in

Siapa Bilang Kita Harus Bangga Menjadi Bangsa Indonesia?

Sebuah refleksi kemerdekaan…

Terlahir di mana kita, dari rahim ibu yang mana, dan menjadi bagian dari bangsa apa bukanlah kuasa kita untuk memilihnya. Tapi di kemudian hari, bagaimana sikap dan cara pandang kita kepada tanah air adalah pilihan kita sendiri. Memberikan sesuatu untuk bangsa dan negara juga merupakan misi tersendiri, tentunya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun kemerdekaan Indonesia ke 73, pada tanggal 17 Agustus tahun ini, Ublik akan mengajakmu menghayati kembali tentang makna kemerdekaan. Mensyukuri sesuatu yang membuat kita masih dan akan terus mencintai Indonesia. Lalu mencoba menanyakan ke dalam diri kita sendiri: apakah kita bangga menjadi bangsa Indonesia?

Baca Juga: Nagari Pariangan, Desa Di Indonesia Terindah Sedunia

Mungkin kamu sudah cukup sering mendengar betapa melimpahnya sumber daya alam yang bangsa Indonesia miliki, tapi mengapa itu belum cukup untuk menjadikan kita sebagai bangsa yang maju? Hampir semua kemudian menunjuk pada orang-orangnya yang kurang berkompeten. Atau kalau ada yang berkompeten, konon, mereka memilih untuk berkarir di luar negeri karena memang lebih dihargai oleh orang-orang di luar sana. Meskipun tidak semuanya. Baiklah, sebelum tulisan ini meluas ke mana-mana, mari kita coba sama-sama sebutkan: hal positif apa yang bisa kita lihat dari Indonesia? Jujur saja, lebih mudah mana saat menyebut hal positif atau hal negatif?

Tari Bali, Salah Satu Kekayaan Budaya Indonesia (Sumber: Pixabay)

Mengapa Cinta Indonesia?

Sejak kecil kita diajarkan untuk mencintai tanah air, lengkap dengan cara-caranya. Tapi jarang kita diajak berpikir kritis mengapa harus cinta dan bangga dengan bangsa Indonesia? Selain karena itu kesan yang bersifat personal, menjadi Indonesia juga sudah jadi semacam identitas yang menempel sejak lahir. Jadi apa artinya kebanggaan seseorang atas status warga negaranya? Bukankah kebanggaan itu muncul atas sesuatu yang berhasil dicapai karena perjuangan, bukan karena identitas sosial yang sudah secara otomatis didapat sejak lahir dan belum mengerti apa-apa.

Dilahirkan sebagai orang mana, sepertinya itu bukanlah skill, prestasi, atau hal yang terlalu dibanggakan di depan orang lain. Karena takdir, kita lahir dan bertempat tinggal di Indonesia, sehingga otomatis jadi orang Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Begitu juga dengan warga negara lain, umumnya mereka cenderung mencintai negaranya sendiri dibanding dengan negara lain karena memang sejak lahir, di situlah mereka mengenal kehidupan.

Baca Juga: Terpilih Menjadi Anggota DK PBB, Inilah Peran Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Sebentar. Ternyata bukan itu poinnya. Kalau berkaca pada pendapat Sacha Stevenson dalam salah satu vlognya di YouTube, “It’s because you may not appreciate your passport. Kamu orang Indonesia? Ini kesempatan untuk bersyukur. You’re already here. Indonesia has a lot of the things that the world has to offer.” Ya, kenyataannya Indonesia punya segalanya yang diimpikan banyak orang di penjuru dunia. Di saat yang sama, orang Indonesia sendiri ada yang mengapresiasi kekayaan bangsa sendiri, sayangnya dengan cara yang keliru. Atau di kesempatan lain, banyak orang Indonesia yang sibuk dengan perkaranya masing-masing, entah itu urusan pendidikan, ketersediaan pekerjaan, nilai tukar rupiah, wisata, toleransi beragama, dan tentu saja politik.

Mencintai dengan Penuh Kesadaran

Bukan waktunya lagi untuk memberitahu tentang betapa indahnya alam Sabang sampai Merauke, betapa kaya dan luhurnya budaya yang kita punya, betapa ramahnya masyarakat, beragamnya kuliner Indonesia, bahwa ternyata pulau terbaik di dunia adalah milik Indonesia, dsb. Yang jelas, masih ada banyak orang Indonesia yang belum tahu atau (masih) tidak peduli dengan apa yang dimiliki negeri sendiri. Atau lebih tepatnya: apa yang sudah diberikan Tuhan untuk kita, melalui negeri ini.

Jadi apakah kita bangga menjadi bangsa Indonesia? Apakah masih mencintai Indonesia? Sekadar untuk mengingatkan diri dan siapapun yang masih menyediakan ruang di hatinya untuk menghargai bangsanya, coba kita tanya pada diri sendiri: sudah memberi apa untuk Indonesia?

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengoptimalkan Bonus Demografi untuk Pembangunan Bangsa?

Dalam banyak hal di kehidupan ini, kita bisa saja mencintai sesuatu tanpa alasan. Tapi, sepertinya agak berbeda ketika bicara tentang negara. Cinta kepada negara adalah soal kesadaran. Kesadaran dari warganya maupun kesadaran sebuah negara itu sendiri. Seperti kata budayawan Prie GS : “Ada negara sadar ada negara tak sadar. Ada negara yang tak sadar dan menyangka keadaan baik-baik saja sampai tak menyadari bahwa semua kelancaran itu bertumpu di atas hutang. Dengan hutang itu pula semua menyangka negara sedang bertumbuh. Jalan-jalan penuh dengan macet kendaraan dan BBM bersubsidi dipakai juga untuk geng motor kebut-kebutan. Begitu murah harga BBM itu sampai penganggur saja bisa membeli hanya untuk kebut-kebutan liar di jalanan.”

Jalan raya (Sumber: Pixabay)

Apakah Menunggu Diakui Bangsa Lain Dulu?

Dalam sebuah videonya di YouTube, Felipe Valdes bule Brazil yang mengaku cinta mati dengan Indonesia dan bisa menyanyikan Indonesia Raya itu berkata “Aku tahu suatu hari aku harus pulang ke Brazil. Tapi hari ini aku gak bisa membayangkan kehidupanku jauh dari Indonesia, jauh dari orang Indonesia, jauh dari nasi goreng. Ok, aku akan memasak di Brazil, tapi itu beda. Aku gak akan dengar suara dari mobil eskrim..,” katanya dengan mata berkaca-kaca sebelum kemudian melanjutkan ”aku pasti aku rindu keluargaku, tapi sekarang orang Indonesia keluargaku. Belum tahu sampai kapan aku tinggal di sini, tapi aku harap suatu hari bisa berbicara seperti orang Indonesia. Mau jalan-jalan lagi, ke banyak kota di Indonesia.”

Itu hanya salah satu contoh betapa bangsa Indonesia dicintai oleh orang-orang dari luar sana. Such a nice warm country. Orang-orangnya saling memperhatikan satu sama lain, ramah tamah, menjunjung nilai kekeluargaan, persaudaraan, dan kerukunan. Seharusnya itu menjadi salah satu kekuatan bagi negara ini. Demikianlah kata mereka. Atau mungkin warm dalam arti sebenarnya, di mana orang tidak akan mati kedinginan karena hanya ada dua musim dan suhu udara yang stabil.

Tak ada yang salah dengan apresiasi yang tinggi terhadap karya, kepemilikan, atau sumber daya bangsa lain. Keberadaan bangsa Indonesia pun salah satunya adalah didukung pengakuan dari bangsa lain, sebagaimana warga dunia yang saling menghormati. Tapi dengan begitu, apakah menunggu untuk diakui bangsa lain dulu baru kita bangga jadi orang Indonesia? Apakah perlu kekayaan tanah air kita diklaim pihak lain baru kemudian percaya diri dan merasa memiliki?

Gunung Bromo (Sumber: Pixabay)

Meskipun mungkin saja ada banyak hal menarik di luar sana yang membuat luar negeri terlihat lebih hebat? Semoga kita bukan bangsa yang bermental inferior. Bukan juga tentang chauvinisme yang mencintai negara secara buta. Bagaimanapun, mudah-mudahan kita tetap bisa merawat optimisme untuk berkarya, tidak lelah untuk menemukan cara terbaik untuk mencintai negeri ini, dengan segala kurang lebihnya.

 

(Sumber gambar utama: Pixabay)

Memahami Kembali tentang Kecerdasan dan Pendidikan Alternatif di Indonesia

Cara Mengatur Keuangan Pribadi

9 Cara Mengatur Keuangan Pribadi Anak Kost