in

[Ruang Fiksi] Sajak dari Jalanan dan Cerita di Baliknya

catatan dari jalanan

I… Kereta Terakhir

Bilamana pemberhentian di senja menjelang menelisik pelan di lapisan menit yang berlarian. Ternyata stasiun keheningan sudah bersiap, mengucap selamat jalan.

Seperti sebungkus kenangan, kau suguhkan pertanyaan di antara peron dan kerumunan. Orang-orang lalu lalang membawa kepentingan, yang barangkali terwakilkan pada kata-kata di kepalanya. Lalu jika ini adalah tentang kereta terakhir, barangkali nanti di kereta terakhir yang sudah berlalu, sementara di luar sana angin belajar menyudahi getir.

jalanan
Kereta terakhir (Sumber gambar: dokumen pribadi)

II… Pengamen Jalanan

Ini tentang seorang bocah dekil, kecil, dan dihantam terik tanpa jeda. Lupakan dulu sejenak tentang rupiah. Tapi bukankah mereka harusnya sekolah?

Tentang bocah polos, yang nyaring betul suaranya, mengamen di bus yang kutumpangi, kala pulang dari rantauan. Dalam nada yang sesekali sumbang itu, seperti ingin menyampaikan begini: kita akan terus menyanyikan harmonisasi jalanan. Agar harapan terus terlihat terang, sedangkan jika harapan adalah lagu yang kemarin mereka nyanyikan di atas bus kota itu. Maka dalam petikan yang tak ubahnya lengkingan liar akan garis hidup yang benar-benar asing.

Katanya, “kita masih akan terus bernyanyi,” sampai jalanan berhenti disesaki arus dan kecepatan. Sampai jadi debu yang menyatu pada kepulan asap-asap semua kendaraan yang memanggul kepentingan orang-orang yang meniti garis kepulangan.

(2013)

 

III… Trotoar

Jangan kau pikirkan tentang udara pekat di seberangnya. Atau arus yang arogan dan sisa kekakuan di tepian. Di trotoar ini, kita melebur dalam kecepatan modernitas. Kaki lima, jutaan kepentingan pejalan, dan sisanya melankolia. Seperti sepakat untuk saling menjadi sekat. Namun trotoar ini mengeja jutaan dialektika, di penghentian segala.

Resonansinya mengabadi sampai ke pemberhentian lainnya, ke dalam kontestasi jalanan tak berhingga. Pagi menjelang atau malam-malam suram, ia masih mencintai lampu taman berpendar. Trotoar dan perihal lain soal hidup yang dibeli dengan retorika. Mahasiswa, PERDA, atau pedagang kaki lima?

Aku berjalan menerobos udara yang lengang, pada tiap metafora tepi jalanan, tak lupa sesekali perhatikan mereka, yang merayap asap di balik kaki ke lima.

Telapak memaku trotoar tua. Tak bicara lain kecuali agar hidup sedikit lebih lama. Belajar berkilah pada aturan tata kota. Di benaknya ada aroma rupiah melayang di udara…

Di trotoar, euforia tiap tapak kaki menghujam retorika lainnya. Katanya kini jalanan makin luas, dihampar bebas. Jadi, trotoar ini tak ubahnya petak terabaikan. Karena kepentingan dan segala rupa arogansi roda. Dan pada pagi menjelang atau senja menuju malam-malam suram. Ia masih mencintai lampu-lampu taman berpendar. Trotoar masih ingin dijejaki oleh langkah-langkah yang bebas. Hingga keberadaannya mengabadi sampai ke penghentian lainnya.

(2013)

trotoar , jalanan
Ilustrasi trotoar (Sumber gambar: Pixabay)

IV… Dari Terminal Arjosari

Akulah asap yang mengepul dari sisa pembakaran kenangan yang berteriak dari masa lalu. Dicerca segala udara buas. Aku pun tak tahu di mana terminalku sendiri. Tempat pemberhentian segala perihal lelah.

Padahal perjalanan berikutnya baru akan dimulai, aku hampir meradang pada hiruk pikuk tanpa resonansi. Juga simpang-simpang keharuan tercipta dari trotoar paling tepi. Di sana kulihat ada perpisahan yang keji, antara ayah dan anak bujangnya. Barangkali hendak merantau ke seberang

Arjosari dan kepulan asap bis kota yang menyapu pias udara. Semua seperti memparadekan ilusi. Rasanya baru kemarin hijrah ke kota ini

Aku adalah parafrase perjalanan dan waktu. Menekuri riak-riak janji dalam ingatan: tak boleh pulang sebelum jadi orang! Sedang dalam detik tanpa ilustrasi, bersama melankoli perjalanan sehari yang tak ubahnya hiruk pikuk yang segera melayarkan mimpi ke panjangnya perjalanan.

Dari terminal Arjosari dan sepersekian jarak yang dibentang Kota Malang sore hari, menuju kota-kota imajiner. Bukan selamanya soal menjual sepi ke jalanan atau berpura-pura meneriaki udara bebas, melainkan soal pembelajaran menuju abadi, sampai perjalanan kelak disudahi. Pada segala hal pemberhentian.

(Juli 2013)

 

V… Dalam “Apartemen Gantung” *)

(Ketika kolong jembatan ingin berkata-kata)

Kepada orang-orang yang berdiam pada punggungku rangka baja, sudahlah! Menyingkir dari ibukota. Lalu dengar deru jalanan, tepat di atas sana. Arus modernitas yang lupa pada kalian. Sedang aku, tak lebih dari jembatan segala kepentingan.

Lihat itu! Manusia-manusia yang melaju demikian cepat. Pergi pulang tanpa bersalam pada kalian. Sudah kubilang, baiknya kembali, ke bumi yang melahirkan kalian, pada jalan yang tertinggal jejak terlupakan.

Baiknya kalian siap-siap kena razia. Karena gelandangan dan pengemis, sudah pasti menciderai amanat legislasi. Soal keindahan aturan tata kota. Tapi naas kalian tak mau mendengarku

Malah katamu semua; masih ada kaleng bekas, bekas botol minuman di jalanan, artinya ada makan hari ini. Juga sampah plastik, gelas air mineral, berserak di sungai, artinya hidup kami dapat bersambung lagi

(2013)

 

*) Apartemen Gantung adalah sebutan bagi jembatan Pasar Rumput, Jakarta Selatan (saat itu), yang dijadikan tempat tinggal oleh beberapa keluarga pemulung di ibukota.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

orang Indonesia , salah paham

Hal-hal yang Masih Sering Disalahpahami di Indonesia

meraih prestasi

Semua Orang Berhak Meraih Prestasi dan Kesuksesan yang Hakiki