in

Sebelum Berburu Diskon, Tahukah Kamu Tentang yang Satu Ini?

Beberapa waktu lalu, ‘perayaan’ Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) merenggut perhatian banyak orang. Tidak hanya mereka yang gila belanja, orang yang biasanya sangat perhitungan pun jadi ikut-ikutan meramaikan momen berburu diskon itu. Momen yang memberi kesempatan orang untuk jadi kompulsif itu menjadi kesempatan bagi para pemilik online shop maupun situs-situs e-commerce untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Harbolnas di Indonesia ini serupa dengan Single Day ala Alibaba di China atau Black Friday yang populer di Amerika Serikat.

Bisa dibilang kalau semuanya berawal dari sebuah ‘mall virtual’ di genggaman tangan kita. Selain merenggut perhatian dan memakan waktu, tentu saja menghabiskan sejumlah uang. Karena tergoda angka diskon bombastis, tak sedikit orang yang kemudian cenderung berpikir untuk mendapat harga murah, sedangkan kualitas produk dan nilai kebutuhan jadi hal nomor sekian. “Orang-orang terperangkap dalam perayaan,” Demikian seperti diungkapkan oleh Hong Tao, profesor ekonomi dari Beijing Technology and Business University.

Berburu diskon di Solo Grand Mall (Sumber: Ublik.id/Restia)

Sebagai kelanjutan dari serbuan promo dari berbagai situs e-commerce—khususnya di Indonesia, diskon pergantian tahun pun tak kalah heboh. Belum lagi pemilik toko yang ingin menghabiskan stok barang dagangannya dengan menggelar cuci gudang. Lihat saja di beberapa mal yang ada di kotamu. Apa reaksi konsumen? Sudah pasti ramai. Bahkan, untuk barang-barang yang bukan prioritas pun mudah saja masuk ke keranjang belanja mereka. Ada yang beralasan bahwa ‘mumpung sekarang dapat harga murah sekarang, suatu saat nanti pasti kepake’. Hmm, begitulah, kalau kamu bagaimana?

Belanja Memang Menyenangkan, Tapi….

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul ‘Retail Therapy: A Strategic Effort to Improve Mood’ yang dilakukan oleh A. Selin Atalay dan Margaret G. Meloy, ada satu temuan menarik yaitu: belanja bisa menjadi bentuk terapi. Terapi belanja (retail therapy) bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki suasana hati, sebab orang yang sedang dalam suasana hati yang buruk lebih mungkin untuk bersikap konsumtif. Meskipun begitu, belanja bisa memunculkan efek yang relatif berbeda antara satu orang dengan orang lain.

Bapak-bapak pun berburu diskon (Sumber: Ublik.id/Restia)

( Baca juga : ‘Terapi Belanja’ yang Perlu Kamu Tahu agar Tidak Menguras Dompet )

Sebelum Berburu Diskon

Kalau kamu juga suka belanja, entah itu karena kebutuhan atau keinginan, tapi ada baiknya kamu tahu beberapa tips berburu diskon. Agar tidak kalap saat membelanjakan uangmu. Apalagi godaan layanan kartu kredit yang makin mudah. Ditambah dengan sudah adanya penghasilan setiap bulan. ‘Tidak apa-apa sekali-kali menyenangkan diri sendiri,’ begitu katamu dalam hati. Jujur saja, kebanyakan orang pasti pernah mengalami yang seperti ini. Masalahnya adalah berburu diskon ‘sekali-kali’ tapi ternyata dilakukan berkali-kali. Setiap momen yang menawarkan promo diskon heboh, langsung menyerbu begitu saja.

Butuh atau Pengen?

Menurut penelitian dari OpenUp di New York, konsumen belanja online umumnya mengerti berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk mencari barang di internet. Sayangnya, mereka kurang memperhatikan berapa banyak uang yang dihabiskan saat berbelanja online itu, terutama ketika ada diskon besar. Untuk membuat dompetmu tetap aman saat musim diskon, catat apa saja yang perlu dibeli. Ingat, prioritaskan kebutuhan. Bukan keinginan. Karena butuh dan pengen itu beda ya, kawan. Tentukan budget yang rasional. Jadi, hati-hati sebelum tergiur diskon besar dan tanyakan pada dirimu: butuh atau pengen?

Di Balik Harga Diskon yang Bombastis Itu

Strategi menawarkan diskon besar-besaran adalah hal umum yang dilakukan pedagang untuk meningkatkan penjualan dengan cepat. Ini juga menjadi sarana marketing yang efisien. Tapi pernahkah kita bertanya-tanya? Apakah mereka tidak rugi dengan potongan harga yang besar itu? Atau jangan-jangan harganya memang segitu, jadi label diskon ataupun harga coret yang ditampilkan di setiap produknya hanyalah trik marketing semata? Dan kenyataannya memang begitu. Meskipun tidak semua, tentu saja.

Sebelum memotong harga, penjual terlebih dahulu merencanakan dan memeriksa struktur harga dalam bisnisnya. Ini penting demi memastikan untuk tetap ‘melindungi’ margin keuntungan mereka. Intinya, agar pembeli tertarik karena harga murah, tapi penjual juga tidak rugi. Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa harga suatu barang sudah dinaikkan atau belum? Cara paling mudah adalah mengecek harga barang sejenis secara online, karena di internet informasi seperti itu mudah sekali ditemukan.

Menjadi Konsumen yang Cerdas

Penjual yang sudah berpengalaman tentunya memiliki ‘cara-cara kreatif’ untuk menumbuhkan ketertarikan calon pembeli. Tidak hanya tertarik, tapi juga ada rasa keterikatan sebagai konsumen yang loyal. Mudah saja untuk repeat order karena memang mendapat kepuasan berbelanja. Tapi, untuk mengimbangi penjual yang kreatif, kita juga bisa menjadi konsumen cerdas yang tetap memutuskan sesuatu karena prioritas.

Faktanya, ada kelompok yang didorong oleh hal-hal materialis dan keinginan kuat terhadap suatu barang yang ingin dibeli itu. Ada juga orang yang membeli suatu barang karena faktor harga diri dan kemudian ‘merasa punya kuasa atau gengsi’ setelah memilikinya. Menurut Mueller, dkk, dalam risetnya yang berjudul ‘Depression, Materialsm, and Excessive Internet Use in Relation to Compulsive Buying’, kelompok kedua lebih mudah mengalami depresi.

Ilustrasi tanda-tanda depresi (Sumber: Pixabay.com)

Sebagai upaya realistis untuk mengendalikan diri di tengah serbuan promo diskon besar-besaran, tetaplah jadi konsumen cerdas. Bandingkan harga-harga antara satu toko dengan toko lain. Jangan sampai tertipu, dan selalu ingat prioritas.

Tapi sebentar. Mungkin beberapa hal di atas membuatmu berpikir ulang sebelum berburu diskon. Atau justru sebaliknya? Kita percaya bahwa dirimu adalah pribadi yang terkendala, membiarkan dirimu tergoda sesuatu yang sebenarnya memberi kontribusi besar. Saat kamu bisa belanja banyak, berarti itu menunjukkan daya beli yang cukup tinggi. Kalau kamu sebagai bagian dari masyarakat mampu membeli, berarti menguntungkan mereka para pengusaha yang menjadi salah satu penggerak perekonomian negara. Jadi apakah kamu setuju dengan quote ini: I’m not a shopaholic, I’m helping the economy?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Inilah yang Sebenarnya Dibutuhkan oleh Generasi Milenial

Hanya Ada 2 Blue Fire di Dunia, Salah Satunya Ada di Banyuwangi