Perasaan yang pertama kali menghampiri ketika dinyatakan lulus setelah melewati tahap pendadaran adalah perasaan lega. Jujur saja, saya sampai ingin menari di ruang sidang—tenang, seluruh dosen sudah keluar ruangan.

Wajah saya sampai tak bisa berhenti tersenyum saking senangnya. Badan sudah tidak mengeluarkan keringat dingin lagi. Irama jantung juga telah kembali normal.

Rasa lega itu bercampur dengan bangga sebab setelah lika-liku rintangan demi rintangan saya hadapi, saya berhasil melewati tahap yang sangat mengerikan, setidaknya bagi saya. Kenapa? Karena setelah lama tidak presentasi di depan kelas, saya merasa lebih gugup dan takut salah jawab.

Meski saya mengerjakan skripsi itu sendiri, tetapi pengetahuan yang tak sebanding dengan milik para dosen pembimbing dan dosen penguji menambah kecemasan saya. Takut saja kalau sampai hasilnya tak sebaik yang diharapkan atau malah tak bisa jawab sama sekali.

Kejadian sebulan lalu tersebut masih membekas di ingatan saya. Kalau diingat lagi, saya ingin mengutuk diri yang begitu mudah memikirkan hal-hal yang bahkan belum terjadi. Merasa takut bila terjadi ini itu. Namun karena doa orangtua dan kuasa Tuhan, akhirnya titel sarjana berhasil didapatkan.

Yesssss, lulus! (Sumber gambar: today.line.me)

Apakah Kawan memiliki pengalaman yang sama?

Pasti setuju ya kalau dikatakan mengerjakan skripsi memang membutuhkan kekuatan ekstra. Kekuatan untuk menghadapi dosen yang tak semuanya ramah, kekuatan untuk merevisi judul ketika ditolak dosen pembimbing, kekuatan untuk mengetik halaman demi halaman sampai menjadi skripsi cantik yang sudah dijilid, kekuatan untuk bersabar ketika ditimpa banyak halangan.

Itu semua untuk apa? Agar kita bisa lulus dan tidak lagi membayar biaya kuliah. Hehehe… Ngaku deh, salah satu alasan kalian ingin cepat lulus karena masalah itu kan? Dan, alasan lainnya adalah ingin cepat-cepat kerja supaya mandiri secara finansial.

Baca jugaKamu Fresh Graduate? Inilah 9 Checklist yang Perlu Kamu Miliki

Setelah Lulus Lalu Apa?

Kelegaan yang dirasakan setelah pendadaran tidak akan bertahan lama. Sejatinya itulah proses kehidupan manusia, beralih dari satu fase ke fase selanjutnya. Usai sudah mengenyam masa kuliah S1, muncul tuntutan untuk mencari kerja atau mungkin malah melanjutkan studi dengan beasiswa.

Selaku fresh graduate yang terlalu banyak berpikir, terkadang ada saja pikiran yang memelesat masuk ketika saya sedang bengong. Apakah ada pekerjaan yang tepat untuk karakter saya di luar sana? Apakah di antara banyaknya lowongan kerja dan lebih banyak lagi pencari kerja, saya bisa bersaing? Apakah saya punya kemampuan mumpuni untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sudah mapan?

Yah, aneka pertanyaan yang cenderung sering muncul ketika urusan skripsi kelar itu kerap menghantui. Tetapi saya yakin, siapa saja tentu ingin mendapatkan pekerjaan yang memiliki lingkungan positif dan gaji yang cukup.

Pekerjakan saya dong (Sumber gambar: loker.id)

Ada tipe fresh graduate seperti saya yang merasa penting untuk berada di lingkungan kerja yang sesuai dengan gairah (passion). Biasanya tipe-tipe pebisnis atau yang bergerak di bidang tulis-menulis, seni, dan desain grafis serta pekerjaan lainnya.

Tapi jangan salah, lho, ada orang-orang yang memang suka bekerja di lingkungan kantor yang menurut orang lain sumpek. Ada orang yang ingin mengabdi ke masyarakat dengan menjadi PNS di pedalaman. Dan ada pula yang ingin bekerja sebagai tenaga pendidik karena memang dia suka membagi ilmu pada banyak orang.

Jangan mentang-mentang menjadi pekerja kantoran lantas dicap tidak bekerja sesuai kata hati. Siapa yang tahu isi hati orang, kan? Ceileh

Lalu, ada tipe fresh graduate yang tidak memikirkan itu semua. Yang dipikirkan adalah mendapat kerja dan pemasukan. Apa saja yang bisa dikerjakan akan ia lakukan meski impian terdahulu pupus di tengah jalan. Apakah itu salah? Oh, tentu tidak. Setiap orang berhak untuk memilih. Asalkan halal, tidak ada yang salah dengan itu. Terkadang kenyataan hidup tak sesuai dengan keinginan.

Jadi kalau tipe seperti saya, umumnya akan memilih dengan berbagai pertimbangan lowongan kerja mana yang akan dilamar. Karena saya ingin bekerja sebagai jurnalis atau penulis konten, saya biasanya memilih yang berhubungan dengan itu. Pertimbangan lain biasanya gaji dan lokasi. Kalau di luar kota, apakah gajinya bisa mencukupi kebutuhan saya atau malah kurang.

Baca juga: Apakah Kita Menempuh Pendidikan Demi Mendapatkan Pekerjaan?

Fresh graduate mencari kerja (Sumber gambar: qerja.com)

Selain itu, duka yang paling nyesek itu adalah kalau kita tidak diterima kerja padahal sudah berharap-harap cemas. Siapa yang pernah merasakan pedihnya ditolak? Ayo, acungkan jari!

Ketika bertemu teman-teman yang sudah bekerja, pasti ada perasaan minder karena kita masih menganggur. Walau masih masuk hitungan fresh graduate yaitu lulusan baru dalam waktu kurang dari 6 bulan, tetap saja terasa sulit. Ujung-ujungnya kita akan membandingkan diri dengan orang lain yang dipandang lebih sukses.

Meski dihantui pikiran-pikiran negatif yang mendiskreditkan diri sendiri, saya mengalami hal-hal yang menyenangkan  juga sebagai seorang fresh graduate. Karena saya ingin bekerja di dunia kepenulisan, saya pun mulai menjadi pekerja lepas. Saya jadi bisa belajar banyak di waktu senggang yang saya miliki.

Jadi pekerja lepas juga bisa (Sumber gambar: vxhandy.com)

Buatlah ‘Rencana B’

Selain dapat mengumpulkan banyak pengalaman, waktu menganggurnya seorang fresh graduate itu juga bisa kamu jadikan momen untuk lebih mengenali diri kamu sendiri. Apa sih yang ingin kamu kejar setelah lulus? Pekerjaan apa yang kamu inginkan? Kamu bisa melihat-lihat aneka lowongan di aplikasi atau situs pencari kerja yang seabrek.

Ketika rencana A tidak berhasil, buatlah rencana B. Apalagi yang mau fokus menjalankan bisnis, ini adalah waktu yang tepat. Menganggur sementara pun bisa digunakan untuk banyak membantu orangtua di rumah. Kalau orangtua senang, doa mereka pun lancar jaya.

Anehnya, ada perasaan senang ketika saya melamar di berbagai tempat. Entahlah, mungkin itu adalah suatu bentuk kebebasan karena saya bisa memilih perusahaan mana yang menarik tanpa memikirkan apa pun sebab belum terikat dengan pihak mana pun. Meski kisah akhirnya nanti bahagia atau kecewa, tak ada salahnya mencoba di berbagai tempat dan berdoa agar diterima.

Menjadi fresh graduate juga menjadi ajang untuk menggali kepercayaan diri dan kekuatan mental. Harus bersaing dengan banyak orang tidaklah mudah, tetapi itu membuat saya belajar untuk tidak setengah-setengah ketika sudah memutuskan suatu hal.

Bagaimana, Kawan? Sesama fresh gradute bisa lho saling mendoakan. Saya doakan ya semoga yang membaca artikel ini dan artikel lain di Ublik diberi kemudahan dalam mencari kerja. Hihihi…

Salam, seorang fresh graduate yang menyambi jadi penulis lepas.