in

[Ruang Fiksi] Tentang Syukur dan Malaikat Bermandikan Peluh Itu

Sebuah cerita yang menyentuh dan mengingatkan kita pada rasa syukur

Sayup-sayup terdengar suara penggorengan saling beradu dari rumah ke rumah. Disusul bau harum aneka masakan yang sebentar lagi telah siap dihidangkan. Sayangnya, hal itu tidak terjadi pada sebuah rumah di ujung kompleks.

Di rumah kecil yang terbuat dari anyaman bambu hampir roboh itu, hanya terdengar suara-suara menyayat hati. Ringkihan pintu yang terbuka dan tertutup mengalungkan nada sendu. Siapa lagi yang memainkan nada itu, jika bukan penghuninya?

Sementara itu, matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Pertanda hari baru akan segera datang. Burung-burung mulai bertengger di atas ranting pepohonan. Siap berkicau menyambung kisah.

Seorang pria paruh baya terlihat keluar-masuk membawa beberapa benda. Mulai dari sebuah panci besar, tabung gas, cairan kental warna merah, hitam, dan oranye penuh biji cabai pun dibawa keluar. Perlahan-lahan, ia menaruh dan menata semua benda itu ke dalam kotak kayu dan mengangkatnya ke atas sepeda. Setelah semuanya siap, pria itu mulai mengayuh sepeda dengan nada yang tak kalah sendu dan lebih menyayat hati.

Sarapan?

Jangan ditanya! Sebab, jawabannya selalu “tidak!”

Lapar?

Sudah pasti jawabannya “sangat!” Tapi, apa daya. Pantang makan sebelum berjualan! Bukannya terlalu pelit dan tidak mengasihani diri. Hanya saja, pria itu tak bisa makan jika tidak berjualan. Ia baru bisa makan setelah dagangan yang dijajakan laku.

Uang hasil dagangan sehari-hari sangat minim. Terkadang hanya balik modal untuk berjualan esok hari, jika dagangannya tidak habis terjual. Terkadang pula, harus membuat pilihan antara disisihkan demi keinginan sang anak untuk bersekolah atau untuk makan sehari-hari. Tapi, pria itu tetap bersyukur dan selalu menyapa calon pembeli dengan senyuman ramah. Seakan sama sekali tak ada kekhawatiran dalam hidupnya.

Mungkin itu semua berkat doa dari almarhum sang ayah yang memberinya nama “Syukur”. Bukankah nama adalah sebuah doa? Sehingga, Pak Syukur menjadi sosok yang selalu bersyukur bagaimana pun keadaannya!

***

“Cilok, cilok! Cilok, cilok!” Pak Syukur mulai berjualan dan terus berkata demikian sepanjang perjalanan.

Beberapa kali, bunyi perut menyeruak tanpa permisi ketika melintasi rumah-rumah warga yang mengeluarkan aroma harum masakan. Tapi, lagi-lagi Pak Syukur harus menelan ludah dan sekuat tenaga menahan lapar. Jika sedang beruntung, Pak Syukur akan mendapatkan nasi sisa kemarin dari warga yang merasa iba padanya. Pak Syukur tak ingin berharap, karena terkadang tidak ada warga yang mempunyai nasi sisa.

Jika waktunya tepat, Pak Syukur akan berjualan di depan sekolah-sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Dulu, ada banyak sekali anak-anak yang mengelilinginya untuk mengantri membeli cilok. Seiring berkembangnya zaman dan beragamnya jajanan kekinian, ada hari di mana tak ada seorang pun anak sekolah yang membeli cilok dagangannya.

Di saat seperti itulah, Pak Syukur memandang bangunan sekolah. Tempat impian sang anak untuk belajar dan bertemu teman-teman sebayanya. Dalam hati, ia ingin kembali menyekolahkan anaknya yang terpaksa harus putus sekolah saat kelas tiga SD. Karena, tak mampu membayar biaya buku-buku LKS (Lembar Kerja Siswa) yang bagi Pak Syukur sangatlah mahal.

Bukan Pak Syukur namanya, jika ia hanya bersedih tanpa kembali bangkit dan berusaha sekuat tenaga. Ia bertekad untuk mengumpulkan uang demi pendidikan sang anak, dengan harapan mampu mengubah nasib sang anak agar tidak menjadi seperti dirinya yang hidup serba kekurangan.

***

Matahari masih sangat bersemangat untuk bersinar, hingga panasnya mampu menyengat siapa saja yang sedang berada di luar ruangan. Pak Syukur kembali menuju sekolah untuk berjualan, ketika anak-anak sedang istirahat untuk melaksanakan ibadah salat duhur. Kali ini syukurlah dagangan Pak Syukur laku lebih banyak, tentu saja saat siang hari seperti ini anak-anak merasa lapar dan cilok cukup mengenyangkan.

Senyum Pak Syukur merekah, ia semakin bersemangat saat banyak yang membeli cilok dagangannya. Ia merasa bahwa impian anaknya untuk bersekolah sudah semakin dekat. Setiap peluh yang menetes, menjadi saksi perjuangan Pak Syukur demi terwujudnya impian sang anak—amanah dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan juga amanah dari almarhumah sang istri tercinta.

Bukan hidup namanya, jika tak lepas dari cobaan! Tak ada angin, tak ada hujan, beberapa kali Pak Syukur seringkali dilarang berjualan di beberapa sekolah. Tentu saja alasannya karena, beberapa sekolah menghimbau agar murid-murid tidak jajan sembarangan. Hal yang paling menguji kesabaran adalah ketika ada ibu-ibu yang sudah tidak membeli cilok dagangan Pak Syukur, tapi malah mengolok-olok dan mengatai-ngatai cilok Pak Syukur tidak higienis, mengandung boraks, dan ungkapan-ungkapan seenak hati. Tak jarang beberapa orang terprovokasi.

Lagi-lagi, impian sang anak membuat Pak Syukur terus-menerus bangkit dari segala masalah dan cobaan hidup. Demi seulas senyum sang anak yang jarang terlihat sejak putus sekolah. Perjuangan Pak Syukur tak pernah berhenti. Meskipun panas, terik, hujan, bahkan sakit, Pak Syukur tetap bertahan untuk berjualan. Dia adalah figur sejati seorang ayah.

Setiap ayah di dunia adalah superhero dunia nyata yang seharusnya lebih diidolakan daripada sosok-sosok kartun. Mereka adalah seorang Malaikat Bermandikan Peluh yang selalu menjaga dan melindungi anak-anaknya, serta selalu punya keajaiban untuk memastikan keinginan sang anak terpenuhi.

sepeda , syukur

Ditulis oleh Sheilla Aisyah

Pecinta Kaktus yang berusaha mengabadikan setiap kenangan dan ingin berbagi hal yang semoga bermanfaat melalui tulisan.

Kalian bisa follow juga akun Wattpadku:

@princess_kaktus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

content writer , skill

Skill yang Harus Dimiliki Seorang Content Writer

teknologi , robohon robot

Teknologi vs Manusia: Apakah Kita Lebih Baik dari Robot?