in

[Ruang Fiksi] Ketika Krisan Kuning Bermekaran

Klungkung.. Klungkung.. Klungkung..

Suara lonceng sapi bersahut-sahutan merdu. Terik mentari tak menyurutkan langkah seorang ibu muda demi menuruti permintaan buah hati tercinta dalam gendongannya. Balita berusia dua tahun dalam gendongannya terus-menerus mengoceh dengan kata-kata yang masih belum terlalu jelas.

“Liak capi iho! Liak capi iho!” Oceh si balita.

“Ayo kita lihat, sapi yang makan rumput hijau! Tapi, Elsa harus mau Ibu suapin mamam, ya!” Sahut Ibu muda tersebut sambil mengusap peluh yang menetes perlahan.

“Liak capi iho! Ca mamam!” Balita tersebut menyetujui permintaan Ibunya.

Elsa menangkupkan kedua tangannya dan mulai bertepuk tangan riang melihat kawanan sapi yang sedang asik mengoyak rumput hijau di lapangan desa. Sementara itu, ibunya menggigit bibir bawah demi menahan erangan akibat rasa sakit pada kepalanya yang tiba-tiba kembali menjalar. Sakit kepala yang awalnya dianggap sebuah hal yang wajar—sebab siapapun pasti pernah mengalaminya, kini mulai terasa menghantui.

Bagi masyarakat desa, puskesmas adalah sebuah anugerah yang tak terhingga. Tempat di mana banyak nyawa masyarakat dari kalangan menengah ke bawah menjadi tertolong. Namun, kali ini puskesmas hanya terasa seperti sebuah tempat peristirahatan bagi Ibu Elsa. Ya, tempat beristirahat dari kekhawatiran dan kasak-kusuk tetangga tentang penyakit yang dideritanya beberapa bulan terakhir.

( Baca Juga : Dear Future Husband )

Tenaga medis yang ada di puskesmas tidak mampu mendeteksi penyakit yang diderita Ibu Elsa. Meski begitu, setidaknya puskesmas mampu memberi obat pengurang rasa sakit secara gratis kepada Ibu Elsa. Sehingga, Ibu Elsa tetap datang ke puskesmas dengan harapan jika meminum obat tersebut dengan rutin, rasa sakit pada kepalanya bukan hanya berkurang, tapi juga bisa menghilang.

*****

“Ibu, Eza kangen!” Teriak anak laki-laki berseragam merah-putih.

“Ibu juga kangen! Gimana sekolah barunya, Nak?”

“Alhamdulillah! Eza suka, sekolahnya bagus!”

“Bu, Ayah sudah urus semuanya! Kita akan pindah ke kontrakan di dekat sekolah Eza, besok! Biar Ibu bisa berobat di Rumah Sakit!” Sahut seorang Ayah yang merupakan suami dari Ibu muda tersebut.

“Tapi, Yah! Uangnya?” Ibu muda itu menggigit bibir bawahnya.

“Eza! Ajak main Elsa, sana! Eza gak kangen sama adik? Ayah mau bicara dulu sama Ibu!”

“Oke, Yah!” Eza berlari menuju ke ruang tengah, tempat Nenek sedang menggendong Elsa.

“Ayah punya tabungan, Bu! Kita pakai uang tabungan Ayah! Ibu ndak usah khawatir, rezeki masih bisa dicari!”

Meskipun Ayah telah berusaha menenangkan, tapi Ibu tetap merasa risau terhadap biaya berobat di Rumah Sakit. Bagi Ibu, biaya berobat di Rumah Sakit itu mahal. Belum lagi membayangkan harus hidup di kota dengan biaya hidup yang juga serba mahal, tetangga-tetangga baru yang belum pernah dikenal, dan berbagai macam hal yang identik dengan suasana kota seperti di TV. Semua itu membuatnya merasa lebih baik tetap tinggal di desa.

Gubrak!

Terdengar suara benda jatuh. Seketika itu, Ayah dan Ibu setengah berlari menuju sumber suara. Ternyata, suara tersebut disebabkan oleh Eza yang tak kuasa menahan beban berat kardus yang dibawanya. Sontak ia pun terjatuh dan membuat seluruh isi kardus yang berupa mainan-mainannya berceceran.

Hiks.. Hiks.. Hiks..

Tangis pun pecah! Nenek terengah-engah menuju teras depan sambil menggendong Elsa. Perasaan khawatir dan harapan tidak terjadi apa-apa campur aduk menjadi satu. Semakin mendekati teras depan, suara tangis semakin terdengar keras dan semakin menjadi.

Suara tangis seorang wanita membuat nenek semakin khawatir. Dan mata nenek pun membulat sempurna ketika melihat bahwa yang terjatuh adalah Eza, tapi ia terlihat baik-baik saja dan memasang wajah lugunya. Sedangkan yang menangis adalah Ibu. Nenek berpikir mungkin anaknya hanya merasa kaget dan takut terjadi apa-apa pada Eza.

“Sudahlah, Nak! Eza kan cuma jatuh biasa! Ndak usah ditangisi segitunya!” Kata Nenek.

“Jatuh biasa apanya, Mak? Bu.. bu.. Huhuhu.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Bunga krisan yang kutanam? Huaaaaa..” Ibu menangis sejadinya.

“Maafin Eza, Bu! Nanti Eza beliin deh yang banyak!”

“Bu.. Hiks.. Bukan masalah belinya! Tapi, kamu gak tahu susahnya Ibu menanam dan merawat bunga krisan kuning yang jarang ada! Hiks!”

“Janji deh! Nanti Eza tanamin dan rawatin buat Ibu!” Eza mengacungkan jari kelingkingnya dan tersenyum tanpa dosa khas anak-anak.

Bunga krisan kuning yang sudah terlihat kuncupnya dan mungkin pada hari esok akan mekar, akhirnya bernasib malang. Terinjak oleh Eza yang terjatuh.

*****

Ketika Krisan
(Sumber: skyscrapercity.com )

Asap kendaraan bermotor mulai memadati sepanjang jalan raya. Gedung-gedung bertingkat berjajar rapi memancarkan pesona kilau cemerlang, membuat siapa saja ingin mendekat dan masuk ke dalamnya. Lampu lalu lintas yang menunjukkan warna hijau, teriring suara klakson kendaraan yang tak sabar ingin segera melintas. Rombongan satu keluarga kecil berjalan menyusuri keramaian ibukota. Kardus dengan ikatan tali plastik dan sebuah tas berukuran besar ditenteng oleh seorang Ayah muda.

( Baca Juga : Sebuah Catatan untuk Teman Seperjuangan )

Beberapa waktu kemudian, tampak sebuah rumah sederhana dengan beberapa tanaman di sisi kiri-kanan teras. Rumah itu adalah kontrakan baru keluarga Ayah dan Ibu muda. Dengan ucapan salam, Eza langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan berguling di atas kasur tipis, demi melampiaskan rasa lelah akibat perjalanan yang cukup jauh dari desa menuju kota.

Ibu segera menyusul dan membaringkan Elsa yang sudah tertidur dalam gendongannya ke samping Eza. Eza segera beranjak dan berlari entah ke mana. Sementara itu, Ayah menaruh barang-barang bawaannya ke sebuah ruangan yang hanya bersekat triplek.

Tap.. tap.. tap..

Suara langkah-langkah kecil terdengar mendekat. Ibu segera menuju ke arah sumber suara. Dari balik pintu depan rumah, terlihat beberapa anak kecil sebaya dengan Eza tersenyum cerah. Ayah yang baru menyusul dan juga mendapati hal tersebut mengerutkan dahi.

“Selamat datang Ibu dan Ayah Eza!” Sambut teman-teman baru Eza serempak.

“Terimakasih! Kalian teman-teman barunya Eza, ya!”

“Iya, Bu, Pak!”

Eza kemudian mengulurkan kedua tangannya yang memegang sebuah pot dengan bunga Krisan Merah ke hadapan Ibunya. Senyumnya begitu cerah. Secerah harapannya yang berharap itu dapat menggantikan bunga Krisan Kuning milik Ibunya tempo hari.

“Bunga krisan! Tapi, merah bukan kuning!” Seru Ibu dengan tatapan muram.

“Eh, nggak apa-apa kok! Terima kasih, Nak!” Ibu berusaha mengembangkan senyuman untuk menghargai usaha Eza.

“Hehe, maaf ya, Bu! Lain kali Eza kasih Ibu bunga krisan kuning! Tapi, ini dulu ya! Soalnya teman Eza nggak punya yang kuning!”

*****

Cairan infus menetes perlahan-lahan. Kemudian, masuk melalui sebuah selang dan jarum yang menuju ke dalam tubuh seorang wanita muda yang terbaring tak sadarkan diri di sebuah ruang ICU. Beberapa keluarga berdoa dengan khusyuk demi kesembuhan wanita tersebut. Beberapa kali tetesan cairan bening membasahi pipi seorang pria yang menggenggam tangan wanita itu.

Kanker otak stadium akhir, menjadi jawaban atas sakit kepala yang diderita Ibu Eza selama satu tahun terakhir. Setelah melalui proses dan perjuangan panjang penyakit mematikan itu baru terdeteksi. Bukan salah siapapun! Mahalnya biaya, kesulitan akses, jarak yang cukup jauh, membuat penanganan penyakit tersebut tidak secepat membalikkan telapak tangan.

Tulalit tulalit.. Tulalit tulalit.. Tulalit tulalit..

Suara telepon genggam jadul memenuhi ruangan. Dengan berat hati Ayah mengangkat telepon genggam miliknya. Terdengar suara ceria di seberang sana.

“Assalamualaikum, Ayah! Kapan Ibu pulang? Eza punya hadiah buat Ibu! Suruh Ibu cepat pulang ya, Yah! Nanti hadiahnya keburu hilang!”

“Sa.. Sabar ya, Nak! InsyaAllah besok Ibu pulang! Eza jangan lupa doain Ibu ya! Biar Ibu cepat sembuh!” Suara Ayah bergetar.

Bagi anak kelas empat SD seperti Eza, penyakit kanker adalah sesuatu yang terdengar seperti penyakit flu-batuk biasa. Ia berpikir bahwa Ibunya hanya menginap biasa di rumah sakit, seperti ketika menginap di rumah neneknya waktu itu. Setiap hari, Eza selalu menunggu kepulangan Ibunya ke rumah. Sementara itu, ia tinggal bersama neneknya yang beberapa hari lalu telah menyusul ke kota setelah menjual sapi dan sawah untuk tambahan biaya pengobatan Ibu Eza.

Setelah menutup telepon yang dipinjamnya dari gurunya di sekolah, Eza bergegas pulang ke rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah, Eza berdiri sebentar di teras depan dan memandangi sebuah pot dengan bunga yang sudah terlihat kuncupnya.

“Wah, sudah mau mekar! Ibu pasti senang! Kalau Ibu belum pulang juga, besok aku akan membawanya ke rumah sakit!” Seru Eza sambil membayangkan wajah Ibunya yang cerah ketika melihat bunga kesukaannya bermekaran.

( Baca Juga : Harapan Tidak Pernah Meninggalkan Kita )

*****

Ambulance mulai memasuki gang sempit di sebuah pemukiman pinggiran kota Jakarta. Tidak ada suara sirine maupun kecepatan tinggi yang biasa ditemukan saat melihat sebuah Ambulance. Hanya lampu di atas Ambulance yang terus menyala. Eza berlari riang dengan seragam sekolah yang belum berganti. Tangannya membawa sebuah pot yang berusaha ia jaga dengan hati-hati. Ia pun berada di depan pintu Ambulance. Tak berselang lama, pintu Ambulance pun dibuka.

“Ibu! Lihat! Bunga Krisan Kuning kesukaan Ibu sudah me..!” Teriakan Eza tiba-tiba terhenti.

Brak!

Eza menjatuhkan bunga krisan kuning yang dibawanya. Tubuhnya gemetaran memandang sosok yang tertutup kain putih. Matanya memerah dan dengan susah payah ia berusaha membendung air mata yang menyentak ingin keluar. Beberapa saat kemudian, ia tersadar dan memungut bunga krisan kuning yang telah ia jatuhkan tadi.

“Ibu! Eza sudah janji akan menanam dan merawat bunga krisan kuning untuk Ibu! Ibu lihat! Sekarang bunganya sudah mekar! Eza masih punya banyak di teras depan rumah! Semuanya juga sudah mulai bermekaran! Ayo, Bu kita lihat bareng-bareng!” Eza tersenyum hampa sambil membuka kain penutup tubuh Ibunya.

Berulang kali ia berusaha menarik tangan Ibunya untuk mengajak sang ibu melihat bunga krisan kuning yang bermekaran. Namun, tubuh Ibunya tetap kaku dan tak bergerak. Tak ada lagi kata “nak” atau panggilan “Eza” yang tersisa untuknya. Hanya ada kebisuan dari wajah dan mulut yang pucat milik Ibunya. Bunga krisan kuning yang Eza tanam itu pun berakhir sebagai bunga tabur untuk pemakaman sang Ibu.

 

 

 

 

Ditulis oleh Sheilla Aisyah

Pecinta Kaktus yang berusaha mengabadikan setiap kenangan dan ingin berbagi hal yang semoga bermanfaat melalui tulisan.

Kalian bisa follow juga akun Wattpadku:

@princess_kaktus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tempat wisata alam kahyangan di wonogiri , wonogiri

Kahyangan, Tempat Wisata Alam Bernuansa Spiritual di Selatan Wonogiri

menunggu , waktu

[Ruang Fiksi] Sekali Lagi Tentang Menunggu