in

[Ruang Fiksi] Perempuan Beraroma Melati

[Ruang Fiksi] Perempuan Beraroma Melati

Aku pernah menjadi tawanan sepi. Memenjarakan diri pada malam pekat. Sepekat tuak yang kau kucurkan ke bibir angkasa. Membuat kepalaku pusing tapi nikmat. Karena pada saat itu, semua penat ikut melayang bersama diri. Keluar menyerupai balon warna merah. Dari pori-pori kulitku yang kembang kempis.

Aku merindui senja minggu lalu yang memabukkan. Auramu yang dingin justru menghangatkan dadaku. Di bawah lampu redup taman kota. Aroma tubuhmu seperti teh di pagi hari. Wangi melati yang manis. Ketika kupegang tanganmu yang sedingin es, senyum setengah bulan bersemburat. Tapi aku tahu bahwa dirimu sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.

Ada rasa tenang menjalar ke tubuhku ketika duduk berdua denganmu. Sejenak aku merasa kecil di antara kedua bola matamu yang pekat. Dua kaca gelap namun berkilau di wajahmu itu amat kusukai. Juga kutakuti. Di sana aku melihat ruang-ruang luka yang menganga. Ruang sepi dan pengap tanpa celah. Aku malu. Harusnya aku tak perlu mengutuki kealpaan diri. Begitu kerdil jika di hadapanmu.

Semakin malam aroma melati dari tubuhmu semakin menyengat. Membuat candu yang lebih pekat. Sebenarnya, aromamu lebih wangi dan lembut daripada melati. Hanya saja, aku tak tahu bunga apa yang cocok dijadikan sebagai padanan.

Kau menawanku. Dalam dua kaca pekat dan berkilaumu. Menatapku tanpa berkata apa-apa. Tapi semua itu cukup bagiku. Untuk mengetahui sepenggal kisahmu.

“Apa kau ingin ikut denganku?”

“Ke mana?”

“Ke sana. Kata nenekku dulu, tempat itu bernama Lazuardi. Sebuah tempat yang damai.”

Ah, kau perempuan pemimpi, rupanya. Aku suka dengan orang-orang sepertimu. Perempuan polos yang manis. Tapi kemudian rasa takut kembali mengecap badanku. Menimbulkan gigil. Darahku tersekat. Ada rasa sesak yang membuatku tak dapat bergerak. Bahkan untuk sekadar mengedipkan mata.

Sebesar itukah deru di dadamu? Ingin kukatakan bahwa aku ingin mengajakmu ke rumahku. Atau sekadar memberi rasa aman. Seperti mengetahui pikiranku, kau pun tersenyum dan menggelengkan  kepala.

“Kau tak sendiri. Ada istri yang sudah sepuluh tahun menemanimu.”

Aku masih terdiam. Bagaimana kau bisa tahu tentang Ratri? Bertemu denganmu membuatku lupa diri. Tapi kenapa sekarang kau ingatkan lagi? Puzzle asing pun mengerjap rongga pikiranku yang membeku.

Hubunganku dengan Ratri memang di ambang kehancuran. Semua bermula ketika aku dipecat dari kantor, kemudian menganggur. Sedangkan ia malah diangkat menjadi direktur utama di perusahaannya bekerja. Semenjak itu, ia lebih mementingkan urusan kantornya. Sering lembur bahkan menginap di kantor. Ketika di rumah, yang ia lakukan hanya mengeluhkan betapa berat pekerjaannya. Sementara aku, mengurus urusan rumah. Terakhir, ia memarahiku yang menurutnya tak becus mengurus rumah.

Kami tak pernah sarapan bersama lagi. Ia berangkat pagi buta ke tempat kerja. Tak ada juga mengobrol saat malam. Ia sering pulang dini hari lalu langsung tidur.

Puzzle itu luruh satu per satu. Kau menyandarkan kepala di pundakku. Tubuhku yang membatu perlahan dapat digerakkan. Kucoba untuk membelai rambutmu.

Kemudian puzzle lain berdatangan. Kupejamkan mata sejenak, ah itu kisahmu. Menengok bilik perjalananmu. Mataku  terbuka saat kau menggenggam erat tanganku.

“Aku bukan sekadar penikmat malam. Malam meminangku sebagai kekasih. Mengutukku jadi penjaga sepi.”

“Waktuku tak banyak. Sebelum subuh, aku sudah harus pergi ke sana. Portal itu hanya terbuka sekali. Saat kita benar-benar menginginkannya.”

“Kenapa kau ingin mengajakku?” kataku penasaran.

“Karena aku yang meniupkan sepi itu ke dadamu.”

Ah, kau benar-benar menawan. Apakah ini caramu menggoda para lelaki? Beda sekali dengan perempuan-perempuan lain.

Aku tersenyum mengingat kisah pertemuan pertama sekaligus terakhir kita itu. Dini hari saat aku mabuk dan pergi ke taman. Kujumpai kau seorang diri. Duduk di bangku taman dengan tatapan kosong.

“Lima belas tahun aku membagi-bagikan kelam itu. Aku menghapusnya ketika mereka terjatuh dalam rengkuhanku. Dengan begitu, sepiku sedikit menguap. Walaupun setelahnya, sekuntum bunga sepi itu mekar lagi. Bunga yang memabukkan para lelaki. Bunga yang akan harum jika tangan-tangan sepertimu menyentuhnya.”

Berapa umurmu? Jika lelah, berhentilah.”

“35 tahun.”

Sejujurnya, aku tak begitu mengerti apa maksudmu. Yang kuketahui adalah kau gadis pemimpi. Matamu sayu. Terlihat begitu lelah. Menatap ke depan dengan datar tanpa ekspresi. Kubelai rambut hitam panjangmu. Aroma melatimu semakin lembut. Aku rasa seluruh tubuhmu memang beraroma melati. Tapi anehnya, aku tak merasa birahi sama sekali. Kau seperti anak ayam yang baru menetas. Sedangkan aku induk yang ingin menjagamu. Atau lebih tepatnya memilikimu. Menyimpanmu untukku sendiri.

“Satu jam lagi subuh. Kau tak mau ikut denganku?” ucapmu.

Kau tersenyum. Senyum lain dari senyum lainnya. Menyibak jaring laba-laba luka di matamu. Entah mengapa aku suka matamu yang seperti itu. Pekat tapi berkilauan.

“Ikut saja denganku.” Bujukku.

“Pada akhirnya, semua akan kembali seperti semula. Tapi aku rasa ini tak terlalu buruk. Hidup di satu panggung. Menari semauku. Aku sudah tau bagaimana akhirnya. Aku tahu ini menyesakkan dada. Bahkan aku juga tahu kalau aku akan bertemu denganmu di sini hari ini.”

Perlahan angin menyibakkan rambut legammu dari kedua pipi. Satu kecupan mendarat di pipiku sebelum kau melangkah pergi. Melangkah menuju jalan gelap yang kau sebut sebagai portal. Meleburkan diri bersama pekat malam.

Kini, candu pekat di matamu masih terasa. Aku merinduimu. Gadis pemimpiku yang gila. Perempuan Beraroma Melati.

Semarang, 22 Agustus 2017

Tentang penulis: Penyuka mistis tapi tak mau bertemu hantu. Berharap bisa menulis cerita-cerita mistis.

Ditulis oleh Ririn Juli Hardianti

Penyuka hal-hal berbau mistis tapi penakut juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menjadi Lebih Produktif Dengan Cara Yang Benar

Menjadi Lebih Produktif Dengan Cara Yang Benar

Tips Ujian Toefl

6 Strategi dan Tips Sukses Lulus Ujian Toefl dengan Skor Tinggi