in

[Ruang Fiksi] Sedekah Bumi Memerah

Terik matahari menjaring bulat-bulat desa Dogog. Angin menerbangkan debu-debu. Nampak cokelat keemasan. Panas justru menyulut semangat. Memarunkan sedekah bumi desa Dogog yang memerah.

Setiap ujung tahun, desa Dogog melaksanakan sedekah bumi. Tiga hari tiga malam balai desa disemuti warga. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa bersuka cita. Hari pertama, balai desa dirayapi para orang tua untuk pengajian. Hari kedua, dua gunungan berisi hasil bumi—sayur-mayur dan bebuahan diarak dari rumah petinggi menuju balai desa. Hari ketiga, wayang kulit siap berlaga semalam suntuk.

“Pak, Mak, seminggu lagi desa kita ngadain sedekah bumi, to? Ratri ikut jadi panitia. Ratri minta uang buat nyewa kebaya dan rias ke salon ya, Mak. Malam wayangan nanti, Ratri jadi pagar ayu.”

Mak Sumi dan Pak Marto hanya tersenyum kecut. Sekecut bau irisan singkong rebus yang ditata di atas rigen. Ratri mengangkat rigen-rigen itu untuk dijemur di bawah sinar matahari. Bersenandung bahagia. Gadis tujuh belas tahun itu tak tau orang tuanya tengah pusing. Memikirkan kedua adiknya yang sebentar lagi masuk SD dan SMP.

Keluarga Pak Marto termasuk keluarga sederhana. Seperti mayoritas warga lainnya yang bekerja membuat kripik singkong. Hanya itu yang bisa orang tuanya kerjakan. Tak mempunyai ijazah membuat mereka tak mempunyai pilihan pekerjaan.

Bahan membuat kripik adalah singkong pahit. Anehnya, singkong-singkong itu warga dapatkan dari tengkulak desa lain. Padahal, desa Dogog dikelilingi kebun-kebun yang ditanami singkong. Iya, desa yang dipimpin oleh Pak Inggi, singkatan dari Pak Petinggi—sebutan untuk kepala desa ini memang tandus dan tidak memiliki sawah.

Ketika subuh menyemuti desa Dogog, Mak Sumi mengupas singkong. Dibantu oleh adik Ratri yang berusia dua belas tahun, Nila. Pak Marto ngasu di sumur tetangga belakang rumah. Karena air sumur mereka bau comberan dan berwarna hitam. Setelah diuji di lab oleh petugas puskesmas, sumur mereka tercemar limbah. Warga yang sembarangan membuang air rebusan singkong membuat beberapa sumur tercemar.

Kaporit dan tawas yang diberikan puskesmas tidak mempan. Sehingga membuat beberapa warga, termasuk Pak Marto harus ngasu untuk keperluan sehari-hari. Ratri sendiri setiap pagi menunggu ember-ember di kolahnya terisi penuh. supaya dapat mencuci piring dan baju. Lantas Pak Marto akan mengambil ranting-ranting pohon waru dan mlandingan yang sudah dikeringkan. Tentu juga memetik klaras untuk menyulut tungku.

memerah , bumi

Sore itu, keluarga Pak Marto duduk bersantai di atas lincak belakang rumah. Mak Sumi metani kepala Nila yang banyak tumo. Anak bungsu mereka, Didi, tengah asik main mobil-mobilan. Mainan itu Pak Marto rakit dari gagang daun pisang dan batang lidi.

“Pak, Mak, Ratri sudah tanya-tanya. Untuk sewa kebaya dan rias di salon, biayanya 200 ribu.”

“Nduk, kamu kan tau to, sebentar lagi adi-adimu bakal masuk sekolah. Bapak sama emak lagi butuh uang banyak.”

Ratri menghela napas dengan berat. Matanya menatap lengkung sinar kemerahan di langit barat. Ia ingin melarungkan segala hasrat bersama tenggelamnya senja. Namun senja adalah keindahan yang tak menerima sesak di dada manusia turut menyertainya.

Hari pertama rangkaian acara sedekah bumi berlangsung. Para tamu undangan dari desa lain datang ke balai desa panas berdebu. Gulai kambing menjadi menu langganan. Ditemani kerupuk, teh botol, buah-buahan, kacang rebus, dan tak ketinggalan, camilan khas Dogog—keripik singkong. Lantas malamnya disambung dengan pengajian.

Hari kedua lebih ramai lagi. Dua gunungan bersanding di depan rumah Pak Inggi layaknya pengantin baru. Gunungan pertama berisi sayur mayur seperti terong, kacang panjang, tomat, cabai, dan pare. Gunungan kedua berisi bebuahan seperti pisang, apel, jeruk, bengkoang, belimbing, dan jambu air. Dua gunungan dengan tinggi dua meter dipanggul pemuda menuju balai desa. Arak-arakan riuh, mengular memenuhi jalanan desa.

Barisan pertama adalah gadis-gadis SMP berpakaian serba putih membawa spanduk. Menyusul barisan kedua adalah para perangkat desa memakai pakaian adat Jawa. Di belakangnya adalah ibu-ibu PKK, berseragam menenteng parsel buah. Disusul dengan para  pemuda pemanggul dua gunungan, delapan orang dibagi dua. Barisan terakhir adalah anak-anak SD dengan drum band-nya.

Arak-arakan ini disebut kirab budaya. Sebagai rasa syukur terhadap rezeki yang Tuhan berikan.  Sampai di depan balai desa, kedelapan pemuda pemanggul itu mengelilingi gunungan. Sambil berpegangan tangan agar tak diserobot warga saat didoakan oleh pak kyai. Usai paka kyai melantunkan doa, tangan-tangan saling berkaitan itu melepas. Warga yang telah mendesal di sekitar gunungan langsung menyerbu. Ada yang dapat buah, sayur, atau bahkan sekadar manggar untuk diberikan pada anaknya. Warga percaya hasil bumi yang didoakan itu membawa berkah.

Ratri tak pulang dengan tangan kosong. Ada tiga manggar warna merah, biru, dan kuning yang akan ia berikan untuk Didi. Usai ngaso di atas lincak, ia menenteng ember menuju sumur.

“Ratri?”

Air dalam timba yang berhasil ia derek dengan tuas tak langsung masuk ember. Matanya berpacu menatap wajah gadis sebaya yang memanggilnya. Ia adalah Ningsih, teman sekolahnya dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai Madrasah Tsanawiyah (MTS). Juga anak dari pemilik sumur itu.

“Aku pulang kemarin. Kamu tadi ikut kirab?”

Ia mengangguk.

“Kok masih mau sih? Aku si nggak mau. Panas. Berdebu. Ntar jerawatan. ”

Setelah ember-ember Ratri penuh, ia diajak masuk ke rumah Ningsih. Anehnya ia tak bisa menolak. Padahal sudah jelas. Seperti sejak saat kecil, jika ia diundang ke rumah ini, pasti untuk dipameri. Barangkali ia hanya penasaran, apa gerangan yang ingin ditunjukkan kepadanya.

Sekotak alat make up nampak menakjubkan dan asing bagi Ratri. Mengetahui hal ini, Ningsih, dengan mengangkat sudut bibir kanan ke atas menjelaskan. Menyebutkan nama dan fungsinya. Foundation, sunblock, pensil alis, eye shadow, maskara, blush on, lipstik, dan bedak. Selama ini yang Ratri tahu hanya bedak dan lipstik saja. Sedangkan yang lainnya, samar-samar ia pernah melihat ketika  menengok manten dirias. Tubuhnya yang keringatan karena ngasu itu tambah gerah. Padahal ada kipas angin di dekat mereka. Maka ia pamit pulang.

Bulan terang menggantung. Menengok ke kaca yang diselipkan di antara gendeng rumah keluarga Pak Marto. mereka sedang menonton tipi sambil makan keripik singkong dalam toples.

“Pak, Mak. Pokoknya Ratri tetep mau nyewa kebaya dan dirias. Ratri malu kalo cuma dandan seadanya. Apalagi kalau sampai dilihat Ningsih. Bisa-bisa tambah di-ece.”

“Lagian selama ini Ratri nggak pernah minta apa-apa sama bapak dan emak. Jadi Ratri minta, kali ini saja.” Suaranya memelan.

“Nduk, saat ini bapak belum ada uang. Harga kripik singkong sedang turun. Coba besok kalau ada rejeki. Bapak kasih kamu duit.”

Pagi bergumul di desa Dogog dengan cerah. Riang, Ratri menyapu halaman belakang rumah yang penuh dengan daun mangga kering. Ningsih juga keluar untuk menyiram bunga mawarnya.

“Kamu nanti malam jadi pagar ayu juga, Tri?”

Ia mengangguk dan tersenyum tipis.

“Datang saja ke rumahku bakda maghrib. Tak pinjemi alat make up. Tak dandani wis. Sante wae. Aku punya satu kebaya yang nggak kepake. Aku nggak suka modelnya. Eman-eman banget, padal mahal lho. Belinya di Jakarta.”

“Jangan sampe kejadian setahun lalu keulang lagi, Tri.”

Gadis berkulit kuning itu tersenyum sinis lantas masuk rumah. Ia tak tahu bahwa wajah Ratri memerah. Menahan malu dan amarah. Sementara di pawon, Mak Sumi sedang memotong tipis-tipis singkong yang telah ditiriskan. Singkong-singkong hangat berwarna putih kekuningan itu diletakkan di atas kalo. Kalo itu dilandasi dengan dingklik supaya singkongnya tak kotor. Sementara Pak Marto menata potongan singkong di atas rigen.

Usai membuang sampah di blumbang, Ratri masuk rumah dengan sesenggukan. Lantas bergegas masuk ke kamar. Bapak dan emaknya kahawatir. Lalu menyusul.

“Ada apa to, Nduk? Kok nangis?”

“Ratri hari ini jadi nyewa kebaya dan dirias kan Pak? Mak?”

Kedua orang tuanya bertatapan. Tak kuasa menjawab pertanyaan anak sulungnya. Seolah sudah mendapat jawaban, Ratri membuang pakaian-pakaian yang belum di-lempit di atas kasurnya ke lantai plester.

“Seharusnya bapak sama emak izinkan Ratri kerja ke Jakarta, seperti Ningsih!”

Ia membenamkan wajahnya ke bantal. Tangisnya kian keras.

“Tenanglah, Nduk. Jangan nangis lagi. Bapak akan pinjamkan uang.”

Senja menggantung, memerahkan langit biru barat. Ratri kembali menangis. Kali ini diikuti oleh Mak Sumi dan kedua adiknya. Tangan kapalan yang mengelus rambutnya tadi siang kini terbujur kaku. Pelipisnya robek, berdarah. Seluruh wajahnya lebam. Raga Pak Marto yang ditinggalkan ruhnya itu ditutupi jarik. Tewas digebuki warga. Ia ketahuan sedang mencuri pisang ijo di kebun desa sebelah.

Awalnya, Pak Marto tak berniat mencuri pisang itu. Ia hanya kelaparan dan berniat mengambil satu. Namun ia kemakan bisikan setan. Lantas mengeluarkan pisau lipat dari kantong celananya.

“Oh, jadi kamu yang beberapa hari ini maling pisang warga?”

Pak Marto kaget dan menjatuhkan pisaunya. Ia langsung berlari karena ketakutan. Si pemilik pisang meneriakinya maling. Mengerjarnya dengan warga yang mendengar teriakan itu. Pak Marto berlari sekuat tenaga tanpa berani menoleh ke belakang. Sialnya, ia terpeleset dan jatuh. Kakinya terkilir dan tak dapat berjalan lagi. Jadilah ia sasaran para warga. Kedua tangannya melindungi bagian kepala. Namun apa daya, justru perutnya ditendangi. Dan berpindah ke bagian kepala saat kedua tangannya berpindah ke perut.

Sedekah bumi memerah. Memarunkan darah.

 

Semarang, 10 Agustus 2018

 

Keterangan:

To: kan

Rigen: anyaman bambu berbentuk persegi panjang untuk menjemur tembakau

Ngasu: ngangsu

Klaras: daun pisang kering

Lincak: angkringan dari bambu

Metani: mencari kutu

Tumo: kutu

Adi-adimu: adik-adikmu

Ngaso: beristirahat

di-ece: dihina

sante wae: santai saja

eman-eman banget: sayang sekali

blumbang: lekukan tanah tempat membuang sampah

di-lempit: dilipat

jarik: kain batik untuk berkebaya

dingklik: tempat duduk kecil tanpa sandaran dari kayu

kalo: anyaman dari bambu berbentuk setengah lingkaran

Ditulis oleh Juli Maheswari

Penakut tapi penyuka mistisisme Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

teman toxic , lingkungan

Terjebak di Lingkungan Teman Toxic, Harus Bagaimana?

lembur

Yakin Mau Lembur? Perhatikan 5 Hal Ini Terlebih Dahulu