in

E-Learning dan Teknologi Pendidikan untuk Indonesia di Masa Depan

Tentang transformasi media pendidikan konvensional ke teknologi informasi

Kak Dika berkeinginan untuk melanjutkan studi hingga ke jenjang yang lebih tinggi (Sumber: instagram.com/hardikadh)

Hai, Sahabat Ublik! Bagaimana kabarnya hari ini? Masih semangat mengejar cita-cita dan bertahan hidup semaksimal mungkin, kan? Biar tambah semangat, kali ini Ublik mau berbagi obrolan dengan brand ambassador kita! Sudah tahu siapa? Kalau yang hobi mentengin akun medsos dan baca artikel di Ublik pasti nggak asing lagi dengan salah satu alumni beasiswa LPDP yang satu ini.

Laki-laki bernama lengkap Hardika Dwi Hermawan yang sering dipanggil Dika ini punya segudang cerita dan pandangan menarik tentang pengalamannya mengejar asa selama ini maupun tentang pendidikan di negara kita. Sesuai dengan latar belakang pendidikan Kak Dika pada saat S2 yaitu Master of Science in Information Technology in Education (M.Sc.ITE), Faculty of Education di The University of Hong Kong (HKU), sepertinya Kak Dika punya opini yang patut kita ketahui. Yuk, disimak!

teknologi pendidikan , masa depan indonesia
Kak Dika yang merupakan ambassador Ublik memang aktif mengikuti berbagai kegiatan. (Sumber: instagram.com/hardikadh)

U: Halo, Kak Dika. Pertengahan tahun ini baru saja berkunjung ke Selandia Baru, ya? Bisa ceritakan nggak kegiatan Kakak setelah balik ke Indonesia?

D: Sepulang dari Selandia Baru, saya masih melanjutkan beberapa proyek yang sudah saya mulai dan masih membantu penelitian di bidang IT in education. Saya juga masih terus aktif dalam beberapa komunitas sosial dan juga organisasi yang bergerak di bidang IT. Saya masih mengikuti kegiatan dari tingkat daerah sampai nasional. Menulis buku baru ada pula di dalam daftar saya. Bukan hanya itu, saya dan kawan sedang dalam proses mengembangkan startup di bidang edutech. Masih ada hal lain, tapi lihat saja nanti hasilnya. Mohon doanya supaya diberikan yang terbaik.

U: Wah, wah, wah, produktif sekali! Kalau boleh tahu, apa sih rencana terdekat yang menjadi prioritas dan bagaimana Kak Dika menghadapi kegagalan?

D: Bagi saya, kesuksesan bukan hanya diterima S3 saja. Kesuksesan itu artinya luas. Rencana lanjut studi S3 memang salah satu impian saya. Tetapi karena belum rezeki, saya sudah siap dan ikhlas menerima hasilnya. Saya pun masih punya rencana lain. Tapi S3 tetaplah menjadi prioritas saya dalam waktu dekat ini.

teknologi pendidikan , masa depan indonesia
Kak Dika turut mengisi acara seperti “Ngobrol Bareng Tokoh Inspiratif Pemuda.” (Sumber: instagram.com/hardikadh)

U: Pantang menyerah, ya, Kak. Sekarang kita masuk ke dalam topik pendidikan dengan teknologi (e-learning). Apa bedanya hal itu dengan zaman dulu?

Teknologi dalam pendidikan sebenarnya bukan hanya e-learning. Teknologi dalam pendidikan berarti sarana sarana yang membantu kehidupan manusia dalam hal pendidikan, termasuk penggunaan kartu-kartu pembelajaran dan juga puzzle-puzzle. Teknologi bukan hanya komputer, tapi memiliki arti yang luas. Namun jika pertanyaan yang dimaksud adalah apa perbedaan pendidikan ketika dahulu belum ada Learning Management Systems (LMS) atau e-learning dengan sekarang ketika sudah ada e-learning, ada beberapa hal yang dapat kita rasakan. Beberapa poin yang dapat terlihat dari pengaruh teknologi informasi semacam e-learning di antaranya adalah mengubah cara belajar siswa, menambah sumber pengetahuan dan informasi, dan juga mengubah orientasi pendidikan.

Secara umum, beberapa manfaat dari adanya e-learning adalah;

1) Dulu, kita hanya bisa berdiskusi dengan guru di sekolah, sekarang siswa dan guru dapat berkomunikasi dalam satu platform untuk berdiskusi tentang materi pelajaran.

2) Dulu, panduan belajar hanyalah buku dan sangat terbatas, sekarang akses terhadap ilmu menjadi tak terbatas. Guru dan siswa juga dapat mengakses materi pembelajaran kapan saja.

3) Kita bisa mengetahui aktivitas siswa dalam mengakses e-learning dan dapat melihat performanya secara real time. Sebelum adanya e-learning, kita kesusahan untuk mengetahui apakah siswa membuka materi pembelajaran dan mengukur kemampuan siswa secara langsung, namun saat ini perlengkapan yang ada di e-learning memudahkan guru untuk melihat aktivitas dan performa siswa

4) Membuat pembelajaran lebih menarik dengan mengintegrasikan gamification ataupun metode pembelajaran lainnya.

Baca juga;

Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter Anak Bangsa
Benarkah Pendidikan di Indonesia Ranking Terbawah di Dunia?
Yakin Bahasa Indonesia Kamu Sudah Benar?

U: Apa selama ini teknologi pendidikan di Indonesia sudah berjalan sesuai tujuan?

D: Sedari dulu, teknologi dalam hal pendidikan sudah ada. Media-media seperti balok atau kubus yang terbuat dari kayu, semua itu adalah teknologi dalam bidang pendidikan. Yang berubah mungkin sekarang adalah eranya teknologi informasi, yaitu teknologi pendidikan dari konvensional mulai berpindah ke era yang lebih modern.

Dalam hal transformasi media pendidikan konvensional ke teknologi informasi, Indonesia masih tergolong terlambat. Banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya adalah pengelolaan bidang pendidikan yang belum maksimal dan masih dianggap hanya masalah sektoral. Banyak hal yang sudah direncanakan dengan baik namun implementasinya jauh dari tujuan awal. Hal tersebut banyak terbentur dengan kualitas sekolah termasuk di dalamnya infrastruktur, kualitas karyawan dan guru, termasuk mindset masyarakat terkait perubahan zaman yang begitu pesat ini. Di daerah masih banyak sekali guru yang tidak mampu mengoperasikan komputer ataupun perangkat teknologi informasi.

Saat ini kita juga masih melihat ruang kelas kita masih sama seperti puluhan tahun lalu, guru-gurunya masih mengajar menggunakan strategi abad 20, padahal siswanya adalah siswa abad 21 yang memiliki karakteristik berbeda dengan murid abad 20. Saat ini, dalam hal mempersiapkan pendidikan generasi muda di masa depan, Indonesia masih masuk jajaran ‘top terbawah’ dunia. Kemampuan literasi digital dan kreativitas generasi Indonesia pun masih dinilai rendah. Kita harus melalukan reformasi dunia pendidikan jika benar-benar ingin bersaing di masa depan, sekolah harus mendukung pendidikan abad 21, teaching and learning juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Kemampuan yang diajarkan juuga harus kemampuan abad 21.

U: Menurut Kak Dika, apakah teknologi pendidikan ini sudah tersebar merata di seluruh Indonesia?

D: Sebenarnya, pemerintah sudah memiliki platform belajar yang bisa diakses seluruh sekolah ataupun siswa di Indonesia. Platform ataupun LMS sudah banyak di internet dan bisa diakses setiap sekolah. Namun, setiap wilayah dan sekolah di Indonesia memiliki daya akses, sarana, dan prasanana yang berbeda. Satu daerah dengan yang lain berbeda. E-learning tidak dapat diakses jika sekolah tidak memiliki perangkat untuk mengaksesnya, ataupun jika mereka memiliki kemampuan mengaksesnya. Masalahnya adalah guru belum terampil memanfaatkannya. Masalah inilah yang kerap kali membuat penerapan e-learning tidak efektif, karena belum adanya sarana yang memadai dan kemampuan TI guru yang juga belum mendukungnya. Hal ini hanya dapat diselesaikan dengan memberikan sarana dan prasarana yang menunjang dan memberikan bimbingan teknis pengoperasian e-learning, dan harus diteruskannya professional development bagi para pengelola pendidikan. Bukan hanya itu, lokakarya tentang inovasi pembelajaran juga harus terus dilakukan. Butuh banyak sektor agar penerapan TI dapat berjalan efektif. Tidak hanya pihak sekolah dan pemerintah yang aktif, namun membutuhkan dukungan dari masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan juga komunitas sosial ataupun pendidikan.

U: Oke, deh Kak. Terima kasih banyak ilmunya, ya! Semoga sistem pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi dengan sumbangsih yang diberikan oleh pemuda/i seperti Kak Dika.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Siapkan Liburan Dengan Baik Agar Bahagianya Maksimal

jeruji besi , penjara

[Ruang Fiksi] Orang-orang di Balik Jeruji Besi