in

[Ruang Fiksi] Dengarkan Suara Alam yang Ingin Bersajak

Tentang alam di sekelilingmu yang mengalirkan sajak pada seluruh hilir

Ketika alam ingin berpuisi

Monolog dalam Aliran Sungai

Sebab alam di sekelilingku pun mengalirkan sajak. Terus mengalir dan berpuisi pada seluruh hilir. Dan tak melulu digerus batuan kenangan. Melainkan nyanyian cadas yang habis membentur ingatan.

Pada aliran itu, sedimentasi bayangan dan angan membias. Segala risau dihalau dari rindu, pilu, sampai ke haru. Dalam sebagian hari-hari melankolis. Habis dikikis gerimis.

Monolog dalam aliran sungai, menjadi seperti dialektika sang hidrogen. Bereaksi pada penat reinkarnasi kegelapan. Sungai itu barangkali telah mampu menikung sendiri, karena jenuh.

Ke samudera juga pada akhirnya.

alam , sungai
Monolog dalam aliran sungai (Sumber gambar: Ublik.id/M.Rasyid)

Dalam tiap Kabut Aku Ingin Menjadi Puisi *)

Pada tiap bilangan usia, aku akan bersalam untukmu
Sebelum kabut habis diulur pagi
Jika aku berganti gema, dan tak ada suara bersisa
Dari tiap kedalaman jiwa serta kesakitan tak terjelaskan

Puisi, seperti siluet kemarin di beranda kala remang menjelang
Aku belajar melukis bayang yang mengimpikan dirinya sendiri
Apa yang mesti dieja di luar bayang?
Kecuali sekali waktu aku
Menuliskan kelelawar dalam segala dinding samar
Kabut di seberang cahaya berjuntai dalam dirinya
Belokkan diri menuju mimpi-mimpi kekanakan

Aku masih menepi pada bayang
Pada kabut sebelum pagi
Dan pada tiap kabut itu aku ingin jadi puisi

*) Diadaptasi dari puisi In Every dusk I Want to Write Poetry karya Nanang Suryadi.

 

Rumput Liar di Halaman

Apa yang dirisaukan oleh sajak yang tertuang bersama hujan, ketika ia turun tiba-tiba, menyeka alam yang dahaga, pada tiap gesekan petala bumi menganga, juga sajak yang disisakan oleh bekas pijakan di halaman lengang, peduli apa para pejalan pada rumput liar.

Barangkali rumput liar sedang mengadu pada hujan: Meradang aku, sesudah habis ritual magis di halaman. Tangan-tangan sesiapa mencabut paksa. Aku ada pada tiap petak tanpa rencana. Sebab terang sudah perihalku di alam manusia: tumbuh, liar, dan terlupakan.

Wonogiri, 19 Juli 2013

alam , rumput
Rumput liar di halaman (Sumber gambar: Pixabay)

Sajak Alam dan Langit

Pada silau lazuardi, aku menekur pagi. Juga pada sekait sepi yang enggan menepi di sebarang aksioma paling tinggi. Bebas tak disekat spektrum alam menuju angkasa. Pongah tanpa bias arogansi segala musim.

Untukmu yang mangagumi lorong semesta. Katanya kau ingin jadi langit
Di mana biru bening itu mengerling. Menguarkan aroma haru, dan sekaligus sengat semesta
Sembuhkan luka semua bangsa.

Aku tak mau rimpuh dalam tafakur angin. Apalagi igau puisi. Terkoyak oleh segala diksi
Tapi epigraf pada langit adalah mimpi paling nisbi. Sajak alam dan sesuatu di atas sana adalah tentang kita yang juga belum selesai mencari arti.

Aku akan membias lazuardi. Mengeja euforia yang tak terperi

 

Instrumentalia Musim Hujan

Dalam tiap instrumentalia musim hujan dan segala rupa kekalutan, kita belum selesai bertanya: ini genangan atau kenangan? Atau bahkan kita adalah bait ketiadaan. Melebur di margin waktu

Kau hilang di bawah belukar. Di pergerakan mati. Irrasional.

“Karena hujan itu magis,” katamu. Hujan itu sapaan mendung dari luar jendelamu
Pada saat yang sama kau bertanya. Hujan itu abnormabilia, dan bukankah ia seperti bahasa alam yang senantiasa gelisah? Gugur payah pada bumi yang memerah.

Apakah hujan kelak bisa membuat seseorang pandir jadi lihai menikung logika?
Entahlah.

Ah, kau tak perlu mengerti simfoni hujan. Kecuali kabut biru di atas bukit pinus yang meradang lengang. Dan pematang sawah yang tak usai dikenang. Kemudian ke dalam instrumentalia hujan
Kau meliukkan notasi keheningan. Hanyut pada tempias magis. Untuk kemudian lebur dalam segala.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

menulis , jurnal harian

Ingin Lebih Cepat Wujudkan Impian? Mulailah Membuat Jurnal Harian

Sir Nata guru viral

Sir Nata: “Kodaline Bilang ke Saya ‘You Rock!!!’”