in

[Ruang Fiksi] Merah adalah Warnanya

Merah adalah Warnanya. (Sumber gambar: Aaron Blanco Tejedor on Unsplash)

“Nggak imut tapi garang,” celetuk Dinah ketika dia baru saja masuk ke dalam kamar Sesil. Sesil buru-buru menutup pintu kayu berwarna cokelat tua itu hingga berdebum. Suaranya menggema ke seisi rumah yang sepi.

“Sssst! Hati-hati kalau ngomong. Nanti dia bisa dengar,” ujar Sesil kesal.

Dinah menggeleng-geleng tak acuh. “Suara musik dari kamarnya aja nyaringnya nggak ketulungan, kedengaran dari lantai bawah. Dia juga tadi kulihat sedang ambil air di dapur.”

Sesil bersungut-sungut. Kulit wajahnya mengerut. Tengsin kalau sampai ketahuan Kak Agus mereka lagi membicarakan dirinya—tepatnya Dinah yang membicarakannya.

Sejak Dinah menginjakkan kaki di rumah Tante Na dan melihat-lihat seluruh foto keluarga yang terpampang di dinding maupun di atas kabinet, Dinah terkejut melihat betapa bagusnya dna di keluarga yang beranggotakan empat orang itu. Tante Na dan Om Bagas terlihat serasi karena sama-sama dikaruniai wajah rupawan. Lalu anak pertamanya, Kak Binar yang bekerja sebagai psikolog itu wajahnya sekilas mirip Dian Sastrowardoyo. Anak terakhir mereka yaitu Kak Agus juga ganteng meski terlihat dingin dan tak bersemangat. Dia tidak mirip artis siapa pun sih, hanya saja wajahnya memiliki perpaduan yang bagus-bagus dari orangtuanya.

“Bentuk wajahnya oval mirip tantemu. Tapi matanya tajam seperti pamanmu. Hiii, aku sempat gemetaran pas dia lihat aku masuk rumah tadi jadi aku buru-buru naik ke atas. Atuuuuut….” Dinah menggayuti lengan Sesil yang berwajah datar.

Sesil mendorong pundak Dinah menjauh. “Sudah tahu gitu ngapain kamu taksir? Biasanya kamu suka sama cowok imut macam siapa tuh, adik tingkat kita yang kerjaannya cengengesan nggak jelas?”

Dinah tertawa. “Jangan ngatain Ega, dong. Aku bosan suka sama yang imut-imut. Lagi demen sama cowok dingin kayak kakak sepupumu itu,” kata Dinah dengan pengucapan yang dipanjang-panjangkan.

Ingin rasanya Sesil membungkam mulut Dinah kalau sedang berbicara sok imut begitu. “Banyak kali cowok cuek macam Kak Agus di kampus kita, Din. Cari aja kalau pas lagi ada acara.”

Dinah memicingkan mata, berusaha menyadarkan Sesil kalau kata-katanya barusan bukan Dinah banget. “Kamu lupa kalau aku hampir tidak pernah datang ke acara kampus kalau bukan karena terpaksa?”

Sesil menepok jidat lebar Dinah yang tertutupi poni. “Oh, iya! Aku lupa kamu kan mahasiswa kupu-kupu alias kuliah doang terus pulang ke kos karena mau nonton drama.”

“Aku beda sama kamu, Sil. Kalau kamu malah nggak bisa diam,” sahut Dinah.

Dinah terkadang suka heran melihat Sesil yang selalu sibuk. Sepulang kuliah biasanya ia nongkrong di sekretariat organisasi yang diikutinya. Dinah sampai lupa mana saja organisasi yang Sesil ikuti. Kata Sesil, membangun jaringan itu penting.

“Intinya, banyak cowok kayak Kak Agus di kampus kita,” Sesil terus ngotot.

“Memang kenapa sih, Sil? Kak Agus itu anak bermasalah? Bukan anak baik-baik? Kok kamu kayak maksa aku buat nggak jadi suka sama dia?” tanya Dinah bertubi-tubi.

Mata sipit sahabatnya yang terangkat di bagian akhir dekat pelipis membuat Sesil merasa sedang dipandangi oleh seekor kucing penasaran. Sesil memalingkan wajah, berpura-pura mengutak-atik ponsel berlogo apel tergigit yang sesungguhnya tidak memiliki notifikasi apa pun.

Sesil bingung akan perasaannya tentang Kak Agus. Kak Agus itu mungkin bukan anak bermasalah yang betul-betul bermasalah. Tapi, Kak Agus jelas punya masalah yang membuatnya tumbuh menjadi pemuda seperti itu: pemuda dengan masalah pada kepribadiannya.

Gadis berambut gelombang sepundak itu memeluk bantal. Ia mengabaikan tatapan kesal Dinah yang kini membuka laptop untuk mengunduh drama, memanfaatkan wifi gratis di rumah tantenya. Sesil tidak ingin menjelek-jelekkan siapa pun. Tapi pertanyaan Dinah membuatnya mengingat pertumbuhan Kak Agus dari kecil hingga berusia dua puluh tahun.

Dia mengingat-ingat kakak sepupunya yang sempat ia kagumi saat masih kecil dulu.

***

Saat kecil Kak Agus rambutnya berwarna merah.”

Sesil lupa detail tentang rambut Kak Agus saat mereka masih aktif bermain bersama. Ia baru percaya kata-kata ibunya ketika album foto yang memuat kenangan masa kecil mereka ia buka pada suatu sore, setelah pertemuannya yang semakin canggung dengan kakak sepupunya itu di acara besar keluarga.

Ia tidak menyangka semakin mereka bertambah dewasa, semakin besar pula jarak di antara mereka. Sesil dan Kak Agus yang saat kecil lengket bak lem super, kini hanya saling sapa sekadarnya.

“Kak Agus.”

“Iya, Sil.”

Selesai sampai di situ.

Mata mereka bahkan tak saling menatap lebih dari satu detik.

Gadis periang itu tak tahu harus berbicara apa untuk memancing Kak Agus lebih banyak mengeluarkan suara. Kak Agus selalu tampak tidak ingin berbicara dengan siapa pun.

Kalian selalu langsung bermain setelah bangun tidur, lalu duduk manis di depan TV untuk menononton kartun setiap Minggu pagi.

Sesil sebenarnya ingat walau tanpa foto mereka berdua yang masih memakai piyama bergambar beruang, duduk di sofa di ruang TV rumah lama Tante Na itu. Di foto itu, Sesil memamerkan gigi susunya yang kecil-kecil putih seperti biji, mata besarnya berbinar, begitu juga dengan mata Kak Agus yang lensa hitamnya lebih besar dari orang kebanyakan. Mata itu begitu polos, memancarkan bersihnya jiwa seorang anak kecil. Tapi gigi susu Kak Agus sudah ada yang hitam kecokelatan karena suka makan makanan manis dan susah disuruh sikat gigi. Tubuh mereka masih sama-sama kurus, meski tidak sampai kerempeng. Dan anehnya wajah mereka cocok menjadi kakak-adik kandung daripada sepupu.

Yang kamu sukai kalau kita berkunjung ke rumah Tante Na selain bermain dengan Kak Agus adalah sup kepiting asparagus.”

Tante Na jago memasak. Itu tak perlu diragukan lagi. Sesil terobsesi dengan sup kepiting asparagus super lembut dan gurih, dengan kuah berselaput putih. Di foto selanjutnya Sesil bisa melihat permukaan sup itu di dalam muk agar tangan kecil mereka berdua bisa memegangnya dengan baik. Mereka (lagi-lagi) terlihat bahagia. Tertawa akan sesuatu yang tidak bisa Sesil ingat. Ia yakin Kak Agus bahkan tak mengingatnya lagi walau samar.

Saat kecil dulu Sesil masih sering diajak berkunjung ke rumah Tante Na yang membutuhkan waktu perjalanan selama dua jam karena berbeda kota. Dia dan Kak Agus yang cuma beda setahun itu paling akrab di antara sepupu lainnya. Alasan Sesil selalu senang selain bertemu Kak Agus adalah karena Sesil rindu sup asparagus itu. Ia bisa menghabiskan bermangkuk-mangkuk sup meski sebenarnya ia susah makan. Kak Agus juga tampaknya amat menyukai salah satu masakan ibunya itu. Siapa yang tidak bahagia memiliki ibu jago masak?

Dia dulu sering ditinggal orangtuanya. Makanya dia suka dititipkan pada ibu dan ayah.

Oh, Sesil tak tahu fakta ini. Pantas saja mereka amat dekat. Ternyata sejak Sesil masih berada di dalam kandungan, Ibu dan Ayah yang mengurusi Kak Agus. Katanya, Kak Agus sering sakit-sakitan. Jadi orangtuanya tak lagi membawanya bepergian, berlibur ke luar kota hanya dengan anak pertamanya saja yaitu Kak Binar. Mereka tidak mau direpotkan dengan hal-hal semacam itu saat liburan. Cukup sekali itu saja mereka terpaksa mengorbankan masa bersenang-senang itu di rumah sakit.

Kabarnya lagi, Kak Agus saat kecil adalah anak cengeng yang suka merangkak lalu mengetuk pintu kamar ayah Sesil sambil berusaha mengucap kata “Om” yang malah berbunyi “O”. Sesil membayangkannya dengan perasaan iba. Kak Agus pasti terlihat imut, tapi ia sedih mengetahui alasan dibalik sikap acuh tak acuh Kak Agus pada orangtuanya.

Om Bagas tidak pernah mau menggendong Kak Agus. Biasanya yang dibawa kemana-mana juga selalu Kak Binar saja.

Pantas Sesil tidak pernah melihat foto Om Bagas yang menggendong anak terakhirnya. Pada foto keluarga formal pun Kak Agus kecil hanya berdiri kaku di depan ibunya. Kak Binar sudah tumbuh besar sehingga tak mungkin digendong seperti Sesil. Sesil jadi bertanya-tanya mengapa sikap Om Bagas seperti itu.

Foto terakhir di album itu adalah saat mereka mulai duduk di bangku SD. Kini rambut Kak Agus sudah hitam rata, tidak tersisa lagi rambut merahnya itu. Namun kaus berlengan pendek yang ia kenakan yang berwarna merah. Sesil memperhatikan ada yang beda dari bentuk bibir dan binar mata Kak Agus ketika tersenyum.

Seketika Sesil sadar kalau sejak saat itu, foto-foto di tahun berikutnya, raut wajah Kak Agus bahkan lebih redup lagi. Tetapi Sesil juga dapat melihat suatu emosi yang dengan jelas terpancar dari matanya: kemarahan dan kebencian.

Mungkin merah memang warna miliknya.

***

Apa yang Agus pikirkan saat tangannya hendak menampar Binar saat itu?

Agus tidak tahu. Ia hanya ingat, Kakek bahkan tak sanggup melihat pemandangan yang amat tidak menyenangkan itu, Mama menangis tersedu-sedu, tangan Binar terangkat naik bermaksud melindungi wajah, dan sialnya, Sesil tiba-tiba saja berada di sana, di ujung tangga. Mata Sesil menampakkan rasa kecewa mendalam, bercampur dengan ketidakpercayaan bahwa seorang Agus dengan wajah memerah marah sedang ditahan tangannya oleh Papa karena mau menampar kakaknya sendiri hanya gara-gara adu mulut.

Sial. Sial. Sial.

Agus tidak merasa bersalah sedikit pun tetapi ia tak suka dipandangi begitu.

Kenapa? Mengapa kecewa padanya? Sesil kira dia akan terus jadi sosok anak laki-laki polos cengeng yang sakit-sakitan dan penakut?

Cuih!

Agus tidak mau terus terang kalau ada perasaan malu yang jauh lebih mengganggu daripada amarah waktu itu. Ia tak akan ambil pusing bila yang melihat bukan Sesil atau orangtuanya yang sering menjaganya saat kecil. Tapi kenapa Sesil harus melihat semua pertengkaran konyol yang hampir berujung kekerasan fisik itu?

Sejak saat itu Agus tak pernah berani menatap Sesil. Ia semakin melebarkan jarak di antara mereka. Sebenarnya tak hanya Sesil yang ia perlakukan seperti itu. Orangtua, kakak, sepupu lainnya, kakek-nenek, semuanya. Semuanya tak pernah sayang dia. Semua orang tak pernah sayang padanya. Semua orang membicarakan dirinya di belakang.

Hebat.

Bahkan mungkin sekarang Sesil sedang bergosip tentangnya pada temannya yang tadi ia lihat berlari ketakutan menaiki tangga.

Semakin ia besar, rumah dan keluarganya semakin terasa seperti neraka dunia. Dan buruknya, kini orang-orang memberikan cap padanya sebagai anak durhaka yang keras hati. Orang-orang itu tidak tahu bahwa dulu saat ia masih kecil, ia pernah dilempar stick PS oleh Papa. Apa ia salah kalau apa yang ia lakukan sekarang adalah apa yang ia lihat dari orangtua sendiri?

Ia juga ingat kalau ia selalu diabaikan oleh Papa. Ia tidak pernah diajak berkeliling naik Vespa seperti Binar, tidak pernah dipeluk atau digendong, tidak pernah diajak untuk masuk ke dalam hidupnya seperti apa yang Binar rasakan. Semua selalu tentang Binar. Rasanya tidak salah ia berkeinginan untuk memberi kakaknya pelajaran betapa benci ia padanya.

Bahkan ia tak pernah lihat satu foto pun di koleksi foto liburan keluarga yang ada dirinya. Hanya ada tiga orang di semua foto itu: Papa, Mama, dan Binar. Mereka tersenyum bahagia seolah-olah tidak ada satu anggota lain yang sengaja ditingalkan dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan waktu liburan di rumah sakit. Seolah-olah saat itu Agus belum lahir.

Entah sejak kapan tepatnya semua rasa cemburu, marah, benci, dan kesepian itu tumbuh hingga menyesakkan dan membuatnya meledak. Mendengar pujian yang dilontarkan orang-orang pada keluarganya membuat Agus muak.

“Ibu Na ini cantik sekali meski sudah tidak muda. Pantas anaknya cantik dan ganteng.”

“Keren, ya, jago masak. Pasti anak-anaknya pada senang.”

“Hebat sekali bisa mendampingi suami yang seorang politikus. Sambil kerja jadi dosen universitas ternama pula.”

Dan banyak lagi pujian membanjiri mereka. Tak heran, karena Mama gemar pamer segala sesuatu di media sosial. Setiap hari selalu ada postingan baru yang menunjukkan kegiatannya sebagai seorang ibu dan istri atau ketika bekerja menjadi pendidik.

Rasanya Agus ingin tertawa terbahak-bahak melihat komentar-komentar itu. Komentar-komentar itu penuh rasa iri dan kagum akan hal yang palsu. Apa gunanya memiliki semuanya kalau kenyataannya jauh dari kata bahagia?

Mungkin Sesil bisa menjawab rasanya punya keluarga sederhana yang menyayanginya, yang selalu meneleponnya hampir setiap hari untuk menanyakan bagaimana hari-harinya sebagai mahasiswa. Yang mendengar suara mereka saja bisa menimbulkan rasa senang seketika.

Sedang Agus dan keluarganya yang tinggal serumah saja tidak berbicara satu sama lain.

***

Sesil mengela napas panjang saat Dinah tak henti-hentinya menanyakan hal yang sama—hal yang tidak ingin Sesil bahas. Tahu apa dia? Semua yang terjadi pada Kak Agus pasti ada alasannya. Ia tidak bisa begitu saja menghakimi orang lain, apalagi kakak sepupu yang dulunya sangat ia sayangi.

Meski kini Kak Agus telah berubah seratus delapan puluh derajat, dia tetap keluarganya. Kalau boleh jujur, Sesil masih menyimpan harapan Kak Agus akan menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari.

Mungkin dimulai dari saling memaafkan dan mengakui kesalahan.

Mungkin juga bisa dimulai dengan keinginan untuk sama-sama menjadi keluarga yang lebih baik.

Dan mungkin mereka bisa belajar untuk saling menunjukkan kasih sayang sebelum semuanya terlambat.

“Apaan, sih, kok diam aja? Cepat kasih tahu!” Dinah kembali mendesak. Wajahnya benar-benar menunjukkan kekesalan yang menumpuk sejak tadi. Hilang sudah senyum main-main di wajahnya.

Sesil hanya tertawa sambil menggeleng. “Mulutku terkunci.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

slow living

Mengenal Slow Living Lifestyle untuk Hidup yang Lebih Tenang

makna kehidupan

Pentingnya Memahami Makna Kehidupan yang Dijalani