in

[Ruang Fiksi] Dear Future Husband

Dear Future Husband. Kepadamu yang nanti akan mengambil alih tanggung jawab bapakku, bolehkah aku ‘meminjam’ waktumu? Tidak lama kok, maksimal 10 menit saja. Itu pun kalau tidak kamu skip. Hehe. barangkali kamu sempat membaca catatanku ini, di sela-sela kesibukanmu itu.

Ehm. Bagaimana kabarmu? Kalau jawabmu ‘baik’, semoga itu memang baik beneran. Bukan kata-kata basa-basi seperti jawaban orang pada umumnya. Kuharap kamu memang sedang di dalam kondisi yang baik, di lingkungan yang mendukungmu untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mewujudkan mimpi-mimpi paling gila sekalipun. Aku juga masih berproses untuk itu. Jadi, ada baiknya kita ambil jarak dulu ya. Eh, sebentar, kita sudah pernah bertemu langsung apa belum sih?

Baiklah, Dear Future Husband, aku tidak mau terlalu banyak kata pembuka, sebab kamu mungkin hari ini (seperti hari-hari lainnya) punya banyak sekali rencana untuk dilakukan dengan maksimal, sampai selesai, dan tepat pada waktunya. Maka aku akan segera mulai ‘dialog imajiner’ ini dengan beberapa premis yang kelak mungkin akan kita pikirkan bersama.

Ini adalah tentang (seni mengambil) keputusan dan pilihan. Jika di kemudian hari dalam suatu urusan terbukti bahwa pilihanmu tepat, maka aku akan bangga. Itu sudah jelas. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun jika ternyata pilihanmu—entah apa pun itu—terbukti tidak tepat, maka aku adalah orang pertama yang akan mengakui sebagai pilihanku juga. Kamu tidak sendiri membuat keputusan-keputusan. Itu adalah pilihanmu yang akan aku akui juga.

Kalau boleh jujur, obrolan tentang rumah tangga masih bukanlah tema terbesar kehidupanku yang sudah berjalan di rentang usia 25+ ini. Bukan berarti aku berniat meninggalkan sunnah lho ya, tidak juga paranoid pada peralihan status dari jomblo bahagia menjadi life parter-mu dan juga ibu dari anakmu nantinya. Tapi, ini hanya tentang proses menjawab pertanyaan: hal-hal apa saja yang nanti kita kerjakan sehari-hari, dalam rangka kolaborasi visi hidup melalui pernikahan yang konon sakral itu?

Dear Future Husband. Mungkin kamu bisa tahu mulai sekarang tentang aku yang menekuni pekerjaan kepenulisan ini. Bisa jadi, suatu pagi seperti biasa yang tanpa ada cerita heboh soal pilpres, di akhir pekan akan kita dapati sedikit keributan kecil ketika kamu bermaksud mau menemaniku mengetik di beranda rumah kita, tapi aku tidak mengizinkan.

“Maaf, bukannya apa-apa. Tapi aku bisa hilang konsentrasi kalau kamu di dekatku.” Kataku innocent. Alhasil, kau pun beranjak ke garasi dan membawa dirimu keluar bersama mobil baru kita yang belum lunas itu. Sepersekian detik kemudian, naluriku bekerja: aku merasa bersalah. Tidak seharusnya aku sedemikian egois. Aku berdiri mematung, mengamati dari belakang laju mobil berwarna modern steel metallic yang kamu kendarai.

Itu salah satu hal yang menjadi sebab belum tertariknya aku membicarakan rumah tangga. Aku masih memastikan bahwa hakmu bisa aku penuhi, atas kehendak-Nya tentu saja. Jangan-jangan kamu juga sempat berpikir seperti itu ya, di saat-saat sekarang ini? Entahlah, aku tidak akan menerka pikiranmu. Masih banyak hal yang mesti dibereskan. Biar saja orang berkomentar: nunggu apa lagi? Yang pasti, semoga kita sedang sama-sama bersiap-siap.

Oh ya, bagaimana pendapatmu tentang ini? Saat aku menjadi bagian dari tanggung jawabmu nanti (pun juga sebaliknya), entah apa aktivitas di hari itu, aku melihatmu pulang ke rumah dengan wajah sedikit lesu. Tapi tidak akan buru-buru kutanya ‘kenapa’ atau ‘ada masalah apa’. Bukan, bukannya aku tidak peka, tapi aku paham bahwa… konon, solusi bagi laki-laki hanyalah menyendiri. Seperti yang aku lihat pada bapakku. Apakah benar begitu? Lebih baik aku segera sediakan teh manis dan senyuman terbaik yang berarti: ‘You can be absolutely sure, I’m on your side. As always.’

Oh ya, Dear Future Husband, kira-kira bagaimana nantinya pola komunikasi kita, mengingat aku adalah orang yang hemat bicara? Percayalah, aku sebenarnya bisa dan mau bicara apa saja saat diperlukan. Ya gimana gitu, aku tidak suka banyak omong. Apalagi ngomel kalau ada masalah, bagiku itu tidak menyelesaikan apa-apa. Yang pasti, telingaku siap mendengar apa saja. Lalu jangan kaget kalau tiba-tiba yang kamu ceritakan jadi bahan tulisanku. Barangkali tulisanku lebih mampu menjelaskan lebih banyak daripada lisanku.

Khusus buatmu, penjelasan soal ini akan kuberikan dalam potongan catatan di hari ulang tahunmu nanti: …aku bisa menyapamu tanpa banyak kata, sebab kita bisa berdialog dengan metafora. Eh apa maksudnya? Bukan apa-apa sih. Lanjutkan saja ceritamu, dan aku masih mendengar. Lalu menuliskannya. Sampai suatu hari nanti kamu akan menyadarinya: jika penulis jatuh cinta kepadamu, maka kamu akan hidup selamanya.

“Hmm. Caranya gimana tuh?” tanyamu.

Sst… Ini masih rahasia. Jadi, lain waktu disambung lagi boleh ya? Hehe. Dah, habis ini aku kembalikan waktumu. Demikianlah, terima kasih sudah ‘meminjamkan’ waktumu untuk membaca. Semoga kau selalu berbahagia. Di mana pun dirimu berada.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

plastik , zero waste

Kurangi Penggunaan Plastik, Coba Zero Waste Lifestyle Ala Anak Millenial

mimpiku , karya

Banyakin Karya Kurangi Drama, Inilah Impianku di Dunia Sastra