in

[Ruang Fiksi] Tentang Mama

Jumpa lagi bulan depan, ya, Ma? Aletta selalu rindu Mama

Tentang mama. Suatu pagi yang dingin, aku tengah mengemasi barang-barang ke rumah baru. Di luar masih hujan deras. Aku segera mencari sereal untuk sarapan mama.

“Selamat pagi, Ma? Sarapan, yuk! Letta suapi, ya?”

Mbak Yu.. Aku melu kowe, Mbak Yu..” (Mbak Yu.. Aku ikut kamu, Mbak Yu..)

Dadaku sesak. Tanganku merapikan anak rambut mama yang menutupi wajah cantiknya. Kuhapus air mata yang turun dari kedua mata indahnya. Mata yang sudah lama redup.

“Ta, antar Mama ke Jakarta. Mama ikut budhemu saja.”

“Iya, tapi Mama sarapan dulu, ya?” Mama mengangguk dan menerima suapan dengan patuh.

“Kapan, Ta? Kapan berangkat ke Jakarta?”

“Kalau Mama ke Jakarta, Letta sama siapa di sini?” Mama mengamuk dan menyeretku ke luar kamar. Beliau bahkan memukul punggungku. “MA! BERHENTI, MA.. SAKIT!”

Mama membanting pintu dan mengunci diri. Aku meringis ngilu.

Tok tok tok.. Dek? Adek?” Pintu diketuk dari luar. Terlihat siluet seorang wanita yang mengintip mencari tahu.

“Iya, Tante?”

“Saya Rani. Baru pindahan, ya?”

Aku tersenyum. “Saya Aletta, Tante. Baru sampai tadi malam.”

“Oh iya, iya. Umm, adek tidak apa-apa? Saya mendengar suara…” Kalimat tetanggaku terpotong setelah mendengar teriakan marah mama. “Nah.. Itu, Dek.”

Aku menutup pintu dan membimbing tante Rani duduk di kursi depan. “Mama saya sakit. Emosinya tidak stabil setelah perceraian dengan Papa. Jadi.. Jadi..”

Tante Rani berdiri dan memelukku. “Tante mengerti.”

Hari itu, Tante Rani berbaik hati membantuku berberes rumah. Sore harinya Mia, sahabatku, datang dan rumah dalam keadaan kacau. Mama kembali mengamuk karena aku terus membujuknya makan siang.

“Ta, lengan kamu terluka!”

“Apa iya?” sangkalku. Sebenarnya aku merasakan perih, namun tidak berani mengecek. Tapi, ini masih tentang mama.

“Seperti bekas cakaran.”

“Tidak sakit, kok. Sudah, bantu aku memasak.”

Mia mengembuskan napas panjang-panjang. “Aku ini kuliah di psikologi, tapi tidak bisa menyembuhkan Mamamu.”

Aku tertawa kecil. “Jangan begitu. Yang bisa menyembuhkan itu, ya, Tuhan”.

“Ta, kamu harus membawa Mamamu ke rumah sakit jiwa.” Gerakanku memotong sayur terhenti. “Begini…” jedanya mengambil napas. “Aku tidak mengatakan bahwa Mamamu gila. Tapi, Mamamu harus sembuh. Kamu sudah tersakiti fisik dan psikismu…” Aku bersiap buka suara. “Jangan mengelak.”

Lama hening, sudah saatnya giliranku berbicara tentang mama. “Aku akan sendiri di sini, begitu?”

“Tidak akan selamanya, hanya beberapa waktu,” ucapnya sambil tersenyum menenangkan.

Jalanan masih lengang. Kota Malang menyuguhkan hawa dingin. Sudah tidak terhitung berapa kali kami melewati pasar, yang pasti aku rindu berbelanja dengan mama. Mama masih tertidur di bahuku.

kota malang , tentang mama
(Sumber: www.archipelagointernational.com)

Gapura bertuliskan RSJ Radjiman Widjodiningrat menyambut netra. Om Faris turun meminta izin satpam untuk masuk.

“Ma?” Mama berjingkat pelan dan mengubah posisi menjadi duduk tegak.

“Sudah sampai Jakarta, ya?”

Mia menyahut riang. “Sudah, Tante.” Raut wajah mama langsung berbinar dan bersemangat. Kami menuju administrasi.

Udara pagi menyentuh kulitku, menembus hati, menimbulkan sensasi ngilu. Mama mengapit lenganku dan berjalan dengan semangat. Ma, andai Mama tahu kalau Letta tidak ingin cepat-cepat masuk ke sana, batinku.

“Ta? Mia bohong, ya?” Langkahnya berhenti. “Ini bukan di Jakarta. Jakarta tidak begini.” Seketika senyum dan binar matanya memudar. Mama berontak dan berteriak melihat beberapa orang memakai seragam medis.

“Bu, perhiasannya dilepas dulu, ya? Supaya tidak hilang.”

“Kamu siapa? Jangan dijual! TAAA! MIA BOHONG, TA!”

Kaki dan tangan mama dirantai. Perawat berusaha menenangkan mama.

“TAAA! TOLONG MAMAA!” Aku hanya menangis sambil memeluk mama.

“Om sudah urus semuanya, Ta. Kita pulang sekarang, ya?”

Tentang mama, kusempatkan menghiburnya mengatakan bahwa semua akan segera baik-baik saja. Mia menggenggam tanganku, menguatkan.

Musim hujan berganti kemarau. Lebah beterbangan di antara bunga matahari yang mekar di halaman depan. Dua bulan sudah terlalui. Semoga mama sudah sehat, begitu kalimat yang kurapalkan dalam hati. Maka dengan tanpa sepengetahuan Mia, aku berangkat ke Malang menggunakan bus umum.

Mama berjalan dengan patah-patah. Pandangannya kosong, melunturkan semangat yang sudah kutata dengan siap dari rumah. Aku memeluknya, sangat erat.

“Kamu menangis?” Pertanyaan pertama yang bukan ku harapkan, dan jawaban pun yang tak ingin ku keluarkan. Aku ingin mendengar, “Mama rindu kamu, bagaimana denganmu?” Mungkin akan terdengar lebih syahdu.

Aku menggeleng. Masih tetap memeluknya.

“Bawa Mama pulang, Ta. Mama rindu kamu.” Barulah tangisku meledak. Aku mengangguk mantap.

“Mbak Aletta?” Suara seseorang mengejutkanku. Aku ingin melepas pelukan itu, namun mama justru mengeratkannya. “Ibu Takumi belum sepenuhnya sehat. Emosinya belum terkendali dengan baik,” lanjutnya yang ternyata seorang dokter wanita di rumah sakit itu.

“Jangan didengar, Ta, jangan didengar.” Aku merasakan mama menggeleng kuat-kuat di pelukanku.

Dokter ber-name tag Ratih itu menggeleng pelan dan melanjutkan penjelasannya tentang mama. “Menurut pengamatan saya, beliau masih sering berbicara sendiri menyebut ‘Mbak Yu’. Jadi, saya sarankan untuk di sini sampai sebulan ke depan.”

“Saya sudah sehat, Bu Dokter! Saya sudah sehat!”

“Mama, Aletta minta Mama sabar lagi, ya? Sebulan lagi.” Mama berteriak marah dan memukul punggungku. Dua perawat perempuan datang dan berusaha melepaskanku dari amukan mama. “Aletta jan…ji akan jemput Mama. Ki…kita langsung ke…Jakarta, main ke rumah Budhe. Mau, ya?” Napasku tersengal.

Kakiku melangkah berat meninggalkan mama. Masih kudengar jeritan mama memanggilku. Percayalah, tidak ada yang baik-baik saja ketika harus berpisah dengan orang yang mereka cinta. Aku pun demikian. Namun untuk kesembuhan mama, kupikir ini adalah jalan yang terbaik.

Jumpa lagi bulan depan, ya, Ma? Aletta selalu rindu Mama.

Ditulis oleh Yustika Ayu Lestari

Analyse (dalam bahasa Italia)

One Comment

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

sejarah , ardian

Tentang Sejarah dan Wujud Cinta terhadap Masa Depan: Belajar dari Ardian Nur Rizki

sukses , entrepreneur

Tips Sukses Menjadi Seorang Entrepreneur