in

Sir Nata: “Kodaline Bilang ke Saya ‘You Rock!!!’”

Menjadi guru musik itu nggak boleh mudah capek (Sir Nata)

Guru viral yang masih muda ini lincah mengajar musik sampai dikenal di mancanegara. (Sumber gambar: instagram.com/triadinata91)

Sebelum direspons oleh Kodaline, guru muda yang akrab disapa “Sir Nata” ini memang telah dijuluki “Guru Viral” oleh murid-muridnya. Alasannya adalah karena video-video yang diunggah oleh Tri Adinata memang sudah ada yang viral terlebih dahulu, bahkan mencapai jumlah tayangan sebanyak 4 juta.

Pemuda kelahiran 25 September 1991 ini tidak henti-hentinya menyebarkan inspirasi dan motivasi pada anak didiknya, baik di SMP Al-Azhar Medan maupun anak bimbingan kursus musik yang dia latih. Salah satu muridnya. Mawar Eva De Jongh yang kini menjadi penyanyi sekaligus aktris membuat Sir Nata ikut bangga.

murid serendipity
Pemeran utama wanita di film Serendipity yang tayang pada tahun lalu adalah salah satu murid Tri Adinata. (Sumber gambar: limawaktu.id)

Di sela-sela kesibukan Sir Nata yang sedang mempersiapkan 300 gitaris untuk acara wisuda SMP Al-Azhar Medan pada 27 April mendatang, Ublik berhasil menghubungi guru musik serba bisa ini untuk diwawancarai melalui telepon. Pembawaannya yang ramah dan bersahabat membuat perbincangan jarak jauh yang terjadi sekitar pukul 9 WIB itu terasa hangat dan tidak canggung.

Ublik (U): Halo, Kak. Saya baca dari berbagai sumber, keluarga Kakak memang dikelilingi oleh musisi, ya? Apa itu yang membuat Kakak mantap memilih jurusan seni musik di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan (Unimed) sampai S2 sebelum akhirnya menjadi guru?

Sir Nata (SN): Halo! Iya, betul sekali, ayahku anak band dan kakakku guru musik. Selain suka musik, saya juga ingin membuat pelajaran musik di sekolah bukan sekadar ala-ala, karena selama ini hasilnya pun cuma sekadarnya. Biasanya kan guru mata pelajaran lain atau orang bisa nyanyi dijadikan guru musik. Padahal seni musik itu nggak gampang.

Sir Nata S2
Sir Nata ingin melanjutkan studi ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu S3. (Sumber gambar: instagram.com/triadinata91)

Saya kuliah seni musik sampai magister dan ingin lanjut ke jenjang S3 jika ada kesempatan bukan karena ingin gelarnya. Tetapi saya suka menuntut ilmu.

Saya dulu itu juara kelas dan mendapat beasiswa sejak sekolah menengah. Jadi ketika saya memilih jurusan seni musik, banyak orang yang mencemooh. Katanya, kalau anak pintar kan biasa memilih jadi dokter, ya? Tetapi sekarang orang-orang itu sudah nggak nyinyir lagi. Haha…

Oh, iya, saya sebenarnya ditawari beasiswa S2 ke Korea Selatan. Kebetulan saya jadi relawan di ADRF (Africa-Asia Development Relief Foundation). Lalu presdir Korsel itu melihat siapa saja orang yang aktif. Saya kan rutin megajarkan musik di semacam rumah singgah gitu, di pinggir rel kereta api juga, bagi anak-anak kurang mampu.

Awalnya nggak ada iming-iming bagi yang aktif akan mendapat imbalan. Saya lakukan itu karena memang pada dasarnya suka mengajar anak-anak. Eh, tiba-tiba ditawari beasiswa di Korsel. Tapi karena orangtua tidak mengizinkan jadi saya batalkan.

U: Saya dengar Kakak pernah juara lomba penelitian tingkat nasional tentang musik jazz. Apa memang suka genre musik itu?

SN: Kebetulan di kampus jarang orang yang mengambil topik itu karena sulit. Prinsipnya, saya ingin skripsi atau tesis saya itu berbeda dari yang lain. Saya pun memberanikan diri mengambil topik itu dan syukurnya dapat apresiasi dari kampus serta berhasil juara di lomba penelitian tingkat nasional. Saya senang sekali.

Untuk penelitian itu saya sampai beli buku dari luar karena jarang yang berbahasa Indonesia. Untungnya saya bisa bahasa Inggris. Saya juga suka musik jazz. Penyanyi favorit saya adalah Norah Jones (Sir Nata mengucapkannya dengan logat kebule-bulean yang jenaka).

U: Hahaha. Terus, nih, Kak, di masa sekarang kan kancah musik dunia tidak lagi eksklusif pada lagu-lagu berbahasa Inggris saja. Musisi ternama seperti J Balvin sebagai salah satu perwakilan musik latin dan BTS sebagai grup top dari Korea Selatan berhasil menggebrak tangga lagu dan album Billboard meski bukan berbahasa Inggris. Menurut Kakak, apa sih kekurangan dunia musik Indonesia sehingga tidak bisa turut bersaing?

SN: Kita ini suka jadi pengikut, ya. Orang-orang bikin boyband, Indonesia ngikut juga. Mari kita bikin tren. Kenapa kita nggak berani go internasional dengan musik tradisional kita? Tapi saya apresiasi banget Vicky Sianipar kan beliau keren juga bawa musik tradisional.

Sir Nata anti narkoba
Sir Nata berpose bersama anak didiknya di acara Grand Final Pemilihan Bintang Pelajar Anti Narkoba Sumut 2018. (Sumber gambar: instagram/triadinata91)

U:  Kakak kan pengajar musik yang betul-betul memberi praktik nih. Sedangkan saya pas sekolah dulu belajar seni biasanya hanya melalui buku atau diajarkan sekadarnya. Saya yakin banyak juga anak di Indonesia yang berpengalaman sama. Padahal kalau kita mau unjuk gigi di bidang musik, sistem pendidikannya harus baik pula.

SN: Fasilitas harus diperbaiki. Selain itu kalau menjadi guru nggak boleh mudah capek. Muridnya hanya disuruh baca teori aja. Saya tuh kalau jadi guru nggak bisa diam. Jadi saya malah paling malas kalau disuruh mengawas ujian karena diam saja dan mondar-mandir.

Kalau hari libur gini saya malah bingung mau ngapain, ya? Saya kan biasa mengajar dari pukul 7 pagi sampai 11 malam. Itu waktunya dibagi dua antara sekolah dan tempat kursus. Saya juga masih ikut kegiatan relawan hanya saja tidak seintens saat masih kuliah dulu.

Jika ada yang berkunjung ke Al-Azhar Medan lalu melihat saya memanggil murid-murid dengan sebutan “anakku sayang”, jangan terkejut, ya. Hahaha. Saya itu sayang sekali dengan murid-murid saya. Meski kadang bisa jadi teman, mereka tetap respek dan hormat.

Sir Nata suka anak-anak
Sir Nata memang menyukai anak-anak. (Sumber gambar: instagram.com/triadinata91)

Gara-gara musik juga, anak-anak itu menjadi pemberani. Mereka tidak ada yang takut untuk tampil di depan orang banyak. Bahkan kalau saya lagi diliput media, mereka yang diwawancara itu merasa pede dan senang.

Makanya saya sedih saat lulus CPNS karena masih belum tahu akan ditempatkan di mana. Harapannya semoga tetap di Medan jadi masih bisa bertemu murid-murid saya. Mohon doanya, ya!

U: Amiin, Kak. Ngomong-ngomong nih, saya lihat video kakak di IG yang lagi mempersiapkan pertunjukkan 300 gitaris sambil membawakan lagu Ebiet G Ade berjudul “titip rindu buat ayah”, dikomentari “amazing” oleh Kodaline. Kakak berteman sekarang?

SN: Iya. Kami saling berkirim pesan. Mereka bilang ke saya, “You rock!” Mereka juga terkesima dengan video 300 gitaris itu. Mereka juga berkata kalau mereka konser di Indonesia lagi, saya mau diberi tiket gratis.

Kodaline
Band yang berasal dari Irlandia ini terpukau dengan penampilan Sir Nata yang bernyanyi lagu All I Want bersama murid-muridnya. (Sumber gambar: amazon.com)

Setelah jadi viral saya jadi dikenal banyak orang. Pas naik ojek daring, dia juga salah satu pengikut saya di IG. Saya tanya, “Pengikut atau cuma stalking?” terus dia jawab, “Pengikut, kok, Bang.” Hahaha. Banyak kejadian lucu.

Biasa kan artis itu banyak pengikut tapi jumlah penonton lebih sedikit. Kalau saya, banyak yang nonton daripada yang follow. Hampir mau di-private tapi nggak jadi, deh. Biarin aja orang stalking.

U: Wah, menyenangkan sekali! Sebelum wawancara ini berakhir, apa Kakak punya pesan untuk Sahabat Ublik yang ingin terjun ke bidang seni musik?

SN: Lakukan semuanya dengan hati.

U: Sip, Kak. Terima kasih, ya!

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

alam , puisi

[Ruang Fiksi] Dengarkan Suara Alam yang Ingin Bersajak

kopi jos , minuman khas Indonesia

Deretan Minuman Khas Indonesia Paling Nikmat Saat Musim Hujan