“Enak ya kuliah di luar negeri, bisa jalan-jalan ke mana-mana,” begitulah kira-kira komentar banyak orang tentang mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri, hanya dengan melihat media sosialnya. Padahal realitanya siapa yang tahu, selain yang menjalaninya sendiri? Ketika kuliah di luar negeri, banyak hal yang mungkin akan kita temukan di luar ekspektasi dan kesulitan-kesulitan yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Baca Juga: Kuliah ke Luar Negeri? Inilah Hal-hal Seru yang Bisa Kamu Dapatkan!

Jadi bagaimana menurutmu tentang kuliah di luar negeri? Apakah itu menjadi salah satu daftar cita-citamu? Atau barangkali kamu sedang dalam proses persiapan melanjutkan kuliah di negeri orang? Sebagai bekal, ada baiknya kita belajar dari pengalaman orang yang sudah pernah menjalaninya.  Pada tulisan ini redaksi Ublik mengulas hasil wawancara bersama Hardika Dwi Hermawan, mahasiswa Master of Science in Information Technology in Education (M.Sc.ITE), Faculty of Education, The University of Hong Kong (HKU). Awardee beasiswa LPDP yang akan menyelesaikan studi pada bulan November 2018 ini banyak berbagi pengalamannya selama kuliah S2 di Hong Kong. Bukan hanya bagian menariknya saja, tapi Dika—begitu ia akrab disapa, juga mengungkapkan tentang momen-momen penuh perjuangan dan bagaimana menghadapinya.

Di depan HKU (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Perjuangan yang Tidak Seindah Foto-foto di Instagram

Saat dimintai pendapat tentang orang lain yang memandang kuliah di luar negeri itu selalu menyenangkan karena telihat banyak jalan-jalannya, Dika yang juga alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta itu mengaku santai saja.

“Saya santai saja, mungkin dia belum pernah merasakan dan hanya melihat dari satu sudut pandang saja, jadi dia mengira asik dan bahagia terus. Tanpa coba melihat lebih dalam prosesnya dan memahami kira-kira ada apa di balik setiap kebahagiaannya. Namun, saya yakin di sana juga masih banyak orang-orang yang paham dan mau mencoba memahami bahwa kebahagiaan yang kita bagi juga hasil dari perjuangan yang tidak instan dan butuh proses panjang yang tidak banyak orang tahu. Mulailah mencoba mencerna dan mendalami segala sesuatu, tidak hanya dari luarnya saja. Bahkan, banyak orang di sana yang membagikan kebahagiaan padahal dirinya sedang dalam kesusahan.”

Sempat Tinggal di Kamar Seukuran Kuburan

Saat baru beberapa hari tinggal di Hong Kong, Dika mulai merasakan beban yang berat. Beban kuliahnya juga dirasa jauh lebih berat dibanding saat menempuh S1 dulu. “Bagi mereka yang hanya melihat postingan saya di Instagram, mungkin jarang yang mengira bahwa saya telah melewati banyak hal dan tragedi. Pernahkah kamu bayangkan sebelumnya tinggal di kamar berukuran 2×1 meter, di luar negeri, sendirian, dan itu pertama kalinya kamu datang ke negara tersebut? Tidak ada teman di kampus itu yang kamu kenal sebelumnya. Budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda, dan segala perbedaan yang tidak kita temukan di Indonesia. Itulah yang saya alami dan rasakan waktu itu. Tapi bagaimanapun harus tetap dijalani dan segera beradaptasi dengan keadaan. 🙂 ”

Sekadar informasi, bahwa Hong Kong merupakan salah satu kota dengan biaya housing termahal di dunia. “Sebelumnya saya gak menyangka uang beasiswa belum cukup buat menyewa kamar yang layak. Jadi, saya harus tinggal di kamar ukuran 2×1 m yang kata temen saya seperti kuburan. Itu pun menyedot 60% dari uang beasiswa yang saya terima. Harga kamar yang hanya berisi tempat tidur itu dibandrol dengan harga 3500 HKD (Hong Kong Dollar) atau sekitar Rp 6,5 juta/bulan, bayangkan: enam setengah juta rupiah per bulan.” Katanya dengan sedikit penekanan pada pengalamannya itu. Lalu ekspresinya agak berubah saat menceritakan kalau ia tidak bisa berdiri di kamar, sekadar untuk menjalankan shalat.

Kamar 2×1 m (Sumber: Ublik.id/Hardika)

“Hal yang paling menyentuh saya setiap saat adalah ketika saya harus shalat dalam kondisi duduk di atas kasur, gak bisa berdiri. Kadang tanpa sadar saya meneteskan air mata. Merindukan keluarga di Indonesia; ibu, ayah, kakak, keponakan yang sedang lucu-lucunya, dan sahabat-sahabat terdekat di sana. Ketika awal-awal tinggal di tempat itu saya gak berani cerita ke orang rumah, karena pasti ibu akan sangat sedih.”

Selalu Berpikir Positif dan Bersyukur

“Hari demi hari terlewati, saya terus berusaha berpikir positif dan bersyukur. Menerima ini semua dengan lapang dada dan sebagai konsekuensi dari keputusan saya sendiri dan cara Allah memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Bagaimanapun, saya mendapatkan pelajaran hidup yang luar biasa di sini, bertemu dengan banyak orang baik, belajar menerima setiap kekurangan dan hidup sederhana, namun tetap berupaya sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia, tanpa terus mengeluhkan. Bagi saya, yang paling berarti adalah kaya hati bukan materi.”

“Alhamdulillah juga, pada akhirnya uang beasiswa saya mendapatkan kenaikan. Saya mendapat kesempatan menjadi student research assistant, student helper, dan bertemu dengan TKI di Hong Kong yang luar biasa baik dan menjadi jalan saya pindah ke tempat tinggal yang lebih layak.”

Baca Juga: Evi Lestari: “Kuliah di Negeri Panda Membuat Saya Membuka Mata”

Saat Orangtua Khawatir, Bagaimana Cara Meyakinkan Bahwa Kita Mampu?

“Sebelum berangkat kuliah di luar negeri, tidak sedikit orang tua yang khawatir karena takut ketika terjadi apa-apa pada anaknya di sana. Takut tidak ada orang yang menolong. “Menurut saya, orangtua khawatir itu wajar. Justru itu salah satu bentuk kasih sayangnya. Yang perlu dilakukan adalah kita introspeksi dan mencari tahu, hal apa yang paling dikhawatirkan orangtua. Apakah karena kita terlihat belum mandiri dan manja? Apakah karena kita tidak percaya diri dan kurang bertanggung jawab? Ataukah karena keputusan ke luar negeri hanya karena ikut-ikutan temannya?”

“Kita perlu tahu hal-hal yang menjadi alasan kenapa orang tua belum memberi izin untuk kuliah di luar negeri. Setelah kita tahu alasannya, upayakan sebaik mungkin untuk membuktikan bahwa kita mampu. Jika belum mandiri, tunjukan bahwa kamu bisa mandiri. Jika khawatir karena kamu belum punya pengalaman ke luar negeri sendirian, buktikan ketika sekolah cari pengalaman ke luar negeri dan tunjukkan bahwa kamu baik-baik saja dan sudah siap. Bagikan cerita pengalaman teman-teman atau senior yang sudah menjalani studi di luar negeri juga, tunjukan ceritanya, kehidupannya dan hal-hal yang bisa membuat orang tua yakin bahwa di luar sana sudah banyak orang Indonesia dan mereka baik-baik saja. Foto-foto para pelajar Indonesia juga bisa membuktikan bahwa kamu tidak akan sendirian.”

Kebersamaan dengan teman satu tim konferensi di Korea (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Setelah banyak bercerita tentang hal-hal realita kuliah di luar negeri, khususnya di Hong Kong, anak muda asal Purbalingga, Jawa Tengah itu melanjutkan cerita tentang kemampuan akademik teman-teman kuliahnya. “Kalau dari teman-teman sekelas saya, anak-anak Hong Kong cenderung aktif, disiplin, kritis, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Mereka juga tipe pekerja keras dan berkomitmen dengan tugas. Ketika diberi tugas, mereka akan benar-benar mengerjakannya dengan serius, benar-benar efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu. Rata-rata mereka tidak hanya kuliah, tapi aktif juga di berbagai bidang termasuk ada yang sudah merintis startup dan memiliki part-time job juga. Waktu 24 jam sehari benar-benar mereka manfaatkan dengan baik.”

Teman-teman sekelas (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Baca Juga: World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia 

Pengalaman Menjadi Student Mentor

Di luar kesibukan kuliah, research, dan beberapa konferensi internasional, Dika juga sempat menjadi student mentor untuk anak-anak SMA terpilih dari seluruh dunia, tiga di antaranya dari Hong Kong. Dika mengaku terkesan dengan kemampuan mereka.

“Kalo dilihat dari anak-anak SMA yang menjadi student saya itu, mereka memiliki pandangan luas dan sudah berpikir independent. Mereka juga aktif dan mandiri mencari kegiatan atau hal yang menunjang masa depan mereka. Bahkan anak-anak yang saya dampingi sudah memiliki plan jangka panjang, padahal mereka baru kelas 1 SMA.”

“Satu di antara mereka, masih kelas 1 SMA dan saya ajak ikut project, dia lakukan dengan baik dan sempurna. Dia mampu berpikir kritis dan mengimbangi research yang saya lakukan pada level master. Saya gak pernah merasa kesusahan atau terbebani ketika dia berada pada tim saya. Tentu hal itu bisa kita teladani, terutama dalam hal bagaimana kita memanfaatkan waktu kita selama 24 jam ini dengan baik, mulai mencoba berpandangan luas, berpikir ke depan, kritis dan produktif.”

International seminar (Sumber: Ublik.id/Hardika)

Sebelum wawancara via WhatsApp itu diakhiri, seperti biasa, redaksi Ublik.id sempat meminta narasumber untuk memberikan closing statement dan juga semacam pesan-pesan untuk generasi muda Indonesia. Beberapa kali, Dika sempat menyebutkan pentingnya memanfaatkan waktu 24 jam dalam sehari dengan efektif.

“Setiap orang di dunia ini, tanpa terkecuali, termasuk presiden AS, pemilik Microsoft, pemilik Apple, Einstein, dan semua orang hebat di dunia memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Yang membedakan kita dengan mereka adalah bagaimana cara kita memanfaatkan waktu selama 24 jam itu dengan efektif. Apakah kita habiskan untuk main-main, foya-foya dan menyepelekan masa depan? Atau mau kita pergunakan waktu yang kita punya itu sebaik mungkin?”

HKU Graduate (Sumber: Ublik.id/Hardika)

“Persaingan di era sekarang semakin ketat, masalah semakin kompleks dan semua orang berusaha menjadi yang terbaik. Jika kita hanya berjalan santai dan cenderung menyepelekan, jangan salahkan jika di masa depan nanti akan banyak penyesalan yang kau temui. Jangan menunggu keajaiban, namun jemputlah keajaiban-keajaiban itu dengan tangan dan kakimu. Tidak ada hal yang mustahil, saya percaya itu, siapa saja bisa menjadi apa saja. Lakukan dengan hati bahagia, belajar ikhlas dan belajarlah mencintai hal yang tidak kau cintai. Jika hati nyaman dan enjoy, semua perjuangan akan dinikmati dan terasa indah. Selamat berproses! Mari bersama-sama menjadi orang baik yang membaikkan, orang sukses yang mensukseskan, dan akhirnya bisa menjadi hebat dan menghebatkan! Jangan lupa selalu bersyukur atas nikmatNya dan jerih payah orangtua juga.” ­:)

 

(Sumber Gambar Utama: Hardika DH)