in

[Ruang Fiksi] Cogean dan Kontrak Leluhur

Warga percaya bahwa perjanjian pendiri desa mereka dengan lelembut Cogean

Semua yang lahir dan berkembang di sini, Desa Cogean mempunyai ‘kontrak’ adat. Jangan menyeringai. Bukan paksaan sama sekali. Mereka patuh dengan suka rela. Tak ada yang tahu pasti kapan perjanjian itu disepakati. Kabarnya, kakek buyut mereka adalah musafir dari India yang sakti mandra guna. Sehingga dapat membubrah hutan belantara yang angker menjadi desa aman dan tentram untuk anak cucunya.

Jangan heran jika di Desa Cogean mayoritas berisi perempuan. Sekarang, hanya ada beberapa yang tinggal di sana. Warga percaya bahwa hal ini adalah salah satu perjanjian pendiri desa terdahulu—kakek buyut mereka dengan lelembut Cogean.

Konon, para lelembut mengakui kesaktian sang musafir sehingga dibolehkan membubrah hutan menjadi desa dengan beberapa syarat. Ia harus menikahi seorang gadis yang hidup sebatang kara di hutan itu. Setahun kemudian, sepasang suami istri tersebut melahirkan seorang anak laki-laki. Perjanjian kedua pun disepakati. Setelah melahirkan, putri yang konon bernama Dewi Sri ini akan menghilang, kemudian menitis menjadi padi. Padi yang mencukupi kebutuhan warga Cogean.

Perjanjian ketiga adalah, orang yang memimpin desa Cogean haruslah laki-laki. Lantas, entah kutukan atau apa, jarang sekali ada bayi laki-laki jebrol di sana. Setiap ada bayi laki-laki lahir, ia akan digadang-gadang menjadi pemimpin desa yang baru. Tidak menunggu lama, di usia 17 tahun, mereka sudah menjadi pemimpin. Konon, para pemimpin itu adalah titisan leluhur.

Malam ini, Jumat Kliwon adalah ritual pelantikan Bajang sebagai kepala desa yang baru. Kepala desa yang lama, Bardi, berusia 27 tahun, dan sesuai ‘kontrak’ memang harus melepas jabatannya. Upacara sakral ini dipimpin Bardi. Ia membakar kemenyan dan merapalkan mantera, setelah itu menyerahkan keris pusaka turun temurun kepada Bajang. Acara selanjutnya adalah makan sego golong bersama warga. Lauknya hanya ikan teri, kering tempe, dan urap.

Seperti biasa, bersamaan dengan upacara ini akan lahir seorang bayi laki-laki, yang digadang-gadang menjadi pemimpin selanjutnya. Maka, warga dibagi menjadi dua: setengah mengikuti ritual dan setengahnya lagi menunggui gubuk Mbok Royam yang akan melahirkan. Setelah ritual selesai, semua warga berbondong-bondong mendatangi kediaman Mbok Royam. Mbah Kesi, satu-satunya dukun bayi, telah menungguinya semalaman dalam sepetak kamar yang diterangi oleh lampu sentir. Pukul 10 malam, jerit kesakitan wanita paruh baya digantikan tangisan bayinya yang baru lahir. Warga lega. Namun setelah Mbah Kesi keluar menggendong calon pemimpin mereka itu, benang-benang kebahagian lucut satu per satu. Jangan menyeringai! Mereka tak akan selancang itu melanggar “kontrak’ dengan merasa tidak senang. Mereka hanya bingung. Ya, tangan Mbah Kesi menggendong dua bayi. Dua bayi laki-laki. Suasana hening. Lantas, Bajang dan Bardi segera meninggalkan gubuk itu.

“Tuk, apa ada yang salah sama desa kita? Apa kita melanggar sesuatu?” Bajang yang kurus tinggi dan berpakaian serba hitam itu duduk bersama Bardi, di sebuah lincak pinggir wangan.

“Husss, jagan ngomong gitu, Tuk. Tapi sebenarnya aku juga khawatir.” Keduanya menghela napas dengan berat.

“Asal jangan sampai ada yang menebang kelor dan mencabut pari itu.” Bajang manggut-manggut paham.

padi , cogean

Kelor di pojok desa itu sudah tumbuh teramat besar dan rimbun. Konon, pohon itu tumbuh setelah perjanjian pertama disepakati. Sedangkan padi hasil kesepakatan kedua, tumbuh di sekelilingnya dan jumlahnya selalu tetap—tujuh batang. Selalu mabul dengan kualitas padi yang sangat bagus. Kuning pasek, tidak gabuk. Warga cukup mengambil tujuh bulir padi tersebut lalu semalaman disimpan di dalam kendi. Paginya, tujuh bulir padi akan berlipat ganda. Bibit itu akan disebar pada sawah masing-masing. Tak perlu khawatir. Padi itu tak akan habis selama mereka mematuhi ‘kontrak’.

Hidup warga Cogean sangat teratur. Dalam kesederhanaan yang makmur. Pada musim kemarau maupun hujan, panen dapat dilakukan. Jagung, padi, singkong, sayuran, maupun buah-buahan. Tak perlu bersusah payah menyiram ataupun memberi pupuk. Cukup sesekali saja. Airnya berlimpah dan tanahnya subur.

Jangan bertanya tentang teknologi dan informasi canggih. Mereka tak akan paham. Namun jika soal menghormati leluhur dan alam, mereka sudah khatam. Karena  setiap tindak tanduk harus menunjukkan perilaku hormat pada leluhur dan menghargai alam.

Daun-daun yang berjatuhan tak boleh dirampas, misalnya saja dibakar. Sampah kecokelatan itu akan mereka kumpulkan dan kembalikan lagi ke asalnya—ditaruh di bawah pohon semula. Jika ingin mengambil sesuatu untuk diolah, misalnya saja daun jati, daun pisang, maupun janur, harus mengambil secukupnya. Karena itu semua milik leluhur yang harus dihormati dan dijaga. Sesungguhnya, inilalah “kontrak” utama leluhurnya dengan lelembut dahulu.

Ya, patokan kebenaran bagi mereka adalah leluhur. Sekolah formal? Silahkan menyeringai. Alam adalah guru terbaik dan “kontrak” adalah undang-undang desa. Mereka selalu bergotong royong dan hidup rukun. Apa yang akan diperselisihkan? Apa yang akan diperebutkan jika itu semua mereka dapat dari desa, dari alam, dari leluhur? Bagi mereka, alam adalah warisan yang sangat berharga.

Ada satu ritual pada “kontrak” yang harus dilaksanakan, yaitu tedak siten. Tedak siten adalah suatu ritual untuk para calon pemimpin yang memasuki usia tujuh bulan. Tedak artinya menginjak, sedangkan Siten yang berasal dari kata siti memiliki arti tanah. Pada usia tujuh bulan, para calon pemimpin itu untuk pertama kalinya akan menginjakkan kaki di tanah. Ubarampe-nya memang seabrek. Ada kembang tujuh rupa, bubur ketan tujuh warna, tangga dengan tujuh anak tangga yang dibuat dari tebu ungu, sebuah kurungan ayam, dan benda lain seperti keris, daun kelor, dan dami di atas tampah. Keris, daun kelor, dan dami adalah lambang kepemimpinan.

Daun kelor, sebagai wujud dari pohon kelor yang akan selalu mengalirkan air bagi desa. Air adalah sumber kehidupan. Dami adalah wujud dari padi yang akan mencukupi kemakmuran warga. Sedangkan keris, adalah simbol dari kekuasaan yang arif dan bijaksana. Intinya, pemimpin haruslah dapat menyejahterakan rakyat.

Namun kali ini, situasinya berbeda. Ada dua calon pemimpin yang lahir bersamaan. Panji dan Pandu, calon pemimpin masa depan itu besok akan memasuki usia tujuh bulan. Tedak siten digelar. Kedua bayi dimandikan kembang tujuh rupa oleh Mbah Kesi, dukun bayi yang memimpin jalannya ritual. Setelah dimandikan, satu per satu kaki bayi itu diinjakkan pada bubur ketan tujuh warna. Ketujuh bubur tersebut menyimbolkan tanah. Sedangkan ketujuh warnanya melambangkan jalan seorang pemimpin yang penuh dengan rintangan.

Masing-masing ketan diletakkan pada piring kayu yang ditutup dengan daun pisang. Putih, merah, cokelat, kuning, ungu, dan hijau. Disusun memanjang menuju kurungan. Di atas kurungan, diletakkan tampah beirisi dami, daun kelor, dan keris. Sebelum dimasukkan ke dalam kurungan, kaki kedua bayi itu diinjakkan tangga dari tebu ungu yang disandarkan pada kurungan. Hal ini mempunyai makna bahwa semakin tinggi langkah seorang pemimpin,ia harus mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh warganya. Sedangkan kurungan ayam melambangkan seorang pemimpin harus mampu menjadi kurung untuk warganya, artinya ia akan menjadi pelindung bagi warganya dari segala mara bahaya.

Panji mendapatkan giliran pertama. Ia dibopong Mbok Kesi untuk diinjakkan kakinya sebanyak tiga kali ke tangga. Selesai satu naikan, ia akan mengambil satu benda yang diletakkan di atas tampah. Tampah diletakkan di atas kurungan. Warga yang menyaksikan bersorak-sorai. Bahkan banyak warga yang air matanya menganak sungai karena haru. Setelah Panji selesai, tibalah giliran Pandu. Warga yang tadinya bersuka cita seketika terdiam. Memang ada keanehan pada saudara kembar Panji tersebut. Ketika lahir, keduanya berkulit kuning bersih. Namun dari hari ke hari, kulit Pandu menghitam. Sekarang, ia menjadi bayi yang hitam kluwus.

Jangan menyeringai! Warga Cogean tak akan lancang menghujat titisan leluhurnya. Hanya saja, ada kekhawatiran membuncah. Kekhawatiran itu pun memuncak ketika ia tak mengambil benda apapun di atas tampah. Ia hanya tertawa sambil menghisap-hisap jempol tangan kanannya. Sehari pun berlalu. Dua hari, sampai tujuh hari.

“Tuk, tidak ada angin tidak ada hujan, tadi pagi tiba-tiba keris saya jatuh dari pagar.” malam itu, seperti biasa, nyet-nyet. Bajang berkunjung ke rumah Bardi. Mantan pemimpin itu mengernyitkan dahi cukup lama.

“Jika kasusnya disederhanakan pun, misalnya Pandu mengambil ketiga benda itu, masalah tidak akan selesai. Atau jika ia tidak berubah menjadi bayi yang…” lelaki bermata lebar itu tak dapat melanjutkan ucapannya. Lantas ia menyruput kopi pahitnya.

“Maksud Atuk, kita tetap akan dibingungkan apakah keduanya akan memimpin bersamaan atau salah satu saja, begitu?” lawan bicaranya itu manggut-manggut.

“Sudah puluhan generasi, dan Cogean hanya dipimpin oleh satu pemimpin. Saya menjadi semakin was-was setelah peristiwa tadi pagi.”

“Tenangkan dulu pikiran sampean, Tuk. Kita cari tahu penyebabnya bersama. Masalah ini sebaiknya segera diselesaikan.”

Matur suwun, Tuk. Saya akan cari solusinya terlebih dahulu. Jika membutuhkan bantuan, nanti saya akan mencari Tuk Bardi.” mendengar itu, Bardi tersenyum.

Setelah kunjungan tersebut, sehari, tiga hari, sampai tujuh hari, Bajang bertapa di bawah kelor dan padi keramat. Anehnya, kulitnya yang kuning bersih berubah menjadi hitam kluwus.

Malam harinya, pemimpin yang baru dilantik itu menghilang dari tempat tapanya. Di rumahnya pun tak ada. Lenyap. Paginya, untuk pertama kali, warga menemukan ada satu pohon kelor kecil yang tumbuh di samping kelor keramat.

Awalnya, warga kebingungan karena pemimpinnya mendadak menghilang. Akan tetapi, mereka tidak mencarinya. Mereka beranggapan bahwa pemimpinnya telah dipanggil oleh leluhur. Semua itu pasti demi kebaikan Cogean. Apalagi sekarang kursi pemimpin kembali diduduki oleh Bardi. Warga dapat kembali tersenyum tenang. Mungkin ini jawaban dari kegelisahan yang melanda Cogean.

Di sisi lain, Mbok Royam yang gemetaran beberapa bulan setelah kedua anaknya lahir itu juga sudah tenang. Wanita berusia 35 tahun tersebut tak berniat cerita kepada siapapun bahwa saat usia kandungannya memasuki tiga bulan, ia melihat Bardi menyusup ke rumahnya. Malam itu, pemimpinnya memasukkan suatu cairan dari kendi kecil ke dalam gentong tempat minumnya. Namun ia tak berani berpikir macam-macam. Takut kualat. Baginya, bagi warga, yang terpenting hanya melaksanakan “kontrak” yang telah disepakati oleh leluhurnya. Sedangkan pemimpin Cogean adalah titisan leluhur! Titik.

 

Semarang, 06 November 2017

 

Keterangan:

Membubrah: mengubah

Jebrol: lahir

Sego golong: nasi golong, nasi dibungkus daun pisang

Sentir: lampu teplok

Ubarampe: perlengkapan

Seabrek: banyak sekali

Dami: padi setelah dipanen (masih dengan batangnya)

Tampah: anyaman bambu berbentuk lingkaran, tempat menaruh makanan

Nyet-nyet: sepi sekali

Matur nuwun: terima kasih

Kluwus: dekil

Ditulis oleh Juli Maheswari

Penakut tapi penyuka mistisisme Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

kuliah , pekerjaan

Ketika Pekerjaan Tak Butuh Ijazah, Haruskah Kita Kuliah?

5 langkah personal branding, bukan cuma pamer diri

5 Langkah Sukses Dalam Personal Branding yang Bukan Sekadar Pamer Diri