setiap harinya. Bahkan, hingga memasuki akhir Ramadhan jumlahnya sudah mencapai belasan ribu total kasus akumulasi. Hari-hari pun terasa semakin mencekam, terutama bagi tenaga kesehatan. Puasa tahun ini terasa sangatlah berbeda. Tak sedikit tulisan curahan hati mereka beredar di dunia maya.

Beberapa fakta prosedur tentang perawatan pasien COVID-19 membuat tenaga kesehatan harus menggunakan baju hazmat dan masker minimal dua lapis. Pakaian hazmat yang terbuat dari bahan tebal membuat tenaga kesehatan acapkali kepanasan, tidak bisa makan/minum, dan menahan buang air selama satu shift (sekitar 8 jam per hari). Masker yang digunakan pun harus minimal dua lapis. Satu lapis masker bedah, lapis berikutnya yaitu masker N95 yang sudah jelas sangat panas dan sesak ketika digunakan. Tidur pun harus dilakukan dengan mulut terbuka. Banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan tak jarang membuat kegiatan seperti buka puasa dan sahur pun sering terlambat, shalat dilakukan dengan cara di-qodho (dilakukan di luar waktu karena alasan tertentu). Mereka harus berkejaran dengan waktu untuk melakukan tindakan kepada pasien. Belum lagi dengan pasien-pasien yang terus berdatangan. Hingga yang terburuk, hampir setiap hari ada pasien yang meninggal.

Di tengah perjalanan tulus tenaga kesehatan berkorban nyawa, ada saja peristiwa yang menjadi noktah hitam perjuangan mereka. Sejak awal, saat terjadi lonjakan jumlah pasien, beberapa dari mereka ada yang diusir dari kos atau rumah sewa karena mereka dianggap sebagai pembawa virus. Bahkan, ada dari mereka yang sudah gugur dalam perjuangan mulia tersebut tidak diterima jenazahnya di kampung halaman. Padahal sudah jelas semua prosedur pemakaman dilakukan berdasar protokol kesehatan. Tidak seharusnya tindakan tidak terpuji itu dialamatkan pada pahlawan COVID-19.

Mereka bukanlah superman, jika salah prosedur atau menggunakan alat pelindung diri yang tidak standar saja, mereka bisa dengan mudah terlular dari pasien positif maupun PDP yang mereka rawat. Dalam kondisi seperti itu, mereka yang masih mengemban tugas bahkan rela tidak pulang ke rumah. Bertemu dengan keluarga hanya melalui foto maupun video call. Kenapa? Mereka tidak ingin menyebarluaskan virus ini ke lebih banyak orang. Mewahnya fasilitas hotel berbintang yang disediakan tidak bisa dibandingkan dengan hangatnya rumah bersama orang-orang terkasih.

Sayangnya, saat ini kejujuran sangat mahal harganya. Pada bulan April 2020 hingga hari ini, tak sedikit orang yang datang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan tidak mau jujur mengenai riwayat berpergian, kontak, maupun riwayat sakit mereka. Pernyataan hitam di atas putih bermaterai yang diberikan oleh tenaga medis seolah menjadi lembar formalitas belaka. Tracking kasus semakin abu-abu. Satu persatu rumah sakit tertipu dan melaporkan kejadian kebohongan pasien. Banyak tenaga medis yang akhirnya turut menjadi pasien positif COVID-19.

Sepasang Bola Mata yang Tersenyum

Sehari-hari dihadapkan pada kegiatan perawatan pasien tentunya menjadi bukti nyata akan kegiatan monoton yang harus tenaga medis jalankan selama pandemi. Ketika asa atas berakhirnya hari-hari suram ini mulai kabur, mereka coba lakukan banyak hal demi mendongkrak semangat dan optimisme. Jika semangat turun lagi, mereka dongkrak lagi.

Senyum ramah harus tetap mereka tunjukkan di balik dua lapis masker dan kacamata google yang mereka pakai. Mungkin si pasien tidak akan melihat dengan jelas senyum mereka. Namun, ada sepasang bola mata yang tersenyum kepada pasien-pasien. Mereka terus menyalurkan energi positif pada pasien agar semakin banyak pasien yang sembuh. Sebagaimana dilaporkan Kementerian Kesehatan, per tanggal 18 Mei 2020 sudah ada lebih dari 4.000 pasien yang dinyatakan sembuh. Hal ini tentunya menjadi suatu hal yang membahagiakan dan membasuh sedikit peluh mereka.

Di sisi lain, semakin hari jumlah kasus positif pun terus bertambah. Harapan agar keadaan kembali seperti sedia kala terus dipanjatkan. Mereka tentunya sangat ingin keadaan kembali normal, bekerja tanpa kekhawatiran dan bisa bertemu dengan keluarga. Ibarat bola salju yang terus menggulung ke arah lembah, penambahan kasus positif ini seolah menggulung harapan besar mereka untuk segera terwujud. Tenaga kesehatan harus kembali bersabar dan menjadi garda yang paling ‘kokoh’ menghadapi situasi yang belum tahu sampai kapan akan berlangsung.

Menginjak bulan Mei 2020, harapan tenaga medis semakin runtuh.  Aksi mudik semakin masif, bandara penuh sesak oleh pemudik. Gerai makanan siap saji yang sudah hampir tutup dipadati hingga menimbulkan antrean panjang. Pasar tradisional dipenuhi oleh orang yang berjubel melakukan aktivitas jual beli. Mall dan swalayan masih ramai. Lantas apa bedanya? Sebagian besar mereka pakai masker. Masyarakat sudah lupa pada kondisi yang sedang terjadi. Virus tak kasat mata itu sama sekali tidak membuat mereka takut. Keegoisan telah mendominasi.  Bagaimana jika tenaga kesehatan ingin bersikap egoissepakat untuk tidak memenuhi panggilan kemanusiaan? Siapkah masyarakat bertarung menghadapi COVID-19 tanpa mereka?

Siapkah masyarakat bertarung menghadapi COVID-19 tanpa mereka?

Tagar #INDONESIATERSERAH menjadi bentuk kekecewaan tenaga medis atas sikap masyarakat yang sangat tidak proaktif bahkan pasif memerangi COVID-19. Percuma semua jerih payah yang dilakukan di pelayanan kesehatan. Peran serta masyarakat sangat diperlukan sebagai tindakan preventif (pencegahan) meluasnya penyakit ini. Masyarakat harus terus sadar untuk menjaga hidup bersih-sehat, menerapkan social distancing, dan menjaga imunitas. Harapan itu masih ada jika kita mau dan benar-benar mampu melakukannya. Singkirkan segala bentuk keegoisan. KITA BISA!

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kenangan Angkatan 2020: Suka Duka Lulus di Masa Pandemi

virus corona , ublik

Ciri-Ciri Terinfeksi dan Cara Deteksi Virus Corona