in ,

[Ruang Fiksi] Karena Aku Memilihmu

Biarlah angin membawa semua beban di hati, biarlah mentari memercikkan semangat dan keceriaan. Kita tetaplah satu, seia dan sekata, bukankah begitu seharusnya?

Suasana kian memanas di tahun 2019. Polemik semakin rumit dan mulai meresahkan Warga Negara Republik Adhem Ayem. Kedua kubu pendukung calon presiden saling adu mulut, adu argumen, adu domba, hingga adu ikan cupang. Kedua kubu tersebut saling ngotot dan mengunggul-unggulkan calon pasangan yang diusung.

Dari Surat Kabar Elektronik, Media Sosial, Media Massa, hingga gosip emak-emak ketika berbelanja di tukang sayur pun membicarakan hal yang sama. Apalagi kalau bukan persoalan siapa yang kira-kira akan menjadi Presiden Republik Adhem Ayem tahun 2019 ini! Tak jarang mereka datang ke tukang sayur bukan untuk berbelanja, tapi hanya numpang bergosip. Sontak Bejo si tukang sayur merasa pusing tujuh keliling dan langsung membawa gerobak sayurnya pergi begitu saja.

“Eh, eh! Mas Bejo, kita belum selesai belanja kok maen pergi aja!?” Teriak Yu Ja.

“Kalau mau belanja besok aja ya, Yu! Saya udah kesiangan ditunggu sama emak-emak kampung sebelah yang mau belanja!” Sahut Mas Bejo sambil terus mendorong gerobaknya.

“Terus saya sama keluarga makan apa kalau gak belanja?” Yu Ja mengejar Mas Bejo sambil terus berteriak.

“Makan tuh gosip! Salah sendiri lama, saya kira gak jadi belanja!” Mas Bejo akhirnya menghentikan gerobaknya.

Emak-emak yang lain juga menyusul Yu Ja dan Mas Bejo sambil berlari-lari kecil menyingkap sedikit kain jarik yang mereka kenakan. Kain tersebut dikenakan sebagai bawahan layaknya rok. Kain itu bermotif batik khas merak berbeda-beda warna, ada juga yang bermotif bunga-bunga. Motif-motif tersebut menandakan status bagi seorang wanita. Untuk motif burung merak berarti wanita tersebut telah menikah, sedangkan motif bunga-bunga untuk wanita yang belum menikah.

“Yu Da, Yu Jem, Mbak Lim, dan yang lainnya mau belanja juga?” Tanya Mas Bejo.

“Iya!” Emak-emak itu serempak menjawab sambil mengatur napas yang terengah-engah.

“Nah, Yu Tuni kok ikutan ngejar Mas Bejo mau ikutan belanja juga?” Tanya Yu Ja keheranan.

“Eh, itu! Saya mau ikut ngegosip lagi, hehe!” Yu Tuni terkekeh.

Mas Bejo dan Emak-emak yang lain menghela napas panjang setelah mendengar pengakuan Yu Tuni. Setelah kelelahan mengejar gerobak Mas Bejo, Emak-emak tersebut pun langsung belanja dan pulang ke rumah masing-masing tanpa melanjutkan gosip yang tadi mereka perbincangkan.

Setelah selesai salat zuhur di Masjid terdekat, Mas Bejo pun hendak pulang ke rumah. Tapi, ia melihat pemandangan yang sangat jarang ditemui. Terdapat beberapa pria yang tengah duduk di teras Masjid sambil berbincang dengan raut wajah serius. Mas Bejo yang biasanya tidak suka mencampuri urusan orang lain tiba-tiba saja mendekat ke arah beberapa pria tersebut.

Mas Bejo perlahan-lahan menyelinap dan menguping dari salah satu tiang penyangga masjid. Setelah beberapa menit mendengarkan percakapan yang nampak serius tersebut, Mas Bejo terlihat lesu. Ternyata, beberapa pria tersebut membicarakan hal yang sama dengan Emak-emak yang berbelanja tadi!

“Kenapa, Ya! Pria zaman sekarang ketularan Wanita, pakek gosip segala!” Mas Bejo menggerutu sendiri.

Mas Bejo pun akhirnya pulang ke rumah. Seketika itu, wajahnya berubah menjadi secerah mentari. Di ruang tamu terlihat seorang gadis berparas lembut dengan pipi merona, sebagai pertanda bahwa gadis tersebut sedang merasa malu.

“Eh, cah Bagus! Ke mana aja baru pulang? Nih Juminten dan keluarganya udah nunggu dari tadi! Ayo cepetan duduk!” Ucap Emaknya Bejo dengan sangat antusias.

Rencananya Juminten dan keluarganya datang ke rumah Bejo untuk membalas lamaran Bejo tempo hari, sekaligus menetapkan tanggal pernikahan mereka. Saat keluarga kedua belah pihak sedang berunding, Bejo mengajak Juminten berkeliling kampung.

Bejo berusaha menunjukkan beberapa tempat penting yang ada di kampungnya, mulai dari Kantor Kepala Desa, lapangan, tempat menyimpan beras, hingga sebuah batu yang pernah diduduki oleh Presiden pertama Republik Adhem Ayem saat kunjungan beliau ke kampung pinggiran ini. Tujuannya tak lain agar Juminten sedikit terbiasa dan tidak merasa asing dengan kampung tempat tinggal Bejo, ketika mereka telah menikah nanti.

“Jum, kamu suka kampung ini?” Tanya Bejo dengan lembut.

Juminten hanya mengangguk. Bejo masih terus menunjukkan beberapa tempat kepada Juminten. Tapi, Juminten hanya diam dan mengangguk. Sampai pada batu tempat duduk Presiden, Juminten mulai membuka suara.

“Mas Bejo!”

“Iya! Kenapa, Jum?”

“Mas Bejo nanti milih calon Presiden yang mana? Pak Paijo atau Pak Supardi?”

“Hmm.. Ah itu! Belum kepikiran!” Bejo menjawab dengan bergumam. Ekspresi wajahnya tak secerah tadi. Sejak pagi Bejo sudah bete karena, semua orang membicarakan soal Pemilu. Baru beberapa menit kebeteannya menghilang sebab adanya Juminten, eh ternyata Juminten akhirnya pun membuat Bejo bete kembali.

“Kalu Jum sih pilih Pak Paijo, soalnya namanya hampir mirip sama Mas Bejo! Hehe!” Juminten tersipu, wajahnya kembali dihinggapi semburat merah.

“Kamu bisa aja, Jum!” Paijo merasa jantungnya berdetak begitu cepat.

Setelah selesai berkeliling kampung, Bejo dan Juminten pun kembali ke rumah Bejo. Betapa kagetnya mereka saat melihat orang-orang berkerumun di halaman rumah Bejo. Seakan di sana sedang berlangsung sebuah tontonan seru! Bejo pun mengajak Juminten menyeruak di antara kerumunan tersebut.

“Pokoknya saya gak bakalan serahin anak saya Juminten buat jadi menantu kalian, sebelum kalian juga memilih Pak Paijo saat pemilu nanti!” Teriak Pak Bandi, Bapaknya Juminten.

“Lho, kan suka-suka saya mau milih siapa, Pak! Mau saya milih Pak Paijo atau Pak Supardi, kan hak saya! Gak ada kaitannya dengan anak-anak kita!” Jawab Pak Sapto, Bapaknya Bejo.

“Tapi, Pak Paijo lebih bagus janjinya mau bikin mall di setiap wilayah biar isteri dan anak saya Juminten gak kepanasan kalau belanja!” Pekik Pak Bandi.

“Pak Supardi gak kalah bagus janjinya mau bikin banyak pabrik biar gak ada pengangguran!” Pak Sapto akhirnya naik pitam juga mendengar Pak Bandi yang terus ngotot memilih memberi dukungan pada kubu calon presiden Pak Paijo.

“Sudah, sudah! Cukup! Maaf, Bapak dan Calon Bapak mertua! Di sini banyak orang berkumpul! Malu dilihat orang! Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di dalam rumah saja!” Bejo berusaha menengahi.

“Gak usah, terimakasih! Ayo Jum kita Pulang!”

“Lho, lho, Pak! Jadinya saya dan Mas Bejo menikah tanggal berapa, Pak?”

“Gak ada nikah-nikahan sebelum mereka setuju ikut milih Pak Paijo pas pemilu nanti!”

Juminten mulai berkaca-kaca, awan mendung mulai menutupi rona wajahnya yang tadi selalu dihiasi semburat merah tanda malu-malu bahagia. Tanpa pikir panjang, Juminten langsung berlari tanpa tujuan dan brakkk!!

“Juminten!” Bejo berteriak sekencang-kencangnya.

Juminten tergeletak di pinggir jalan raya. Ia menjadi korban tabrak lari. Semua warga yang tadinya berkerumun di halaman rumah Bejo pun beralih berkerumun di pinggir jalan raya. Bapaknya Juminten dan Bapaknya Bejo turut berlari ke pinggir jalan raya.

“Minggir kalian! Jangan ada yang nolongin anak saya kalau kalian bukan pendukung Pak Paijo!” Pak Bandi mendungus kesal dan menyibak kerumunan orang.

Mendengar perkataan Pak Bandi, sontak seluruh warga yang hendak menolong Juminten pun minggir! Pak Bandi merasa sangat kebingungan dan memelototi para warga yang menyingkir tersebut.

“Kalian ini, anak saya bisa mati kalau gak ada yang nolongin! Kenapa gak ada yang nolongin anak saya?” Emosi Pak Bandi menurun, tergantikan dengan raut kepanikan dan tangis yang perlahan mulai menetes.

“Salah sendiri tadi ngomong gitu! Kami ya jadi takut mau nolongin! Lagian, mau milih siapa aja terserah kita dong! Hak Asasi!” Celetuk seorang warga.

Bejo dengan sigap langsung menggendong Juminten yang mulai kehilangan banyak darah. Ia berlari tanpa sadar alas kakinya telah terlepas dan membuat kakinya melepuh. Tibalah mereka di Puskesmas terdekat.

Beberapa menit kemudian, keluarga Juminten dan keluarga Bejo pun tiba di Puskesmas. Bejo terlihat mondar-mandir di depan rumah IGD. Bu Bandi menangis sejadi-jadinya. Pak Bandi merutuki nasib, karena kebodohannya puterinya menjadi celaka.

“Bapak dan calon Bapak mertua! Bejo mohon, jangan meributkan masalah sepele! Tentang janji kedua Calon Presiden Negara Republik Adhem Ayem, itu hanya lah janji! Janji memang harus ditepati, namun janji seorang calon Presiden tak selamanya bisa diwujudkan. Sebab, terkadang fakta di lapangan itu berbeda dan tidak memungkinkan.

“Seperti Pak Paijo menjanjikan pembangunan Mall di semua wilayah, coba bayangkan jika sampai itu terjadi, pasti banyak orang yang kehilangan pekerjaan, seperti saya sebagai tukang sayur! Kalau semua belanja di mall, lalu siapa yang akan belanja sayur di saya? Atau seperti Pak Supardi yang menjanjikan pembangunan banyak pabrik, jika pabrik semakin diperbanyak, lalu petani akan menggarap apa? Dan masyarakat di Negara ini mau makan apa jika tidak ada yang menanam beras?” Bejo berusaha meluruskan permasalahan antara kedua Bapak itu.

Dokter pun keluar dari ruang IGD. Beliau menjelaskan bahwa Juminten mengalami patah tulang pada kaki kirinya. Ada dua kemungkinan yang baru bisa dilihat setelah satu bulan ke depan. Kemungkinan yang pertama adalah kaki kiri Juminten hanya patah tulang biasa dan dapat digunakan kembali untuk berjalan setelah beristirahat selama satu bulan. Dan kemungkinan kedua adalah Juminten akan mengalami patah tulang permanen jika dalam satu bulan kaki Juminten tidak dapat digerakkan sama sekali.

“Mas Bejo! Sebaiknya Mas Bejo mencari gadis lain yang lebih sempurna dari Juminten! Sekarang Juminten cacat!”

“Kenapa Juminten berkata seperti itu? Juminten pasti sembuh! Kita tunggu sampai bulan depan, ya!”

“Gimana kalau ternyata Juminten benar-benar gak bisa jalan pas bulan depan?”

“Mas Bejo akan tetap nikahin Juminten! Karena aku telah memilihmu! Sampai kapanpun aku tetap memilihmu! Meski Pak Paijo atau Pak Supardi yang jadi Presiden! Aku akan tetap memilihmu! Daripada aku pusing memikirkan harus memilih Pak Paijo atau Pak Supardi, lebih baik aku pusing memikirkanmu dan yang pasti aku telah memilihmu!

Ditulis oleh Sheilla Aisyah

Pecinta Kaktus. Berusaha mengabadikan berbagai peristiwa melalui tulisan. Dan berusaha membagi hal yang semoga bermanfaat.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

mengemat , uang

Kurangi Beli 10 Hal Ini, Demi Menghemat Uang Kamu

Inilah Peluang dan Tantangan Generasi Milenial di Era Digital