in

Tips Supaya Resolusi Tahun Baru Kamu Lebih Cepat Terwujud

Tips supaya resolusimu nggak ketemu jalan buntu (Sumber gambar: Justin Chrn on Unsplash)

Wah, tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2019. Biasanya nih di akhir tahun seperti sekarang, kita merefleksikan diri. Bertanya apa saja yang telah kita lakukan di tahun ini, apakah semua resolusi di tahun sebelumnya telah tercapai, dan pertanyaan lain yang umumnya berkaitan dengan hal tersebut.

Memang tidak semua orang membuat resolusi apalagi mencatatnya. Tetapi paling tidak ada harapan-harapan tertentu meski tidak memiliki tenggat waktu. Namun memiliki resolusi itu ternyata baik lho, Kawan. Ketika kamu memilikinya, maka kamu bisa merancang masa depanmu sendiri. Ya, ya, ya, masa depan memang belum jelas, tetapi adanya resolusi membantumu untuk bergerak ke arah positif dan memberi semangat untuk menjalani hari demi hari.

Resolusi bisa bikin kita termotivasi (Sumber gambar: Kelly Sikkema on Unsplash)

Kabar buruknya, resolusi seringkali hanya jadi angan-angan belaka. Semangat mencapainya malah makin kendor atau sudah hilang sedari awal. Hayo ngaku, pasti ada di antara kalian yang merasa seperti itu kan? On fire di awal tapi melempem kayak kerupuk kemudian. 😛

Pilihan editor;

Nyatanya, orang yang kayak gitu jumlahnya sangat banyak! Diketahui hanya 8% orang saja yang sukses menjalankan resolusinya. Bagaimana dengan 92% sisanya? Yah, gatot, alias gagal total. Kalau sudah akhir tahun, bawaannya merasa kecewa. Aku selama setahun ini ngapain aja ya kok bisa gatot? Huhu…

Tapi tenang, kali ini redaksi Ublik akan memberikan tips supaya paling nggak resolusi kita nggak gatot lagi. Mari kita simak!

1.Harus Datang dari Diri Sendiri

Aku mau melakukan diet, ah, biar sama seperti sahabatku.

Eh, kenapa kamu ikut-ikutan memiliki resolusi yang sama dengan orang lain? Mau itu sahabat kek, saudara kek, tetangga kek, jangan pernah ikut-ikutan resolusi orang!

Buatlah resolusi yang memang kamu banget (Sumber gambar: Victoria Gonzales on Unsplash)

Kalau kamu berniat mau diet, itu sah-sah saja. Tapi tanyakan ke diri sendiri, mengapa diet masuk ke dalam resolusimu. Kamu harus pastikan dulu kalau itu memang kemauan kamu, bukan dorongan pihak lain. Nyatanya, sesuatu itu akan bisa dicapai jika berasal dari keinginan dirimu sendiri.

Jika ternyata jawabannya adalah bukan dari hatimu yang paling dalam, coret saja resolusi itu dari daftar. Buatlah daftar yang berisi keinginan kamu, setulus-tulusnya. Kalau kamu juga memasukkan resolusi yang berasal dari orang ke daftarmu, maka akan semakin banyak pula poin yang sulit tercapai. Nanti kamu jadi kewalahan dan bingung mengatur cara untuk meraihnya.

Duh, puyeng!

2.Kecil Lebih Baik

Gimana? Sudah bikin resolusi yang sungguh berasal dari hati terdalam? Oke, kita lanjut ke tips berikutnya yaitu memecah targetmu menjadi lebih kecil.

Misalnya kamu ingin belajar untuk lebih sehat dengan mengubah gaya hidup. Jangan langsung mengaplikasikan semua langkah tanpa membiasakan tubuhmu terlebih dahulu. Misalnya kamu ingin rutin berolahraga setiap pagi sebagai langkah kecil pertama. Kalau kamu sudah terbiasa olahraga, mulai ubah pola makan dengan makanan yang bergizi. Ingat, ya, jangan langsung mau sempurna. Nanti kamu bisa jenuh sendiri.

3.Kamu Kudu S.M.A.R.T

Iya, kamu harus SMART. SMART di sini adalah singkatan dari Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound. Berikut penjelasannya, dilansir dari tulisan Jen A. Miller dari nytimes.com.

Teori S.M.A.R.T untuk resolusi cerdas (Sumber Gambar: Tyler Nix on Unsplash)
  • Specific

Resolusi yang kamu miliki harus jelas alias spesifik. Misalnya kamu ingin menurunkan berat badan. Itu belum jelas, sebab masih mengambang. Kamu harus menentukan seberapa banyak yang kamu mau turunkan dan dalam waktu berapa lama? Hal itu bisa membantumu mencapai resolusi dengan lebih mudah.

  • Measurable

Kamu harus bisa mengukur kemajuan proses yang kamu jalani. Kalau masalah berat badan, maka kamu punya timbangan untuk mengukurnya. Namun ada juga lho cara lain yang bisa digunakan jika resolusi yang kamu punya tidak bisa diukur dengan timbangan.

Contohnya kamu punya kebiasaan menggigiti kuku dan kamu ingin berhenti melakukannya. Kamu bisa memotret keadaan kukumu setiap jangka waktu tertentu dan melihat perkembangannya, agar bisa tahu kebiasaan burukmu telah berkurang atau nggak. Semuanya bisa kamu catat di jurnal atau aplikasi di ponsel pintar.

  • Achievable

Rasanya pasti capek kan, kalau mengejar tujuan yang terlampau besar? Ujung-ujungnya malah bisa bikin frustrasi sendiri. Makanya kamu harus membuat resolusi yang memang bisa dijangkau. Eits, bukan berarti kamu tidak bisa bermimpi besar, hanya saja langkah yang diambil kudu masuk akal.

Misal kamu mau punya bisnis. Nggak mungkin demi mencapainya kamu maksa keluarga untuk meminjami kamu uang padahal mereka juga punya kebutuhan. Caranya adalah dengan menabung sedikit demi sedikit sebelumnya.

  • Relevant

Apa benar resolusi yang kamu bikin itu relevan untukmu? Apa kamu punya alasan yang benar untuk melakukannya?

Kata Dr. Michael Bennet, seorang psikiatris dan penulis buku, kalau resolusimu itu adalah hasil dari membenci diri sendiri, penyesalan, atau gairah pada waktu itu saja, maka biasanya tidak akan bertahan lama. Namun, jika kamu membangun proses dimana kamu berpikir apa yang terbaik untukmu, kamu mengubah struktur hidupmu, kamu membawa orang-orang ke dalamnya dan membantu kamu mencapai resolusimu, maka kamu memiliki kesempatan untuk berjuang.

  • Time-bound

Timeline untuk mencapai resolusimu kudu masuk akal. Jangan menyisipkan terlalu banyak resolusi dalam waktu singkat. Kamu bisa lelah sendiri dan nggak fokus.

Kata Charles Duhigg, penulis “The Power of Habbit” dan mantan penulis New York Times, fokuslah pada kemenangan kecil sehingga kamu bisa membuat kemajuan bertahap. Kalau kamu membuat kebiasaan, maka kamu merencanakan untuk dekade selanjutnya, bukan beberapa bulan ke depan.

4.Kadang Cuek Itu Perlu

Ih, kok hari ini aku gagal lari keliling komplek 5 kali?!

Pernah merasa mood turun gara-gara target nggak tercapai? Kamu semestinya lari keliling komplek 5 kali tapi karena dipanggil tetangga jadinya ngobrol kelamaan dan cuma sempat lari 2 putaran saja. Yah, berarti kamu mesti cuek, nggak perlu disesali lama-lama. Abaikan, pasang tampang emang gue pikirin.

Terkadang kita perlu cuek supaya bisa fokus pada hal kecil (Sumber Gambar: Nine Ketnipha on Unsplash)

Eh, memang boleh gitu? Boleh. Kata siapa? Kata jurnal yang dipublikasikan pada tahun 2012, dari Universitas Chicago. Ini dinamakan teknik “small number”. Fokuslah pada nilai-nilai kecil yang kamu dapatkan agar bisa termotivasi. Jadi kalau hari ini kamu larinya 2 putaran, maka yang harus kamu katakan, “Aku sudah lari 2 putaran. Selanjutnya akan kutambah lagi.”

5.Bikin Rencana

Kalau kamu mau memperbaiki kebiasaan buruk, Pak Duhigg punya solusinya yang dibagi dalam 3 tahap yaitu: a cue, a routine, dan reward.

Salah satu kebiasaan buruk adalah terlalu sering bermain gawai. (Sumber Gambar: Daniel Korpai on Unsplash)

Contoh:

Kebiasaan buruk: main Twitter terus

Cue: aku merasa terisolasi

Routine: mengecek Twitter

Reward: aku merasa terhubung

Cara mengubah kebiasaan tersebut: daripada mengecek Twitter, sebaiknya aku beranjak dan ngobrol dengan orang di sekitar.

Jadi, sudah punya resolusi apa nih buat tahun depan? Semoga nggak gatot lagi, yah! Ha ha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rahasia di Balik Akun Gosip Lambe Turah yang Jarang Diketahui Orang

Mau Coba Traveling yang Ramah Lingkungan? Lakukan 5 Tips Ini