in

[Ruang Fiksi] Sebuah Catatan untuk Teman Seperjuangan

…Dari Ruang Tunggu di SMA Kita

Untuk teman seperjuangan, mungkin terlampau lama kita melewati ribuan detik dan tanda tanya. Ketika kita masih sempat saling bertanya tentang hari ini, tentang keterpakuan diri di ruang tunggu kita. Juga tentang saat tertahan di gerbang SMA kita itu, di sana ada coretan tengah hari di balik bait tanpa rencana.

Saat hujan dari atas langit sekolah kita membahana, melarutkan seluruh mimpi, membawa pulang harapan ujung langit timur, di ruang tunggu: tempat di mana aku dan kalian ada tapi tak selalu dapat menanggung dan menjawab khayalan, bisakah kalian mengajariku berhenti melangkah apabila lelah? Juga menyempatkan diri berbesar hati ketika kalah?

Tidak sia-siakah berdiam di ruang tunggu kita, menghias tepian baris-baris masa depan. Tanpa sesal, tanpa sedih, tanpa menunggu hari berubah jadi terang.

Di tempat kita masing-masing berangkat ke hari yang lain, berpijak di seberang sana. Anak-anak bangsa, calon pahlawan kita masih berjiwa merdeka. Akan terus kuingat cara mereka memberi warna dunia.

Di ruang tunggu, pada halaman SMA kita waktu itu, tempat pembayaran cita-cita lama. Bahwa ujian paling absurd Jumat itu adalah sejarah mahal yang kita punya.

Bahwa pencarian ilmu di sekolah kita adalah soal kesadaran, soal ketahanan diri, soal cara melupakan reputasi. Adalah pelajaran bahwa berlalunya pagi tak boleh disesali, dan kesalahan yang sama mestinya tak usah diulangi.

Sekian hari yang menyalin rupa-rupa siang kita di balik semua elegi lusuh tanpa pesona, sebagian kita bergantung pada mimpi dan cita-cita, berserah pada Sang Mahasempurna, melewati batas tiada: kita akan berjuang setengah hati, atau berpeluh, ikhlas, hingga nanti?

Oh iya, bisa jadi terlampau sebentar ya, teman seperjuangan. Di bangku SMA, kita belum banyak tahu persoalan, kecuali siang dan perhitungan: hidup tergantung dari kecepatan kita melangkah.

Sedang dari ruang tunggu samar kudengar, buku catatan kita seperti mendoakan dirinya sendiri. Apa kita masih ingat isinya 8 tahun lagi? Bahwa kelak, bekas pijak langkah kita akan tampak nyata dari atas cakrawala. Kemudian dari ruang tunggu kita, akan segera berangkat menghias dunia.

SMA N 1 Wonogiri, 2011 (Menjelang kelulusan)

teman seperjuangan , SMA
Teman seperjuangan SMA, apa kabar? (Sumber: referensi.data.kemdikbud.go.id)

…Tentang Teman-teman Seperjuangan

Kita berangkat dari pagi yang sama. Di kelas, dulu kita sempat dilanda rasa bosan dan kantuk yang berat. Ah, tapi itu hanya sesekali. Sebab selebihnya kau dan mereka, begitu tekun menghitung banyak perkara; Trigonometri, aljabar, stoikiometri, termodinamika, dan hal-hal yang… entahlah! Mengapa kita dulu begitu terpesona oleh hal-hal seperti itu?

Teman-teman seperjuangan, masih aku simpan gelak tawa itu di dalam album kenangan. Biarpun ucap dan laku, nama, juga tulisanku akan mengabur sendiri di lajur waktumu kini, tak akan lupa aku pada peristiwa pagi hari. Kita terlambat sepuluh menit, lalu tertahan lagi di gerbang yang sama. Dan pada pagi lainnya, kita menjelma jadi fragmen cita-cita. Ada ribuan hari bebas, sesudah hari ini kita selesaikan.

Dan aku ingin memanggil jiwa-jiwa yang mendiami banyak kota sekarang. Ingin membalik ulang ingatan, sebelum nanti kita dihentikan pada garis dan waktu, juga pada jeda masa depan.

2013

 

…Untuk Kawan yang Masih Ingat Tanah Kelahiran

Lihat di sana, sinar masa kecil masih benderang. Kampung halaman dan cahaya perak di tepi jalanan. Jalan setapak dan pematang. Menukik kenangan landai, di seberang usang perkampungan
kusut masai lampu penerang desa kita. Tapi ia adalah titik zenit bagi segala metafora ingatan

Kepada kawan yang barangkali di pundaknya kini adalah beban atas semua jiwa yang tertinggal di desa, melambunglah bersama cita-cita. Bahwa kau adalah kausalitas segala doa ibumu. Esok kau dan aku akan memuncak bahana.

Kepada kawan sepermainan dan seperjuangan di seberang sana, kini, apakah malam-malammu sama dengan kegaduhan yang kuciptakan? Ketika sesekali aku begadang mengetikkan algoritma?Apakah kau masih menempatkan namaku pada daftar ingatan?

Mungkin menembus lajur tiada, lalu meracau pada ambiguitas waktu. Melenggang pada lajur bebas tanpa segala titik batas. Bahkan, menyusup di kerumunan manusia seribu perkara. Sekalipun perkara menurutku kini, adalah bayang samar tentangmu, dan sekaligus rindu yang ambigu. Tapi sesamar apapun rindu ini adalah ambiguitas itu sendiri. Sebab kata orang, dunia kita kini berbeda. Tak ada lagi Matematika di bukumu. Tak ada lagi PR yang seperti dulu kau selalu menyalin punyaku. Tak ada lagi catatan yang selalu kau banggakan, karena tulisanku tak pernah lebih rapi darimu!

Yang pasti padamu, kawan sepermainan, yang masih ingat jalan pulang ke kampung halaman yang sama, jalan yang kita lintasi bisa saja berbeda, ranah yang kita tuju setiap pagi mungkin tak serupa lagi. Tapi doa pada ibu bapak kita sama; menjadi sebab pertama jika ia benar-benar harus berbangga.

Ah, kawan, di seberang kampung halaman dan cahaya redup di tepian ingatan, tahukah kau di depan mata kita, ya, di depan kita itu, ada sinar masa depan. Sungguh, aku katakan dengan sederhana: hari ini lebih benderang dari segala terang.

 

…Perempuan di Batas Waktu

Jika angin memanggilmu ke dalam retorika waktu. Maka kabarkan apapun mimpi yang menjulang ke petala langit. Padamu yang mengeja terik, melafalkan doa, atau sekadar meracau di malam buta: Adakah kiranya, kita ini noktah di semesta raya? Lantas ke mana perjalanan itu bermuara?

Kita sedang menjangkau cahaya di atas cahaya, dan perkenankan sepotong demi sepotong bait menerka tanpa pola, menafsir metafora sederhana yang kutulis tergesa. Semoga mengabadi bersama jejakmu dari seberang segala.

Kita, barangkali di balik tabir itu adalah keniscayaan tentang sesuatu yang tersebut perjuangan, ukhuwah, atau kau punya nama sendiri untuk entitas kita dalam lingkaran itu? Dan ternyata kita memang sudah lama tidak bersua lagi.

Sebagian kita sudah mengecilkan jarak dengan hari-hari cemerlang di depan. Di sana ada pesan dari langit yang harus terbacakan dalam segala dimensi rasa.

Harusnya kita semua telah cukup dewasa. Anggap saja kau dan aku tak pernah mendengar cerita betapa ambigu menjadi tua, karena kita masih ingin bebas menggapai hal setinggi apapun, mengabadikan, memberi dan menuliskan kisah. Apapun.

 

…Dalam Pengembaraan

Aku tahu kau sudah paham betul soal permainan dan senda gurau yang ditawarkan dunia tanpa henti ini. Dan kita, mudah-mudahan adalah kilau yang dititipkan pada beragam keteraturan. Kemudian hari ini rindu silih berganti dalam segala cerita dini hari: ternyata masing-masing kita sekarang sibuk dengan terlalu banyak peristiwa, juga rencana.

Kemudian, hei, teman seperjuangan, kiranya kita mulai menjangkau masa yang menua. Sebagaimana batas cakrawala: biarkan mimpi itu mengangkasa. Mengigau tak mengapa, misal kuajak kau berceloteh soal Andalusia.

Peradaban yang dihampar dari sejuta memorabilia, Mezquita dan puisi surga di tiap dinding putihnya. Ia sejarah yang tak selesai kuingat, masih mentransformasi peradaban segala cerita: Cordoba, Sevilla, dan kilau bening dinding Bukit Granada,atau Al Hambra yang tidak henti memerah.

Lover’s Rock, di Antequera: el corazon de Andalusia, pun kita akan menyimpan jejak di sana. Menyeka luka hikayat lama: sebab (pendahulu) kita pernah menjangkau 2/3 dunia. Lalu jika kita, atas nama yang mengembara dalam silau langit bebas. Tak mengapa jejak ringkih dan sesekali perih. Kita bukan shahabiyah, katanya. Tapi kau tahu, kita tetap akan menjejaki hamparanNya.

Tidak mengapa, belum paham sekali isi dunia. Mengkamuflase diri jadi metafora.

Sekali lagi, teman seperjuangan, kita merencanakan pengembaraan. Menyelinap petala langit. Ingin pamit melanglang buana, izin melihat angkasa raya. Lebih lama.

teman seperjuangan , pengembaraan
Andalusia, Spain

…Di Batas Waktu

Sungguhpun di masing-masing tempat berpijak, kita mengerti cara untuk mengeja sepi, pada bilangan usia yang menepi. Dalam tiap detik yang belum tersaksikan: dari batas waktunya.

Biar kita diam sejenak seperti tersudut, dalam sekat-sekat yang rikuh. Tapi barangkali dia sedang berteguh, Untuk bahkan tidak sekali pun menengok ke hijab itu. Jika kita perempuan di batas waktu, meracau tentangnya: yang namanya tertulis di Lauh Mahfuzh.

Tidak perlulah kita belajar menerka getar itu hari ini. Biar kita rimpuh seperti detik yang lusuh. Kita tak ingin berspekulasi pada rautnya. Sebab di batas waktu, nanti pada saatnya, dia datang menyudahi sepi.

 

Epilog Perjalanan Usia

Dan pada tiap perihal detik dan ilustrasi perjalanan. Kita masih akan membaca semesta, memahami apa saja. Yang kita harus mengerti: al ummu madrosatul ula…

Sebelum epilog perjalanan menyudahi usia, kabar baiknya kita bisa memilih terasing di kilau dunia, atau menapak lajur ke surga. Monolog singkat ini, masih belajar mentafakuri takdir.

Nanti jika laju waktu sedemikian cepat. Sebagaimana andai waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, perjalanan kita di mataku adalah mewakili dunia mengartikan dirinya menuju titik abadi, setepat-tepatnya.

Malang, 16 April 2014. Pukul 22.28 WIB

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

gagal SNMPTN , bukan akhir

Gagal SNMPTN Bukan Akhir Segalanya, Berikut Tips untuk Bangkit

berpikir kreatif

Kenapa Kita Perlu Berpikir Kreatif? Ini Dia 5 Alasannya