in

[Ruang Fiksi] Orang-orang di Balik Jeruji Besi

Di dalam jeruji besi, ia tak mendengar suara apa pun selain kehampaan

Selama proses persidangan, kepala Radil sudah berimajinasi ke mana-mana. Ia membayangkan dirinya meringkuk di dalam jeruji besi. Ia tak tahu jika perbuatannya tersebut dapat menjerumuskannya ke dalam penjara. Jika tahu akan seperti itu, tentu ia tak akan melakukannya. Apalagi ia memiliki seorang ibu yang telah berusia senja bersama seorang adiknya yang masih sekolah.

Radil adalah seorang pemuda penjaja asongan. Ia berhenti sekolah dan memilih bekerja banting tulang sebagai kepala keluarga menggantikan mendiang ayahnya. Ia rela mengubur masa depannya menjadi seorang wartawan demi menghidupi ibu dan adiknya.

Selepas fajar menyingsing, Radil akan berkeliling di sekitar lampu merah. Namun sebelum itu, ia terlebih dahulu mengantarkan adiknya ke sekolah. Setiap hari ia berjualan di sana hingga mendekati sore. Selanjutnya, ia akan berpindah tempat ke alun-alun kota hingga malam hari.

jeruji besi , penjara

Pada suatu ketika, Radil harus berhadapan dengan hukum lantaran dirinya mengambil sepasang sepatu yang tergeletak di atas pot tanaman. Ia menemukannya ketika sedang berkeliling mengasongkan dagangannya di alun-alun kota. “Lumayan, nemu sepatu kanggo adek!,” ucap Radil di dalam hati sembari membayangkan wajah adiknya yang semringah karena mendapatkan sepatu baru.

Memang Radil ingin sekali memberikan adiknya sepasang sepatu baru. Seringkali ia memergoki adiknya berdoa. Adiknya tahu betul bagaimana kondisi keluarga mereka, maka dari itu, ia tak berani meminta. Namun Radil sebagai kepala keluarga dan kakak satu-satunya, ia merasa bertanggung jawab untuk memenuhi keinginan adik kesayangannya. Ia perlahan-lahan mulai menabung sedikit demi sedikit dari hasil jualannya. Akan tetapi, tak pernah sedikit pun terkumpul karena acapkali uang yang ia kumpulkan, terpaksa ia gunakan untuk kebutuhan lainnya, seperti membeli obat untuk ibunya, membeli makanan, ataupun membayar utang beras di warung milik Koko Lim.

Radil tak mau mengambilnya secara langsung. Ia mencoba menunggu beberapa menit, takut-takut si pemilik datang. Setelah tiga puluh menit menunggu, ia pun mengambil sepatu tersebut dan memasukkannya ke dalam kresek yang ia miliki. Baru beberapa langkah dari tempatnya ia mengambil sepatu, tiba-tiba ia diteriaki oleh seseorang, “Maling! Maling!”

Radil kaget mendengar tersebut. Ia pun berusaha lari dan meninggalkan sepatu yang dijinjingnya itu. Dengan beban dagangan yang bergelantungan di lehernya, Radil tak dapat berlari dengan cepat. Alhasil, ia ditangkap oleh pengunjung sekitar dan sempat dipukuli sebelum dibawa ke kantor polisi.

Kula mboten nyuri, Bu. Kula nemu,” ujar Radil di hadapan ibunya.

Yo, Le. Ibu percaya karo awakmu.” Ibu Radil berusaha kuat setelah mengetahui anaknya harus dipenjara selama lima tahun. Menurutnya, ini tak adil. Mengapa anak kesayangannya ini harus mendekam di penjara hanya karena menemukan sepatu di jalanan? Lalu bagaimana pencuri uang miliaran itu? Mengapa tidak dihukum seberat anaknya? Bahkan ia pernah mendengar berita salah seorang koruptor e-KTP kedapatan sedang makan di rumah makan Padang. Ternyata memang hukum selalu tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Tak ada kemanusiaan untuk orang-orang yang kelas sosialnya sama dengan anaknya tersebut.

Yowis, apik-apik nang kene. Njaluk karo Gusti Allah supaya dikuatno. Engko ibu nyambangi awakmu. Ben ibu sing ngurus adek,” lanjut ibu Radil sambil menangis dan menciumi kepala putranya itu.

Nggih, Bu. Ngapunten, kula nyusahne Ibu.”

Waktu menjenguk telah usai. Radil dan ibunya berpisah. Radil harus kembali ke dalam jeruji besi, dan ibu Radil pulang ke rumah meninggalkan putra tersayangnya itu. Selama perjalanan pulang, langkah ibu Radil dipenuhi beban. Namun, ia tetap mencoba tegar dan mendoakan anaknya.

Hari-hari pertama mendekam di dalam penjara, Radil harus merasakan dinginnya sel tahanan. Ia tak dapat tidur senyaman di rumah, meskipun di rumah ia hanya beralaskan kardus yang ditutupi oleh kain sarung, setidaknya ia dapat bergerak dan selonjoran. Di balik jeruji besi ini, ia tidak bisa. Kapasitas kamar yang tidak memadai, ia harus berbagi tempat bersama belasan orang lainnya. Bahkan saking tidak mendapatkan tempat, ia harus meringkuk bersandar di sudut dinding, berhadap-hadapan dengan kamar mandi.

Acapkali di dalam penjara ia mendapatkan tindakan pelecehan seksual. Mulai dari seseorang yang meraba tubuhnya ketika di kamar mandi umum, hingga disentuhnya alat kelamin ketika sedang tidur. Ia pernah melaporkan hal tersebut ke sipir, tetapi apa yang terjadi? Para sipir, bahkan kepala lapas tak menggubrisnya. Malahan ia mendapatkan pukulan pada bahu kirinya.

Selama di balik kurungan jeruji besi, ia merindukan suasana gubuknya. Ia merindukan suara kokokan ayam jago milik Koko Lim, suara siulan kue putu ketika malam hari, suara kucing bertengkar, dan suara-suara lainnya. Di dalam penjara, ia tak dapat mendengar suara apa pun selain suara kehampaan. Bahkan makan pun tak enak, ia lebih merindukan makanan di rumahnya dibandingkan di penjara. Ia lebih ingin makan nasi dan kerupuk kegemarannya, daripada makan nasi dan telur cabai dari penjara yang sekeras kerikil. Sesekali ia bisa makan nasi dan gorengan, itu pun ketika ibunya datang menjenguk. Pernah suatu kali Radil ingin bunuh diri, tetapi urung ia lakukan. “Kalau aku mati, siapa yang ngurus ibu dan adik?” Pikirnya. Ia pun menahan sakitnya perlakuan di dalam penjara.

Hari-hari terus berlalu. Radil mulai terbiasa dengan kehidupannya di dalam jeruji besi. Meski begitu, ia tak ingin menyusahkan ibunya lebih jauh. Apalagi ketika ia tahu kalau ibunya yang sedang sakit mulai berjualan selama ia dipenjara, “Iyo, Le. Saiki ibu dodolan gorengan,” cerita ibu Radil ketika datang menjenguk. “Yah, lumayan iso gawe biaya urip ibu karo adekmu, karo awakmu.”

Radil pun berpikir keras untuk mencari cara meringankan beban hidup ibunya. Ia jadi teringat beberapa waktu lalu. Ketika sedang duduk di pinggir lapangan bola, ada seseorang yang mengajaknya berbicara. Seorang pria berkulit sawo matang dengan aksesoris brewok menghias dagunya menawarkan pekerjaan untuknya. Ia sempat tak acuh dengan ucapan orang itu. Namun saat ini, ia meyakinkan diri untuk menerimanya. Meskipun ia tak tahu pekerjaan apa yang disediakan untuknya.

“Kenapa, Le? Saya pikir kamu enggak mau. Eh, akhirnya datang juga,” kata orang yang menawarkannya pekerjaan. Radil menemukannya di sudut lain lapas. Ia mengetahui keberadaan orang tersebut setelah bertanya kepada penghuni lapas lainnya. Ketika bertanya-tanya,seringkali penghuni lapas memberitahunya untuk tidak menemui orang itu. “Ojo, Le,” begitulah ucapan orang-orang kepadanya. Namun ia tak peduli, di kepalanya kini hanya memikirkan bagaimana meringankan beban ibunya.

“Begini, Mas. Saya mau terima pekerjaan dari sampean.”

“Kamu mau? Nah, sini-sini duduk dulu. Kalau kamu mau, nanti kamu bisa saya belikan apa saja. Mau apa? Makan? Kamar? Handphone? Biar nanti semua saya yang tanggung,” ujar pria di hadapannya.

“Iya, Mas, saya mau. Tapi, kerjaannya apa, ya?” tanya Radil penasaran.

“Nggak susah, pekerjaannya gampang. Intinya kamu butuh, saya pun butuh. Kita sama-sama saling membutuhkan. Iya, toh? Nah, yowis, kamu minum dulu.” kata pria itu sebelum memanggil temannya yang lain. “No, bawain minuman ke sini!”

Malam harinya Radil terbangun, ia sadar bahwa tempatnya bukanlah tempat yang seperti biasa ia tempati. Tempatnya terlalu mewah. Ada pendingin ruangan, televisi menyala, dan kasur. “Nah, Le, mending sekarang kamu mandi. Tuh, di meja sudah ada sate kambing buat kamu makan. Oh, iya, ini duit sejuta buat kamu, kamu pegang.” Radil yang masih setengah sadar, pergi menuju kamar mandi. Selama ia mandi, ia merasakan salah satu bagian tubuhnya terasa sakit. Ia tatap dirinya di air bak mandi. Pada saat itu juga ia sadar, yang terpenjara bukan lagi raganya, melainkan jiwanya.

 

 

Keterangan:

1.Nemu sepatu kanggo adek: menemukan sepatu untuk adik.
2.Kula mboten nyuri, Bu. Kula nemu: saya tidak mencuri, Bu. Saya menemukan.
3.Yo, Le. Ibu percaya karo kowe: Ya, Nak. Ibu percaya kepadamu.
4.Yo wis, apik-apik nang kene. Njaluk karo Gusti Allah supaya dikuatno. Engko ibu nyambangi awakmu. Ben ibuk sing ngurus adek: Ya sudah, baik-baik di sini. Minta pada Gusti Allah supaya dikuatkan. Nanti ibu yang mengurus adik.
5.Nggih, Bu. Ngapunten, kula nyusahne Ibuk: Ya, Bu. Maafkan, saya menyusahkan ibu.
6.Iyo, Le. Saiki ibuk dodolan gorengan: Iya, Nak. Sekarang ibu jualan gorengan.
7.Yah, lumayan iso gawe biaya urip ibu karo adekmu, karo awakmu: Ya, lumayan bisa untuk biaya hidup ibu dengan adikmu.

Ditulis oleh Ricky Dwiyulianto Putra

Saya adalah pemuda asal kota Jakarta. Sedang menempuh pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Seorang individualis yang tidak suka berafiliasi oleh kelompok manapun. Menjadi manusia bebas seutuhnya. Suka menyuarakan kegelisahan dan keresahan dalam berupa tulisan.

E-Learning dan Teknologi Pendidikan untuk Indonesia di Masa Depan

tendi nugraha , budaya

Tendi Nugraha, Potret Anak Muda Pejuang Seni dan Budaya