in

Bagaimana Hidup Tanpa Media Sosial Tanpa Ketinggalan Tren Baru?

Bagaimana jika kita hidup tanpa media sosial? Untuk sebagian orang, memang tidak begitu berpengaruh. Tapi bagaimana dengan mereka yang pekerjaannya sehari-hari bergantung dengan aktivitas media sosial? Tentunya akan lain ceritanya. Misalnya orang-orang yang menjalankan bisnis online. Bagi mereka, media sosial bukan hanya untuk urusan kesenangan semata. Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana hidup tanpa media sosial? Dengan catatan: tanpa ketinggalan informasi atau tren baru yang penting, dan tetap terhubung dengan teman-teman yang jauh.

Beberapa waktu lalu saya terlibat dalam sebuah pembicaraan yang sebenarnya sepele, tapi akhirnya memunculkan gagasan yang cukup menantang, yaitu puasa dari media sosial, khususnya Instagram. Tidak untuk selamanya, setidaknya sebulan saja. Setelah itu kita lihat apa efeknya. Bagi kita yang terbiasa mengakses media sosial, hmm, tantangan untuk ‘puasa’ itu tentunya bukan hal yang mudah.

Baca juga: Ingin Eksis di Media Sosial? Nanti Dulu, Hati-hati ‘Wabah’ FOMO

Lalu apa efeknya? Singkat cerita, setelah satu bulan dijalani ternyata tanpa sosial kita baik-baik saja. Kebiasaan men-scroll layar ponsel, melihat-lihat unggahan teman, saling mengapresiasi lewat likes dan comment ternyata masih bisa diabaikan sejenak. Lalu fokus dengan apa dan siapa saja yang terlihat nyata di depan mata. Dengan atau tanpa media sosial, kita tetap akan ‘bersosial’ dan berbagi dengan cara tertentu. Atau barangkali untuk berbagi (dalam bentuk konten yang dipost) kita membutuhkan ‘amunisi’ pengetahuan yang cukup, selama absen dari media sosial kita bisa mengalihkan perhatian, misalnya fokus untuk mengakses informasi yang lebih berfaedah.

Ponsel dan eksistensi diri (Sumber: Pixabay)

Media Sosial yang Memenuhi Kebutuhan Eksistensi

Dulu di sekolah dasar kita pasti pernah mendapat materi pelajaran, bahwa tiga jenis kebutuhan manusia adalah primer, sekunder, dan tersier. Seperti yang kita pahami, kebutuhan primer merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidup kita, seperti makan minum, pakaian, dan tempat tinggal. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang dipenuhi setelah kebutuhan primer, misalnya kendaraan dan barang-barang elektronik. Selanjutnya kebutuhan tersier, yang terdiri dari hal-hal pelengkap setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi.

Bagaimana dengan kebutuhan orang pada hari ini? Hari-hari di mana kuota internet menjadi kebutuhan primer yang baru, ponsel pintar kini menjadi teman yang tidak terpisahkan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Lebih dari fungsinya untuk berkomunikasi, smartphone canggih kini adalah tentang kebutuhan eksistensi.

Tidak sedikit dari kita yang begitu antusias mendokumentasikan hal-hal yang dilakukan. Apalagi kalau ada hal-hal hebat dan layak dibanggakan, momen menarik, tidak terlupakan, sampai yang receh tapi menghibur, naluri netizen kita tergerak untuk membagikannya di media sosial. Dengan porsi yang wajar, konten yang dibagikan itu bisa bermanfaat. Kalaupun belum tentu bermanfaat bagi orang lain, setidaknya bisa untuk mengekspresikan diri. Kita mengambil foto, lalu mengedit, dan membuatnya terlihat sedikit lebih bagus daripada aslinya. Setelah itu apa?

Interaksi dengan teman-teman sesama pengguna media sosial. itulah bagian yang menarik bagi sebagian orang ketika like, comment, dan share menjadi bentuk apresiasi yang mudah dilakukan. Bahkan untuk orang yang sama sekali belum kenal sebelumnya. Hal positifnya adalah kita bisa lebih mudah menghargai hasil karya kreatif orang lain tanpa harus bertemu langsung.

Ilustrasi foto media sosial (Sumber: Pixabay)

Baca juga: Sejarah Media Sosial dan Hal-hal yang Jarang Kita Sadari di Internet

Ponsel Semakin Pintar, Bagaimana dengan Penggunanya?

Kita sedang memasuki era di mana sebuah ponsel pintar mampu ‘melakukan apa saja’, mulai dari menyapa sahabat yang jauh di sana, memutar film, pesan makan, beli tiket pesawat, bahkan urusan pencarian jodoh! Tentu kita tidak memungkiri adanya banyak manfaat dan hidup yang lebih mudah yang kita rasakan berkat kecanggihan teknologi internet. Hanya saja, masih banyak orang yang kurang bijak dalam menggunakannya.

Sampai ada ungkapan bernada provokatif: smart phone, dumb user. Ponselnya lebih pintar dari penggunanya. Demi interaksi di linimasa, tidak jarang kita cenderung membuat pencitraan sedemikian rupa. Jujur saja, selama ini aktivitas bermedia sosial yang menurut kita menyenangkan, apakah sudah diimbangi dengan kesadaran bahwa pada titik tertentu algoritma media sosial bisa menentukan bagaimana kita menjalani hidup?

Keramaian yang Semu

Memang ada banyak sekali hal positif yang mudah terwujud berkat dukungan campaign di media sosial. Tapi, sebagaimana selalu ada dua sisi pada hampir setiap hal, begitu juga media sosial. Selalu ada penelitian baru dari tahun ke tahun yang mengatakan bahwa media sosial mengubah orang menjadi narsis sekaligus mudah cemas dan rentan stres. Seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Happiness Research Institute di Kopenhagen, Denmark, pada tahun 2015 lalu. Dari 1095 partisipan, hasilnya 55% yang diminta menjauhi Facebook selama satu minggu menunjukkan tingkat penurunan stres pada dirinya.

Di keramaian yang semu itu, orang-orang cenderung menceritkan apa saja yang dipikirkan ke orang lain, entah itu berfaedah atau tidak untuk yang melihat. “Ya menurutku sih, itu bukan urusan kita. Orang mau suka atau gak, itu hak mereka. Aku kalau gak suka [postingan orang], ya tinggal skip aja, lihat yang lain, yang lebih seru,” kata seorang teman. Ya memang sesederhana itu, bagi yang berpikir sederhana. Tapi ternyata ada yang tidak sederhana, seperti yang terlihat pada temuan lain dari Royal Society of Public Health (RSPH), di Inggris.

Pada tahun 2017, Instagram dinilai sebagai media sosial yang paling berpengaruh pada kecemasan dan kondisi FOMO (fear of missing out) pada anak muda. FOMO adalah situasi di mana orang-orang merasa takut ketinggalan berita terbaru atau istilahnya yang kekinian: takut tidak updated.

Istilah FOMO kemudian dianggap sebagai salah satu ‘wabah’ pada orang-orang yang dalam kesehariannya tidak bisa lepas dari media sosial. Karena seseorang merasa takut kalau ketinggalan informasi terbaru di dunia maya, sehingga FOMO membuat orang selalu merasa gelisah, takut ketinggalan tren, merasa terkucilkan, dan kurang percaya diri jika tidak terhubung atau mengikuti tren yang berkembang di media sosial.

Keseringan mengakses media sosial tanpa kepentingan yang berarti, di sana ada hal-hal yang membuat kita kurang bersyukur karena melihat kehidupan orang lain yang sepertinya lebih bahagia dibanding kehidupan sendiri. Meskipun seringkali apa yang ditampakkan hanya menjelaskan sedikit dari keadaan sebenarnya. Bukankah orang suka mencitrakan dirinya sebagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain?

Online sambil jalan (Sumber: Pixabay)

Baca juga: Hati-hati, Hoax Tak Hanya Tahan Bibir Tapi Juga Tahan Jempol

Saat Pilihan Ada di Ujung Jari Kita

Kita sama-sama tahu kalau orang bisa menebar inspirasi melalui foto, video, atau tulisan yang mengajak orang untuk berbuat kebaikan melalui akun media sosialnya, apalagi kalau dirinya adalah sosok influencer. Tapi ada juga yang menyebar hoax karena tidak tahu atau tidak mau tahu. Sementara orang lainnya terpapar informasi tanpa sempat menyaringnya.

Bagaimana dengan ide untuk puasa media sosial lebih lama? Menjauh dari hiruk pikuk yang melenakan. Mengambil jeda dari keramaian linimasa untuk melihat dunia secara langsung,  bukan dari layar. Lebih banyak membaca, menulis, menyaring pemikiran, dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang butuh konsentrasi ekstra. Yang pasti, jangan sampai media sosial yang mendekatkan yang jauh justru menjauhkan yang dekat. Pada akhirnya, pilihan ada di ujung jari tangan kita.

 

Kamu Sering Gagal Fokus? Coba 5 Tips Mengatasi Distraksi Berikut Ini

Salju Abadi di Puncak Jayawijaya, Akankah Tinggal Kenangan?