in

[Ruang Fiksi] Pergolakan Hati Seorang Aktivis

Apa artinya menjadi seorang aktivis?

Di tengah keramaian kota, ratusan mahasiswa aktivis berbaris mendatangi istana negara. Salah satu dari mereka mengomando di barisan paling depan, tepat di depan spanduk bertuliskan “Kami Memperjuangkan Rakyat Kecil, Rakyat Membutuhkan Kesejahteraan”. Sementara itu, dari jarak 200 meter, sekelompok lelaki lainnya tengah sibuk menata mikrofon dan sound system serta alat lain di atas mobil bak yang bertuliskan spanduk “Mahasiswa Bergerak Untuk Rakyat”.

Para pemuda yang berada di balik spanduk dalam barisan juga membawa pamflet yang mencirikan dukungannya terhadap nasib rakyat. Mereka mengenakan jas almamater lengkap dengan topi dan masker agar dapat terlindung dari panasnya sengatan matahari. Suara yang cukup keras dari para mahasiswa membuat para polisi dengan sigap berjejer rapi di pintu gerbang istana untuk menjaga lancarnya aksi.

Setelah sampai di depan mobil bak, mahasiswa pun berhenti bergerak. Salah seorang pemuda di barisan paling depan tadi mulai menaiki  mobil bak dan berorasi ditengah massa.

“Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!”. Suara itu lantang terdengar sampai ke ujung barisan mahasiswa. Para mahasiswa pun mengikuti suaranya. Tak berapa lama, ia melanjutkan perkataannya.

“Saat ini, kita adalah seorang mahasiswa yang sedang memperjuangkan rakyat. Kita adalah mahasiswa yang mengikuti hati nurani untuk datang dan menuntut hak-hak rakyat dipenuhi oleh pemerintah. Apa yang terjadi saat ini adalah satu hal yang membuat mahasiswa bergerak dan pergerakan ini dilakukan karena dukungan cinta kasih kita terhadap rakyat Indonesia. Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Mahasiswa!”.

Begitulah kiranya suara pemuda yang bernama Heru. Ia adalah seorang aktivis mahasiswa yang memegang posisi sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas di Jakarta. Jabatannya sebagai presma membuatnya seringkali harus berorasi di depan gedung istana negara, bergulat dengan jalanan ibukota untuk melakukan aksi-aksi ketidaksetujuannya terhadap kebijakan pemerintah.

Sayangnya, aksi yang dilakukan Heru sekarang ini berjalan tidak kondusif karena barisan mahasiswa mendesak polisi untuk membuka pintu gerbang istana negara. Mereka mendorong pintu gerbang secara paksa. Tak ayal, aksi dorong pun terjadi antara massa dan para polisi. Gas air mata juga di tembakkan ke udara untuk menghalau massa yang kian membludak dan masuk ke istana. Heru pun bergegas turun dari mobil bak dan menghalau massa yang memaksa masuk ke istana. Heru tahu, keributan yang terjadi ini dikarenakan penyusup yang masuk ke dalam barisan mahasiswa. Penyusup itu tentulah berhasil mengelabuhi massa agar aksi unjuk rasa ini berjalan arogan dan penuh desakan.

Bersama Andi yang merupakan koordinator lapangan aksi, ia berusaha untuk mencairkan suasana dengan menenangkan massa. Hal ini dilakukan Heru karena sebelum hari pelaksanaan, ia sudah berjanji untuk melakukan aksi secara kondusif dan terjaga kepada aparat negara (polisi) yang akan menjaga jalannya aksi. Sayangnya, apa yang dilakukan Heru tidak bisa dicegah dan massa mulai arogan hingga membuat polisi terpaksa menembakkan peluru ke udara untuk mencegah aksi semakin anarkis. Akibat serangan peluru tersebut, massa pun menjauh dari istana. Beberapa mahasiswa terlihat terluka dan dilarikan ke rumah sakit.

Urat kepanikan pun terihat dari wajah Heru dan Andi. Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena setelah orasi usai, kegiatan mahasiswa kembali berjalan normal. Heru juga bisa kembali beraktivitas di lingkungan akademik maupun organisasi.

Heru memang merupakan seorang aktivis sejati. Dalam kesehariannya, ia tidak pernah lepas dari suatu kelompok diskusi. Bersama kawan-kawannya, ia selalu menyempatkan diri untuk melakukan diskusi yang dianggap penting untuk kemaslahatan umat. Namun, saat ini ada satu hal yang membuatnya khawatir. Kekhawatiran itu muncul, karena ia tidak lagi menjabat sebagai presma. Hatinya bergejolak, pergolakan batin menyelimuti dirinya. Apa yang akan dilakukannya saat ini? Akankah Heru berhenti menjadi aktivis? Behenti berjuang?

Tidak lama sepulang dari aksi, bersama teman-teman aktivis BEMnya, Heru kembali mengadakan forum diskusi.

“Her, hari ini kita resmi bukan pengurus BEM lagi. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Wawan mantan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma).

“Terus berjuang Wan, apalagi?” Heru menjawab pertanyaan Wawan dengan balik bertanya padanya.

“Barangkali kamu mau jadi pengusaha, kan kita sebentar lagi akan lulus.”

“Yah, tentu. Meskipun aku menjadi pengusaha, aku harus bisa bermanfaat bagi umat Wan.”

Wawan yang sedang meneguk es teh manis dan kacang goreng di depannya pun mengangguk mendengar jawaban Heru. Setiap kali diskusi, mereka memang menyiapkan makanan ringan seperti kacang, keripik, makaroni. Setidaknya, makanan itu bisa mengganjal makan siang mereka.

“Benar itu Her, kita harus bisa bermanfaat bagi orang lain” Wawan meneruskan perkataan Heru.

“Jiwa sosial kita jangan sampai pudar Wan.”

“Siap Her, tidak akan!” jawab Wawan dengan begitu mantapnya.

Dari balik pintu datang seorang lelaki membawa kresek hitam yang tampak berminyak di bagian luar. Heru mendongak melihat lelaki itu.

“Lama sekali kamu An? Aku dan Wawan sudah lapar,” gerutu Heru kepadanya.

“Maaf bang, tadi Pak Suyitno baru saja menggoreng sehingga aku harus menunggu gorengan itu sampai matang. Setidaknya selama menunggu, aku bisa menggoda Rani, putri Pak Suyitno yang cantik itu.”

“Dasar kau An, wanita saja kau pikirkan. Ayo lekas kau ambil piring di lemari itu, lalu kau letakkan gorengan itu dari kresek hitam yang kau bawa. Aku pernah membaca, kresek hitam tidak baik untuk gorengan yang panas. Katanya bersifat karsinogenik, penyebab kanker,” kata Heru yang masih terus menyalahkan Andi karena keterlambatannya mangantarkan gorengan.

“Alah… berita seperti itu kau percaya Bang, buang-buang waktu saja memikirkannya. Kebanyakan dari mereka memang tidak pro terhadap rakyat kecil, makanya bicara demikian. Kalau memang tidak suka gorengan, ya bilang saja tidak suka. Jangan malah menutupi dengan spekulasi seperti itu,” gerutu Andi seraya melepaskan gorengan dari kresek hitam yang dibawanya.

“Andi! Itu berita benar loh, aku juga pernah mendengarnya. Tapi tidak semua hal harus dicap buruk kan?” kata Wawan yang menyela pendapat Andi.

“Iya sih, bener bang. Tetapi aku hanya takut, jika tukang gorengan seperti Pak Suyitno tidak laku lagi berjualan gara-gara berita seperti itu.”

“Gara-gara Pak Suyitno atau gara-gara Rani? Jangan-jangan karena kamu tidak bisa melihat Rani lagi nanti?” goda Heru kepada Andi.

“Hehe, ya,dua-duanya sih bang,” jawab Andi dengan sedikit senyuman mesemnya.

“Rezeki sudah ada yang mengatur An. Jodoh juga sudah diatur An,” jawab Wawan yang mempertegas pendapat sebelumnya.

“Iya bang, apalagi mba Keke. Hubungan abang sama mba Keke bagaimana bang?” tanya Andi kepada Wawan.

“Udah putus An…” jawab Heru menyela Wawan yang baru saja akan menjawab pertanyaan Andi.

“Lho, kok bisa?”.

“Ya bisa An, kan jodoh udah ada yang ngatur hehe…” jawab Heru yang menirukan jawaban Andi.

Mereka bertiga pun terkekeh mendengar perkataan Andi yang seolah menjadi senjata makan tuan bagi Wawan yang tadi bicara demikian.

Sementara itu, tak lama kemudian Heru meminta izin untuk pamit pulang ke rumahnya di Tangerang. Ia merasa belum pulang sebulan ini. Heru memang mengharuskan dirinya untuk pulang ke rumah sebulan sekali atau dua minggu sekali. Karena ada tanggung jawab yang diembannya. Butuh waktu 1 jam untuk sampai ke rumahnya.

mahasiswa , aktivis

Sesampainya di rumah, Heru biasanya berkunjung ke masjid dekat rumah. Seperti sekarang ini, Heru sedang bermenung selepas salat Isya. Tepat di shaf belakang imam, ia duduk bersila. Salah seorang dari jamaah pun mulai mendekati dan bertanya padanya.

“Assalamu’alaikum… Kamu nampak sedang berdzikir, Akhi?”

Heru yang kaget, sontak menoleh ke samping kirinya. Ia pun menyadari bahwa salam itu datang dari Pak Ustadz Karman. Heru pun menjawab salam sambil bersalaman.

“Wa’alaikumussalam…. Eh Pak Ustaz. Iyah Pak, hati saya sedang tidak enak saja rasanya.”

“Bagus, hati yang sedang gundah memang cocok jika disembuhkan dengan dzikir,” kata Pak Ustadz Karman dengan mantapnya.

“Oh iya Pak, saya boleh bertanya pada Bapak?” tanya Heru dengan nada yang merendah seperti seorang pemuda yang menghormati orang yang lebih tua.

“Ya tentu boleh Her, tanyakan saja”, kata Pak Ustadz Karman dengan wajah yang begitu teduh.

“Heru ingin bertanya pada Pak Ustadz. Sebenarnya, apa itu makna berjuang Pak?”

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini Her?”

“Tidak apa-apa Pak, hanya ingin tahu saja makna dari kata berjuang” Heru tersenyum kecil dan merasa sedikit malu dengan pertanyaannya.

“Baiklah, aku akan menjawabnya. Sekarang ini kita sedang berjuang Her, menjadi pengurus masjid sepertimu, seperti Bapak. Berjuang itu bermakna luas. Bagi Bapak, Pak Sulaeman yang selalu berdonasi meski bukan pengurus masjid lagi juga ikut berjuang demi masjid ini”

Mendengar jawaban itu, Heru sadar jika ia harus giat memperjuangkan hak-hak rakyat meski bukan presma lagi. Hal ini juga menyadarkan dirinya bahwa ia adalah aktivis sejati.

Ditulis oleh Kris Listiani Safitri

Saya adalah alumni Universitas Jenderal Soedirman. Saya menyukai sastra, bagi saya sastra adalah panggilan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

tendi nugraha , budaya

Tendi Nugraha, Potret Anak Muda Pejuang Seni dan Budaya

pendidikan , bangsa

Memajukan Pendidikan Bangsa, PR Kita Bersama