Bandara Kemayoran (Sumber: pbs.twimg.com)

Kemayoran saat ini lebih dikenal sebagai nama kecamatan di Jakarta Pusat atau identik dengan Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang selalu digelar setiap tahunnya. Perlu kalian tau, dulu daerah Kemayoran terkenal dengan bandara internasionalnya.

Sebelum ada Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, Bandara Kemayoran menjadi pusat penerbangan di Indonesia. Bahkan menjadi bandara internasional pertama di tanah air.

Pilihan Editor:

Selama tahun 1960-1970 nama Bandara Kemayoran cukup terkenal. Jauh sebelum dibangunnya Bandara Soekarno-Hatta. Bandara yang berkode KMO itu lebih dulu terkenal ketimbang bandara Changi kebanggaan Singapura.

Flight 714 Tintin (Sumber: wings900.com)

Uniknya Bandara Kemayoran sempat menjadi bagian dari serial komik Tintin. Tintin merupakan karya komikus asal Belgia yang bernama Georges Remi. Di dalam komik Tintin yang berjudul “Flight 714” terbitan tahun 1968, menceritakan Tintin dan kawan-kawannya yang mendarat di Bandara Kemayoran saat akan pergi menuju Sydney, Australia.

Sejarah Bandara Kemayoran

Bandara Kemayoran mulai dibangun pada tahun 1934. Setelah enam tahun bandara ini resmi dibuka, tepatnya pada tanggal 8 juli 1940. Namun, tanggal 6 Juli bandara ini sebenarnya sudah mulai beropersi. Pesawat DC-3 milik Hindia Belanda menjadi pesawat udara pertama yang mendarat di Bandara Kemayoran. Pesawat tersebut terbang dari lapangan udara Tjililitan, sekarang bernama Halim Perdanakusuma .

Bandara Kemayoran juga pernah menjadi tempat pameran kedirgantaraan pertama di Indonesia. Pameran tersebut dimulai tepat pada hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina pada 31 agustus 1940.

Pada masa orde baru, Bandara Kemayoran menjadi sangat ramai. Pada tahun 1980, frekuensi penerbangan bisa mencapai 100 ribu pesawat setiap tahunnya. Itupun juga sudah dibagi dengan Bandara Halim Perdanakusuma. Setelah itu pada tanggal 1 april 1985, Bandara Halim sudah menjadi bandara internasional kedua di Indonesia.

Karena untuk memenuhi kuota penerbangan yang tinggi, pemerintah Indonesia mempersiapkan bandara yang baru di daerah Cengkareng. Setelah siap untuk digunakan, bandara di Cengkareng resmi menjadi bandara utama di Indonesia. Bandara Cengkareng dibuka pada 1 april 1985 dan menjadi pusat penerbangan di kota Jakarta. Bandara tersebut dinamai Soekarno-Hatta. Setahun sebelum Bandara Soekarno-Hatta mulai di buka, Bandara Kemayoran sudah resmi di tutup dan tidak lagi beroperasi melayani penerbangan.

Alasan dari penutupan Bandara Kemayoran dikarenakan terlalu dekat dengan basis militer Indonesia. Yang berpengaruh pada menyempitnya penerbangan sipil, sehingga dapat mengancam lalu lintas Internasional. Setelah tak dipakai, area bekas Bandara Kemayoran dikelola oleh Badan Pengelola Kompleks Kemayoran (BPKK). Pada tahun 1992, bekerja sama dengan pihak swasta, pemerintah membangun rumah susun di Jalan Dakota yang dulunya sebagai tempat parkir pesawat. Pembangunan tersebut merupakan cikal bakal Kota Baru Bandar Kemayoran.

Bandara Kemayoran Zaman Sekarang

Bandara Kemayoran mempunyai dua landasan pacu yang saling bersilangan. Pertama, landasan pacu utara-selatan (17-35) dengan ukuran 2475 x 45 meter. Yang kedua, landasan pacu barat-timur (08-26) dengan ukuran 1850 x 30 meter. Sekarang kedua landasan tersebut menjadi Jalan Benyamin Syueb dan Jalan HBR Motik.

Menara ATC Kemayoran (Sumber: wikimedia.org)

Pra sarana bandara kemayoran yang kini sudah sulit untuk dilihat adalah tempat parkir dan hangar pesawat. Selain kedua landasan pacu yang sudah beralih fungsi tersebut, menara Air Trafic Control (ATC) dan ruang tunggu penumpang juga masih ada. Hanya saja, kedua bangunan tersebut kondisinya agak kurang terawat.

Menurut beberapa sumber, dulunya menara ATC bekas Bandara Kemayoran merupakan menara ATC pertama di Asia. Bangunan itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Indonesia. Sedangkan di gedung Terminal A bandara, terdapat tiga relief bertemakan manusia, Sangkuriang, serta flora dan fauna .

Sisa-sisa Bandara Kemayoran memang pantas diabadikan menjadi museum. Di sanalah sejarah penerbangan di Indonesia bisa terlihat. Menjadikan sisa bangunan bandara menjadi museum menjadi pilihan yang ideal.