in

[Ruang Fiksi] Surat untuk Hujan

Cahaya bola pijar besar berwarna kuning pun menyilaukan mata. Asap yang menyesakkan dada dan suara gemuruh disertai klakson-klakson keras terus beriringan. Seakan-akan siap bertempur melawan kerasnya hidup di Perkotaan.

Terlihat anak kecil tak beralas kaki dengan baju lusuh nan kotor, menggoyang-goyangkan lempengan-lempengan tutup botol minuman bersoda yang diberi paku untuk menyatukannya. Sesekali mereka berjalan ke tengah, ketika tiga lampu yang menyala bergantian itu menunjukkan warna merah. Di samping itu, mereka juga menyodorkan sebuah gelas plastik yang akan diisi uang oleh orang-orang yang dermawan. Meskipun, isinya hanya recehan atau pecahan-pecahan kecil uang kertas.

Tepat pukul 08.00 WIB aku telah sampai di sebuah ruangan yang penuh dengan sekat-sekat kecil dari serat-serat kayu yang tipis. Itulah tempat di mana aku menghabiskan waktu dari pagi hingga menjelang malam, dari Senin sampai dengan Jum’at. Teman yang selalu kupandang berjam-jam adalah sebuah kotak kubus yang terhubung dengan kabel-kabel dan juga tersambung dengan serangkaian abjad tempat jari-jemariku menari dengan penuh aturan.

Di samping benda itu, ada beberapa tumpukan kertas yang terjilid rapi dengan sampul warna-warni sebagai perbedaan satu dengan lainnya. Namun, sebenarnya semua isinya sama. Ada angka, huruf, grafik dan diagram di dalamnya. Hanya saja, ada perbedaan dari jumlah angka dan perbandingan grafik serta diagramnya.

Aku bekerja di sebuah perusahan jasa pengiriman di Surabaya. Tugasku adalah membuat laporan kenaikan atau penurunan jumlah pelanggan. Laporan itu akan diperiksa setiap minggunya oleh atasanku. Sehingga, setiap hari aku harus memantau hal-hal yang berkaitan dengan jumlah pelanggan perusahan kami dan mencatat serta mengumpulkan data sebelum akhirnya disetorkan dalam bentuk laporan per minggunya.

“Nih minum dulu kopinya, Cha!” Ujar Lilis yang sangat mengagetkanku.

“Eh ada apa, mbak Lis. Bikin aku kaget saja, untung gak jantungan.” Jawabku sambil menerima segelas kopi yang disodorkan Lilis.

“Lagian, siapa suruh ngelamun siang bolong gini. Mikirin apa hayo?” Goda Lilis.

Lilis adalah rekan kerja sekaligus seniorku yang sangat ramah dan selalu membimbingku saat merasa butuh bantuan dalam pekerjaanku. Maklum, aku pegawai yang baru enam bulan bekerja di perusahaan tersebut. Dan selama enam bulan tersebut, hari berlalu dengan musim kemarau yang terasa begitu panjang mungkin karena berada di kota besar.

“Cha, aku antar pulang, ya? Bentar lagi hujan lho!” Seru Andre yang berharap bisa mengantarku pulang meskipun selalu ku tolak tawarannya karena, aku merasa tidak nyaman jika pulang malam hari bersama seorang pria.

“Maaf Pak, saya ada urusan setelah ini. Jadi, Bapak pulang duluan saja!” Tolakku yang mencari-cari alasan agar bisa menolak ajakan Andre karena merasa segan.

“Oh ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa pakai payung kalau turun hujan!” Tambah Andre.

Andre adalah atasanku yang meskipun usia kami hanya selisih beberapa tahun, namun aku lebih nyaman memanggilnya “pak” daripada “mas” seperti rekan-rekan kerjaku yang lain. Dia adalah sosok pria idaman yang digandrungi banyak wanita. Selain karena kemapanannya, kepribadian dan perilakunya yang begitu baik membuat siapapun menyukainya. Tapi, entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Padahal semua orang tahu bahwa ia sangat tertarik padaku.

Langit yang biasanya dipenuhi bintang pun menjadi gelap gulita. Aku yang belum pernah bercengkrama dengan tetes demi tetes tangisan langit Surabaya, merasa sangat takjub dan menengadahkan tangan tanda perkenalan. Hari itu adalah Rabu malam dan merupakan hujan pertama selama enam bulanku bekerja di Surabaya. Sayangnya, aku tak membuat persiapan apapun untuk menyambut tetesan dingin itu. Padahal, bisa saja tetesan lemah itu, berubah menjadi balok-balok es yang dapat meremukkan tulangku. Bukan karena kerasnya, tapi karena dinginnya yang dapat menusuk-nusuk tulang rapuhku ini.

“Ah, dingin sekali!” Gumamku yang ternyata terdengar oleh seorang pria berwajah lembut, di pojokan bangku tempatku duduk menunggu bus datang membawaku pulang menuju rumah.

“Pakailah ini, Non!” Kata pria itu sambil memakaikan jaket tebal berwarna hitam dengan bau khas parfum pria namun lembut.

“Terimakasih, Mas.” Jawabku sambil merapatkan jaket itu.

Ingin ku tanyakan beberapa hal padanya, namun tepat pukul 20.45 WIB. ia berlalu tanpa kata. Aku berusaha memanggilnya, namun bus yang membawaku pulang telah tiba. Dan aku harus menaiki bus itu, karena bisa jadi itu adalah bus terakhir di hari tersebut yang menuju daerah tempat tinggalku.

Dari balik jendela bus, aku terus melihatnya yang berjalan entah ke mana di bawah guyuran air hujan yang semakin deras. Hingga akhirnya, aku sampai pada titik di mana batas kemampuan mataku ini tak dapat melihatnya lagi. Beberapa menit kemudian, aku tersadar dan berfikir bagaimana mengembalikan jaket pria tadi? Sedangkan aku bahkan tidak tahu siapa nama dan di mana alamat tempat tinggalnya.

“Ah, kenapa tadi aku tidak langsung mengembalikan jaket ini kepada pria tadi?” bisikku pada diri sendiri.

“Mbak Frisca, sudah sampek nih. Gak mau turun, Mbak?” Ujar kondektur bus yang merupakan tetanggaku, sembari mengingatkanku untuk turun karena telah sampai di jalan depan rumahku.

“Oh iya, Mas! Terima kasih sudah diingatkan.” Sahutku sembari turun dari bus.

Tepat pukul 21.00 WIB. aku telah sampai di rumah. Jarak dari rumah menuju tempat kerjaku memang tidak begitu jauh, sehingga butuh waktu sekitar lima belas sampai dua puluh menit untuk sampai di rumahku.

“Cha, mandi dulu sana! Sudah ibu siapin air hangat dan cokelat panas biar kamu gak kedinginan. Setelah itu, jangan lupa diminum cokelatnya!” Kata ibuku yang terlihat sangat mengkhawatirkanku.

“Iya, Bu. Terima kasih!” Jawabku sembari masih memikirkan pria yang meminjamiku jaket di halte bus tadi.

“Oh ya, Cha. Itu jaketnya siapa? Tadi kan kamu gak bawa jaket!” Tanya ibu padaku, seperti seorang detektif yang sedang mengintrogasi terduga pelaku.

“Jaket teman ini, Bu!” Seruku. Padahal, aku juga tidak tahu siapa pria itu yang untuk pertama kalinya ku lihat sejak enam bulan terakhir.

“Oh ya sudah kalau begitu, cepat lakukan yang ibu suruh. Setelah itu istirahatlah!” tambah ibu.

Malam semakin larut, namun aku tak mampu memejamkan mata yang terus melayang bersama pikiran. Entah, apa yang ku pikirkan. Yang jelas, hujan pertama itu telah mengubah hidup dan hari-hariku setelahnya.

Mentari tersenyum lebar dengan bayangan lengkungan indah berwarna-warni yang menurut legenda, itu adalah tanda ketujuh bidadari cantik turun dari kahyangan. Dan katanya lagi, bidadari-bidadari itu turun ke bumi untuk mandi di sebuah telaga ketika hujan telah berhenti. Aku pun tersenyum geli mengingat cerita tersebut dan segera bersiap untuk kembali menyaksikan dan bertahan akan kerasnya kehidupan di kota besar.

Pagi itu, tak seperti biasanya. Aku yang biasanya terburu-buru berangkat. Sehingga sebelum jam istirahat siang tiba, perutku telah demo dan berorasi. Kini menjadi lebih santai untuk berangkat dan aku juga menyempatkan diri untuk mencegah agar perutku tak demo dan berorasi lagi.

Langkahku menjadi pelan tapi pasti. Pakaian serta dandanku terlihat lebih rapi dari sebelumnya. Dan ada satu hal lagi, kutenteng sebuah jaket yang telah ku cuci dan keringkan semalaman. Serta tak lupa ku beri pewangi pakaian yang biasa ibu pakai, namun wanginya lumayan menurutku.

“Cha, kamu habis mimpi apa semalam?” Celetuk Gladies. Seniorku yang jabatannya sama dengan Andre dan sangat sinis kepadaku. Terutama saat mengetahui bahwa Andre ternyata lebih tertarik kepadaku, yang hanya seorang gadis kampung dengan level minus.

“Mimpi berada di sebuah Taman Surga dan menari bersama bidadari-bidadari yang turun ke bumi tadi pagi, Bu.” Jawabku dengan santai dan sebenarnya tidak bermaksud menantang seniorku itu. Namun, ia menjadi semakin kesal dan tidak suka padaku.

Tujuh hari kemudian

Pagi ini, aku kembali terburu-buru dan bahkan hari ini lebih kacau dibandingkan hari-hariku sebelumnya. Namun, jaket itu tetap ku bawa hingga kembali lusuh seperti awal kupakai karena terkena air hujan. Bau pewangi yang kuberi juga sudah tak tercium lagi. Benarlah! Selama enam hari ini, aku belum bertemu dengan pria itu lagi. Dan aku juga belum bisa mengembalikan jaketnya.

“Ah sudahlah. Mungkin lebih baik jaket ini kubuang saja!” Teriakku dengan kesal dan hampir putus asa. Karena terburu-buru tadi pagi, aku pun lupa membawa payung dan malam itu turun hujan lebat.

“Ah sial! Kasihan sekali aku, lupa membawa payung dan tak mungkin juga aku pakai jaket ini lagi.” Teriakku lagi dengan kesal.

Akhirnya, aku pun duduk kembali di bangku besi setengah berkarat itu. Yang atapnya juga terbuat dari besi dan lebih kecil dari atap gubuk di sawah. Tempatku menanti benda berbentuk balok dengan sekitar enam puluh orang duduk di dalamnya apabila terisi penuh dan bahkan sering kali dipaksakan lebih demi meraup rupiah lebih banyak.

“Pakailah payung ini, Non!”. Ucap lembut seorang pria yang beberapa hari ini ku tunggu dan hampir membuatku putus asa hanya karena ingin mengembalikan jaketnya. Suara itu mengagetkanku dan tanpa kusadari, butiran-butiaran mutiara tak berharga perlahan jatuh membasahi pipi.

“Terima kasih, Mas. Oh iya, ini jaket yang Mas pinjamkan, sudah saya cuci tapi kusut karena kita baru ketemu lagi sekarang!” Kataku sambil menyodorkan jaket milik pria itu.

Setelah menerima jaket yang kukembalikan itu, pria tersebut kembali berlalu tepat pukul 20.45 WIB. seperti saat pertama kali kami bertemu. Dan lagi-lagi, ketika aku ingin memanggil dan menanyakan beberapa hal kepadanya. Tiba-tiba bus terakhir tujuan daerah tempat tinggalku pun telah datang. Dan terpaksa aku harus naik bus tersebut.

Begitulah peristiwa tersebut berulang setiap satu kali dalam seminggu. Terkadang aku lupa membawa payung atau jaket. Duan pria itu yang selalu datang bagai malaikat penolongku.

Hingga akhirnya, aku mengetahui bahwa pria itu hanya datang ke halte pada saat hujan di hari Rabu malam. Ia akan datang ke sana sekitar pukul 20.30 WIB. hingga pukul 20.45 WIB. tapi, aku belum mengetahui alasannya datang ke halte pada waktu tertentu seperti itu. Jika biasanya orang-orang datang ke sana untuk menunggu ke datangan bus atau hanya sekadar berteduh maupun duduk karena merasa capek berjalan. “Lalu, mengapa pria itu datang ke sana? Untuk apa? Dan kenapa pada waktu tertentu?”. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu terlintas tanpa henti di otakku.

Suatu ketika, karena kami hanya bertemu tak lebih lama dari sambaran petir yang menggelegar. Aku pun memutuskan menulis sepucuk surat yang isinya pertanyaan-pertanyaan yang selalu terlintas di otakku itu. Dan aku menyuruhnya menjawab pertanyaan itu ketika kami bertemu atau menulis jawabannya jika ia tak berkenan untuk berbicara padaku.

Dear Hujan,

Maaf karena telah memanggilmu hujan. Karena aku tak tahu siapa namamu.

Dan aku selalu bertemu denganmu saat bermasalah dengan hujan.

Terima kasih selalu datang membantuku, saat aku kesulitan menghadapi hujan.

Kita memang tak saling mengenal dan hanya sekilas bertemu tanpa sengaja.

Tapi, aku ingin menanyakan beberapa hal yang akan ku singkat menjadi sebuah pertanyaan.

Mengapa kamu datang ke halte bus, setiap hujan tiba di Rabu malam?.

Jawablah ketika kita bertemu kembali atau tulislah jawabanmu dan berikan kepadaku jika kamu tak berkenan berbicara denganku.

                                                                                                Yang selalu kau panggil non

                                                                                                            Frischa

Ketika kami bertemu kembali malam itu, dia mengembalikan surat yang ku tulis dan mengatakan, ”aku sedang menunggu seseorang dan jangan mengirim surat untuk hujan lagi. Karena, hujan akan membawa sebuah kisah hilang bersama redanya”.

Kemudian, ia pun berlalu seperi biasa saat tiba waktunya. Hal itu masih menjadi misteri bagiku yang perlahan, tanpa sadar mulai tertarik padanya. Perasaanku saat itu, bagai sekuntum bunga yang baru mekar, namun terpaksa disiram pestisida tanpa alasan yang jelas. Aku merasa patah hati, padahal selama ini ada Andre yang selalu perhatian dan menyukaiku tanpa syarat.

Dengan rasa kecewa tersebut, membuatku meneteskan air mata yang berusaha kutahan sekuat tenaga dengan mengangkat wajahku. Agar air mataku tak jatuh membasahi pipi. Dan tanpa sengaja aku melihat beberapa tempelan putih beramplop di bawah atap halte bus di sisi kanan dan kiri. Di sisi sebelah kanan, tampak tulisan spidol kecil, namun masih dapat kubaca. Itu bertuliskan “Nindy” dan  “Dimas” di sisi sebelah kiri. Namun, pada sisi sebelah kiri kosong tanpa sebuah hal putih tersebut. Tapi, terlihat sisa-sisa kertas bekas tempelan yang telah diambil. Karena penasaran, akhirnya benda-benda yang menempel itu pun kubawa pulang.

Sesampainya di rumah, aku pun langsung membacanya. Dan ternyata, itu adalah sekumpulan “Surat untuk Hujan” yang ditujukan pada Nindy oleh Dimas. Betapa terkejutnya aku, ketika membuka salah satu surat tersebut. Di situ ada foto seorang pria dan wanita, yang mana pria tersebut berenama Dimas dan wanita tersebut bernama Nindy. Dimas tak lain adalah pria berwajah lembut yang selalu tak sengaja bertemu denganku di halte bus itu, dan Nindy adalah wanita yang satu tahun lalu tertabrak sebuah mobil dan meninggal di pangkuanku saat aku berusaha menolongnya.

Dimas rupanya selalu berkirim surat dengan Nindy dengan menempelkannya di bawah atap halte bus itu. Dan ia selalu datang ke halte bus itu pada Rabu malam, ketika hari sedang hujan. Tak lain untuk menunggu Nindy yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku pun kemudian mencari-cari sebuah surat yang dititipkan Nindy kepadaku sebelum ia meninggal. Waktu itu, Nindy berpesan kepadaku,”kak, tolong berikan surat ini kepada Dimas dan tolong sampaikan permintaan maafku karena tidak menepati janji jika bertemu dengannya.”

Pagi harinya, aku menempelkan surat di sisi kiri bagian bawah atap halte bus. Saat Rabu malam tiba, angin berhembus pelan. Hujan mengalir perlahan, membasahi halte bus dan menghasilkan nada sendu pertanda akan datangnya duka yang mendalam. Malam itu, aku menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, sehingga aku dapat menunggu kedatangan Dimas di balik pepohonan di dekat halte bus.

Terdengar suara isak tangis yang samar bersama dengan turunnya air hujan. Ternyata, suara terebut berasal dari seorang pria berwajah lembut itu sambil memegang sebuah surat di tangannya. Begitulah rupanya, pria bernama Dimas itu telah membaca surat dari Nindy yang dititipkan padaku. Aku pun memberinya sekotak tisu dan menyampaikan pesan Nindy.

Dear Hujan,

Hujan, siapakah aku yang selalu kau hibur tanpa lelah

Aku bersyukur walau kutahu mungkin salah.

Aku berharap melihatmu lebih lama

Namun, aku harus pergi bersamu tak berapa lama

Teruntuk Cintaku

Maaf telah meninggalkanmu

Bersama hujan, kelak kau akan dapat penggantiku

Ku harap, ia adalah bidadari yang turun bersama lukisan pelangi

Yang dapat membuatmu mengerti

Bahwa aku hanya tetesan hujan yang suatu saat akan berhenti

Namun, rasaku seperti hujan yang setiap tahun pasti datang tanpa mati

 

                                                                                                Yang selalu mencintaimu

                                                                                                            Nindy

Ditulis oleh Sheilla Aisyah

Pecinta Kaktus yang berusaha mengabadikan setiap kenangan dan ingin berbagi hal yang semoga bermanfaat melalui tulisan.

Kalian bisa follow juga akun Wattpadku:

@princess_kaktus

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

momen penting , merantau

8 Momen Penting dalam Kehidupan yang Membuat Kita Semakin Dewasa

Tradisi Unik Bulan Ramadan Khas Warga Keturunan Arab di Semarang