in

Teknologi vs Manusia: Apakah Kita Lebih Baik dari Robot?

Melihat sisi lain teknologi yang bisa membunuh sepi

Terkadang kita terlalu peduli pada teknologi dan kurang peduli satu sama lain. Contoh sederhana: kita lebih memilih sibuk bermain Instagram, lebih memilih menyelesaikan postingan daripada membalas pesan teman sendiri, lebih memilih bermain HP daripada ngobrol, lebih sibuk update daripada menikmati momen bersama teman ketika traveling.

Pada akhirnya banyak orang merasa tidak diperhatikan, merasa sendiri, tidak didengar, dll. Mungkin memang benar Google Assistant, Siri, atau yang lainnya akan jadi best friend bagi sebagian orang. Why? Orang butuh didengar, dan Google Assistant, Siri, atau tools lainnya itulah yang ‘siap mendengarkan’ kita, ketika orang lain tidak mau mendengar. Akan semakin banyak orang yang lebih memilih bicara dan terhubung dengan teknologi.

Adanya media sosial sebenarnya juga erat kaitannya bahwa kita ingin ada orang yang mendengarkan kita. Di platform itulah kita akan menemukan banyak listener. Semakin kita masuk, sebenarnya akan semakin membuat kita care terhadap mesin, karena kita merasa mesin ‘lebih care about us’.

Saat ini kita berlomba-lomba membuat mesin yang dapat mengerti manusia, menemani manusia, hingga menggantikan manusia untuk menemani anak-anak kita, atau kita sebut “sociable robots”, yang mengubah social networks menjadi social robots. Yang memberikan kita ‘illusion of companionship’, without demands of friendship.

***

Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan di atas melalui salah satu postingan Instagram story @hardikadh. Entah mengapa, ada kegelisahan yang seketika tebersit di benak. Teknologi dan kehidupan manusia memang semakin tidak terpisahkan, tapi apakah justru teknologi membuat hubungan antar manusia jadi renggang, empati menurun, dan kemudian berakibat pada berkurangnya kualitas hidup kita secara keseluruhan?

Belum lagi kalau membicarakan praktik kehidupan yang lain. Sebut saja di dunia kerja yang semakin efisien dengan bantuan teknologi. Sampai-sampai ada wacana bahwa di era industri 4.0, baiknya generasi muda bersiap-siap kalau pekerjaannya nanti digantikan oleh robot.

Robot pun digadang-gadang menjadi pilihan dalam rekrutmen perusahaan yang ingin lebih efisien di masa depan, baik dalam hal operasional maupun soal gaji karyawan. Sebagaimana kita tahu, bukankah sampai hari ini tidak ada robot yang minta gaji 8 juta, seperti yang sempat viral waktu itu?

Baca juga;

7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur
Generasi Milenial Rentan Gangguan Kesehatan Mental, Fakta atau Mitos?
Skill yang Harus Dimiliki dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Dalam rangka beradaptasi dengan kebutuhan industri, teknologi robot mungkin tidak langsung 100% mengambil alih peran manusia, tapi justru membantu tugas manusia. Robot dan manusia pun bisa berbagi peran, bekerja sama, tanpa risiko saling jatuh cinta. Eh, tidak, tidak! Itu ngelantur. Karena kemajuan teknologi jugalah, robot bisa menjadi teman yang akrab bagi manusia.

Contohnya adalah robot humanoid yang bisa ‘ngobrol’ singkat dengan manusia dan membantu mengerjakan aktivitas sehari-hari, seperti yang dilansir South China Morning Post. Barangkali ini jadi semacam impian jadi kenyataan buat orang-orang yang pernah berandai-andai saat menonton film Big Hero 6 “Pengen banget punya sahabat kayak Baymax!”

Contoh berikutnya adalah RoBoHon, robot yang disewakan di Bandara Haneda, Jepang. Sengaja dirancang untuk menjadi teman baik, RoBoHon bisa ‘mengusulkan’ ide-ide terkait apa yang bisa dilakukan saat berada di sekitar lokasi itu. Ia bisa melacak posisi penggunanya selama perjalanan, bisa bercerita, dan mengambil foto sesuai permintaan. Bahkan, saat jenuh dan butuh hiburan, RoBoHon juga bisa menari!

Bukan hanya untuk urusan remeh seperti ngobrol santai atau menari, para engineer yang pintar dan berhati mulia di luar sana pun telah banyak memunculkan teknologi robot yang berfungsi untuk memberikan dampak positif terhadap kesehatan manusia. Sebut saja misalnya Aflac, robot bebek yang bisa memberi suntikan semangat kepada anak-anak penderita kanker.

Ya, memang robot bebek tersebut tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker. Tapi, ia dirancang untuk memberi rasa nyaman, membantu anak-anak dalam masa perawatan, dan mengalihkan perhatian anak-anak itu agar tidak bersedih karena kondisi sakit yang mereka alami.

teknologi , robot_Aflac
Seorang anak penderita cancer sedang memeluk robot Aflac kesayangannya (Sumber gambar: www.thinkadvisor.com)

Bukan hanya kesehatan fisik, tapi teknologi pun bisa mengambil perannya untuk mengatasi kesepian yang dialami manusia. Suka atau tidak suka, kesepian merupakan salah satu persoalan nyata yang sering dialami manusia, khususnya mereka yang tinggal di kota besar dan tenggelam dalam kesibukan. Kesepian ini bisa dibilang agak kompleks dan tidak selalu ditandai dengan kesendirian. Tidak sedikit orang yang tetap kesepian walau sudah berada di tempat ramai atau sering ketemu orang. Sebaliknya, ada juga yang walau sedang sendirian tapi baik-baik saja.

Alone, but not lonely. Meski begitu, sebagai makhluk sosial, sangat wajar kalau kita membutuhkan kehadiran orang lain untuk menemani. Tidak harus untuk tujuan jangka panjang seperti teman hidup misalnya, paling tidak bisa jadi pendengar ceritanya saja.

Barangkali, berangkat dari kegelisahan itulah ilmuwan dari Korea Selatan menciptakan sebuah robot yang diberi nama Fribo. Tugas Fribo adalah membantu orang-orang yang sedang kesepian dengan cara ‘mengajak ngobrol’.

Sensor yang terdapat pada robot Fribo pun bisa berfungsi untuk hal lain, misalnya mengecek kalau ada teman yang berkunjung, saat seseorang membuka kulkasmu, atau memastikan mesin cuci di rumahmu sudah mati belum.

Sampai di sini, apa pendapatmu tentang perkembangan teknologi robot, jika suatu hari nanti sebagian besar dari kita masing-masing punya robot, layaknya hewan piaraan yang patuh pada tuannya? Apakah kita terus merasa cemas sekaligus berharap?

Setidaknya, orang-orang yang kesepian nantinya bisa menemukan semangat hidupnya kembali, aktivitas sehari-hari kita lebih efisien, dan pekerjaan di perusahaan tidak lagi bermasalah dengan karyawan yang penuh drama.

A sociable robot will be able to understand us, to communicate and interact with us, to learn from us and grow with us. ~Cynthia L. Breazeal, Designing Sociable Robots 

Akan menjadi seperti apa kehidupan kita seiring perkembangan teknologi, tentu tidak perlu menyalahkan kemajuan teknologinya. Tidak perlu terlalu mencemaskan kalau jatah kita direbut oleh robot. Meskipun barangkali benar, di era revolusi industri 4.0, persaingan tidak hanya terjadi antar sesama individu, tapi juga individu dan teknologi.

Secanggih apapun teknologinya, sepertinya belum ada robot yang diprogram lengkap dengan empati dan perasaan cinta kasih, sekaligus potensi patah hati yang membuatnya lebih produktif berkarya. Lagi pula, semuanya adalah buatan manusia yang bisa rusak dan tidak bisa berkembang biak jika mereka terhubung dengan lawan jenisnya.

Teknologi-robot-Fribo
Fribo, robot untuk orang-orang yang kesepian (Sumber gambar: Yonsei University & KAIST)

Setidaknya robot bisa memberi value yang penting untuk dipahami manusia. Bahwa ‘mereka’ mampu bekerja tuntas sesuai target yang sudah ditetapkan, tanpa perlu mengeluh yang hanya buang-buang waktu. Robot bekerja tanpa niat terselubung untuk berbuat manipulatif, tidak ikut demo di jalanan, tidak pernah ngomong di belakang, dan tidak pernah julid jika ada robot lain yang performa-nya lebih hebat. Yang pasti, robot tidak mungkin korupsi!

Robot saja bisa bekerja dengan profesional, bisa ramah dan menyenangkan di depan anak kecil, dan bisa menemani manusia dewasa yang kesepian. Kita, bagaimana?

 

(Sumber gambar utama: www.networkworld.com/Martyn Williams)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

syukur , bapak

[Ruang Fiksi] Tentang Syukur dan Malaikat Bermandikan Peluh Itu

[Ruang Fiksi] Ada Superhero dalam Tubuh Ringkih Rana