in

Mengenal Slow Living Lifestyle untuk Hidup yang Lebih Tenang

Jangan asal cepat, tapi nikmati momen yang ada

Slow living: bagaimana dan mengapa?

Slow living. Apakah kamu sudah cukup familiar dengannya? Atau paling tidak, pernah mendengarnya? Atau justru istilah itu memicu pertentangan di benakmu, sebab dari namanya saja sepertinya berlawanan dengan apa yang kita junjung pada hari ini: kecepatan. Ya, faktor kecepatan inilah yang menjadi perhatian orang-orang pada hari ini, yang hidup di zaman yang penuh dengan persaingan dan disrupsi di banyak bidang.

Kita menghadapi perubahan setiap saat, aliran informasi yang tak terbendung, dan kemajuan yang bergerak dengan begitu cepatnya. Pekerjaan yang kita lakukan pada hari ini mungkin saja akan digantikan oleh robot dan mesin-mesin. Kalau kita mau berkembang, tentunya kita perlu mempelajari hal-hal baru. Tidak asal mempelajari hal baru, tapi dengan syarat: pelajari dengan cepat. Learning anything faster!

serba cepat , slow living
Semuanya serba cepat, buat apa? (Sumber gambar: Pixabay)

Lalu kita begitu antusias dengan segala sesuatu yang identik dengan konsep kecepatan. Tidak mengherankan kalau kemudian mudah sekali kita temukan berbagai teknik, tips, atau strategi yang tujuannya untuk meningkatkan kecepatan. Dalam hal apa pun itu; membaca cepat, berhitung cepat, closing cepat, sukses cepat. Apa pun maunya cepat.

Kalau memang saat kita bisa dua-tiga kali lebih cepat dan itu memberi tambahan rasa bahagia, syukurlah. Setidaknya kualitas hidup kita bertambah. Bagaimana setelah itu? Saat segala kepentingan hidup berhasil kita hajar dengan cepat, lalu mau apa lagi? Apakah kita benar-benar menikmati?

Seolah kecepatan adalah segalanya, begitu banyak orang yang berlomba-lomba menjadi lebih dari yang lain. Atau paling tidak lebih dari diri sendiri yang kemarin. Kita ingin cepat-cepat meraih segala hal yang dicita-citakan. Waktu kuliah ingin cepat lulus. Waktu mempelajari ilmu atau skill baru ingin cepat mahir. Waktu mulai merintis usaha ingin cepat kaya. Yang masih single ingin cepat ketemu jodoh. Yang sudah menikah ingin cepat punya keturunan.

Ya, memang kecepatan tidak bisa terlepas dari kehidupan kita sehari-hari, jika kita ingin naik kelas dan tidak ‘begitu-begitu saja’ atau ‘di situ-situ saja’. Adagium ‘lebih cepat, lebih baik’ sepertinya menarik dan sangat gampang untuk melekat di pendengaran kita. Kita begitu terobsesi atas kecepatan. Apa-apa dilihat dari siapa yang duluan, sukanya main balap-balapan. Selain tergesa-gesa, kita lalu terjebak pada kehidupan yang terlalu serius. Tenggelam dalam ritme kehidupan yang lupa dinikmati

Kecepatan dipandang sebagai kunci utama untuk memenangkan kompetisi. Setelah itu apa yang terjadi? Didorong oleh rasa tidak mau ketinggalan, orang-orang pun makin lincah bergerak. Saling berlomba untuk lebih dulu mencapai garis akhir.

‘Siapa cepat dia dapat’, ini sering kita jadikan bahan bercanda, tapi, sebelum kecepatan mendorong kita ke kompetisi yang tidak sehat dan penuh rasa iri dengki—karena selalu saja ada yang lain yang lebih cepat dari kita, coba kita tanyakan pada diri sendiri: apakah segalanya harus serba cepat? Dan kita akan sampai pada perenungan berikutnya: sebenarnya kita ini mengejar apa?

Tidak Tergesa-gesa, Tidak Menunda-nunda

Sebagian dari kita mungkin tidak sadar pernah menjadi orang yang mendadak begitu menyebalkan. Mengapa? Hanya karena pertanyaan yang dilontarkan demi berbasa basi. Di antara pertanyaan basa-basi itu dimulai dengan kata ‘kapan’. Kapan lulus? Kapan kerja mapan? Kapan menikah? Kapan punya anak? Kapan naik haji? Kapan, kapan, dan kapan?

Entah mungkin termotivasi, terdesak, atau tertekan, yang jelas, beberapa situasi membuat seseorang jadi terburu-buru. Seolah sedang berada pada arena lomba adu cepat. Barang siapa bergerak cepat memenuhi ekspektasi penontonnya, apakah dia yang kemudian disebut pemenang? Padahal kan tidak begitu.

Sebagaimana setiap hal ada ukurannya, mestinya kita meletakkan sesuatu pada posisi seharusnya dan melakukan sesuatu pada waktu terbaiknya. Demikianlah, ketika waktunya tepat, sesuatu akan terjadi. Itulah mengapa, kepada hal apa pun mestinya tidak perlu tergesa-gesa, tapi tidak juga menunda-nunda.

slow living , lifestyle
Apa itu slow living lifestyle? (Sumber gambar: Pixabay)

Mengenal Konsep Slow Living

Mungkin sebagian kita yang punya banyak aktivitas akan merasakan betul: berjalannya waktu sudah sedemikian identik dalam tuntutan-tuntutan. Lalu gaya hidup yang serba cepat itu pun merebut banyak hal; waktu, kesehatan, ruang sosial, hingga yang terpenting: kenikmatan menjalani hidup.

Tentang slow living, ternyata ini bukan sekadar hidup yang lambat sesuai artinya secara harfiah. Beberapa negara justru menjadikan ini sebagai movement yang dijalani dengan tidak main-main. Di Austria misalnya, di sana ada Society of Deceleration of Time yang mendorong pendekatan kontemplatif terhadap waktu dan tidak menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya tolok ukur kehidupan. Di Jepang ada Club Sloth dan di San Fransisco Amerika Serikat juga ada The Long Now Foundation yang mengusung misi yang sama.

Persepsi terhadap hal  lambat yang tadinya identik dengan kemunduran, kemalasan, tertinggal, dan tidak menarik, kini bergeser menjadi sikap yang penuh perhatian, kontemplatif, dan penuh pertimbangan dalam menjalani kehidupan ini.

Beri Perhatian Lebih pada Apa yang Kita Lakukan

Nikmati yang ada sekarang, yang ada di depanmu. Tenangkan pikiran, dan kamu mungkin akan menyukai perasaan setelah ini. Lihatlah ke sekelilingmu dan temukan hal-hal yang belum pernah kamu perhatikan sebelumnya. Fokus pada apa yang terjadi di sekitarmu lalu lihat keindahan saat ini. Jangan berpikir tentang masa lalu atau masa depan.

Lakukan lebih sedikit hal, dan pikirkan lebih banyak. Lupakan multitasking, melakukan banyak hal pada saat yang bersamaan. Cobalah untuk fokus pada satu hal, lakukan dengan penuh perhatian. Beri perhatian lebih pada apa yang kita lakukan. Tidak hanya urusan pekerjaan atau tugas-tugas profesional, tetapi juga dalam kehidupan pribadimu.

Ketika bertemu teman atau keluarga, usahakan jangan melihat ponsel entah itu untuk memeriksa notifikasi media sosial, membalas chat, atau membuka email kerjaan. Coba hargai momen bersama mereka.

Slow living juga berarti menolak tunduk kepada kebiasaan serba cepat, lebih tepatnya asal cepat tanpa memperhatikan kualitas. Slow living lifestyle memilih untuk melakukan sesuatu dengan perhitungan, dengan menikmati prosesnya, dan mementingkan kualitas dibanding kuantitas.

Slow Living untuk Hidup yang Lebih Tenang

Alih-alih terpaksa ikut arus pada budaya serba kilat, mengapa kita tidak mengukur diri: kapan kita harus mempercepat langkah dan kapan harus mengambil jeda. Dalam pemaknaan yang lebih mendalam, slow living juga berlaku saat kita beribadah.

Buat yang muslim, bukankah kita mengenal konsep tuma’ninah, yang tak lain adalah berhenti sesaat di dalam gerakan salat. Sebab ibadah salat mestinya tidak boleh dilakukan sambil tergesa-gesa, seolah terburu oleh waktu. Dalam setiap gerakan, ada beberapa detik yang mesti diambil untuk jeda, meresapi saat terkoneksi denganNya, menghayati bacaan, dan menikmati ibadah yang dijalankan itu.

Bukan berarti mengajak menjalani hidup dengan lambat dan membiarkan diri tertinggal di tengah keadaan yang kita sebut sebagai kemajuan pesat itu, tapi bukankah kita punya kebebasan untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan dan bagaimana melakukannya? Konsep slow living pada akhirnya mengajak kita menjalani hidup dengan seimbang, teratur, dan tidak berlebihan. Agar bisa menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Jadi, apakah kamu ingin mencoba menerapkannya dalam kehidupanmu?

2 Comments

Leave a Reply
  1. Tabarakallah, terimakasih untuk artikel inspiratifnya. Alhamdulillah Maret ini saya mulai melakukan slow living tanpa saya sadari. Hanya benar-benar fokus pada yang utama dan tidak mengejar semuanya hanya demi terealisasinya cita-cita. Karena ternyata cita-cita bukan hanya butuh diri kita yang tangguh dan siap maju kapan saja, tapi juga matang dan realistis tapi tidak sempit. Saya menunggu artikel penuh inspiratif lainnya dari Ublik… Terus tumbuh tanpa henti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

hiroo onoda , filipina

Belajar dari Hiroo Onoda, Pejuang Jepang yang Gerilya 29 Tahun di Hutan

merah adalah warnanya

[Ruang Fiksi] Merah adalah Warnanya