in , ,

Salju Abadi di Puncak Jayawijaya, Akankah Tinggal Kenangan?

Menikmati perjalanan ke puncak Jayawijaya yang unik dan mengagumkan (Sumber gambar: paketwisata.id)

Pernahkah kamu bayangkan bagaimana sensasinya ketika berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi? Warna tebing yang kelabu menyambut pandanganmu untuk beberapa lama. “Inilah tempatnya,” pikirmu dengan jantung berdebar. Kamu juga tahu pendakian itu mungkin saja akan mengubah hidupmu setelahnya.

Sejak awal, kamu mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang untuk tujuan yang satu ini. Kamu juga menghabiskan uang yang cukup banyak demi membeli berbagai perlengkapan dan tiket perjalanan yang tidak murah. Bahkan, pulau yang menyimpan sejuta pesona dan sebagiannya merupakan bagian dari sebuah negara bernama Papua Nugini itu sempat membuatmu cemas. Sanggupkah dirimu menaklukkan gunung tertinggi di sana?

Selama perjalanan, perasaanmu tak bisa ditebak. Di satu waktu kamu memandang seluruh perlengkapan yang diboyong bersama di dalam kendaraan dengan antusias. Tetapi di waktu yang lain, kamu juga sadar bahwa perjalanan kali ini tidaklah main-main. Kamu berpetualang, tetapi kamu harus serius. Kamu merasa senang, karena akhirnya tujuanmu menaklukkan puncak akan terkabul.

Jaket tebal yang senada dengan warna helm, sarung tangan untuk mencegah tanganmu kaku, dan sistem pengaman yang membelit pinggangmu, semakin membuat semuanya terasa nyata. Kamu mendaki, mendaki, dan mendaki. Tubuhmu mulai lelah namun tak juga kamu temui puncak.

Harus berapa lama lagi? Kamu bertanya-tanya sambil menancapkan langkah dengan mantap agar tidak merosot turun. Otot-ototmu berteriak minta istirahat. Ketika hampir ingin menyerah, kamu membayangkan pemandangan luar biasa yang akan menyambutmu di atas sana bila kamu berhasil sampai puncak.

Kamu membayangkan salju putih terhampar. Bagimu yang penghuni negara tropis ini, salju bisa sangat mengesankan.

Kamu bersiap ingin berteriak, menangis haru, atau menggigil kedinginan meski sudah memakai banyak lapisan di tubuh saat berhasil mencapai puncak. Eh, tapi, ke manakah puncak yang katanya ditutupi salju itu? Ke manakah bias menyilaukan matahari yang terpantul di permukaan salju? Matamu tidak melihat sebutir salju pun, meski sang pemandu mengatakan puncak semakin dekat. Kebanggaanmu akan hadirnya satu-satunya gunung bersalju yang menjadi salah satu keunikan Indonesia seketika hilang.

Ke manakah salju-salju itu pergi? Apakah benar salju abadi di Puncak Jayawijaya itu akan hilang?

***

 Tujuan Pendaki Kelas Dunia

Puncak Jayawijaya, salah satu tujuan pendaki kelas dunia (Sumber gambar: detik.com)

Puncak gunung Jayawijaya yang menyimpan keunikan tersendiri menjadi tujuan para pendaki kelas dunia. Mereka tidak melewatkannya karena ingin membuktikan sendiri adanya salju di sebuah negara tropis yang rasanya mustahil memilikinya.

Bayangkan, Kawan, Indonesia yang hanya memiliki musim hujan dan musim kemarau, memiliki wilayah yang bersalju! Ditambah lagi, negara kita dilewati garis khatulistiwa, di mana iklim yang kita rasakan umumnya hangat. Oleh sebab itu Indonesia kaya akan keanekaragaman makhluk hidupnya.

( Baca juga: Keindahan Gunung Api di Pulau Jawa ini Bikin Pelancong Susah Move On )

Bila dilihat dari tipe gletser, gunung ini termasuk dalam tipe alpine glaciation. Di mana gletser yang terbentuk dimulai pada ketinggian di pegunungan, pada bagian cekungan yang berbentuk mangkuk, disebut dengan cirque. Ketika gletser tumbuh, es pun mengalir keluar dari cirque menuju lembah. Beberapa gletser dari cirque dapat bergabung membentuk satu lembah gletser. Saat lembah gletser itu mengalir keluar dari pegunungan, mereka menyebar dan bersama-sama membentuk gletser Piedmont.

Puncak Jayawijaya juga masuk ke dalam seven summit, yaitu tujuh puncak benua, dikenal dengan Piramida Carstenz. Pegunungan ini juga memiliki sungai es. Pemandangan yang amat mengagumkan ini tentu menjadi alasan para pendaki datang ke sana, bukan?

Cara Mencapai Puncak Jayawijaya

Perjalanan menuju puncak Jayawijaya (Sumber gambar: twisata.com)

( Baca jugaBiar Gak Kalah Keren, Ini Dia 8 Gunung untuk Pemula Seperti Kamu )

Siapa yang tidak ingin merasakan sensasi adanya salju di negara tropis meski harus mendaki gunung tertinggi sekalipun? Yah, mungkin tidak semuanya setuju. Tetapi para pendaki yang sudah merasakan nikmatnya menjelajah gunung pasti akan merasa tertantang untuk menaklukkan puncak Jayawijaya di Papua Barat. Mungkin kamu salah satunya.

Nah, untuk mencapai gunung ini tentu saja kamu harus menyiapkan kondisi fisik, mental, dan keuangan yang cukup. Dilansir dari detik.com, Sugeng Indradi yang merupakan founder dari Rakata Adventure mengatakan bahwa ada dua jalur menuju Cartenz (Jayawijaya) yaitu Sugapa dan Ilaga. Dari sana kamu bisa melakukan perjalan selama 5-6 hari sampai menuju puncak.

Untuk mencapai kedua jalur tersebut, kamu bisa naik pesawat perintis dari Nabire dengan biaya kurang lebih 1 juta rupiah. Lalu kamu bisa menyewa porter dengan merogoh kocek sekitar 500 ribu – 1 juta per hari. Dari dua desa (Sugapa dan Ilaga), kamu akan melewati Danau Larson selama 4 hari, kemudian menuju Danau Biru, yaitu camp terakhir sebelum puncak Jayawijaya selama 1 hari perjalanan.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kamu harus memiliki kondisi fisik dan mental yang sehat. Hal itu menuntut kamu untuk meminta surat pada Menpora dan beberapa departemen terkait lainnya. Oleh sebab itu biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Mungkin saja bisa menghabiskan biaya sekitar 20 juta untuk mencapa puncak.

(Baca jugaMelihat Keindahan Alam Indonesia dari Dekat melalui Film ‘Negeri Dongeng’ )

Ke Mana Salju-salju Itu Pergi?

Indahnya puncak bersalju pegunungan Jayawijaya (Sumber gambar: twisata.com)

Perumpamaan tersebut memang tepat untuk menggambarkan puncak Jayawijaya yang bersalju dan secara ajaib berada di tengah-tengah negara tropis. Terkesan mustahil sekaligus menakjubkan. Rasanya ikut bangga ketika aset wisata di Indonesia turut diincar oleh para turis dari luar negeri.

Namun, bila tempat wisata yang dibanggakan itu ternyata memudar keindahannya, dan apa yang kamu lihat sangat jauh dari bayanganmu, apa yang akan kamu rasakan?

Kita kembali pada narasi pembuka yang ada di bagian teratas. Ke manakah salju-salju itu pergi?

Itu bukan hanya sekadar khayalan, Kawan. Suatu saat salju itu memang tidak akan ada lagi di sana kalau bumi ini semakin panas. Meski kita tidak menginginkannya, puncak Jayawijaya juga terkena dampak dari pemanasan global. Bukankah kita tidak menginginkan kalau salju abadi itu tinggal kenangan?

Efek dari pemanasan global sudah kita rasakan pada kehidupan sehari-hari. Perbedaan antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak jelas lagi. Banyaknya bencana alam yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dan yang paling kentara adalah suhu semakin panas. Hal itu dibuktikan dengan betapa seringnya kita mengeluh kepanasan.

Kalau suhu meningkat, maka es yang ada di puncak Jayawijaya tentu akan mencair. Tidak akan ada lagi gunung unik yang bisa kita ceritakan pada generasi penerus. Puncak Jayawijaya yang bersalju kelak akan menjadi dongeng semata, sebab jika salju mencair maka ia akan tampak sama dengan puncak yang lainnya.

 

(Sumber gambar utama: jejakalam.net) 

Bagaimana Hidup Tanpa Media Sosial Tanpa Ketinggalan Tren Baru?

‘Terapi Belanja’ yang Perlu Kamu Tahu agar Tidak Menguras Dompet