in

[Ruang Fiksi] Sekali Lagi Tentang Menunggu

Menunggu atau ditunggu, pilih yang mana?

Pilih menunggu atau ditunggu?

Sepertinya kemarin kita saling bertanya: pilih menunggu atau ditunggu? Entah apa jawabmu, yang pasti aku memilih… untuk tidak memilih.

*

Soal menunggu atau ditunggu, bukankah itu artinya kita sedang bicara tentang waktu, tentang momentum, tentang saat terbaik di mana kita menyelesaikan satu per satu tanggung jawab kita. Tentang jumlah waktu yang paling pantas untuk kita pakai untuk menyadari: bahwa masing-masing orang punya timing-nya sendiri-sendiri.

 *

Ketika aku mencatat ini, masa lalu terlihat berbentuk tumpukan buku-buku, tugas sekolah, dan sesekali kebisingan di terminal. Ya, kebisingan yang salah satunya ditimbulkan dari banyaknya kata tanya: ‘Kapan?’

*

Sebelum terlalu larut mempersoalkan “mending mana antara menuggu atau ditunggu”, coba renungkan sejenak hitungan ini: jika kita asumsikan, bahwa usia kita sampai [katakanlah] 65 tahun, dan satu tahun adalah 365 hari, maka setiap kita punya waktu untuk hidup selama 23.725 hari.

 *

Lalu jika waktu produktif kita 8 jam sehari, dalam satu tahun kita telah menghabiskan waktu 8 x 365 = 2920 jam. Itu artinya 121 hari lebih 6,67 jam kita pakai diri kita untuk ‘bekerja’ (mulai dari belajar, berpikir, dan menghasilkan hal yang penting), kita bulatkan jadi 121 hari, itu artinya dalam setahun yang banyak sekali target itu, kita sudah habiskan 4 bulan untuk berusaha (asumsikan 1 bulan = 30 hari)

menunggu , waktu
Menunggu putaran waktu

Jadi, bagaimana jika dihitung seumur hidup? 4 bulan x 65 = 260 bulan.

260 : 12 = 21.66667 tahun, jadi 21 tahun lebih idealnya fisik dan mental kita ‘bekerja’. Oh ya, kabarnya 21 lebih sekian itu barangkali setara dengan bilangan usiamu?

*

Seperti apa kira-kira sampai di sini? Bagaimana caramu memperlakukan waktu?

*

Sementara itu mataku masih berenang bersama angka-angka yang mewakili jumlah menit milik semesta hari ini, untuk mempersiapkan jamuan-jamuan di atas angin kepada kita nanti.

 *

Katamu, padang rumput hijau luas sekali di negeri asing yang kau tempuh sendiri, seusai mimpi yang gaduh itu, sedang merahasiakan kejutan lain. Maka perihal menunggu tak ubahnya bicara soal pagi, sesaat setelah langit menceraikan matahari.

*

Adakah jawaban untuk: berapa kali kau menengok kepada lajur waktu yang bias? Kapan kiranya kita meniadakan jarak? Melampaui kecepatan harapan di antara arus tanpa jeda dan kemungkinan tentang pertemuan.

*

Sampai nanti waktunya habis memendar warna kebosanan di tepi jalanan kampung yang lama tidak disinggahi, setelah minggu-minggu sibuk itu. Mungkin sebagian tanah lapang tempatmu berlarian dulu sudah menjadi petak sawah, menjadi tempat parkir, menjadi bukit, menjadi udara yang singgah pada lembah, menjadi bunyi baru seperti pertanyaan: “kapan pulang?”

berlari, menunggu
Jangan hanya menunggu

Tapi jangan dengarkan. Kau pun baru mendarat pada daratan lain, dalam musim yang berkelindan dengan rintik paling basa basi, seperti gerimis di kota yang kau tinggalkan.

Dan catatan kesepian itu biarkan ia beku sebagaimana waktu yang ternyata lupa mengatakan selamat pada langkah dan jalanmu.

Jemari ini masih bernaung pada tuts imajiner demi mengabarkan tentang impuls yang berlarian di kepala. Meloncati dinding pembatas antara perpindahan kenangan dan bilangan masa depan. Masih membenamkan diri pada melankolia tentang menunggu, menikung batas keresahan tanpa harus menerka equilibrium kita.

*

Lalu koordinat jiwa yang mana, yang dapat ditempuh dengan sajak. Manakala langkah kakimu sudah dapat menerjemahkan kedatangan, ialah jabat tangan orang-orang di kampung halaman yang kau pahami sebagai euforia sekaligus tanda tanya: bilamana kita terjun bebas di ladang penghidupan dan menanam tawa anak-anak dusunnya?

*

Asal jangan risaukan ke mana arah angin, jika itu hanya akan membiaskan tujuanmu ke dalam rupa-rupa kebisingan hari-hari di depan.

*

Atau barangkali ternyata, sejenak sesudah kau datang, waktu masih menjadi kurva. Lalu terserah apa kata udara. Coba kau tengok angin, pada lembah, pada pendaratan dan kenangan yang lama direncanakan. Juga pada hal-hal bahwa setiap harapan adalah penghuni masa depan

*

Jika perlu, alamatkan sapaan padanya, bagaimana resonansi antar garis waktu itu, di mana mereka saling bersapa pada akhirnya: selamat datang di keabadian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

[Ruang Fiksi] Ketika Krisan Kuning Bermekaran

momen penting , merantau

8 Momen Penting dalam Kehidupan yang Membuat Kita Semakin Dewasa