in

Hardika: “Tidak Banyak yang Tahu, Beginilah Realita Kuliah di Luar Negeri”

“Enak ya kuliah di luar negeri, bisa jalan-jalan ke mana-mana,” begitulah kira-kira komentar banyak orang tentang mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri, hanya dengan melihat media sosialnya. Padahal realitanya siapa yang tahu, selain yang menjalaninya sendiri? Ketika kuliah di luar negeri, banyak hal yang mungkin akan kita temukan di luar ekspektasi dan kesulitan-kesulitan yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Baca Juga: Kuliah ke Luar Negeri? Inilah Hal-hal Seru yang Bisa Kamu Dapatkan!

Jadi bagaimana menurutmu tentang kuliah di luar negeri? Apakah itu menjadi salah satu daftar cita-citamu? Atau barangkali kamu sedang dalam proses persiapan melanjutkan kuliah di negeri orang? Sebagai bekal, ada baiknya kita belajar dari pengalaman orang yang sudah pernah menjalaninya.  Pada tulisan ini redaksi Ublik mengulas hasil wawancara bersama Hardika Dwi Hermawan, mahasiswa Master of Science in Information Technology in Education (M.Sc.ITE), Faculty of Education, The University of Hong Kong (HKU). Awardee beasiswa LPDP yang akan menyelesaikan studi pada bulan November 2018 ini banyak berbagi pengalamannya selama kuliah S2 di Hong Kong. Bukan hanya bagian menariknya saja, tapi Dika—begitu ia akrab disapa, juga mengungkapkan tentang momen-momen penuh perjuangan dan bagaimana menghadapinya.

Di depan HKU (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Perjuangan yang Tidak Seindah Foto-foto di Instagram

Saat dimintai pendapat tentang orang lain yang memandang kuliah di luar negeri itu selalu menyenangkan karena telihat banyak jalan-jalannya, Dika yang juga alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta itu mengaku santai saja.

“Saya santai saja, mungkin dia belum pernah merasakan dan hanya melihat dari satu sudut pandang saja, jadi dia mengira asik dan bahagia terus. Tanpa coba melihat lebih dalam prosesnya dan memahami kira-kira ada apa di balik setiap kebahagiaannya. Namun, saya yakin di sana juga masih banyak orang-orang yang paham dan mau mencoba memahami bahwa kebahagiaan yang kita bagi juga hasil dari perjuangan yang tidak instan dan butuh proses panjang yang tidak banyak orang tahu. Mulailah mencoba mencerna dan mendalami segala sesuatu, tidak hanya dari luarnya saja. Bahkan, banyak orang di sana yang membagikan kebahagiaan padahal dirinya sedang dalam kesusahan.”

Sempat Tinggal di Kamar Seukuran Kuburan

Saat baru beberapa hari tinggal di Hong Kong, Dika mulai merasakan beban yang berat. Beban kuliahnya juga dirasa jauh lebih berat dibanding saat menempuh S1 dulu. “Bagi mereka yang hanya melihat postingan saya di Instagram, mungkin jarang yang mengira bahwa saya telah melewati banyak hal dan tragedi. Pernahkah kamu bayangkan sebelumnya tinggal di kamar berukuran 2×1 meter, di luar negeri, sendirian, dan itu pertama kalinya kamu datang ke negara tersebut? Tidak ada teman di kampus itu yang kamu kenal sebelumnya. Budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda, dan segala perbedaan yang tidak kita temukan di Indonesia. Itulah yang saya alami dan rasakan waktu itu. Tapi bagaimanapun harus tetap dijalani dan segera beradaptasi dengan keadaan. 🙂 ”

Sekadar informasi, bahwa Hong Kong merupakan salah satu kota dengan biaya housing termahal di dunia. “Sebelumnya saya gak menyangka uang beasiswa belum cukup buat menyewa kamar yang layak. Jadi, saya harus tinggal di kamar ukuran 2×1 m yang kata temen saya seperti kuburan. Itu pun menyedot 60% dari uang beasiswa yang saya terima. Harga kamar yang hanya berisi tempat tidur itu dibandrol dengan harga 3500 HKD (Hong Kong Dollar) atau sekitar Rp 6,5 juta/bulan, bayangkan: enam setengah juta rupiah per bulan.” Katanya dengan sedikit penekanan pada pengalamannya itu. Lalu ekspresinya agak berubah saat menceritakan kalau ia tidak bisa berdiri di kamar, sekadar untuk menjalankan shalat.

Kamar 2×1 m (Sumber: Ublik.id/Hardika)

“Hal yang paling menyentuh saya setiap saat adalah ketika saya harus shalat dalam kondisi duduk di atas kasur, gak bisa berdiri. Kadang tanpa sadar saya meneteskan air mata. Merindukan keluarga di Indonesia; ibu, ayah, kakak, keponakan yang sedang lucu-lucunya, dan sahabat-sahabat terdekat di sana. Ketika awal-awal tinggal di tempat itu saya gak berani cerita ke orang rumah, karena pasti ibu akan sangat sedih.”

Selalu Berpikir Positif dan Bersyukur

“Hari demi hari terlewati, saya terus berusaha berpikir positif dan bersyukur. Menerima ini semua dengan lapang dada dan sebagai konsekuensi dari keputusan saya sendiri dan cara Allah memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Bagaimanapun, saya mendapatkan pelajaran hidup yang luar biasa di sini, bertemu dengan banyak orang baik, belajar menerima setiap kekurangan dan hidup sederhana, namun tetap berupaya sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia, tanpa terus mengeluhkan. Bagi saya, yang paling berarti adalah kaya hati bukan materi.”

“Alhamdulillah juga, pada akhirnya uang beasiswa saya mendapatkan kenaikan. Saya mendapat kesempatan menjadi student research assistant, student helper, dan bertemu dengan TKI di Hong Kong yang luar biasa baik dan menjadi jalan saya pindah ke tempat tinggal yang lebih layak.”

Baca Juga: Evi Lestari: “Kuliah di Negeri Panda Membuat Saya Membuka Mata”

Saat Orangtua Khawatir, Bagaimana Cara Meyakinkan Bahwa Kita Mampu?

“Sebelum berangkat kuliah di luar negeri, tidak sedikit orang tua yang khawatir karena takut ketika terjadi apa-apa pada anaknya di sana. Takut tidak ada orang yang menolong. “Menurut saya, orangtua khawatir itu wajar. Justru itu salah satu bentuk kasih sayangnya. Yang perlu dilakukan adalah kita introspeksi dan mencari tahu, hal apa yang paling dikhawatirkan orangtua. Apakah karena kita terlihat belum mandiri dan manja? Apakah karena kita tidak percaya diri dan kurang bertanggung jawab? Ataukah karena keputusan ke luar negeri hanya karena ikut-ikutan temannya?”

“Kita perlu tahu hal-hal yang menjadi alasan kenapa orang tua belum memberi izin untuk kuliah di luar negeri. Setelah kita tahu alasannya, upayakan sebaik mungkin untuk membuktikan bahwa kita mampu. Jika belum mandiri, tunjukan bahwa kamu bisa mandiri. Jika khawatir karena kamu belum punya pengalaman ke luar negeri sendirian, buktikan ketika sekolah cari pengalaman ke luar negeri dan tunjukkan bahwa kamu baik-baik saja dan sudah siap. Bagikan cerita pengalaman teman-teman atau senior yang sudah menjalani studi di luar negeri juga, tunjukan ceritanya, kehidupannya dan hal-hal yang bisa membuat orang tua yakin bahwa di luar sana sudah banyak orang Indonesia dan mereka baik-baik saja. Foto-foto para pelajar Indonesia juga bisa membuktikan bahwa kamu tidak akan sendirian.”

Kebersamaan dengan teman satu tim konferensi di Korea (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Setelah banyak bercerita tentang hal-hal realita kuliah di luar negeri, khususnya di Hong Kong, anak muda asal Purbalingga, Jawa Tengah itu melanjutkan cerita tentang kemampuan akademik teman-teman kuliahnya. “Kalau dari teman-teman sekelas saya, anak-anak Hong Kong cenderung aktif, disiplin, kritis, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Mereka juga tipe pekerja keras dan berkomitmen dengan tugas. Ketika diberi tugas, mereka akan benar-benar mengerjakannya dengan serius, benar-benar efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu. Rata-rata mereka tidak hanya kuliah, tapi aktif juga di berbagai bidang termasuk ada yang sudah merintis startup dan memiliki part-time job juga. Waktu 24 jam sehari benar-benar mereka manfaatkan dengan baik.”

Teman-teman sekelas (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Baca Juga: World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia 

Pengalaman Menjadi Student Mentor

Di luar kesibukan kuliah, research, dan beberapa konferensi internasional, Dika juga sempat menjadi student mentor untuk anak-anak SMA terpilih dari seluruh dunia, tiga di antaranya dari Hong Kong. Dika mengaku terkesan dengan kemampuan mereka.

“Kalo dilihat dari anak-anak SMA yang menjadi student saya itu, mereka memiliki pandangan luas dan sudah berpikir independent. Mereka juga aktif dan mandiri mencari kegiatan atau hal yang menunjang masa depan mereka. Bahkan anak-anak yang saya dampingi sudah memiliki plan jangka panjang, padahal mereka baru kelas 1 SMA.”

“Satu di antara mereka, masih kelas 1 SMA dan saya ajak ikut project, dia lakukan dengan baik dan sempurna. Dia mampu berpikir kritis dan mengimbangi research yang saya lakukan pada level master. Saya gak pernah merasa kesusahan atau terbebani ketika dia berada pada tim saya. Tentu hal itu bisa kita teladani, terutama dalam hal bagaimana kita memanfaatkan waktu kita selama 24 jam ini dengan baik, mulai mencoba berpandangan luas, berpikir ke depan, kritis dan produktif.”

International seminar (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Sebelum wawancara via WhatsApp itu diakhiri, seperti biasa, redaksi Ublik.id sempat meminta narasumber untuk memberikan closing statement dan juga semacam pesan-pesan untuk generasi muda Indonesia. Beberapa kali, Dika sempat menyebutkan pentingnya memanfaatkan waktu 24 jam dalam sehari dengan efektif.

“Setiap orang di dunia ini, tanpa terkecuali, termasuk presiden AS, pemilik Microsoft, pemilik Apple, Einstein, dan semua orang hebat di dunia memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Yang membedakan kita dengan mereka adalah bagaimana cara kita memanfaatkan waktu selama 24 jam itu dengan efektif. Apakah kita habiskan untuk main-main, foya-foya dan menyepelekan masa depan? Atau mau kita pergunakan waktu yang kita punya itu sebaik mungkin?”

HKU Graduate (Sumber: Ublik.id/Hardika)

“Persaingan di era sekarang semakin ketat, masalah semakin kompleks dan semua orang berusaha menjadi yang terbaik. Jika kita hanya berjalan santai dan cenderung menyepelekan, jangan salahkan jika di masa depan nanti akan banyak penyesalan yang kau temui. Jangan menunggu keajaiban, namun jemputlah keajaiban-keajaiban itu dengan tangan dan kakimu. Tidak ada hal yang mustahil, saya percaya itu, siapa saja bisa menjadi apa saja. Lakukan dengan hati bahagia, belajar ikhlas dan belajarlah mencintai hal yang tidak kau cintai. Jika hati nyaman dan enjoy, semua perjuangan akan dinikmati dan terasa indah. Selamat berproses! Mari bersama-sama menjadi orang baik yang membaikkan, orang sukses yang mensukseskan, dan akhirnya bisa menjadi hebat dan menghebatkan! Jangan lupa selalu bersyukur atas nikmatNya dan jerih payah orangtua juga.” ­:)

 

(Sumber Gambar Utama: Hardika DH)

45 Comments

Leave a Reply
  1. Semoga kita bisa memanfaatkan 24 jam dengan efektif, serta produktif mengembangkan kreativitas dalam membuat inovasi-inovasi baru dalam bidang yang sudah diminati.
    @ki.ara_mae

  2. Maa sya Allah luar biasa buat kak Hardika yang telah memberikan pengalaman yang penuh hikmah serta motivasi untuk seluruh pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Memang iya, ketika rangkaian usaha telah dikerahkan maka jangan lupa sertakan Allah didalamnya serta selalu berpikir positif itu merupakan jalan untuk mencapai keberhasilan yang berkah. Bahkan Allah akan terus mempermudahnya. Seperti halnya ka Dika ketika pada awal kuliah, beliau tinggal di tempat yang kurang layak, tetapi dengan melawan pikiran negatif maka beliau berhasil dan merasakan hasilnya atas proses yang telah ia rajut dengan keyakinan positif dan tak pernah lupa untuk bersyukur kepada-Nya serta tak pernah menyia-nyiakan waktu dan jerih payah orang tuanya. Sukses selalu buat Kak Dika, mudah-mudahan Allah senantiasa memberkahi ilmu yang Kak Dika amalkan. @mariskahoe

  3. Harga sewa kamar sebulan lebih mahal dri harga kamar kos gua setahun. Berarti sewa kamarnya 12x lipat lebih dri kamar gua. Hmzz kalau harga indomienya ngak 12x lipat kan bang :’) ?

    Id ig: syhl_anm

  4. “Setiap impian besar dimulai dengan seorang pemimpi, ingatlah bahwa kamu memiliki kekuatan, kesabaran, dan tekad untuk meraih bintang-bintang untuk mengubah dunia.” – Harriet Tubman

    Waktu kelas 3 SD, saya ditanya oleh guru saya, “Ada yang mau ke Inggris gak? Difoto di dekat Big Ben.” lantas dengan polos saya mengacungkan tangan, waktu itu keadaannya saya tidak tahu Big Ben itu apa. Lantas dari momen tersebut, saya meminta bapak saya untuk print-kan gambar Big Ben dan ditempel di meja belajar. Sampai sekarang, walaupun saya sedang menempuh pendidikan S1 di salah satu universitas negeri di Indonesia, saya masih memimpikan Inggris sebagai negara yang ingin saya kunjungi. Dan saya memutuskan untuk mengejar impian itu dengan memasukkan Inggris sebagai destinasi lanjutan pendidikan S2 saya, InsyaAllah.

    Saya jadi sering baca artikel, nonton YouTube, bahkan beli buku motivasi untuk kuliah di luar negeri. Satu hal yang menjadi ketakutan saya adalah biaya yang tidak dapat orangtua saya sanggupi. Mengejar beasiswa adalah target saya namun tetap saja perlu menyiapkan dana khusus untuk kuliah disana. Membaca artikel ini, semakin membuat saya takut namun juga tertantang. Masih ada 3-4 tahun persiapan yang saya punya jika menurut target saya. Semoga bisa.

    Saya setuju bahwa sabar dan konsisten merupakan kunci untuk bertahan. Saya percaya bahwa mimpi yang dirangkai dengan ketekunan akan berbuah manis. Namun memang hidup akan selalu penuh dengan tantangan, bertekad kuliah di luar negeri harus dipenuhi. Karena kita tidak akan tahu bagaimana rasanya apabila sudah menyerah duluan.

    Terima kasih atas ceritanya yang inspiratif, semoga rangkaian mimpi akan mencapai simpul terkuatnya, yaitu impian yang tercapai.

    Instagram: @yasminnurh

    • Ga bosen-bosen denger dan baca pengalaman mas Dika ini. Apalagi sekarang pas lagi capek gitu alhamdulillah bantu semangat lagi. Emang yak pengalaman itu jadi guru terbaik bukan hanya untuk yang mengalami tapi yang menyimak pun ketularan…
      semangaat mengukir pengalaman teman temaan

      Ig. @katalintang

      • ‌Saya bersyukur bisa membaca artikel ini, karena telah membuka pikiran saya tentang ekspektasi yang bertebaran di luar sana perihal kuliah ke luar negeri hingga menancap lama di otak ini.

        ‌Selain itu, memberikan saya arahan bagaimana mengatasi diri sendiri, tantangan dan mendapatkan kepercayaan orang tua sendiri tentunya.

        ‌Saya termasuk salah satu orang dari sekian banyaknya mereka yang bermimpi untuk kuliah ke luar negeri. Mimpi itu selalu dihantui tanda tanya, baik itu tentang orang tua yang mau mengizinkan anak perempuannya kuliah negeri, biaya hidup, serta tak punya saudara di negeri orang menjadi momok besar selama ini.
        ‌Melalui kisah kak hardika, telah menjawab semua pertanyaan dan kebingungan saya untuk kuliah ke luar negeri. Apa saya harus mempertahankan mimpi ini? atau harus menguburnya saja dalam “list of my dreams”? Serta ketidakpercayaan diri untuk mewujudkannya menjadi sebuah reality.

        Sekarang orang tua masih risau dan belum merespon penuh, jika saya bercerita perihal keinginan untuk kuliah ke luar negeri. Saya berusaha positive thinking, mungkin mereka ingin saya tetap fokus untuk menjalani kuliah S1 saya terlebih dahulu dengan serius tanpa banyak berbicara dan berangan-angan untuk saat ini (talk less do more), saya yakin dari hati yang dalam bahwa orang tua mana yang tak ingin melihat anaknya sukses apalagi meraih beasiswa and can go to abroad. Saya berharap buku ini suatu saat bisa menjadi jawaban untuk kedua orang tua saya, menemani persiapan saya dalam menyelesaikan pendidikan S1, mengobati rasa bimbang yang kerap menghantui saya dan perjuangan for my preparation untuk mempertahankan dan mewujudkan impian saya. Saya yakin dengan adanya pengalaman yang luar bisa dari seorang yang tak biasa lalu diabadikan menjadi bacaan bagi mereka yang memiliki impian besar, semoga bisa sampai di tangan saya bahkan hadiah besar bagi orang tua saya suatu saat nanti untuk membaca karya tersebut. Terima kasih atas pengalaman dan semangatnya… Semoga terus menginpirasi Youth generation in Indonesia Aamiin.
        @rara_rastri03

  5. Bismillah.. luar biasa. Setiap orang memiliki jalan juangnya masing-masing. Dari apa yang Saya baca, Kak Dika berusaha menunjukan jalan juangnya di tanah rantau, saat kuliah di LN: daricerita beliau, saya mendapat pelajaran bahwa “kita” baru akan merasakan manisnya “sebuah hasil” ketika “kita” telah lebih dulu “Lelah berjuang”. Ya, manisnya hasil hanya bisa dirasakan setelah telah lelah berjuang.

    Kesulitan yang dihadapi, pengorbanan yang dilalukan, serta pelajaran dan pengalaman yang Kak Dika jelaskan memberi saya gambaran tentang salah satu impian saya untuk kuliah ke Luar Negeri. Singkatnya, selama jalan yang ditempuh diyakini baik dan mampu membuat diri baik dan membaikan orang lain Maka jangan ragu, sekalipun itu berat. Jika jalan itu diyakini mampu membuatmu sukses Dan mensukseskan orang lain, maka tak perlu risau. Dan jika jalan tersebut diyakini dapat menjadikan kita hebat sehingga dapat menghebatkan orang lain, maka tak perlu mundur. Terimakasi kak Dika, atas kisah pengalaman, pengorbanan dan gambaran sepak terjang kehidupan nya saat kuliah di LN. Aku sangat terinspirasi. Semoga buku ini menjadi bekalku untuk membersamai mimpiku tahun ini. Alhamdulilah, aku sudah dinyatakan Lolos mendapat beasiswa S2 ke LN. Ku harap, buku ini menjadi awal mulaku mengenal dunia kampus di LN, kehidupannya. Sehingga darinya aku dapat lebih siap Dan tak mudah menyerah dengan keadaan.

  6. Ga bosen-bosen denger dan baca pengalaman mas Dika ini. Apalagi sekarang pas lagi capek gitu alhamdulillah bantu semangat lagi. Emang yak pengalaman itu jadi guru terbaik bukan hanya untuk yang mengalami tapi yang menyimak pun ketularan…
    semangaat mengukir pengalaman teman temaan

  7. Saya juga memiliki keinginan untuk melanjutkan S2 di luar negeri, dan jujur pertama kali mimpi itu ada setelah saya melihat kehidupan beberapa orang yang sudah terlebih dahulu kuliah diluar negeri via media sosial, benar kata kak Dika rata2 dari postingan mahasiswa luar negeri selalu yang indah2 jarang yang sedih, postingannya itu selalu buat saya ngiler dan berandai2 kapan bisa kayak mereka ya, karena isi postingan media sosial mereka selalu tentang jalan2 kalau gak kegiatan kampus atau organisasi luar negeri yang bikin mereka merasa nyaman dan senang disana. Namun, sebenarnya saya juga tau sih mereka pasti punya kesulitan saat tinggal dan kuliah di luar negeri hanya saja tidak mereka ceritakan secara langsung dalam setiap postingan yang mereka bagikan. Saya sih percaya kenapa mereka selalu membagikan hal2 yang membahagiakan saja dari proses perjuangan mereka yang sebenarnya saya yakin lebih banyak susahnya, ya,,, karena mereka pasti berfikir sangat banyak orang yang ingin berada diposisi mereka sehingga kesulitan seperti apapun yang mereka hadapi gak sebanding sama rasa senang dan bahagia bisa berada dan kuliah disana, saya yakin mereka gak mau mengeluh lagi karena bagi mereka saatnya untuk bersyukur dan postingan kebahagian dan cerita yang mereka bagikan bisa membuat orang lain yang belum mencapai titik dimana mereka berada bisa trus termotivasi dan semangat.
    Sehingga bagi saya sesulit apapun kuliah diluar negeri hal itu tidak membuat saya goyah untuk meraih mimpi itu, saya tetap ingin kuliah diluar negeri dan merasakan kesulitan demi kesulitan yang siap menanti kedepannya, karena saya percaya setiap kesulitan pasti ada jalannya seperti yang kak Dika bilang. Dan setiap masalah akan membuat kita semakin dewasa dan tertempah jiwa kemandiriannya. Selalu ada hikmah dari setiap proses perjuangan yang kita jalani. Tinggal lagi kita mau belajar atau tidak. Atau kita hanya mau jadi penonton dari kesuksesan orang lain.
    Terimakasih penulis dan narasumber, karena fakta2 yang dipaparkan diatas membuat saya bisa bersiap2 sedini mungkin menjadi pribadi yang tahan banting sebelum pergi untuk meraih impian saya.
    Semoga kelak saya bisa menjadi orang baik yang membaikkan, orang sukses yang mensukseskan, dan akhirnya bisa menjadi orang hebat dan menghebatkan!

    Instagram : @g.dewi21

  8. Saya juga memiliki keinginan untuk melanjutkan S2 di luar negeri, dan jujur pertama kali mimpi itu ada setelah saya melihat kehidupan beberapa orang yang sudah terlebih dahulu kuliah diluar negeri via media sosial, benar kata kak Dika rata2 dari postingan mahasiswa luar negeri selalu yang indah2 jarang yang sedih, postingannya itu selalu buat saya ngiler dan berandai2 kapan bisa kayak mereka ya, karena isi postingan media sosial mereka selalu tentang jalan2 kalau gak kegiatan kampus atau organisasi luar negeri yang bikin mereka merasa nyaman dan senang disana. Namun, sebenarnya saya juga tau sih mereka pasti punya kesulitan saat tinggal dan kuliah di luar negeri hanya saja tidak mereka ceritakan secara langsung dalam setiap postingan yang mereka bagikan. Saya sih percaya kenapa mereka selalu membagikan hal2 yang membahagiakan saja dari proses perjuangan mereka yang sebenarnya saya yakin lebih banyak susahnya, ya,,, karena mereka pasti berfikir sangat banyak orang yang ingin berada diposisi mereka sehingga kesulitan seperti apapun yang mereka hadapi gak sebanding sama rasa senang dan bahagia bisa berada dan kuliah disana, saya yakin mereka gak mau mengeluh lagi karena bagi mereka saatnya untuk bersyukur dan postingan kebahagian dan cerita yang mereka bagikan bisa membuat orang lain yang belum mencapai titik dimana mereka berada bisa trus termotivasi dan semangat.
    Sehingga bagi saya sesulit apapun kuliah diluar negeri hal itu tidak membuat saya goyah untuk meraih mimpi itu, saya tetap ingin kuliah diluar negeri dan merasakan kesulitan demi kesulitan yang siap menanti kedepannya, karena saya percaya setiap kesulitan pasti ada jalannnya seperti yang kak Dika bilang. Dan setiap masalah akan membuat kita semakin dewasa dan tertempah jiwa kemandiriannya. Selalu ada hikmah dari setiap proses perjuangan yang kita jalani. Tinggal lagi kita mau belajar atau tidak. Atau kita hanya mau jadi penonton dari kesuksesan orang lain.
    Terimakasih penulis dan narasumber, karena fakta2 yang dipaparkan diatas membuat saya bisa bersiap2 sedini mungkin menjadi pribadi yang tahan banting sebelum pergi untuk meraih impian saya.
    Semoga kelak saya bisa menjadi orang baik yang membaikkan, orang sukses yang mensukseskan, dan akhirnya menjadi orang hebat yang menghebatkan…

    Instagram : @g.dewi21

  9. Mungkin ada beberapa hal dari artikel di atas yang sama dengan cerita kak Dika di talkshow dan launching buku di UNY minggu lalu. Saya mengambil banyak sekali point yang dapat menaikkan optimis diri saya. Seperti contoh, ternyata setiap orang punya peluang untuk kuliah di LN dan beasiswa ketika orang tersebut mau belajar (karena awalnya saya benar-benar tidak ada bayangan dan tujuan untuk kuliah di LN, namun ketika mendengar pengalaman dan perjuangan kak Dika, pikiran dan hati saya perlahan menjadi terbuka dan mau untuk ambil risiko). Selain itu passion yang dapat menunjang diri kita. Dan yang terakhir adalah bersyukur.

    Terima kasih untuk selalu menjadi manusia yang dapat menginspirasi manusia lainnya, semoga sukses selalu, Kak Dika. Aamiin.

    Ig: @azeldst

  10. Mereka yang kuliah di luar negeri mungkin terlihat indah seperti anggrek namun perjuangan mereka mungkin lebih seperti kaktus.

    • Mereka yang kuliah di luar negeri mungkin terlihat indah seperti anggrek namun perjuangan mereka mungkin lebih seperti kaktus.

      Ig : iim_melani

  11. Thanks bgt artikel ini bener bener membuka pandanganku tentang kehidupan mahasiswa di luar negri
    Sampe dititik harus berada di kamar segitu sempitnya untuk bertahan hidup, ga menutup kemungkikan setiap org mengalami hal yg sama. Ini yg akan menjadi komitmenku jika nanti dpt beasiswa ke LN akan fokus belajar dan what a bulshit about gengsi dan update tan di sosmed
    Karena dunia sosmed ta seindah dunia nyata
    Artikel ini sangat memberkati saya !

  12. Thanks bgt artikel ini bener bener membuka pandanganku tentang kehidupan mahasiswa di luar negri
    Sampe dititik harus berada di kamar segitu sempitnya untuk bertahan hidup, ga menutup kemungkikan setiap org mengalami hal yg sama. Ini yg akan menjadi komitmenku jika nanti dpt beasiswa ke LN akan fokus belajar dan what a bulshit about gengsi dan update tan di sosmed
    Karena dunia sosmed ta seindah dunia nyata
    Artikel ini sangat memberkati saya !

    @eunhasiholanda

  13. Setiap kata yang keluar dari seorang kak Resti memang memiliki daya tarik tersendiri. Seolah pembaca diajak untuk berdiskusi bersama-sama dan merasakan feel pemikirannya, itu hebat! Bagaimana tidak? Dari cara penyampaian kisah kak Hardika yang menempuh studi di luar negeri hingga kisah studinya semuanya menarik untuk dibaca. Itu benar-benar keren. Awalnya aku mengenal kak Resti demi sebuah Esai yang telah meninggalkan jejak harum di Turki, hingga membuatku penasaran lalu mencoba mengirimkan beberapa DM. Sebenarnya Hanya sebuah keisengan, tapi itu terjawab! Setiap obrolan itu membuatku ingin lebih banyak membaca tulisannya, dan itu nyata diawali dengan kisah studinya. Dari situ aku sangat penasaran tentang buku ‘Yakin mau kuliah diluar negeri?’

    Pada akhirnya, artikel ini kembali menarikku~ merasakan sebuah euforia. Kak Hardika, Hongkong. Walau berlatar tidak sama, mungkin bisa jadi memiliki kesamaan! Hongkong-Singapore~ Sedikit kisah diatas memberiku gambaran bagaimana seseorang berjuang beradaptasi di negeri yang asing baginya, yang mungkin memiliki banyak tolak belakang dengannya. Negeri tersebut hampir memiliki kesamaan yang banyak dengan negara yang kuinginkan sebagai tempat studiku berlanjut, Singapore.

    Namun tentunya bagi seorang anak SMA sepertiku memiliki banyak ke khawatiran untuk sekedar ‘menginginkan’ bangku salah satu universitas di luar negeri.

    ‘Apakah aku hanya mengejar nama?’
    ‘Apakah aku benar-benar bisa bertahan disana?’
    ‘Apa yang bisa aku berikan pada orang-orang terdekatku maupun negeri ini seandainya aku menjadi seorang sarjana disana?’

    Semua pemikiran itu tentunya membutuhkan jawaban, dan entah kenapa aku sangat tertarik mencarinya di buku ‘Yakin mau kuliah di luar negeri?’ itu…Semoga itu nyata.

    Ig : @amrita.tata694

  14. Bismillah.
    Dunia adalah tentang orang yang berkarya dan berjuang untuk hidupnya. Salah satunya menuntut ilmu. Ketika syukur dan sabar menjadi senjata dalam diri untuk meretas setiap ketidaknyamanan yang terjadi dalam diri maka aku akan mengambil contoh dan teladan yang baik dari seorang kak HARDIKA dan kak RESTIA NINGRUM. Mimpi tinggal bermimpi, namun seseorang mengatakan kepada saya “PAHIT LOH NDUK MENCAPAINYA” dan aku pastikan akan MANIS ketika sang mimpi sudah digenggam dan sudah dicapai. Aku bahkan selalu ingat perjuangan KAK RESTIA yang pernah menjadi buruh pabrik sampai akhirnya menjadi penulis besar, dan tokohnya adalah tanpa disangka menjadi kebetulan. Namun, tidak ada konsep kebetulan dalam hidup, itu semua TAKDIR ALLAH S.W.T. aku percaya mimpi, aku percaya takdir tatkala KAK HARDIKA BILANG “MIMPI ITU MILIK SEMUANYA, BUKAN ORANG CERDAS DAN KAYA” Siapa yang tidak ingin ke luar negeri? Ya hanya orang orang penakut akan dunia ALLAH. Ah, bahkan rasulpun pernah berkata “TUNTUTLAH ILMU SAMPAI NEGERI CHINA” loh, ko china? Yaa begitulah analoginyaa, sejauh jauhnya kita harus tetap mencari Ilmu. Ketika suka dan duka sudah menyeruak dalam kehidupan, apa yang harus kita lakukan? Dan artikel ini menjawab sudah semuanyaa. Kita tinggal sabar dan bersyukur. Konsep yang pasti sekali kak HARDIKA. Aku adalah orang yang paling males dengan orang berteori, namun aku temukan mba RESTIA yang dengan imajinya berhasil menemukan kak HARDIKA. This is impossibble, but aku telah menemukan ini dan meyakinkan pada diriku, pleasee! This is possibblee. Seketika akuu mendapat inspirasi dari kedua sosok yang aku tidak pernah kenal dan bahkan aku tidak tahu siapa mereka. Yaa KA HARDIKA dan KAK RESTIA. Bukan hanya tentang kata kata, sejatinya KA HARDIKA tokoh dalam buku namun sang sekenario terbaik adalah ALLAH bukan? I BELIEVE ONE DAY I CAN KULIAH DILUAR NEGERI. INSYAALLAH

  15. Subahanallah. Ini bena-benar artikel yang sangat memotivasi. Sebelumnya waktu saya lihat judulnya saya pikir artikel ini akan melemahkan semangat saya karena menunjukkan realita kuliah di luar negeri. Namun setelah saya baca dan pahami artikel ini malah membuat saya penasaran dan pengen cepat bisa kuliah di luar negeri. Semoga saya bisa menyusul yaaa
    Ig: adilah_raisah

  16. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah menulis artikel ini. Saya memang sangat menginginkan berkuliah diluar negri, apalagi ditambah melihat foto-foto kebanyak orang yang terlihat bahagia dan sukses disana. Tetapi yang saya takutkan keinginan saya berkuliah diluar negri hanya tergiur akan pandangan tersebut. Dan karena artikel ini saya menjadi sadar, saat saya benar-benar disana saya harus kuat dan selalu bersyukur atas apa yang saya dapat. Saya akhirnya memiliki gambaran, dengan itu saya bisa menyiapkannya mulai sekarang. Dengan disiplin waktu, tidak mubazir, kerja keras, yah banyak lagi tentunya. Sekali lagi terima kasih telah membuat artikel ini, sangat memotivasi dan menambah semangat saya untuk kembali berjuang!

    Instagram: @ina_yaahh

  17. Untuk Mas Dika :
    Terima kasih karena telah melahirkan buku yang se-apik ini. Membuat saya kembali menata diri, menata hati untuk beberapa mimpi yang ingin saya wujudkan di tahun depan. Memang benar kata pepatah lama, seorang pemenang tidak akan lahir dari ombak yang tenang. Begitulah manusia terbentuk, harus melalui beberapa benturan untuk membentuk diri yang kuat, tahan banting dan pantang menyerah.
    Beberpa cerita mas Dika baik dari ig story atau spoiler isi buku, membuat saya kagum juga heran. Memang untuk menuntut ilmu di negeri orang harus melalui banyak pengorbanan. Waktu bersama keluarga, biaya dan masih banyak lagi yang akan kita korbankan.

    Sekali lagi, terima kasih mas Dika karena telah melahirkan anak (buku) yang kereenn ini.

    Magelang, @faizahmay

  18. Mengenai kuliah di luar negeri, setiap orang pasti mau, termasuk saya. Namun perizinan orang tua dan biaya menjadi penghambat kemauan saya itu. Alasannya karena ya seperti yang di paparkan Kak Dika tadi, setiap orang tua pasti akan mengkhawatirkan anaknya dalam keadaan apapun, apalagi ini menyangkut masa depannya. Dan setelah membaca pengalaman kak Dika barusan juga memang cukup menampar kami geneeasi muda indonesia yang masih menganggap kuliah di luar negeri itu suatu hal yang cukup menakjubkan tanpa melihat bagaimana realita sebenarnya. Karena yang saya amati, kebanyakan anak muda Indonesia ini terkait perkuliahan atau pun karir masih memikirkan pendapat orang lain tanpa melihat bagaimana penilaian dirinya sendiri. Hal itu tentu saja kurang baik karena segala sesuatu yang kita lakukan harus berdasarkan hati yang tulus, bukan berdasarkan pulus. Saya melihat ketulusan itu dari kak Dika setelah tahu bagaimana beratnya perjuangan kuliah dan hidup di negeri orang. Kepada kak Dika terimakasih karena telah mau membagikan pengalamannya melalui tulisan ini dan sudah dibukukan juga. Tetap selalu bersyukur seberat apapun kehidupan di sana, karena ingat tidak semua orang bisa diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa kuliah di luar negeri.

    Salam cinta dari pemuda-pemudi Indonesia!

    Instagram : @vnestiq18

  19. Saya juga sempat berkeinginan untuk mengajar beasiswa di luar negri setelah lulus sekolah ini, obsesiku terhadap sekolah di luar negri sangatlah besar, hingga aku tau kehidupan di luar negri tak seindah yang kita bayangkan, banyak rintangan dan cobaan, yang aku tau cumat tempat-tempat yang indah disana ternyata di balik semua itu bertolak belakang.
    Saya juga sering melihat anak dari dalam negri yang mendapatkan beasiswa di luar negri, postinganya di media sosial sangat melibatkan kebahagian mereka, bisa jalan-jalan, out dengan banyak teman dari berbagai negara, tetapi setelah saya tanyakan ternyata kehidupan mereka sangat berbanding terbalik dengan postingan mereka, harus memiliki mental yang kuat untuk dapat hidup di sana, budaya yang tentunya berbeda.
    Apalagi setelah membaca artikel ini saya harus berfikir 2 kali untuk meneruskan obsesiku ini.

    @firdatus_slkh

  20. Saya juga sempat berkeinginan untuk mengajar beasiswa di luar negri setelah lulus sekolah ini, obsesiku terhadap sekolah di luar negri sangatlah besar, hingga aku tau kehidupan di luar negri tak seindah yang kita bayangkan, banyak rintangan dan cobaan, yang aku tau cumat tempat-tempat yang indah disana ternyata di balik semua itu bertolak belakang.
    Saya juga sering melihat anak dari dalam negri yang mendapatkan beasiswa di luar negri, postinganya di media sosial sangat melibatkan kebahagian mereka, bisa jalan-jalan, out dengan banyak teman dari berbagai negara, tetapi setelah saya tanyakan ternyata kehidupan mereka sangat berbanding terbalik dengan postingan mereka, harus memiliki mental yang kuat untuk dapat hidup di sana, budaya yang tentunya berbeda.
    Apalagi setelah membaca artikel ini saya harus berfikir 2 kali untuk meneruskan obsesiku ini.
    @firdatus_slkh

  21. Saya bersyukur bisa membaca artikel ini, karena telah membuka pikiran saya tentang ekspektasi yang bertebaran di luar sana perihal kuliah ke luar negeri hingga menancap lama di otak ini. Selain itu, memberikan saya arahan bagaimana mengatasi diri sendiri, tantangan dan bagaimana mendapatkan kepercayaan orang tua sendiri tentunya.

    ‌Saya termasuk salah satu orang dari sekian banyaknya mereka yang bermimpi untuk kuliah ke luar negeri. Mimpi itu selalu dihantui tanda tanya, baik itu tentang orang tua yang mau mengizinkan anak perempuannya kuliah negeri atau tidak, biaya hidup, serta tak punya saudara di negeri orang menjadi momok besar selama ini.

    Melalui kisah kak hardika, telah menjawab semua pertanyaan dan kebingungan saya untuk kuliah ke luar negeri. Apa saya harus mempertahankan mimpi ini? Atau harus menguburnya saja dalam “list of my dreams”? Serta ketidakpercayaan diri untuk mewujudkannya menjadi sebuah reality.

    Sekarang orang tua masih risau dan belum merespon penuh, jika saya bercerita perihal keinginan untuk kuliah ke luar negeri. Saya berusaha positive thinking, mungkin mereka ingin saya tetap fokus untuk menjalani kuliah S1 saya terlebih dahulu dengan serius tanpa banyak berbicara dan berangan-angan untuk saat ini (talk less do more), saya yakin dari hati yang dalam bahwa orang tua mana yang tak ingin melihat anaknya sukses apalagi meraih beasiswa and can go to abroad.

    Saya berharap buku ini suatu saat bisa menjadi jawaban untuk kedua orang tua saya, menemani persiapan saya dalam menyelesaikan pendidikan S1, mengobati rasa bimbang yang kerap menghantui saya dan perjuangan for my preparation untuk mempertahankan dan mewujudkan impian saya.

    Saya yakin dengan adanya pengalaman yang luar bisa dari seorang yang tak biasa lalu diabadikan menjadi bacaan bagi mereka yang memiliki impian besar, semoga bisa sampai di tangan saya bahkan hadiah besar bagi orang tua saya suatu saat nanti untuk membaca karya Kak Hardika dan Kak Restia. Terima kasih atas pengalaman dan semangatnya… Semoga terus menginpirasi all of Youth generation in Indonesia Aamiin.

    @rara_rastri03

  22. Mas Dika inspiratif banget dari jaman kuliah S1. Banyak cerita yang aku dengar tentang Mas Dika. Apalagi setelah Mas Dika keterima awardee beasiswa LPDP, semakian kuingin tahulah dan timbul minat serta niat buat kuliah ke luar negeri.

    Dulu sekedar mimpi anak SMP, ku ingin kuliah di Uni X keliatannya keren ya? tanpa mikir mau jadi apa, passion dimana, kebermanfaatannya seperti apa. Gengsi lebih tepatnya. Tak apa, mimpi gratis kan? Semua berawal dari mimpi.

    Tapi semua itu ternyata salah besar. Mimpi hanya akan sekedar mimpi jika kita tidak berusaha. Berdoa saja tanpa usaha juga bohong. Usaha tapi tanpa niat ikhlas lurus disiplin dan kerja keras juga sama saja nihil. Pada akhirnya ingin kugali lebih dalam, “Apa yang sudah aku lakukan untuk orang-orang di sekitarku khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya? Apakah aku sudah memiliki kebermanfaatan untuk orang lain? Apa yang bisa aku berikan untuk Indonesia setelah aku pulang dari kuliah di luar negeri?”

    Akhirnya ku sadar, kuliah di luar negeri tidak serta merta seindah postingan instagram. Ada perjuangan yang dialami baik sebelum, sedang, dan setelah kuliah itu sendiri. Butuh banyak penyesuaian bahkan untuk tempat tinggal, makan dan beribadah.

    Tapi Mas Dika selalu mengingatkan dalam postingannya, “Bermimpilah. Siapapun kamu, kamu bisa kuliah di luar negeri.”
    Dan sebaik baik manusia adalah ia yang bermanfaat untuk orang lain.

    Impian untuk kuliah di luar negeri itu masih ada. Bahkan masih membara dalam dada dan doa serta restu orang tua. Jadi, Yakin Mau Kuliah di Luar Negeri?

    Jawabku,100% YAKIN.

    Selamat dan terus menginspirasi anak negeri, Mas Dika! Ciayo!

    – @limassifa –

  23. Mas Dika inspiratif banget dari jaman kuliah S1. Banyak cerita yang aku dengar tentang Mas Dika. Apalagi setelah Mas Dika keterima awardee beasiswa LPDP, semakian kuingin tahulah dan timbul minat serta niat untuk kuliah ke luar negeri.

    Dulu sekedar mimpi anak SMP, ku ingin kuliah di Uni X keliatannya keren ya? tanpa mikir mau jadi apa, passion dimana, kebermanfaatannya seperti apa. Gengsi lebih tepatnya. Tak apa, mimpi gratis kan? Semua berawal dari mimpi.

    Tapi semua itu ternyata salah besar. Mimpi hanya akan sekedar mimpi jika kita tidak berusaha. Berdoa saja tanpa usaha juga bohong. Usaha tapi tanpa niat ikhlas lurus disiplin dan kerja keras juga sama saja nihil. Pada akhirnya ingin kugali lebih dalam, “Apa yang sudah aku lakukan untuk orang-orang di sekitarku khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya? Apakah aku sudah memiliki kebermanfaatan untuk orang lain? Apa yang bisa aku berikan untuk Indonesia setelah aku pulang dari kuliah di luar negeri?”

    Akhirnya ku sadar, kuliah di luar negeri tidak serta merta seindah postingan instagram. Ada perjuangan yang dialami baik sebelum, sedang, dan setelah kuliah itu sendiri. Butuh banyak penyesuaian bahkan untuk tempat tinggal, makan dan beribadah.

    Tapi Mas Dika selalu mengingatkan dalam postingannya, “Bermimpilah. Siapapun kamu, kamu bisa kuliah di luar negeri.”
    Dan sebaik baik manusia adalah ia yang bermanfaat untuk orang lain.

    Impian untuk kuliah di luar negeri itu masih ada. Bahkan masih membara dalam dada dan doa serta restu orang tua. Jadi, Yakin Mau Kuliah di Luar Negeri?

    Jawabku,100% YAKIN.

    Selamat dan terus menginspirasi anak negeri, Mas Dika! Ciayo!

    – @limassifa –

  24. Sebelumnya terimakasih untuk tim pembuat buku “Yakin MAu Kuliah di Luar Negeri?” yang telah menerbitkan buku luarbiasa ini.Bener-bener menginspirasi untuk generasi milenial seperti kita, salut banget si sampai ngga bisa muji lagi.Kuliah di negeri orang memang idaman semua orang, siapa si yang ngga mau kuliah di sana?.Rasanya pengin banget, membanggakan orang tua itu yang utama , dapet banyak temen , bisa jalan-jalan , dan masih bnyak lagi. Tapi ternyata realita tak seindah ekspektasi.Dari pengalaman kak Dika banyak pelajaran yang bisa diambil .Memang untuk mencapai semuannya tak semanis gula dan tak semulus jalan tol seperti yaang diceritan.Bersyukur banget si masih ada anak bangsa yang mau membagikan pengalaman yang sangat membangun ini.Kita tidak tau apa yang terjadi di masa depan,tapi kita tidak boleh menyerah seperti di artikel ini.Semoga masih banyak anak bangsa yang mau membagikan pengalamannya lagi.

  25. saya ingin sekali kuliah diluar negeri tapi saya merasa belum yakin dan mampu apakah saya bisa nantinya, setelah membaca kalimat diatas saya merasa terharu pengin nangis rasanya:( semoga buku ini bisa memotivasi saya dan teman-teman yang lain untuk terus semangat dan pantang menyerah dalam belajar demi menggapai cita-cita yang kita inginkan. Terima kasih ka dika telah membagikan pengalaman yang berharga ini dalam sebuah buku yang sangat inspiratif. Bismillah semoga saya @rtnwidia_ bisa mendapatkan buku yang sangat bagus ini melalui giveaway yang diadakan ublik Aamiin:)

  26. Von dir, Mas Dika, habe ich eine unvergessliche Inspiration bekommen. Aufgrund Ihrer Einfachheit schäme ich mich für das, was mir jetzt bevorsteht. Ich werde auch selektiver, wenn ich mich beschweren möchte, indem ich mich frage: “Lohnt es sich, mich darüber zu beschweren?” Ihre Geschichte veranlasst mich auch, mich weiterhin um meine Traumträume zu kümmern, damit ich sie eines Tages verwirklichen kann. Jedem beweisen, dass die Dorfbewohner auch fähig sind. Dorfbewohner haben auch Glaubwürdigkeit und Fähigkeit. Im Grunde bin ich sehr dankbar. Sei weiterhin wie jetzt Mas Dika, der freundlich und Spaß macht.

    Von gleichen Namen : @dika_indo99

  27. Memang benar dibalik kesuksesan akan ada perjuangan dan usaha. Orang lain hanya akan melihat permukaan saja tapi tak tau terjalnya hidup yg tak terlihat. Dan bersyukur adalah cara bahagia terbaik karena dengan nya kita selalu merasa cukup.

    Terimakasih sudah mau berbagi pengalaman n ya. Semoga saya bisa seperti anda. Orang yang kuat dengan keadaan.

  28. Baca ini jadi makin semangat buat belajar, yang paling inget itu pas “Semua orang punya waktu yang sama 24 jam. Tinggal gimana kita memanfaatkannya”
    Thanks inspirasinya, semoga next time bisa kayak kak Hardika. Hehe

    @anisfatur_rochma

  29. “Tidak semua orang sukses merampas semua mimpinya sekaligus, semua butuh proses, step by step. So, jika kamu merasa apa yang kamu rencanakan justru akhirnya seperti salah langkah, percayalah tuhan sedang membelokkan langkahmu menuju pencapaian yang lebih luar biasa”. Insyaallah saya perjuangkan gift away ini untuk perpustakaan sekolah saya yang masih sangat , sangat kekurangan buku.@putri.diy Terima kasih

  30. Masya Allah, what a enchanted story!
    Betapa mengharukannya kisah ka Dika, yang penuh perjuangan. Artikel yang benar benar menginspirasi dan mengingatkan anak-anak muda untuk selalu tetap berfikir positif,selalu bersyukur, bermimpi besar, dan selalu memanfaatkan waktu dengan baik. Saya berharap, semoga saya dan teman-teman semua kita bisa menjadi orang yang bermanfaat dan berkontribusi untuk membangun Indonesia lebih baik.

    @rizki.ulya9

  31. Salut bgt sama perjuangannya Kak Dika! Sangat menginspirasi dan memotivasi diri saya pribadi yang juag punya mimpi bisa berkuliah ke LN dengan mendapatkan beasiswa. Mungkin orang lain melihat dari luar kehidupan mahasiswa di LN sangat indah apalagi bisa jalan” ke tempat yang jauh lebih maju dari Indonesia. Namun terkadang semua keindahan yang tampak dari luar tidak sesuai dengan apa yang terjadi sesungguhnya seperti halnya yang terjadi dengan Kak Dika. Ingin rasanya mengeluhkan semuanya pada orang tua namun takut malah membuat orang tua menjadi cemas sehingga berpura pura semuanya baik-baik saja. Saya juga merasakan hal itu karena sudah 5 tahun hidup diperantauan untuk melanjutkan pendidikan. Memang, untuk mencapai apa yang kita impikan diperlukan kerja keras dan semangat pantang menyerah. Karena banyak sekali orang yang mau sukses tetapi keinginannya tidak sebesar usahanya. Seperti sebuah qoute yang pernah saya baca “Everybody wants to go to heaven, but nobody wants to die.” Kak Dika telah membuktikan dengan pengorbanan yang besar hasil yang kita terima juga akan setimpal. Terima kaih atas pengalamannya. Semoga suatu saat saya bisa juga mewujudkan impian saya untuk berkuliah ke LN dengan beasiswa dan menginspirasi banyak orang.. Aamiin.
    @rifkaa_annisa

  32. Baru satu tahun saya menjadi mahasiswa, tapi sudah sejak SMA saya ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, entah itu pendidikan S1 atau S2. Tak banyak yang tahu mengenai hal itu, karena mengingat orang tua yang sulit melepaskan. Alhasil pendidikan jenjang S1 saya tempuh di dalam negeri, bahkan di dalam kota. Tapi, semangat dan keinginan tidak sekalipun surut untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
    Ig: lailatlmaghfiroh

  33. Masya Allah.
    Benar-benar perjuangan yang sangat menguras tenaga, fikiran, air mata bahkan menahan sesak ya kak. Tidak semua orang berani untuk meraih impiannya, mereka hanya mampu menginginkan dan mengingatnya sebagai sebuah impian tapi kehabisan semangat dan lemas sebelum perjuangan dimulai. Sungguh berat rasanya ngebayangin tinggal di kos yang luasnya 2*1m kak. Tak hanya perjuangan dan adu kecerdasan tapi tanpa disadari uji mental adalah yg paling utama sebenrnya. Jazakallahu khairan kak buat pengalaman dan motivasinya.

    @tri_azzahranastitin

  34. Perjuangan yang sangat menguras tenaga, fikiran, air mata bahkan menahan sesak ya kak. Tidak semua orang berani untuk meraih impiannya, mereka hanya mampu menginginkan dan mengingatnya sebagai sebuah impian tapi kehabisan semangat dan lemas sebelum perjuangan dimulai. Sungguh berat rasanya ngebayangin tinggal di kos yang luasnya 2*1m kak. Tak hanya perjuangan dan adu kecerdasan tapi tanpa disadari uji mental adalah yg paling utama sebenrnya. Jazakallahu khairan kak buat pengalaman dan motivasinya.

    @tri_azzahranastitin

  35. Keren banget Kak Dika! MasyaAllah perjuangan yang pastinya tidak mudah. Sama sekali tidak menyangka ternyata sebegitu keras perjuangan kak dika di awal-awal masa perkuliahan di luar negeri. Jujur, saat saya membaca judul artikel ini, sedikit bergumam dalam hati, “wah pasti ada situasi yang menyesakkan nih”. Dan benar saja, melihat potret kamar 2 X 1 m itu, jiwa empati saya bergejolak. Saya jadi membayangkan jika saat itu saya mengalami hal yang sama. Wah, kira-kira saya harus bersikap bagaimana ya. Namun, pertolongan Allah itu memang dekat. Terkadang jika membaca hal-hal seperti ini secara tidak sengaja membuat saya berfikir ulang akan cita-cita saya belajar di luar negeri. Tetapi kembali saya akan mengambil hal-hal positif dari kisah perjuangan yang Kak Dika bagikan sebagai bahan renungan untuk saya. Terimaksih sudah membagi sisi lain perjalanan kuliah di luar negeri nya kak. Sukses selalu!

    @fatimazrh98

  36. Semangat dalam menuntut ilmu. Tak semua nya terlihat indah. Yang dilihat orang dan yang apa kita rasakan berbeda.
    Semua memiliki alurnya sendiri.
    Yang kuat akan selalu bertahan, semua memiliki hikma nya masing” . Tetap semangaat jalani menuntut ilmu. Terus berjuang untuk menggapai mimpi.
    Sekolah di luar negeri bukan sebuah beban melainkan adalah caramu menunjukan kepada dunia, bahwa apa yang di sebut sebuah perjuangan.

    Ig: @nnaa_117

  37. Keren banget pengalaman ka Dika. Bener-bener membuka mata bahwa kuliah di luar negeri itu ngga semudah foto-foto di instagram. Apalagi tinggal jauh dan sendiri, dari pengalaman ka Dika aku bisa bayangin gimana susahnya awal-awal mulai kuliah di negara orang. Aku adalah satu dari jutaan orang yang punya impian lanjut kuliah di luar negeri juga. Semoga suatu saat akupun bisa seperti ka Dika.

    Ig : hanianajmi

  38. Sungguh saya berterimakasih kepada kembaran saya berkat dia saya bisa bertemu akun yang sangat menginspirasi saya, awal mulanya adik (kembaran )saya bercerita kepada saya bahwa ketika dia membuka google dia menemukan dilinimasa google dengan tulisan “mari berkenalan dengan mahasiswa kreatif dan inovatif “ kemudian dengan rasa penasaran ia lalu mencoba terlebih dahulu membaca isi tulisan tersebut, karena rasa penasaran yang teramat dalam kemudian ia mencari nama hardika dwi hermawan di akun instaqramnya, setelah beberapa saat dia memanggil saya lalu mulai lah dia mencerikatan kepada saya tentang pencapaian kak hardika dwi hermawan yang didapatnya dari google.
    She : yuk tadin dak mbu mukak google tuh dak du mbu ngeli putu ninna, mbu penasaran mbu dalak insgram nyu ,way yo padek ha yuk nyu lulusan UNY tuh katurra nyu kuliah kek luar negeri,luar biasa ha yuk kagum mbu ngan caption putowwa, pu dalak be sudahtu ikuti monna.
    (kak tadi pas mau searching di google ga sengaja nemu ini,trus penasarankan jadi klik, trus masih penasaran, jadi aku search aja di Instagram, ternyata luar biasa banget ka, kakak ini lulusan UNY dan sekarang kuliah di luar negeri, sungguh luar biasa kan kak, luar biasanya nya lagi pas baca caption potonya kak,,,, keren banget
    Me : wo dek, yu nyan dek po namowwa instagramnyo ?.
    (Beneran dek, nama instagramnya apa dek ? )
    Tiap postingan yang kakak share membuka mindset saya bahwa pendidikan itu penting setelah yang pertama tuhan dan moral, hal ini mendeskripsikan bahwa eksistensi anak bangsa yang berpendidikan sangatlah penting.
    Seperti kata jhon.f kenedi janagan tanyakan apa yang negara berikan untuk mu, tapi tanyakan apa yang dapat kamu berikan untuk negara,
    Sungguh saya sangat berterimkasih kepada @hardikadh yang hampir setiap hari selalu menginspirasi lewat postingannya dan lewat instastory nya. Terkesima, ya sungguh sangat terkesima bahkan tiap kali saya melogin akun Instagram, saya tidak bisa melewatkan bahkan kadang-kadang saya mensearch Instagram kak @hardikadh agar bisa mendapatkan berita up to date mengenai pengalaman yang kakak share sekaligus menjadi motivasi buat saya. Sungguh tiap postingan yang kakak share itu membuat saya selalu berusaha berjuang sedemikian keras, untuk membumikan aksi demi mewujudkan mimpi. Sulit tentu saja, jika mimpi yang kita bangun hanya sebatas asa tanpa aksi nyata, sama seperti rumah tanpa pondasi, halnya seperti memilih tidur untuk melanjutkan mimpi atau bangun untuk mewujudkan mimpi begitulah sedikit pepatahnya.
    Semangat dan sukses terus buat kak @hardikadh dan makasih juga buat ublik_id sudah mengadakan giveway sukses terus buat ublik.
    Iinstagram : mulyana_utama

  39. Bismillah, sebelumnya terimakasih kepada kak Hardika yang telah berbagi kisah asam-manis perjuangannyaselama kuliah S2 diluar negeri. Sebagai mahasiswa semester akhir S1 yang bercita-cita melanjutkan studi S2 ke LN, cerita “Realita kuliah di Luar Negeri” kakak benar-benar membuat saya terpukau dan juga membuka pikiran saya untuk lebih realistis dan optimis pada masa depan, kenapa lebih realistis? Karena akhirnya saya semakin tahu bahwa kuliah di luar negeri memang bukan hanya sekedar jalan-jalan dan kebutuhan untuk posting foto baru di instagram. Lebih optimis karena syaa melihat banyak sekali contoh mahasiswa yang berhasil mewujudkan mimpi. Kebetulan saya kenal dengan seorang senior di kampus saya yang berhasil kuliah S2 di LN.
    Sekarang beliau kuliah di Chiba University, Jepang. Alhamdulillah saya sempat bertemu dan ngobrol singkat dengannya, ia bercerita perjuangannya menghadapi berbagai tes seperti IELTS, wawancara dan penelitian sebelum lulus tes. Benar-benar luar biasa kekuatan mimpi itu, sampai akhirnya ia berhasil diterima sebagai mahasiswa resmi di Universitas tersebut. Sama halnya dengan perjuangan kak hardika bertahan dan beradaptasi di Hong Kong. Yang mungkin di mata orang awam, para mahasiswa penerima beasiswa selalu hidupnya enak, namun ternyata mereka sangat akrab dengan perjuangan. Kesulitan-kesulitan itu memang akan selalu ada ya, ketika kita memperjuangkan mimpi.
    Di artikel ini kak Hardika membahas “Selalu Berpikir Positif dan Bersyukur” padahal saat itu kaka hidup dengan segala keterbatasan dengan kamar ukuran 2×1 m. Menurut saya inilah poin yang sangat penting, terdengar sulit namun ini memang harus selalu dilatih… saya sering kali gagal memenangkan sesuatu yang saya perjuangkan, dalam hal ini saya mengejar impian untuk ke LN, saya memang merasa terpuruk telebih dahulu, sering berpikir “ Kenapa begini? Padahal aku sudah….” saya lupa bahwa bisa saja Allah memang ingin saya melalui titik A (penolakan) dulu baru titik B (kesuksesan), agar saya semakin giat belajarnya. Karena harusnya “rasa syukur lah yang membuat kita bahagia, bukan harus bahagia dulu baru bersyukur atas pemberian-Nya”. Dengan membaca artikel ini, saya juga introspeksi diri untuk lebih bertanggung jawab mengelola waktu. Terimakasih lagi untuk kalimat pamungkas “Tidak ada hal yang mustahil, saya percaya itu, siapa saja bisa menjadi apa saja” kak hardika dan ublik sebagai penyelenggara giveaway. Semoga buku “Yakin kuliah ke luar negeri?” dapat menjadi bekalku untuk bersiap kuliah keluar negeri di tahun berikutnya untuk membanggakan keluarga Indonesia.

    IG : @chwaz_

  40. Bismillah, sebelumnya terimakasih kepada kak Hardika yang telah berbagi kisah asam-manis perjuangannyaselama kuliah S2 diluar negeri. Sebagai mahasiswa semester akhir S1 yang bercita-cita melanjutkan studi S2 ke LN, cerita “Tidak banyak yang tahu, beginilah Realita kuliah di Luar Negeri” kakak benar-benar membuat saya terpukau dan juga membuka pikiran saya untuk lebih realistis dan optimis pada masa depan, kenapa lebih realistis? Karena akhirnya saya semakin tahu bahwa kuliah di luar negeri memang bukan hanya sekedar jalan-jalan dan kebutuhan untuk posting foto baru di instagram. Lebih optimis karena syaa melihat banyak sekali contoh mahasiswa yang berhasil mewujudkan mimpi. Kebetulan saya kenal dengan seorang senior di kampus saya yang berhasil kuliah S2 di LN.
    Sekarang beliau kuliah di Chiba University, Jepang. Alhamdulillah saya sempat bertemu dan ngobrol singkat dengannya, ia bercerita perjuangannya menghadapi berbagai tes seperti IELTS, wawancara dan penelitian sebelum lulus tes. Benar-benar luar biasa kekuatan mimpi itu, sampai akhirnya ia berhasil diterima sebagai mahasiswa resmi di Universitas tersebut. Sama halnya dengan perjuangan kak hardika bertahan dan beradaptasi di Hong Kong. Yang mungkin di mata orang awam, para mahasiswa penerima beasiswa selalu hidupnya enak, namun ternyata mereka sangat akrab dengan perjuangan. Kesulitan-kesulitan itu memang akan selalu ada ya, ketika kita memperjuangkan mimpi.
    Di artikel ini kak Hardika membahas “Selalu Berpikir Positif dan Bersyukur” padahal saat itu kaka hidup dengan segala keterbatasan dengan kamar ukuran 2×1 m. Menurut saya inilah poin yang sangat penting, terdengar sulit namun ini memang harus selalu dilatih… saya sering kali gagal memenangkan sesuatu yang saya perjuangkan, dalam hal ini saya mengejar impian untuk ke LN, saya memang merasa terpuruk telebih dahulu, sering berpikir “ Kenapa begini? Padahal aku sudah….” saya lupa bahwa bisa saja Allah memang ingin saya melalui titik A (penolakan) dulu baru titik B (kesuksesan), agar saya semakin giat belajarnya. Karena harusnya “rasa syukur lah yang membuat kita bahagia, bukan harus bahagia dulu baru bersyukur atas pemberian-Nya”. Dengan membaca artikel ini, saya juga introspeksi diri untuk lebih bertanggung jawab mengelola waktu. Terimakasih lagi untuk kalimat pamungkas “Tidak ada hal yang mustahil, saya percaya itu, siapa saja bisa menjadi apa saja” kak hardika dan ublik sebagai penyelenggara giveaway. Semoga buku “Yakin mau kuliah di luar negeri?” dapat menjadi bekalku untuk bersiap kuliah keluar negeri di tahun berikutnya untuk membanggakan keluarga Indonesia.

    IG : @chwaz_

  41. saya ucapkan selamat atas kerja keras dan kesuksesan kak dika dalam melalui banyak pengalaman dalam menyelesaikan kuliah di luar negeri. sedikit tambahan mungkin perlu kak dika sampaikan/ tulis tips untuk bekal para mahasiswa/mahasiswi yang mau kuliah di luar negeri “bagaimana sih sebenarnya rutinitas/ sistem pembelajaran di luar negeri khususnya HKU dan bagaimana awalnya beradaptasi disana? selanjutnya mungkin tentang “tips memanfaatkan waktu 24 jam dengan efektif untuk mahasiswa berprestasi namun memiliki jam terbang tinggi?” serta tips management uang beasiswa yang telah di dapatkan. terimakasih dan maaf sebelumnya jika ada salah kata. semoga berkesempatan membaca buku yakin mau kuliah di luar negeri? elliyana_menik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Beginilah Perjalanan Panjang Gerakan Literasi di Negeri Ini

Ternyata Ada Hukum Fisika di Balik Ucapan “Masuk Pak Eko!”