in

[Ruang Fiksi] ‘Universitas Kehidupan’ Itu Bernama Pabrik Sepatu

Lebih dari bangunan pabrik sepatu, ini sudah seperti universitas kehidupan

Seminggu sesudah kelulusan SMA…

“Res, gimana nilai ujian kamu? Pasti sembilan semua.”

“Ah enggak kok, punyamu pasti lebih bagus.”

“Oh, ya, kata Mita kamu diterima di UI ya?”

“Iya Ni, tapi bingung juga nih registrasi ulang mahal banget.

Lho kan yang penting diterima dulu. Nanti bisa mengajukan beasiswa.”

“Iya sih…”

Euforia itu masih jelas betul rasanya. Baru kemarin aku menuntaskan kehidupan SMA dan sekarang harusnya sudah siap duduk di bangku kuliah. Tapi kenyataan yang harus dihadapi: bangku kuliah itu mahal betul. Kemudian aku dipaksa berpikir lebih keras, tetap memaksakan diri masuk dengan terseok-seok karena orang tua harus menanggung beban itu. Sambil terus mendengarkan bisikan dari dalam diri bahwa semua akan baik-baik saja. Aku juga merasa ini adalah terlalu klise. Atau kalaupun harus terjadi kemungkinan terburuk…

“%^&*$#*@>….”

“………..”

“Nduk, bangun. Salat tahajjud dulu..”

“Eh… Ini jam berapa, Mak?”

“Jam setengah tiga… Habis salat coba buka internet ya… hari ini pengumuman to?”

Ya Allah! Ternyata itu semua hanya mimpi. Sebentar lagi, hasil ujian masuk PTN sudah bisa dilihat! Kuambil air wudlu dan segera salat lantas bermunajat, memusatkan pengharapan ke segala penjuru langit: semoga Yang Maha Kuasa memberikan hasil terbaik. Entah apa hasilnya, aku pasrah saja.

Degup jantung ini jadi sedemikian kencang. Dan tiba-tiba berhenti ketika menyaksikan yang muncul di layar monitor adalah kalimat:

  Maaf, Anda tidak lolos di ujian tulis SNMPTN 2011

Aku diam, tanpa sepatah kalimat pun. Tanpa reaksi apa-apa. Di saat yang sama aku lupa definisi dari harapan. Kalau ada siapapun yang minta maaf kepadaku. pasti kumaafkan, tapi untuk yang seperti ini? Entah. Benarkah harapan kuliah tahun ini sudah habis, mengingat aku tidak mungkin mengambil jalur mandiri yang nominal biayanya pasti sangat mencekik. Kecuali datang keajaiban, ternyata rekap datanya salah. Sebenarnya aku diterima, tapi karena kesalahan teknis maka penerimaan itu belum bisa diumumkan. Ah, tak usah mengigau! Pilihan hidup yang ditawarkan padaku kini: aku harus bersabar menunggu tahun depan.

momentum , pabrik sepatu

Dua belas tahun  aku sekolah sambil menunggu suatu momentum. Tapi momentum yang kunantikan belum tiba. Adalah seperti ini misalnya: aku kuliah di kampus besar, menjadi anak muda bermanfaat, sesekali bolehlah menang suatu kompetisi nasional. Aku lantas ke panggung untuk mendapat penghargaan, seperti yang dilakukan para selebriti ketika mendapat award  tahunan. Sebegai pendatang baru paling fenomenal misalnya. Lalu aku sebagai apa? Sebagai pemimpi paling megalomania? Semoga tidak. Haha jangan dipikirkan. Memang semuanya masih tentang semoga. Semoga hari-hari di depanku adalah optimisme, meskipun di tempat yang unpredictable seperti ini.

***

Kalender menunjukkan  angka 16-11-2011. Tiba-tiba aku seperti dibawa ke dunia yang asing. Terlihat orang-orang belalu lalang. Suara mesin menderu-deru. Semua orang di sekitarku tampak sibuk.

“Ayo sini, saya tunjukkan tempat kerjamu…” Seorang perempuan muda mengantarku ke tempat yang sebentar lagi aku sebut ruang kerja. Oh, pasti ini yang bulikku berkata padaku: ‘nanti panggil dia Mbak Alia ya’.

Aku belum percaya dengan apa yang sedang aku lihat: Mesin jahit, polybag, sepatu setengah jadi, ruangan pengap, semboyan 5R yang tertempel di dinding, orang-orang yang beceloteh bahagia dengan bahasa yang tak kupahami, dan segala sesuatu yang jelas tidak ada di buku sekolah hingga kelas ke dua belas.

Bangunan besar pabrik sepatu ini, pasti di dalamnya pun pasti ada urusan besar. Tapi nanti dulu, ini bukan saat yang tepat untuk jadi melankolis. Meski aku agak menahan rasa karena banyak orang berbaju seragam warna kuning lewat di sekitarku. Katanya mereka itu atasan. Pikiranku jadi liar melayang ke tempat yang tak terlalu jauh dari kota Tangerang, tempatku tinggal sekarang. Tempat itu adalah Depok.

Kembali ke warna kuning, entahlah aku jadi sensitif. Memastikan pengelihatan, yang pakai seragam kuning berkeliaran itu ternyata bukan kakak-kakak mahasiswa aktivis dari Universitas Indonesia, kampus impianku itu. Bukan. Ini pabrik sepatu. Bukan Kampus Perjuangan yang mengusung semboyan Veritas, Probitas, Iustitia itu.

Neng, tolong kamu pasang ini ya, yang ini namanya upper, kalo ini lining… jangan sampai kebalik… Ok?”

“Iya mbak, eh iya teh…” aku lupa, kupikir ini masih daerah ‘plat AD’.

“Oh iya… Lihat size nya, harus pas!”

Ini tugasku yang pertama di pabrik sepatu.  Menyiapkan bahan sepatu untuk dijahit oleh teteh di sampingku. Wow, semua serba cepat! Sesekali harus siap dikomplain: ini masangnya miring… ini kebalik… ini kotor…  ini robek. Dan seterusnya! Aku harus kuat dan tabah di sini, belum bisa kuliah seperti teman-teman. Apa ini yang dimaksud Universitas Kehidupan? Yang SKSnya tak terhingga.

Sepertinya belum lama, di kelas aku masih mempersoalkan mesin Carnot, berkerut dahi karena integral, atau bedebat siapa yang benar antara Francisco  Redi atau Aristoteles. Tapi di sini, di pabrik sepatu ini, aku tidak berurusan dengan mesin hitung, mesin Carnot, apalagi berkhayal soal mesin waktu. Tidak ada. Hari ini urusanku adalah mesin jahit.

Tak cukup memasang upper dan linning, aku dipaksa belajar menjahit. Menjahit bahan sepatu yang nantinya akan diekspor ke negeri seberang. Aku lantas berpikir: sepatu-sepatu yang diproduksi oleh kaum proletar di hari ini, nanti akan dipakai oleh siapa ya?  Apa mereka tahu bahwa di balik sepatunya ada cerita tentang pekerja lulusan SMA yang sebetulnya masih bermimpi ingin jadi mahasiswa. Ah, tidak apa-apa, semuanya pasti berlalu.

“Hei jangan melamun! Cepetan dikerjakan itu…”

“Oh iya iya Bu, maaf…”

Huh. Ritme kerja yang sebegitu cepatnya. Aku kadang masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ingin rasanya menarik diri, lari dari kenyatan seperti ini. Seharusnya aku sekarang ada di kelas yang nyaman bersama kawan-kawan yang pintar.

“Heh, kamu. Kerja cepat tapi ya jangan kayak gini juga. Ini masih salah semua! Bisa kerja nggak sih?! Sudah sana nyapu dulu. Tuh, lihat bawah mejamu kotor!”

Duh, salah lagi, salah lagi. Aku lihat elemen masa laluku beriak sekaligus riuh memprotes: untuk apa selama ini bersitegang mengukur sudut balok yang ternyata dalam balok raksasa ini seluruh persendian seperti mati oleh ritme kerja yang tak kupahami. Hari ini semua keindahan ilmu pengetahuan habis dipukul tragedi memilukan di tahun imajiner: seorang anak yang dulu pernah jadi juara olimpiade sains kini terpuruk di pabrik sepatu.

“Santai saja. Kerja emang gini. Nggak usah didengerin. “

“Iya mas. Agak canggung juga sih sebenarnya, aku kan belum pernah dapet yang beginian di sekolah.”

“Iya, saya tahu. Ya sudah, yang penting jangan dipikirin banget, nanti sore pulang, keluar gerbang depan dan udah lupain aja.” aku mengiyakan saja nasihat itu.

“Minggu depan kita full lembur, cuy!” Kemudian ada sesosok pemuda tanggung yang mendekat ke arah kami.

“Oh ya, lembur itu sampai jam berapa mas?”

“Jam lima biasanya, tapi kalo lagi sibuk parah bisa sampe jam sepuluh malem.”

“Hah, jam sepuluh!?” aku kaget, jujur baru kali ini aku merasakan, di republik ini kadang hampir sama buruh dan budak belian.

Woi, nyantai… karyawan baru ya? Kok masih pake putih-item.“

“Iya nih, makanya kaget pas denger lembur sampe malem banget.”

“Tapi tenang. Itu cuma kalo lagi banyak banget ordernya. Bayaran di sini nggak pernah telat kok.”

“Oh gitu ya…” setelah itu aku memilih diam saja tak melanjutkan kata-kata. Bagaimana mungkin aku bisa berada di pabrik sepatu hingga larut malam. Sedangkan rencana awalku adalah di Tangerang menginap di tempat bulik: pagi hingga sore bekerja, malamnya belajar untuk ujian masuk kuliah tahun depan. Nah, kalau lembur setiap hari, apa jadinya?

***

Aku seolah tidak punya pilihan lagi. Kecuali memaksa diri antusias untuk menikmati kerja malam. Seketika bayangan yang terlintas adalah teman-teman seperjuanganku di SMA dulu, kini barangkali sedang mengerjakan tugas dari dosen mereka. Menikmati kesibukan baru sebagai anak kuliahan di minggu-minggu awal. Betapa, garis nasibku jauh sekali dengan mereka. Jauh yang terlalu.

“Kenapa tidak diminum kopinya? kurang manis, tambah gula sendiri tuh.”

“Enggak kok mbak, emang saya nggak biasa ngopi.”

“Oh gitu, ya udah minta teh saja.”

Sungguh kawan, ini bukan tentang teh atau kopi. Perlu tambah pemanis atau tidak, aku sadar betul hidup pada malam ini tak sekadar melarutkan kekalutan ke dalam gelas. Semakin larut keletihan dan sekaligus gelisah tak tergambarkan: sudah tiga hari aku tidak belajar. Oleh karena aku demikian letih. Tapi aku harus kuat menguasai keadaan.

Tidak mau jadi anak muda terjangkit pesimisme kolektif: sudahlah, lupakan kuliah. Tak usah lagi punya cita-cita tinggi, toh jadi perempuan pada akhirnya mengurus dapur juga—sebuah pemikiran yang amat tidak kusuka.

“Ya udah, hari ini kita pulang jam delapan.” Kata seorang atasan berseragam kuning yang tugasnya memantau kinerja anak buahnya, dan tentu saja sesekali memarahi pekerja magang yang masih sering teledor sepertiku. Huh, wajah mereka sungguh tak bersahabat. Apalagi warna kuningnya, sungguh menyilaukan dengan sadis. Silau dan sakit yang sampai ke ulu hati.

Pulang jam delapan. Baiklah. Nanti setengah jam perjalanan pulang. Belum termasuk macetnya. Pulang kerja nanti aku masih harus selesaikan satu dan lain hal. Ini pun jika lelah harus terlupakan. Tapi  aku pasti mampu melewatinya, aku akan dapat pembelajaran berharga dari ini semua. Sebelum memejamkan mata malam ini, sempatkan mencoba mengerjakan beberapa soal dari buku-buku pelajaran yang kubawa dari rumah. Ya, ikhtiar harus total. Meskipun baru satu coretan dan semuanya sudah jadi gelap. Aku ketiduran, sampai pagi. Sampai kehidupan keras akan segera dimulai kembali.

universitas kehidupan , pabrik sepatu

Tahun segera berganti. Beberapa dimensi waktu terlewati, tak ada kecocokan. Aku harus segera resign. Harus segera mempersiapkan diri dengan sebenar-benarnya agar bisa berhasil masuk kampus negeri tahun selanjutnya. Ya walaupun teman-teman seangkatanku sudah menjalani dua semester di kampus masing-masing. Tapi aku tetap bersyukur, di sini aku mendapatkan banyak sekali pembelajaran dari universitas kehidupan. Yang barangkali tak bisa didapat di universitas negeri manapun.

“Lho kenapa keluar? Nggak betah di pabrik sepatu? Apa gajinya kurang?”

“Bukan Bu, saya masih mau fokus belajar buat persiapan ujian SNMPTN.”

“Oh, kamu masih mau kuliah. Tapi beneran nggak akan nyesel ngelepas kerjaan di pabrik sepatu ini, padahal bulan depan kamu akan dimutasi ke bagian staf admin.”

“Tapi saya mau pulang kampung dulu, persiapan kuliah, nyari ilmu dan pengalaman dulu…”

“Ya sudah kalau memang sudah mantap dengan keputusan itu, besok lusa kita ke payroll untuk mengambil gaji kamu seminggu terakhir…”

“Iya Bu, maaf ya. Saya tidak bisa lama kerja di sini.”

“Tidak apa-apa. Semoga berhasil ya kuliahnya.”

“Aamiin. Makasih Bu.”

Kemudian hari kepulanganku pun tiba. Di mobil travel, dalam perjalanan Tangerang-Wonogiri aku introspeksi diri. Harus kembali ke kelas lagi, sekolah lebih tinggi lagi.

***

Juni 2012

Dua bulan terakhir setelah resign kerja dari pabrik sepatu, hidupku monoton. Belajar lagi, belajar lagi. Setahuku banyak aktivitas yang tiba-tiba minta ditiadakan. Di rumah, jika tidak membantu mengerjakan urusan rumah, yang aku tahu hanya belajar. Sekadar ingin total berikhtiar. Walau sebenarnya masih ada ketakutan tersembunyi: kalau sampai gagal lagi apa jadinya? Hidupku akan diarahkan ke mana? Aku tidak tahu. Yang penting, sebisa mungkin nikmati lagi rumus-rumus Trigonometri, deret bilangan, belajar grammar, genetika, hingga Termodinamika. Sampai benar-benar paham.

“Nduk, sidane milih ngendi? Apa mau nyoba UI lagi?” Tanya emak-ku suatu siang.

“Belum tahu, shalat istikharah dulu Mak.”

“Tapi aku kok ada firasat bagus kalau kamu coba ke timur, coba jangan ke barat terus.”

“Maksudnya gimana Mak?” Aku belum paham dengan penekanan pada kata ‘timur’ dan ‘barat’ itu.

“Bapakmu kan kerjanya di Jawa Timur, dapat rezekinya dari ‘timur’, siapa tahu takdirmu juga di Jawa Timur sana.”

Aku mikir berhari-hari, setahuku orangtua tidak ada yang cenderung memaksakan kehendaknya padaku. Aku dibebaskan memilih jalan sendiri. Termasuk tentang tempat kuliah. Ya memang, anak mereka hanya aku saja. Dan jika aku kuliah sepertinya akan sangat jarang pulang. Tapi mereka setuju saja, tidak memprotes pilihan-pilihanku dengan memberi alternatif; kuliah di Solo saja misalnya, yang lebih dekat. Aku tak mau gegabah memutuskan sendiri, tergantung bagaimana hasil dari istikharah berkali-kali.

***

Mungkin aku teramat menginginkan sesuatu, yang walaupun menurut kebanyakan orang itu baik, padahal ternyata tidak baik akibatnya. Ada yang lain yang lebih baik. Karena pilihan hidup tak dapat digeneralisir antara satu orang dan orang lain. Pun satu kejadian tidak selalu berarti terjadi karena sebab yang kita pikirkan. Tahun lalu, aku tidak bisa langsung kuliah, aku yakin itu bukan semata-mata karena bodoh yang terlalu, mengerjakan soal pilihan ganda saja tidak bisa. Bukan begitu.

Sekarang, ketika aku memutuskan untuk tidak akan memilih yellow jacket sebagai almamaterku, itu juga bukan karena aku takut gagal lagi dan lantas menurunkan standar. Tidak. Ada semacam perasaan tak terjelaskan yang membuatku akhirnya melabuhkan pilihan ke kota Malang, bukan Depok, Bandung, Jogja atau Solo. Meskipun jujur, aku belum pernah membayangkan sebelumnya tentang kota ini.

Bermodal yakin, bahwa tidak ada satu pun usaha yang sia-sia, aku telah cukup belajar banyak demi SNMPTN 2012. Aku akan kuliah, mulai tahun ini. Pasti bisa, Allah SWT menolongku, sudah cukup itu saja.

Detik, menit, hingga menjadi sekumpulan hari-hari yang berlalu cepat. Ujian SNMPTN 2012 sudah terlaksana dengan baik. Sekali lagi, aku hanya belajar optimis. Sampai pada akhirnya…

“Nduk, pengumumane diajukan sehari ya?”

“Iya… haduh Mak, aku takut hasilnya…”

“Sudah, tawakkal saja.”

 

 Jumat, 6 Juli 2012. Pukul 19.22 WIB

Beberapa menit sempat gangguan koneksi, mungkin karena terlalu banyak yang mengakses laman web yang sama. Aku makin gemetar. Baru beberapa saat kemudian, dengan terang layar monitor netbook di depanku menampilkan ini:

112—44—01157—Restia Ningrum—Matematika, Universitas Brawijaya

SELAMAT ATAS KEBERHASILAN ANDA!

Alhamdulillah. Aku tidak akan pernah lupa saat itu, saat ketika orangtua di sampingku ikut melihat langsung pernyataan yang betul-betul membuatku lupa beberapa bulan lalu di Tangerang. Dan sekarang, akhirnya aku kuliah! Aku siap berjuang lagi sesuai kapasitasku, bersama teman-teman mahasiswa yang katanya di tangan mereka  tergenggam arah bangsa. Berarti di tanganku juga, ‘kan sebentar lagi aku punya Nomor Induk Mahasiswa. Hehe, begitu polosnya.

Tepat sehari sesudah pengumuan SNMPTN, aku melihat berita di televisi tentang calon kampusku, ‘Universitas Brawijaya menjadi juara umum PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2012.’ Ini kabar baik, sungguh. Semesta mendukung pilihanku!  Jadi, dulu aku hanya terkurung dalam mental block. Tertipu pada nama besar yang pada akhirnya tak berpengaruh apa-apa kecuali gengsi sehari ketika pengumuman menyatakan lulus pada SNMPTN. Sudah cukup aku disadarkan tidak ada sekolah terbaik, kecuali masing-masing individu sadar peran terbaiknya untuk berkontribusi dan berprestasi menurut batas kesanggupannya. Dan tidak ada gunanya membandingkan reputasi kampus A dan B di negeri ini. Semua kupikir sama, ingin membangun bangsa.

Pada tiap akhir perihal perjuangan menggapai sesuatu, pasti selalu ada kesan di baliknya, entah itu berupa penyadaran-penyadaran terhadap sesuatu atau sekadar pembuktian bahwa rencana manusia tidak pernah lebih baik daripada masterplan Sang Maha Kuasa.

Aku tidak pernah mencoba mendiskreditkan segala sesuatu, semua institusi. Karena, ia mampu ‘besar’ karena sumbangsih orang-orang yang berperan di dalamnya. Aku sadar betul tidak ada artinya berlindung di balik kebesaran almamater, sebab nantinya ia akan ditanggalkan juga.

Baiklah, bisa jadi banyak yang tenggelam pada euforia, tapi aku segera ingat di saat diri ini senang diterima di PTN, dalam waktu bersamaan di luar sana ada teman-teman yang menangis karena belum mendapat bangku kuliah. Kurang lebih seperti yang aku alami tahun lalu. Maka sebisa mungkin kujadikan ini adalah kesyukuran atas pencapaian yang wajar.

 

 

 

Catatan: cerita pendek ini ditulis berdasarkan kisah nyata penulis dan pernah dimuat di buku antologi cerpen Sejuta Kisah Menuju Bangku Kuliah (UB Press, 2014)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

bulan ramadan , ngabuburit

Waktu Ngabuburit di Bulan Ramadan, Kamu Ikut Jadi Tim Apa?

kepribadian , ambivert

Mengenal Para Ambivert, Kepribadian yang Lincah Berganti Wajah