in

[Ruang Fiksi] Ada Superhero dalam Tubuh Ringkih Rana

Rana, adikku yang polos itu belum pulang sampai hari ini…

“Gawat! Rana belum pulang juga!” Suara telepon dari tetangga membuyarkan pikiranku. Pelajaran Matematika di jam terakhir ini terlewatkan begitu saja tanpa konsentrasi. Aku jadi kepikiran soal Rana, adikku satu-satunya. Setelah kemarin berusaha cuek saja, tapi kali ini tidak bisa. Ada yang aneh. Aku harus segera pulang. Segera!

***

Kawan, apakah kamu suka memerhatikan betapa uniknya orang-orang di sekitarmu? Entah mengapa, aku suka sekali sejak dulu. Semuanya berawal dari rasa heranku tentang sosok adik yang betul-betul berbeda denganku. Bahkan dia berbeda juga dengan anak-anak seumurannya. Rana itu aneh, tapi untungnya dia tidak nakal. Kata orang-orang dewasa, “adikmu itu berkebutuhan khusus.”

Ada jenis orang yang dilahirkan ke dunia sebagai manusia super cerdas dan daya juang di atas rata-rata, sehingga di titik terbaik kehidupannya ia menjadi orang yang sangat dibutuhkan dunia sekitarnya. Ada jenis orang lain yang merasa cukup jika sudah punya banyak teman. Sampai usia empat belas ini, banyak rupa-rupa sifat manusia kujumpai. Walau Sang Pencipta tidak membuat hal yang sia-sia dalam ciptaan-Nya, ada juga golongan orang-orang yang diciptakan seolah tidak untuk banyak menggunakan pikirannya. Lalu untuk apa dia hidup di dunia selain mengurangi jatah udara dan air bersih? Sayangnya, Rana adalah jenis orang yang seperti itu.

Sepertinya adikku itu tidak pernah menganggap segala sesuatu dengan serius. Atau memang dia tidak bisa berpikir, sampai-sampai dia tidak tahu caranya berburuk sangka. Entah bagaimana perasaan Rana kalau dia melihat betapa sinisnya pikiran kakaknya.

Entah ini penting atau tidak, tapi aku mau cerita soal ini. Kejadiannya sekitar sebulan yang lalu. Ada yang aneh dari sikap Rana beberapa minggu terakhir. Sudah tiga kali kepulanganku dari kost di kabupaten setiap Sabtu sore dalam satu bulan ini, ia menanyakan satu hal: “Mbak Rhea, kok sepatumu kotor dan jelek gitu masih dipakai?”

“Bukan menanyakan yang lain, kabar sekolahku misalnya, eh malah tanya-tanya sepatu. Adik yang aneh,” bisikku dari bagian kepala yang paling picik ditambah fisik yang letih.

“Nggak apa-apa Na, masih bisa dipakai. Besok aku cuci.” Jawabku santai sambil menaruh tas ke kursi di ruang tamu.

“Itu ukurannya berapa ya Mbak?”

“Tiga delapan,” jawabku singkat “eh, Ibu mana?”

“Ada itu di belakang rumah.”

Seperti biasa, setiap baru saja pulang aku segera menemui ibu yang walaupun tidak punya pekerjaan formal beliau selalu terlihat produktif. Sementara itu, bapak masih merantau di Tangerang, dan baru pulang beberapa bulan kemudian.

Sebenarnya aku mau cerita kepada ibu bahwa aku lolos seleksi mewakili sekolahku di SMP 1 untuk ikut olimpiade sains bulan depan. Rana yang dalam urusan sekolah sering dipaksa sama denganku, tidak memberi selamat atau apa. Sudah biar saja kalau memang ia suka memerhatikan hal-hal aneh dan tidak penting.

***

“Adikmu sekarang rajin lho, kalau Minggu mau bantu ibu jualan. Terus kalau sekolah membawa gorengan dititipkan warungnya Tante Mirah juga dibawa ke kelas.”

Begitulah informasi dari ibu kepadaku malam ini. Tentu saja ketika ia sudah tidur. Rana memang cepat mengantuk, karena sering bangun jam tiga pagi.

“Beneran, Bu? Sejak kapan ya?”

“Udah seminggu ini, dia belajar nggoreng pisang sendiri, terus belajar resep-resep kue kering di bukunya ibu. Malah kemarin sebelum subuh Rana udah ikut ke dapur.”

Penasaran, Minggu dini hari aku membuktikan hal itu. Benar saja. Belum azan Subuh, sudah terdengar bunyi peralatan-peralatan dapur. Adikku sudah bangun. Rana seperti tidak sabar ingin menunjukkan pada dunia, ia adalah anak yang tabah bangun sebelum pukul tiga pagi demi ‘berinovasi’ mempraktikkan menu baru dan menyiapkan bahan gorengan untuk dijual di pasar.

Untuk apa? Bukankah lebih baik ia belajar, biar ibu dan bapak saja yang bekerja untuk keluarga ini. Lagi pula di sekolah, aku juga mendapat beasiswa jadi harusnya tidak terlalu mendesak sampai Rana yang masih anak-anak harus ikut bekerja. Tapi, adikku melakukan itu dengan gembira, itu kelihatan dari raut mukanya yang selalu cerah. Bukan hanya ketika jualannya untung lumayan banyak, bahkan ketika percobaan menu pertamanya tidak karuan. Ia tidak menyerah. Rana selalu ceria dan kadang berlagak melucu, walau sebenarnya tidak lucu-lucu amat. Ya, terserah dia lah pokoknya!

“Sebenarnya kamu jualan ini buat apa sih?” Tanyaku pada pekan berikutnya.

“Ada deeeh… Nanti Mbak tahu sendiri.”

“Emang untungnya berapa Na?”

“Paling sehari tujuh sampai sepuluh ribu.” Aku mengangguk saja, tidak mau buang-buang waktu untuk meragukan kemampuan matematikanya.

***

Kembali ke perihal proses seleksi olimpiade sains di SMP, hari-hari berikutnya semakin menantang. Proses pembinaan delegasi semakin intensif. Itu artinya ada beberapa waktu belajar aktif di kelas yang berkurang. “Tidak apa-apa, nanti ada dispensasi untuk kalian,” begitu kata guru-guru yang mengajar di kelas. Sekarang, tepat satu bulan Rana berjualan. Seleksi olimpiade sains di kabupaten dua minggu lagi.

“Hallo, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Ada apa nak?”

“Bu aku minggu depan nggak pulang ya, ada pembinaan hari Minggunya.” Aku menelpon ibu di rumah.

“Minggu? Jam berapa? Padahal adikmu nungguin lho. Dari kemarin nanyain kamu kapan pulang.”

“Hmm bukannya aku sudah biasa pulang ya Bu setiap Sabtu. Jadi sekali-kali nggak pulang gitu. Agak siang sih acaranya.”

“Ya sudah kalau begitu kamu pulang Sabtu siang, terus minggu pagi balik lagi. Adikmu itu lho, minggu ini aneh, nanyain kamu terus.”

Rana semakin aneh dan penuh tanda tanya. Kemarin tiba-tiba rajin bekerja, sekarang katanya menunggu-nunggu kedatanganku. Aku jadi khawatir.

Sebagaimana tugas seorang kakak adalah memberi contoh dan jika perlu, membuat standar tinggi untuk adiknya. Aku sejak lama ingin ‘membentuk’ Rana menjadi adik yang berhasil. Berhasil menjadi apa dan bagaimanapun yang ia mau. Tapi, proses labelisasi diri itu agak tersendat oleh bapak dan ibu yang mendefinisikan berhasil itu berarti melampaui kakaknya. Ya, melebihi aku, terutama dalam hal sekolah. Aku sering memikirkan hal itu. Bagiku, Rana terlalu istimewa jika hanya disuruh menjadi (seperti) kakaknya. Semoga Rana yang selalu ceria dan susah ditebak itu santai saja menerima dan menyikapi pandangan orang sekitarnya. Tapi, kira-kira ia punya rencana apa ya, sampai sebegitunya dalam menungguku pulang minggu ini?

***

Sabtu sore, pukul 15.30 aku sampai rumah dengan gelisah yang masih mengganjal, setelah turun dari mobil angkutan umum yang mengantar penumpang dari terminal kecamatan menuju desa-desa tempat rumahku berada. Aku berjalan tenang menapaki halaman yang tanahnya agak basah, barangkali sisa hujan tadi malam. Memasuki rumah sederhana bercat putih kusam karena terlalu lama bertahan di berpuluh-puluh musim.

“Assalamualaikum.” Aku masuk saja, pintunya tidak ditutup.

“Waalaikumsalam. Duh, Rhea, syukurlah kamu udah pulang. Cepet makan dulu sana, terus bantu ibu nyari adikmu.”

“Rana beneran pergi, Bu!? Dari tadi pagi?”

“Nah itu lho. Adikmu dari tadi siang pulang sekolah terus nggak kelihatan. Pergi bawa sepeda, nggak pamit. Biasanya ke mana-mana kan dia pamitan sama ibu.”

Mana mungkin dalam situasi panik begini aku berselera makan. Habis shalat Asar aku langsung bergabung dengan orang-orang di rumah dibantu tetangga, mencari-cari adikku di tempat yang ia biasa kunjungi. SD, rumah teman-temannya, pasar, masjid tempatnya mengaji. Nihil. Sampai menjelang Magrib.

“Haduh, gimana ini… Coba lapor polisi.”

“Ya belum bisa bu, kan belum 24 jam. Kita tunggu dulu sampai nanti malam.” Aku yang sebenarnya juga khawatir mencoba menenteramkan keadaan.

***

Tepat pukul 18.35 ada suara pintu pagar dibuka. Anak kecil berambut lurus bermuka innocent yang amat kukenal berjalan masuk halaman, menuntun sepeda. Rana pulang!

“Lho bu, itu Rana!”

“Mana!?” Ibu langsung ke luar. Lantas dipeluknya anak keduanya itu dengan perasaan lega bercampur jengkel yang ditahan. Yang penting sudah kembali ke rumah dengan aman.

“Kamu ke mana aja sih Na? Semua di sini panik nyariin kamu!”

“Maaf Mbak, tapi tadi siang pas aku mau berangkat, ibu lagi di rumah Pak Lurah.”

“Ya tapi kamu ke mana sih, Nduk?”

“Ke supermarket di kecamatan, Bu.”

“Hah? Ngapain? Terus kok sampai jam segini?”

Seketika, Rana mengambil kotak berukuran sedang yang ada di keranjang sepedanya lalu memberikannya padaku.

“Maaf tadi di perjalanan pulang ban sepedanya bocor, kena paku. Jadi aku jalan kaki, makanya lama. Oh iya Mbak, ini aku belikan sepatu, biar kalo Mbak Rhea ikut lomba nggak malu sama temen-temen.”

Aku bukan anak yang gampang tersentuh, tapi kali ini seperti meleleh karena sikap adikku ini. Seisi rumah yang terdiri dari aku, ibu, dan beberapa tetangga menatap wajah Rana yang polos itu. Ternyata adikku itu jernih sekali mata hatinya.

Kalau aku menang di olimpiade sains kelak, aku berutang budi pada sosok superhero yang mendukung dengan caranya sendiri-sendiri. Termasuk cara yang paling tidak terduga dari adikku, yang bertubuh ringkih itu, yang sering kupandang sebelah mata, yang jualan gorengan demi menabung karena diam-diam ingin memberi hadiah untuk kakaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

teknologi , robohon robot

Teknologi vs Manusia: Apakah Kita Lebih Baik dari Robot?

Mengenal Ophuijsen: Bahasa Melayu Sekolahan