in

Sejarah Media Sosial dan Hal-hal yang Jarang Kita Sadari di Internet

Selama ini kita sering menyebut bahwa internet adalah dunia maya. Benarkah seperti itu? Ada baiknya kalau kita lihat data ini. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 menunjukkan, pengguna internet di Indonesia saja mencapai 132,7 juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa (89,7 persen), pelajar (69,8 persen), dan pekerja (58,4 persen). Kaum muda menjadi pengguna internet tertinggi karena generasi milenial inilah yang paling banyak mencari informasi dan berkomunikasi melalui internet untuk berbagai kepentingan.

Baca Juga: Belajar Melestarikan Budaya Daerah melalui Media Kekinian ala YouTuber

Ilustrasi email (Sumber: Pixabay)

Barangkali harus diakui bahwa internet pada hari ini bukan lagi menjadi media alternatif, tapi sudah menjadi media arus utama yang memberi banyak pengaruh bagi berlangsungnya kehidupan sekitar kita. Bahkan, internet adalah kunci untuk hal-hal profesional. Para pekerja freelance sangat bergantung pada koneksi internet mereka. Tren yang sedang berkembang melalui internet di era media sosial bisa mempengaruhi keputusan para business owner untuk segera beradaptasi dengan model bisnis baru. Ya, memang banyak sekali pola-pola kehidupan masyarakat yang berubah, seiring dengan meningkatnya komunikasi dengan media sosial.

Perkembangan internet menjadikan banyak hal menjadi lebih mudah dan cepat diakses. Dari semua jenis konten internet, konten yang paling banyak diakses adalah media sosial, yaitu 129,2 juta orang (97,4 persen). Begitu pula dengan konten hiburan yang diakses 128,4 juta orang (96,8 persen). Media sosial memang menjadi media ekspresi semua orang, bahkan menjadi ‘pelarian’ dari kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi media sosial (Sumber: Pixabay)

Sejarah Media Sosial dan Pengaruhnya bagi Kita

Media sosial sudah banyak mempengaruhi hidup kita. Bisa dibilang kalau media sosial kini seolah-olah menjadi media ekspresi, ruang ‘pamer’, panggung untuk mencapai ketenaran, berbelanja, bahkan media untuk bekerja secara online. Peran media sosial untuk  personal branding tak diragukan lagi untuk meningkatkan pencitraan seseorang. Mengingat adanya media sosial yang menjadi salah satu bentuk gaya hidup bagi orang dewasa maupun anak-anak, aktivitas para pengguna di dalamnya bisa memberikan power tersendiri karena kontennya, entah itu teks, gambar, foto, audio ataupun video. Tapi tahukah kamu tentang sejarah media sosial?

Jauh sebelum Instagram populer di seluruh, sejarah social media sebenarnya sudah bermula sejak tahun 1971. Media sosial saat itu berkembang dalam bentuk pengiriman surat elektronik pertama oleh peneliti ARPA (Advanced Research Project Agency). Selang bertahun-tahun kemudian, barulah website mulai berkembang. Kemunculan website saat itu diawali dengan situs GeoCities pada tahun 1995.

Tahun 1997 – 1999 muncul media sosial pertama yaitu Sixdegree.com dan Classmates.com. Berikutnya, di tahun 2002, Friendster muncul dan menjadi media sosial yang booming di zamannya. Dilanjutkan pada tahun 2003 dan seterusnya, bermunculan media sosial lainnya, seperti: LinkedIn, MySpace, Twitter, Facebook, Instagram, dsb. Konon, terkait media sosial ini, Indonesia menjadi ‘pasar yang unik’ yang suka mempertahankan sebuah produk teknologi yang di negara lain sudah ditinggalkan.

Pada era di mana likes dan comment di media sosial sama pentingnya dengan apresiasi di dunia nyata, keterikatan manusia dengan jejaring sosial menjadi fenomena tersendiri. Ada beberapa orang yang kemudian bertemu kawan lama hanya melalui obrolan online. Bahkan terkadang media sosial selain mendekatkan yang jauh, juga mejauhkan yang dekat. Belum lagi kalau ada hal-hal random yang mendadak viral dan menjadi tren. Itu semua terjadi karena masyarakat yang menentukan tren budaya.

Saat Aktivitas di Jejaring Sosial menjadi Penentu Penerimaan Kerja

Sudah bukan hal zamannya lagi kalau penerimaan kerja hanya ditentukan dari tes dengan media konvensional atau wawancara tatap muka. Saat ini, pihak HRD di berbagai perusahaan mulai melihat ‘jejak-jejak digital’ para pelamar kerja. Hal itu menjadi pertimbangan penting dalam perekrutan calon karyawan.

Baca Juga: Inilah 10 Skill yang Paling Dibutuhkan di Tahun 2020, Kamu Sudah Memilikinya?

Apakah aktivitas di media sosial itu efektif untuk menilai kualitas seseorang? Kalau bicara soal kualitas seseorang, memang banyak faktor yang diperlukan. Tapi setidaknya ada hal-hal yang jadi perhatian perusahaan terhadap calon karyawannya, misalnya: bagaimana orang tersebut berinteraksi dengan temannya, apakah ia orang yang suka nyinyir, apa saja aktivitas orang tersebut selain kerja, bagaimana keterlibatannya di kelompok sosial, dan sebagainya.

People connection (Sumber: Pixabay)

Bagaimanapun perkembangan teknologi internet, alangkah baiknya jika kita tidak sampai mengalami ketergantungan atau menjadikan dunia maya itu sebagai prioritas. Kenyataannya, ribuan akun media sosial berusaha merebut perhatian kita setiap hari. Di saat yang sama, ada orang-orang yang menyalurkan hasrat berkomentar tapi ‘berlindung’ di balik akun anonim. Yang lainnya menjadi massa penggembira di tahun-tahun penuh gejolak, khususnya dunia politik.

Memang mereka hanya ingin merebut perhatian, dan tidak sedang mengajak kita mengurus hal-hal substansial. Banyak kegaduhan yang lebih dahulu disebarkan, lalu mereka bisa mengubah persepsi masyarakat sedemikian rupa. Tanpa harus menggurui, tampaknya nasihat ini akan terus berlaku: coba lebih bijak menggunakan media sosial. Kembali ke tujuan awal diciptakannya media sosial sebagai penghubung antara orang-orang yang terpisah jarak atau teman lama tidak bertemu.

 

(Sumber gambar utama: Pixabay)

Ternyata Ada Hukum Fisika di Balik Ucapan “Masuk Pak Eko!”

Apa yang Salah dari Bahasa Inggris Anak Jaksel?