in

Ramadan di Taiwan: Mencari Takjil sampai Mengenal Islam di Asia Timur

Menjalani ibadah bulan Ramadan jauh dari tanah air selalu memberikan kesan tersendiri. Berbeda negara, berbeda pula kesan yang dirasakan. Orang Indonesia yang puasa di negara lain dengan mayoritas muslim seperti Sudan, tentu berbeda dengan yang menjalani Ramadan Taiwan karena penduduk muslim yang masih minoritas.

Menurut beberapa sumber, agama Islam tiba pertama kali di Taiwan pada abad ke-17 pada masa Kerajaan Tunging. Sementara itu, gelombang kedatangan orang asing ke Taiwan yang beragama Islam terjadi lagi pada era tahun 1960an, 1980an, dan 2000an, bertepatan dengan pertumbuhan ekonomi Taiwan saat itu yang meningkat.

Pilihan Editor;

Pemerintah Taiwan sendiri juga mendukung perbaikan berbagai hal, seperti membangun industri makanan dan turisme halal, serta menyediakan ruang shalat di tempat umum. Namun demikian, bukan berarti umat muslim Taiwan tidak menghadapi tantangan di saat bulan puasa.

Bagaimana Suasana Ramadan di Taiwan?

Beberapa waktu lalu, Ublik sempat melakukan wawancara dengan salah satu mahasiswa Indonesia yang baru saja lulus program Master of Science (M.Sc) di National Central University (NCU), Taiwan, Ivan Luthfi Ihwani. Begini cerita singkat dari Ivan.

“Suasana Ramadan di sini tentu berbeda dengan di indonesia. Ada beberapa hal yang membedakannya. Pertama, di sini puasanya lebih lama 1-2 jam, jadi puasanya sekitar 14 Jam. Kedua, masjid di sini tidak sebanyak masjid di Indonesia, jadi kalau adzan magrib biasanya patokannya pengingat sholat di hand phone.” Terkait cuaca, Ramadan di Taiwan juga memberikan tantangan tersendiri, “karena sekarang sedang musim panas, jadi banyak godaan, terutama buat para lelaki hehe.” Kelakarnya kemudian.

Ngabuburit bersama WNI (Sumber: Ublik.id/Ivan Luthfi)

Untuk mencari takjil di negara Asia Timur itu, tentunya juga tidak semudah di Indonesia, yang umumnya tinggal cari di pinggir jalan. Misalnya ingin membeli kurma, sangat mudah mendapatkannya. “Kalau di sini harus pesen dulu baru 1-2 hari kemudian dikirim.”

Aktivitas yang Terpusat di Masjid

Di Taiwan ada beberapa masjid besar yang tersebar di beberapa kota, antara lain Taipei, Kaohsiung, Taoyuan, Taichung, Tainan, dan Pingtung Country. Mahasiswa asal Nusa Tenggara Barat itu mengatakan bahwa selama Ramadan di Taiwan sering ada aktivitas di masjid-masjid dan mushola, sedangkan agenda Ramadan itu terbuka untuk umum. “Pusat berkumpulnya aktivitas selama bulan Ramadan di Taiwan kalo gak di masjid ya di mushola kampus. Tapi karena lokasi masjidnya jauh, jadi kita lebih sering di mushola.”

Pengajian di mushola (Sumber: Ublik.id/Ivan Luthfi)

Di mushola kampus NCU setiap hari ada buka puasa bersama, kajian sore, shalat tarawih, bahkan sahur bersama, dan kajian ba’da subuh. Semua agenda itu diadakan untuk umum, baik untuk mahasiswa maupun BMI (Buruh Migran Indonesia). Baik warga lokal maupun internasional . Di masjid-masjid juga ada kegiatan seperti itu hampir setiap hari. Begitu juga di saat lebaran, shalat id bisa dilakukan di masjid dengan khutbah berbahasa inggris.
Mencari yang Halal di Taiwan

Dari tempat tinggal Ivan, cukup banyak tersedia restoran halal. “Tapi harus pakai bus 1-2 kali ke sana. Ada di kota Zhongli, ada juga di Taipei.” Seperti yang disebutkan di atas, pihak pemerintah Taiwan pun menyediakan sejumlah fasilitas yang mendukung ibadah umat islam. Ada fasilitas tempat shalat dan tempat wudhu di tempat-tempat umum, seperti stasiun dan terminal. Meskipun belum semua terminal.

Bagaimana dengan Toleransi Beragama di Sana?

Beberapa tahun yang lalu kita mungkin pernah menyaksikan berita tentang BMI yang harus ngumpet-ngumpet saat beribadah di bulan Ramadan. Tidak ingin ketahuan majikan bahwa dirinya sedang berpuasa dari pagi hingga petang. Tapi, bagaimana dengan situasi di lingkungan kampus?

Menyiapkan sahur di dormitory (Sumber: Ublik.id/Ivan Luthfi)

Alumni S1 Matematika Universitas Brawijaya itu juga menceritakan tentang poin-poin toleransi yang dipahami oleh teman-temannya, orang-orang Taiwan. “Mereka ngerti (kalau saya sedang puasa). Bahkan di dormitory disediakan dapur untuk masak sahur.”

Demikianlah sekelumit cerita tentang Ramadan di Taiwan. Sampai saat ini, berbagai langkah masih dilakukan. Mulai dari masalah pengembangan pendidikan, aktivitas sehari-hari, pariwisata, penyediaan fasilitas umum, dan keterlibatan sosial masih terus digalakkan oleh kalangan Muslim di Taiwan. Tujuannya adalah supaya penduduk muslim Taiwan atau para pendatang yang beragama Islam dari negara lain bisa tetap menjalankan ibadah, serta tujuan umumnya adalah agar Islam di Taiwan tetap bertahan dan berkembang.

 

(Sumber gambar utama: taiwanhalal.com)

Masjid Raya Sumatera Barat

Menikmati Wisata Indonesia melalui Megahnya Masjid Raya Sumatera Barat

Indonesia Menjadi Anggota DK PBB

Terpilih Menjadi Anggota DK PBB, Inilah Peran Indonesia untuk Perdamaian Dunia