in ,

Ternyata Taman Nasional Terbesar se-Asia Tenggara Ada di Papua!

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar nama Papua? Pulau terbesar kedua di dunia dan terbesar di Indonesia dengan luas 808.105 km persegi itu tak henti menjadi sorotan media. Apalagi akhir-akhir ini, saat melihat berita tentang bumi cenderawasih itu, kita seakan-akan dipaksa untuk menyaksikan beberapa tragedi sekaligus.

Seolah Papua tidak berhenti bergolak, kekayaan alam dikeruk, konflik pada masyarakat sipil, daftar panjang aksi kekerasan berlatar isu separatisme yang sepertinya menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah. Lalu apa reaksi kita? Jawabannya bisa sangat kompleks, tergantung apa peran kita. Bagaimanapun, semoga itu tidak menjadikan kita lupa tentang kekayaan yang dimiliki tanah Papua.

( Baca jugaKeindahan Gunung Api di Pulau Jawa ini Bikin Pelancong Susah Move On )

Taman Nasional Lorentz yang Memesona

Taman Nasional Lorentz (Sumber: allindonesiadestinations.com)

Tidak hanya populer dengan Raja Ampatnya, Papua juga memiliki kekayaan alam lain yang begitu memesona. Apakah kamu sebagai orang Indonesia tahu bahwa ternyata di Indonesia ada sebuah taman nasional terbesar di Asia Tenggara? Ternyata taman nasional terbesar di Asia Tenggara itu ada di Papua. Taman Nasional Lorentz yang dibangun pada tahun 1997 ditetapkan menjadi taman nasional terbesar di Asia Tenggara oleh UNESCO.

Lokasinya terletak di antara Kabupaten Jaya Wijaya, Kabupaten Paniai, Kabupaten Fak-Fak, dan Kabupaten Merauke. Terletak di titik pertemuan dua lempeng benua, area ini memiliki kondisi geologi yang kompleks dengan formasi gunung yang sedang berlangsung serta pemahatan besar oleh gletser yang menutupi. Daerah ini juga mengandung situs fosil yang memberikan bukti evolusi kehidupan di New Guinea, tingkat endemisme yang tinggi dan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di kawasan ini. (whc.unesco.org)

Kawasan konservasi terluas dan terlengkap ekosistemnya di Asia Pasifik itu membentang mulai dari puncak pegunungan Cartenz di utara hingga ke batas tepi laut Arafura di selatan.  Memiliki luas ±2.35 juta ha, itu berarti 35 kali luas kota Jakarta!

( Baca jugaBarapen, Tradisi Turun Temurun yang Mengajarkan tentang Kebersamaan )

Gletser yang menutupi (Sumber: www.thousandwonders.net/Michael Thirnbeck)

Dari Mana Asal Nama Lorentz?

Beberapa keunikan lain di Taman Nasional Lorentz adalah karena adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Baliem. Lalu dari mana asal nama Lorentz? Menurut sejarahnya, nama Taman Nasional Lorentz ini diambil dari nama seorang penjelajah dari negeri Belanda, yaitu Hendrikus Albertus Lorentz. Pada ekspedisinya yang ke sepuluh pada tahun 1909, ia menemukan taman nasional ini.

UNESCO juga menyatakan bahwa proses pembangunan gunung yang telah terjadi dari waktu ke waktu telah ‘memberikan perlindungan’ iklim di daerah tropis untuk spesies tanaman Gondwanan kuno selama pemanasan iklim yang telah terjadi sejak zaman es terakhir.  Ada 34 tipe vegetasi dan 29 sistem lahan telah diidentifikasi, bersama dengan sekitar 123 spesies mamalia yang tercatat, mewakili 80% total fauna mamalia di Papua. Taman Nasional Lorentz memberikan bukti endemisme yang sangat berkembang baik tumbuhan maupun hewan, terutama untuk ketinggian pegunungan yang lebih tinggi.

( Baca jugaSalju Abadi di Puncak Jayawijaya, Akankah Tinggal Kenangan? )

Lorentz National Park (Sumber: allindonesiadestinations.com)

Siapa yang Mengelola Taman Nasional Lorentz?

Kemudian pada tahun 1999, taman nasional ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.  Pengelolaan Properti Warisan Dunia Taman Nasional Lorentz berada di bawah wewenang Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan, Republik Indonesia. Rencana Strategis, rencana pengelolaan jangka panjang dan sistem zonasi sedang dikembangkan melalui proses yang luas dan partisipatif yang melibatkan para pemangku kepentingan terkait.

Sektor swasta juga terlibat menyediakan dukungan keuangan yang diperlukan. Selain itu, mengakui pentingnya melibatkan masyarakat adat dalam perlindungan taman yang efektif, saluran komunikasi dioptimalkan dengan melibatkan organisasi adat setempat. Kolaborasi ini adalah kunci untuk memfasilitasi negosiasi dan penyelesaian konflik antara berbagai suku serta melakukan studi komprehensif tentang keanekaragaman hayati dan sumber daya alam di daerah tempat tinggal masyarakat adat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kulonprogo, Kota Mati yang Kini Unjuk Gigi

Ketika Orang Cerdas menjadi Pelaku Bullying, Apa Partisipasi Kita?