in ,

Suka Julid di Media Sosial? Ini Tips Supaya Nggak Kambuh Lagi

Julid memang gampang, tetapi kebiasaan itu tidak baik.

Julid memang tidak bisa dipisahkan dari budaya bersosial media tetapi kebiasaan itu harus diubah. (Sumber gambar: Luke Van on Unsplash)

Bagaimana pendapatmu tentang ‘netizen julid‘?

Siapa yang setuju kalau kasih komentar di media sosial itu hal yang paling gampang sedunia? Lihat sebuah foto atau video dan keterangannya, terus perhatikan apa yang bisa dikomentari darinya, jempol mengetik dengan cepat, dan voila! Apa yang kita ketik pun terpampang. Bisa jadi komentar kita disetujui banyak orang atau malah mengundang respons sebaliknya.

Ada berbagai macam alasan kenapa orang menggunakan media sosial. Namun yang perlu disadari media sosial kita merupakan sebuah ‘pengukuhan’ pada orang lain di era digital bahwa: “kita ini eksis, lho.” Kita ini ada. Ini akun kita agar bisa berkomunikasi dengan orang lain di waktu yang bersamaan.

Gara-gara media sosial pula kita jadi terpaku pada apa yang sedang terjadi di dunia maya. Kita jadi tahu artis mana yang lagi kena skandal, meski bukan berasal dari negara yang sama. Kita jadi tahu politisi mana yang lagi dielu-elukan masyarakat, anak muda yang berprestasi, dan lain sebagainya. Semua bagai dua sisi mata uang yang mengandung hal negatif dan positif.

Di dunia maya, para pengguna media sosial mudah merasa julid akan suatu hal. Entah karena kita tidak suka pada orang tersebut, atau tidak setuju pada tingkahnya meski kita belum tahu kebenarannya dan tidak ada hubungan dengan hidup kita sama sekali.

Tapi, mengapa hal yang negatif justru terasa menyenangkan? Oh, tidak! Ini adalah godaan dalam bersosial media. Maka dari itu mari kita simak 5 tips berikut agar tidak mudah julid di media sosial.

1.Apa yang Kita Lihat Belum Tentu Benar

bukan kebenarannya julid
Semua punya dua sisi, jadi sebaiknya jangan mudah menghakimi. (Sumber gambar: Hanson Lu on Unsplah)

Begini nih, misalnya kamu melihat sebuah foto artis A yang diduga sedang melakukan kekerasan pada penggemarnya. Foto yang tidak menggambarkan keseluruhan kejadian itu tersebar luas sampai membuatmu merasa geram sendiri.

Kamu pun menuliskan komentar di akun pribadinya: “Heh, jadi artis kok belagak banget sampai jambak rambut cewek!”

Ternyata, kejadian aslinya itu, artis A sedang berusaha melepaskan rambut penggemarnya yang tersangkut di bajunya. Jadi dia tidak bersalah. Padahal foto yang beredar sudah menjadi bahan pembicaraan yang panas dan mengundang reaksi negatif sehingga merusak pamor artis A. Kan julid di media sosial bahaya, ya?

Baca juga:

2.Berkomentar Positif

Kalau kamu lihat unggahan yang mengundang jari untuk mengetik komentar, segera ubah apa yang kamu lihat kepada hal-hal yang menyenangkan. Misalnya kamu habis lihat artis B menikah dengan konsep luar biasa mewah dan menghabiskan uang terlampau banyak.

Lalu otakmu berkata, “Ya, ampun. Buat apa sih nikah kayak gitu? Kenapa nggak di Indonesia aja? Kenapa mesti pakai baju ala putri kerajaan? Padahal kan orang kurang mampu dan korban bencana banyak yang butuh bantuan.”

Segera tahan untuk nggak julid di medsos, alihkan perhatian pada hal-hal yang bisa membuatmu termotivasi atau tertawa. Misalnya kamu memberi komentar pada temanmu yang mengunggah fotonya menjadi relawan mengajar di suatu desa. Kamu bisa memberinya pujian dan semangat. Energi positif yang kamu keluarkan tentu akan membuatmu merasa lebih baik dan disukai.

komentar positif jangan julid
Berkomentar positif akan memberi dampak positif juga. (Sumber gambar: Nicole Honeywill on Unsplash)

Dilansir dari Buffer, alasan orang berkomentar ya karena mereka punya sesuatu untuk dikatakan. Otak kita bahkan lebih bereaksi padanya daripada hanya sekadar mendapat likes. Moira Burke yang melakukan penelitian pada 1.200 pengguna Facebook menemukan bahwa pesan personal lebih memuaskan dibanding likes. Dia menyebutnya dengan ‘composed communication’.

Burke mengatakan bahwa orang yang mendapatkannya akan merasa tidak terlalu kesepian. Sedangkan orang yang hanya mendapat likes tidak merasakan perubahan pada rasa kesepiannya. Bahkan percakapan di semi-publik juga ikut mengurangi kesepian. Percakapan semi-publik membuatmu fokus pada orang tersebut dan mengabaikan orang lain yang mungkin membacanya.

“Comments are a powerful emotional driver”. Jadi gunakan kesempatan itu untuk memberi dan meraih energi positif dari orang lain.

3.Andai Aku Jadi Dia

jangan-julid
Jangan julid kalau tidak mau dijulidin. (Sumber gambar: Matteo Vistocco on Unsplash)

Kamu punya teman yang gaya berpakaiannya mengundang tanda tanya besar. Bagaimana ada orang di zaman sekarang yang masih berpakaian tidak jelas seperti itu? Lalu dia mengunggah foto satu badan di Instagram. Tanganmu gatal ingin mengetik: “Itu baju apa kebun bunga kok rame banget? Tabrak sana-sini. Bikin pusing.”

Mungkin kamu anggap komentarmu biasa saja. Tapi kita harus paham bahwa tingkat sensitivitas orang berbeda-beda. Tidak semua yang kita anggap biasa itu juga mereka anggap tak berarti. Bisa saja setelah membaca komentarmu yang dibaca oleh teman-teman lain membuatnya jadi malu dan enggan unggah foto lagi. Atau malah dia jadi berpikir keras padahal hanya mau berpakaian untuk keluar rumah sampai ujung-ujungnya dia menganggap semua bajunya jelek.

Kalau mau memberi komentar, kamu coba berandai-andai jadi dia. Gimana reaksimu lihat reaksi warganet julid? Kalau kamu tahu hasilnya tidak menyenangkan, ya jangan julid di media sosial gitu, lho.

4.Bersihkan Linimasa

Nah ini cara ampuh buat kamu yang mau hidup tenteram dalam per-medsos-an. *eh, istilah apa ini? Ada cara supaya nggak julid di medsos dan menghalau linimasa kamu dari kata kunci yang mengundang kejulidan hakiki. Misalnya kalau kamu baca topik pemilu bawaannya panas mulu. Wah, coba deh blok kata kunci terkait agar tidak membuatmu kesal setiap main medsos.

bersih linimasa julid
Bersihkan linimasa dari konten negatif. (Sumber gambar: Mike Baker on Unsplash)

Dijamin bakal lebih adem kalau kamu nggak lihat apa yang tidak ingin kamu lihat. Kalau bisa ikuti juga akun-akun yang bukannya mengurusi hidup orang lain dan penuh dengki, tapi ikuti akun-akun berfaedah yang membuatmu terpicu menjadi orang lebih baik.

5.Istirahat Sejenak

istirahat medsos julid
Istirahat dari medsos bisa memberi dampak positif bagi kesehatan mental. (Sumber gambar: Jerry Wang on Unsplash)

Jangan salah, lho, media sosial terkadang bisa jadi tempat yang membuatmu merasa tercekik. Apalagi yang kurang kerjaan, bawaannya ngintip medsos mulu, komen sana-sini. Padahal dengan begitu, derajatmu nggak bakal naik. Serius, deh!

Berkomentar buruk nggak bikin kamu jadi lebih baik. Apalagi kritik penampilan orang lain seenaknya. Entar kena jerat hukum gara-gara body shaming, nih. Hahaha.

Istirahat dari medsos juga bisa bikin kamu lebih melek dengan apa yang terjadi di sekitar. Kamu bisa mengerjakan hal-hal dengan bertatap muka secara langsung dengan orang lain dan berbincang. Siapa tahu perasaanmu akan merasa jauh lebih baik.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

kebiasaan di malam hari

12 Kebiasaan Malam Hari yang Akan Mengantarkanmu pada Kesuksesan

karya tema cinta laris

Alasan Kenapa Karya Bertema Cinta Selalu Laris di Pasaran